22.9 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Flashing Traffic Light Menyala, Pengendara Nakal Makin Kencang

Nyala traffic light merupakan rambu-rambu yang wajib ditaati setiap pengendara. Bila melanggar, pasal yang mengandung sanksi dapat diterapkan. Namun demikian, saat arus lalu lintas cukup ramai, kelap-kelip nyala flashing kuning diterapkan. Oleh sebagian orang, ini dimanfaatkan untuk menambah kecepatan kendaraan hingga merugikan pengendara lain.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lampu lalu lintas atau traffic light menjadi pengatur bagi pengendara untuk tertib. Menjadi alat untuk membagi antrean di simpang tiga, empat, atau lebih. Ketika peranan pengatur pengendara itu diganti lampu flash warna kuning, otomatis hanya ada tanda peringatan bagi pengendara agar berhati-hati saat melintasi jalan.

BACA JUGA : Jatim Raih Juara Umum Porseni NU, Ungguli DKI Jakarta dan Jateng

Fungsi traffic light menjadi sangat krusial. Selain untuk memberikan waktu bagi pengendara kapan harus melintas dan berhenti, lampu lalu lintas juga dapat memberi ruang keadilan bagi seluruh pengendara. Contohnya, saat lampu merah padam di perempatan Mangli, maka warga yang datang dari barat dan timur akan lebih leluasa dibandingkan dari arah utara dan selatan. Bahkan, pengendara yang akan melintas harus menunggu waktu cukup lama karena laju kendaraan cepat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahkan, pengendara roda empat atau lebih kerap tak mengerem kendaraannya saat melihat flashing traffic light. Ini menunjukkan adanya sebagian besar pengendara yang justru tidak memedulikan pengendara lain yang akan melintas. Jika keadilan di jalanan tak diterapkan, bukankah lebih baik traffic light dinyalakan 24 jam tanpa perlu menyalakan flashing? Lagipula, sebagian orang memilih melaju cepat, tanpa mau memberi ruang untuk bergantian dengan pengendara lain. Padahal, di perempatan jalan kerap ada pengendara yang sudah berhenti menunggu arus kendaraan sepi.

Insiden orang enggan bergantian saat flashing lampu lalu lintas menyala juga membuat orang lain celaka. Untuk itu, sebagian besar orang menginginkan agar traffic light difungsikan normal saja. Daripada dimanfaatkan pengendara yang tidak tahu kata antre atau gantian melintas.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, di sejumlah traffic light area kota, nyala kelap-kelip lampu kuning ada yang dimulai pada pukul 21.00. Ini terjadi di simpang tiga Jalan Karimata dekat Kantor Perhutani KPH Jember. Sementara, di Jalan Sriwijaya, nyala kuning dimulai pukul 20.30 (selebihnya baca grafis). Padahal, pada jam-jam tersebut terbilang masih cukup ramai pengendara yang melintas.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lampu lalu lintas atau traffic light menjadi pengatur bagi pengendara untuk tertib. Menjadi alat untuk membagi antrean di simpang tiga, empat, atau lebih. Ketika peranan pengatur pengendara itu diganti lampu flash warna kuning, otomatis hanya ada tanda peringatan bagi pengendara agar berhati-hati saat melintasi jalan.

BACA JUGA : Jatim Raih Juara Umum Porseni NU, Ungguli DKI Jakarta dan Jateng

Fungsi traffic light menjadi sangat krusial. Selain untuk memberikan waktu bagi pengendara kapan harus melintas dan berhenti, lampu lalu lintas juga dapat memberi ruang keadilan bagi seluruh pengendara. Contohnya, saat lampu merah padam di perempatan Mangli, maka warga yang datang dari barat dan timur akan lebih leluasa dibandingkan dari arah utara dan selatan. Bahkan, pengendara yang akan melintas harus menunggu waktu cukup lama karena laju kendaraan cepat.

Bahkan, pengendara roda empat atau lebih kerap tak mengerem kendaraannya saat melihat flashing traffic light. Ini menunjukkan adanya sebagian besar pengendara yang justru tidak memedulikan pengendara lain yang akan melintas. Jika keadilan di jalanan tak diterapkan, bukankah lebih baik traffic light dinyalakan 24 jam tanpa perlu menyalakan flashing? Lagipula, sebagian orang memilih melaju cepat, tanpa mau memberi ruang untuk bergantian dengan pengendara lain. Padahal, di perempatan jalan kerap ada pengendara yang sudah berhenti menunggu arus kendaraan sepi.

Insiden orang enggan bergantian saat flashing lampu lalu lintas menyala juga membuat orang lain celaka. Untuk itu, sebagian besar orang menginginkan agar traffic light difungsikan normal saja. Daripada dimanfaatkan pengendara yang tidak tahu kata antre atau gantian melintas.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, di sejumlah traffic light area kota, nyala kelap-kelip lampu kuning ada yang dimulai pada pukul 21.00. Ini terjadi di simpang tiga Jalan Karimata dekat Kantor Perhutani KPH Jember. Sementara, di Jalan Sriwijaya, nyala kuning dimulai pukul 20.30 (selebihnya baca grafis). Padahal, pada jam-jam tersebut terbilang masih cukup ramai pengendara yang melintas.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lampu lalu lintas atau traffic light menjadi pengatur bagi pengendara untuk tertib. Menjadi alat untuk membagi antrean di simpang tiga, empat, atau lebih. Ketika peranan pengatur pengendara itu diganti lampu flash warna kuning, otomatis hanya ada tanda peringatan bagi pengendara agar berhati-hati saat melintasi jalan.

BACA JUGA : Jatim Raih Juara Umum Porseni NU, Ungguli DKI Jakarta dan Jateng

Fungsi traffic light menjadi sangat krusial. Selain untuk memberikan waktu bagi pengendara kapan harus melintas dan berhenti, lampu lalu lintas juga dapat memberi ruang keadilan bagi seluruh pengendara. Contohnya, saat lampu merah padam di perempatan Mangli, maka warga yang datang dari barat dan timur akan lebih leluasa dibandingkan dari arah utara dan selatan. Bahkan, pengendara yang akan melintas harus menunggu waktu cukup lama karena laju kendaraan cepat.

Bahkan, pengendara roda empat atau lebih kerap tak mengerem kendaraannya saat melihat flashing traffic light. Ini menunjukkan adanya sebagian besar pengendara yang justru tidak memedulikan pengendara lain yang akan melintas. Jika keadilan di jalanan tak diterapkan, bukankah lebih baik traffic light dinyalakan 24 jam tanpa perlu menyalakan flashing? Lagipula, sebagian orang memilih melaju cepat, tanpa mau memberi ruang untuk bergantian dengan pengendara lain. Padahal, di perempatan jalan kerap ada pengendara yang sudah berhenti menunggu arus kendaraan sepi.

Insiden orang enggan bergantian saat flashing lampu lalu lintas menyala juga membuat orang lain celaka. Untuk itu, sebagian besar orang menginginkan agar traffic light difungsikan normal saja. Daripada dimanfaatkan pengendara yang tidak tahu kata antre atau gantian melintas.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, di sejumlah traffic light area kota, nyala kelap-kelip lampu kuning ada yang dimulai pada pukul 21.00. Ini terjadi di simpang tiga Jalan Karimata dekat Kantor Perhutani KPH Jember. Sementara, di Jalan Sriwijaya, nyala kuning dimulai pukul 20.30 (selebihnya baca grafis). Padahal, pada jam-jam tersebut terbilang masih cukup ramai pengendara yang melintas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca