alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Usaha Tumang Gamping Mulai Surut

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Eksistensi usaha pembakaran batu kapur di wilayah Puger kian menyusut. Musababnya, laba semakin menipis. Alih-alih membuat para pemilik untung, justru sebaliknya. Bikin buntung. Kondisi seperti ini telah dirasakan oleh para pemilik usaha, yang oleh warga lokal disebut juragan tumang gamping, sejak tujuh tahun terakhir.

Tumang gamping adalah sebuah tungku berbentuk kerucut seukuran rumah kecil. Biasanya digunakan membakar batu kapur mentah yang diambil dari gunung. Proses pembakarannya memerlukan waktu hingga berhari-hari. Jika batu kapur mentah itu telah dianggap matang, kemudian diangkat. Hasil pembakaran inilah yang disebut oleh warga sebagai batu gamping yang digunakan campuran bahan bangunan. Setiap juragan terkadang hanya memiliki satu tumang gamping. Ada juga yang lebih dari satu.

Suyitno, salah satu pekerja batu gamping di Desa Grenden, Kecamatan Puger, menyebut, aktivitasnya sebagai buruh tak sepadat sepuluh tahun lalu. Kata dia, beberapa pemilik tungku sudah menurun dalam produksinya. Suyitno pun menyebut, dalam satu pekan biasanya pemilik tungku mampu memproses tiga truk batu kapur. Namun, belakangan kian menurun, terlebih saat pandemi. “Sekarang mungkin cuma membakar satu truk,” ujar Suyitno, sembari membersihkan tungku.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam prosesnya, Suyitno mengungkapkan, satu truk batu gamping membutuhkan bahan bakar kayu sebanyak enam meter kubik dan 20 batang pohon kelapa lengkap dengan cabang pohonnya. Proses pembakaran juga tak hanya menggunakan kayu, tapi ditambahi dengan garam tidak beryodium, sebagai pemutih agar gamping cepat lunak, sehingga asap yang ditimbulkan semakin banyak. Seperti inilah proses tradisonal pengolahan batu gamping di wilayah Puger.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Eksistensi usaha pembakaran batu kapur di wilayah Puger kian menyusut. Musababnya, laba semakin menipis. Alih-alih membuat para pemilik untung, justru sebaliknya. Bikin buntung. Kondisi seperti ini telah dirasakan oleh para pemilik usaha, yang oleh warga lokal disebut juragan tumang gamping, sejak tujuh tahun terakhir.

Tumang gamping adalah sebuah tungku berbentuk kerucut seukuran rumah kecil. Biasanya digunakan membakar batu kapur mentah yang diambil dari gunung. Proses pembakarannya memerlukan waktu hingga berhari-hari. Jika batu kapur mentah itu telah dianggap matang, kemudian diangkat. Hasil pembakaran inilah yang disebut oleh warga sebagai batu gamping yang digunakan campuran bahan bangunan. Setiap juragan terkadang hanya memiliki satu tumang gamping. Ada juga yang lebih dari satu.

Suyitno, salah satu pekerja batu gamping di Desa Grenden, Kecamatan Puger, menyebut, aktivitasnya sebagai buruh tak sepadat sepuluh tahun lalu. Kata dia, beberapa pemilik tungku sudah menurun dalam produksinya. Suyitno pun menyebut, dalam satu pekan biasanya pemilik tungku mampu memproses tiga truk batu kapur. Namun, belakangan kian menurun, terlebih saat pandemi. “Sekarang mungkin cuma membakar satu truk,” ujar Suyitno, sembari membersihkan tungku.

Dalam prosesnya, Suyitno mengungkapkan, satu truk batu gamping membutuhkan bahan bakar kayu sebanyak enam meter kubik dan 20 batang pohon kelapa lengkap dengan cabang pohonnya. Proses pembakaran juga tak hanya menggunakan kayu, tapi ditambahi dengan garam tidak beryodium, sebagai pemutih agar gamping cepat lunak, sehingga asap yang ditimbulkan semakin banyak. Seperti inilah proses tradisonal pengolahan batu gamping di wilayah Puger.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Eksistensi usaha pembakaran batu kapur di wilayah Puger kian menyusut. Musababnya, laba semakin menipis. Alih-alih membuat para pemilik untung, justru sebaliknya. Bikin buntung. Kondisi seperti ini telah dirasakan oleh para pemilik usaha, yang oleh warga lokal disebut juragan tumang gamping, sejak tujuh tahun terakhir.

Tumang gamping adalah sebuah tungku berbentuk kerucut seukuran rumah kecil. Biasanya digunakan membakar batu kapur mentah yang diambil dari gunung. Proses pembakarannya memerlukan waktu hingga berhari-hari. Jika batu kapur mentah itu telah dianggap matang, kemudian diangkat. Hasil pembakaran inilah yang disebut oleh warga sebagai batu gamping yang digunakan campuran bahan bangunan. Setiap juragan terkadang hanya memiliki satu tumang gamping. Ada juga yang lebih dari satu.

Suyitno, salah satu pekerja batu gamping di Desa Grenden, Kecamatan Puger, menyebut, aktivitasnya sebagai buruh tak sepadat sepuluh tahun lalu. Kata dia, beberapa pemilik tungku sudah menurun dalam produksinya. Suyitno pun menyebut, dalam satu pekan biasanya pemilik tungku mampu memproses tiga truk batu kapur. Namun, belakangan kian menurun, terlebih saat pandemi. “Sekarang mungkin cuma membakar satu truk,” ujar Suyitno, sembari membersihkan tungku.

Dalam prosesnya, Suyitno mengungkapkan, satu truk batu gamping membutuhkan bahan bakar kayu sebanyak enam meter kubik dan 20 batang pohon kelapa lengkap dengan cabang pohonnya. Proses pembakaran juga tak hanya menggunakan kayu, tapi ditambahi dengan garam tidak beryodium, sebagai pemutih agar gamping cepat lunak, sehingga asap yang ditimbulkan semakin banyak. Seperti inilah proses tradisonal pengolahan batu gamping di wilayah Puger.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/