alexametrics
28.3 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Penjahit dan Penjual Seragam di Jember Ketiban Berkah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER KIDUL, RADARJEMBER.ID – Memasuki September ini, beberapa sekolah mulai dari tingkatan SMA, SMP, hingga SD mulai menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM). Tak sedikit dari para siswa itu yang membeli seragam baru karena seragam sebelumnya sudah lusuh atau ukurannya tidak muat lagi.

Kembalinya siswa belajar di sekolah tentu menjadi kabar baik bagi para penjual seragam di pasaran. Mereka kembali mendapatkan pelanggan yang lebih dari setahun ini tak lagi berkunjung. Seperti yang dialami Hamidah, 53, penjual seragam di Pasar Tanjung. Dia mengaku, lebih dari sebulan yang lalu dirinya hampir setiap hari didatangi orang tua siswa yang mencari seragam baru untuk anaknya. “Alhamdulillah, mulai ramai lagi. Sehari bisa minimal tiga atau empat pembeli yang datang,” katanya.

Biasanya, Hamidah juga mendapat pesanan dari beberapa sekolah di Jember, Bondowoso, dan Situbondo saat menjelang tahun ajaran baru. Lebih dari setahun ini, dia tak pernah menerima pesanan akibat pandemi yang mengharuskan sekolah menggelar pembelajaran daring. Namun, sejak memasuki PPKM Level 2 dan adanya izin bupati terkait pelaksanaan PTM, sebanyak empat sekolah di Jember mulai menghubunginya lagi untuk memesan seragam. “Ada SMP di Pakusari, terus SD di Sumbersari, dua sekolah lagi di Ajung juga ambil banyak,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Begitupun dengan para penjahit. Saat PTM pertama kali diselenggarakan, wali murid berbondong-bondong menjemput seragam anaknya. Dulu, sebelum ada PTM, para wali murid itu diminta agar garapan seragam itu tidak cepat diselesaikan. Sebab, mereka khawatir ukuran seragam yang baru dijahit bakal lebih kecil dari ukuran badan anaknya ketika masuk sekolah. Maklum, pembelajaran daring berlangsung nyaris dua tahun.

Salah satu penjahit asal Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, Indah Agustin, mengaku, saat ini tumpukan seragam sekolah di rumahnya sudah ludes diambil pemiliknya. Ruang tamu yang juga dijadikan tempat menjahit itu agak lengang dari biasanya. Hanya beberapa tumpukan garapan bantal dan seragam TK yang menggantung di tembok. “Ada beberapa yang belum selesai jahitnya. Ya, gimana, wong kemarin minta bajunya bareng-bareng semua,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER KIDUL, RADARJEMBER.ID – Memasuki September ini, beberapa sekolah mulai dari tingkatan SMA, SMP, hingga SD mulai menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM). Tak sedikit dari para siswa itu yang membeli seragam baru karena seragam sebelumnya sudah lusuh atau ukurannya tidak muat lagi.

Kembalinya siswa belajar di sekolah tentu menjadi kabar baik bagi para penjual seragam di pasaran. Mereka kembali mendapatkan pelanggan yang lebih dari setahun ini tak lagi berkunjung. Seperti yang dialami Hamidah, 53, penjual seragam di Pasar Tanjung. Dia mengaku, lebih dari sebulan yang lalu dirinya hampir setiap hari didatangi orang tua siswa yang mencari seragam baru untuk anaknya. “Alhamdulillah, mulai ramai lagi. Sehari bisa minimal tiga atau empat pembeli yang datang,” katanya.

Biasanya, Hamidah juga mendapat pesanan dari beberapa sekolah di Jember, Bondowoso, dan Situbondo saat menjelang tahun ajaran baru. Lebih dari setahun ini, dia tak pernah menerima pesanan akibat pandemi yang mengharuskan sekolah menggelar pembelajaran daring. Namun, sejak memasuki PPKM Level 2 dan adanya izin bupati terkait pelaksanaan PTM, sebanyak empat sekolah di Jember mulai menghubunginya lagi untuk memesan seragam. “Ada SMP di Pakusari, terus SD di Sumbersari, dua sekolah lagi di Ajung juga ambil banyak,” tuturnya.

Begitupun dengan para penjahit. Saat PTM pertama kali diselenggarakan, wali murid berbondong-bondong menjemput seragam anaknya. Dulu, sebelum ada PTM, para wali murid itu diminta agar garapan seragam itu tidak cepat diselesaikan. Sebab, mereka khawatir ukuran seragam yang baru dijahit bakal lebih kecil dari ukuran badan anaknya ketika masuk sekolah. Maklum, pembelajaran daring berlangsung nyaris dua tahun.

Salah satu penjahit asal Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, Indah Agustin, mengaku, saat ini tumpukan seragam sekolah di rumahnya sudah ludes diambil pemiliknya. Ruang tamu yang juga dijadikan tempat menjahit itu agak lengang dari biasanya. Hanya beberapa tumpukan garapan bantal dan seragam TK yang menggantung di tembok. “Ada beberapa yang belum selesai jahitnya. Ya, gimana, wong kemarin minta bajunya bareng-bareng semua,” tuturnya.

JEMBER KIDUL, RADARJEMBER.ID – Memasuki September ini, beberapa sekolah mulai dari tingkatan SMA, SMP, hingga SD mulai menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM). Tak sedikit dari para siswa itu yang membeli seragam baru karena seragam sebelumnya sudah lusuh atau ukurannya tidak muat lagi.

Kembalinya siswa belajar di sekolah tentu menjadi kabar baik bagi para penjual seragam di pasaran. Mereka kembali mendapatkan pelanggan yang lebih dari setahun ini tak lagi berkunjung. Seperti yang dialami Hamidah, 53, penjual seragam di Pasar Tanjung. Dia mengaku, lebih dari sebulan yang lalu dirinya hampir setiap hari didatangi orang tua siswa yang mencari seragam baru untuk anaknya. “Alhamdulillah, mulai ramai lagi. Sehari bisa minimal tiga atau empat pembeli yang datang,” katanya.

Biasanya, Hamidah juga mendapat pesanan dari beberapa sekolah di Jember, Bondowoso, dan Situbondo saat menjelang tahun ajaran baru. Lebih dari setahun ini, dia tak pernah menerima pesanan akibat pandemi yang mengharuskan sekolah menggelar pembelajaran daring. Namun, sejak memasuki PPKM Level 2 dan adanya izin bupati terkait pelaksanaan PTM, sebanyak empat sekolah di Jember mulai menghubunginya lagi untuk memesan seragam. “Ada SMP di Pakusari, terus SD di Sumbersari, dua sekolah lagi di Ajung juga ambil banyak,” tuturnya.

Begitupun dengan para penjahit. Saat PTM pertama kali diselenggarakan, wali murid berbondong-bondong menjemput seragam anaknya. Dulu, sebelum ada PTM, para wali murid itu diminta agar garapan seragam itu tidak cepat diselesaikan. Sebab, mereka khawatir ukuran seragam yang baru dijahit bakal lebih kecil dari ukuran badan anaknya ketika masuk sekolah. Maklum, pembelajaran daring berlangsung nyaris dua tahun.

Salah satu penjahit asal Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, Indah Agustin, mengaku, saat ini tumpukan seragam sekolah di rumahnya sudah ludes diambil pemiliknya. Ruang tamu yang juga dijadikan tempat menjahit itu agak lengang dari biasanya. Hanya beberapa tumpukan garapan bantal dan seragam TK yang menggantung di tembok. “Ada beberapa yang belum selesai jahitnya. Ya, gimana, wong kemarin minta bajunya bareng-bareng semua,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca