alexametrics
24.8 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Kisah Wicai , Rela Menabung Tiap Lebaran demi Miliki Sanggar Reog

Lahirnya Reog Sardulo Bimo Yudo bukan sebuah kebetulan. Ada perjuangan panjang di baliknya. Megananda Tegar Prakoso, atau dikenal Wicai, rela mengorbankan uang sakunya selama bertahun-tahun demi memiliki sanggar seni tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MALAM itu, Wicai membersihkan kepala barong reog serta dadak merak di rumahnya. Kesenian tradisional ini yang setiap hari menemani siswa kelas 2 SMA tersebut di luar kesibukan sekolahnya. Remaja yang memiliki nama Megananda Tegar Prakoso itu bisa dibilang sebagai pemilik sanggar seni termuda di Kabupaten Jember.

Kesenian reog diakuinya sebagai seni tradisional yang banyak ditinggalkan oleh anak-anak muda di zaman sekarang. Namun, dia tak terpengaruh. Sebab, jiwa seni telah tumbuh sejak kecil. Saat kelas 3 SD, dirinya sudah masuk dalam komunitas sanggar. Sejak itulah, bayang-bayang untuk memiliki sanggar seni sendiri mulai ada. “Mulai kecil itu, saya punya keinginan untuk beli reog. Makanya, uang saku hari raya saya tabung. Tujuannya agar punya reog sendiri,” ucapnya.

Kecintaan terhadap reog begitu menggebu. Selama itu, dirinya kerap tampil di sejumlah undangan. Nah, pada saat dirinya SMP, tekad memiliki sanggar reog semakin hidup. Saat itu pula, dia pun membuat sanggar Reog Sardulo Bimo Yudo. “Setelah bertahun-tahun saya menabung, akhirnya saya bisa punya sanggar sendiri,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, keinginan kuat untuk memiliki sanggar seni didorong oleh kecintaan terhadap seni tradisional. Dia bahkan sempat merasa bosan, namun beberapa hari tanpa reog ada rasa rindu yang begitu mendalam. Sampai saat ini, Wicai tetap berkarya bersama teman-temannya di kesenian reog. “Seminggu setelah bikin, kami sempat unjuk kebolehan. Seminggu setelahnya, kami diundang untuk tampil. Sampai sekarang kami terus bermain,” ulas Wicai.

Saat awal-awal mendirikan sanggar seni, Wicai mengaku ada pula orang yang menyepelekannya. Ada yang bertanya-tanya mengapa anak yang masih remaja beli reog dadak merak serta peralatan lainnya. Hal itu justru membuat Wicai semangat hingga sanggar seni miliknya sudah banyak keliling di bumi Jember. “Sejauh ini masih di Jember saja,” jelasnya.

Wicai mengaku, untuk dapat memiliki sanggar reog, dirinya harus menabung bertahun-tahun. Dari sejumlah uang yang berhasil dikumpulkan, dia pun bisa membeli apa yang diinginkan. “Belajarnya di halaman rumah. Dulu, bapak saya pelukis, kakak saya pemusik, dan saya suka reog. Jadi, keluarga suka kesenian semua,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MALAM itu, Wicai membersihkan kepala barong reog serta dadak merak di rumahnya. Kesenian tradisional ini yang setiap hari menemani siswa kelas 2 SMA tersebut di luar kesibukan sekolahnya. Remaja yang memiliki nama Megananda Tegar Prakoso itu bisa dibilang sebagai pemilik sanggar seni termuda di Kabupaten Jember.

Kesenian reog diakuinya sebagai seni tradisional yang banyak ditinggalkan oleh anak-anak muda di zaman sekarang. Namun, dia tak terpengaruh. Sebab, jiwa seni telah tumbuh sejak kecil. Saat kelas 3 SD, dirinya sudah masuk dalam komunitas sanggar. Sejak itulah, bayang-bayang untuk memiliki sanggar seni sendiri mulai ada. “Mulai kecil itu, saya punya keinginan untuk beli reog. Makanya, uang saku hari raya saya tabung. Tujuannya agar punya reog sendiri,” ucapnya.

Kecintaan terhadap reog begitu menggebu. Selama itu, dirinya kerap tampil di sejumlah undangan. Nah, pada saat dirinya SMP, tekad memiliki sanggar reog semakin hidup. Saat itu pula, dia pun membuat sanggar Reog Sardulo Bimo Yudo. “Setelah bertahun-tahun saya menabung, akhirnya saya bisa punya sanggar sendiri,” ucapnya.

Menurut dia, keinginan kuat untuk memiliki sanggar seni didorong oleh kecintaan terhadap seni tradisional. Dia bahkan sempat merasa bosan, namun beberapa hari tanpa reog ada rasa rindu yang begitu mendalam. Sampai saat ini, Wicai tetap berkarya bersama teman-temannya di kesenian reog. “Seminggu setelah bikin, kami sempat unjuk kebolehan. Seminggu setelahnya, kami diundang untuk tampil. Sampai sekarang kami terus bermain,” ulas Wicai.

Saat awal-awal mendirikan sanggar seni, Wicai mengaku ada pula orang yang menyepelekannya. Ada yang bertanya-tanya mengapa anak yang masih remaja beli reog dadak merak serta peralatan lainnya. Hal itu justru membuat Wicai semangat hingga sanggar seni miliknya sudah banyak keliling di bumi Jember. “Sejauh ini masih di Jember saja,” jelasnya.

Wicai mengaku, untuk dapat memiliki sanggar reog, dirinya harus menabung bertahun-tahun. Dari sejumlah uang yang berhasil dikumpulkan, dia pun bisa membeli apa yang diinginkan. “Belajarnya di halaman rumah. Dulu, bapak saya pelukis, kakak saya pemusik, dan saya suka reog. Jadi, keluarga suka kesenian semua,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MALAM itu, Wicai membersihkan kepala barong reog serta dadak merak di rumahnya. Kesenian tradisional ini yang setiap hari menemani siswa kelas 2 SMA tersebut di luar kesibukan sekolahnya. Remaja yang memiliki nama Megananda Tegar Prakoso itu bisa dibilang sebagai pemilik sanggar seni termuda di Kabupaten Jember.

Kesenian reog diakuinya sebagai seni tradisional yang banyak ditinggalkan oleh anak-anak muda di zaman sekarang. Namun, dia tak terpengaruh. Sebab, jiwa seni telah tumbuh sejak kecil. Saat kelas 3 SD, dirinya sudah masuk dalam komunitas sanggar. Sejak itulah, bayang-bayang untuk memiliki sanggar seni sendiri mulai ada. “Mulai kecil itu, saya punya keinginan untuk beli reog. Makanya, uang saku hari raya saya tabung. Tujuannya agar punya reog sendiri,” ucapnya.

Kecintaan terhadap reog begitu menggebu. Selama itu, dirinya kerap tampil di sejumlah undangan. Nah, pada saat dirinya SMP, tekad memiliki sanggar reog semakin hidup. Saat itu pula, dia pun membuat sanggar Reog Sardulo Bimo Yudo. “Setelah bertahun-tahun saya menabung, akhirnya saya bisa punya sanggar sendiri,” ucapnya.

Menurut dia, keinginan kuat untuk memiliki sanggar seni didorong oleh kecintaan terhadap seni tradisional. Dia bahkan sempat merasa bosan, namun beberapa hari tanpa reog ada rasa rindu yang begitu mendalam. Sampai saat ini, Wicai tetap berkarya bersama teman-temannya di kesenian reog. “Seminggu setelah bikin, kami sempat unjuk kebolehan. Seminggu setelahnya, kami diundang untuk tampil. Sampai sekarang kami terus bermain,” ulas Wicai.

Saat awal-awal mendirikan sanggar seni, Wicai mengaku ada pula orang yang menyepelekannya. Ada yang bertanya-tanya mengapa anak yang masih remaja beli reog dadak merak serta peralatan lainnya. Hal itu justru membuat Wicai semangat hingga sanggar seni miliknya sudah banyak keliling di bumi Jember. “Sejauh ini masih di Jember saja,” jelasnya.

Wicai mengaku, untuk dapat memiliki sanggar reog, dirinya harus menabung bertahun-tahun. Dari sejumlah uang yang berhasil dikumpulkan, dia pun bisa membeli apa yang diinginkan. “Belajarnya di halaman rumah. Dulu, bapak saya pelukis, kakak saya pemusik, dan saya suka reog. Jadi, keluarga suka kesenian semua,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/