alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 2 December 2021

Kenangan Penyandang Disabilitas yang Ingin Jadi Abdi Negara

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID –  “Kami mendaftar CPNS cuma ngetes. Coba-coba saja. Tidak berharap banyak. Karena ujungnya bakal ditolak,” kenang Zainuri pada suatu sore di kantin kampus Universitas PGRI Argopuro, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Laki-laki tunadaksa yang akrab disapa Zain ini usianya sudah kepala empat. Aktivitas utamanya adalah mengajar anak-anak yang senasib dengannya, berkebutuhan khusus. Semasa muda, Zain punya keinginan kuat untuk bisa bekerja di lingkungan pemerintahan daerah. Ia tak pernah melewatkan kesempatan untuk mendaftar ketika ada lowongan CPNS. Namun, ia selalu mengalami penolakan.

Tidak berbeda dengan sejawat lainnya. Semangat Zainuri untuk mengikuti seleksi adalah ingin merasakan upah yang layak dari negara. Makanya, dia tak pernah menyerah walau mengalami penolakan berkali-kali. “Namanya mencoba. Ditolak sekali, ya, coba lagi berkali-kali,” tutur guru sekolah luar biasa (SLB) negeri itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ikhtiar Zain untuk bekerja di lingkungan pemerintahan dimulai sejak 2008 hingga tiga tahun setelahnya. Selama mendaftar, Zain hanya mengumpulkan berkas yang disyaratkan. Selebihnya, tidak ada kabar ihwal pelaksanaan tes. Kejadian ini berulang hingga tiga kali. “Apa mungkin saya ditandai, ya?” ucapnya.

Segendang penarian dengan Zain, Atok, tunadaksa yang juga punya mimpi sama. Atok mulai mencoba mendaftar seleksi CPNS sejak sekitar 1998 hingga 2006. Sejak awal, Atok membidik formasi ekonom. Jika ada formasi itu, dia tak mau melewatkan untuk mendaftar. Biarpun lokasinya di kabupaten tetangga.

Kala itu, di gelanggang olahraga (GOR) kabupaten ia mengumpulkan berkas yang disyaratkan. Tanpa basa-basi, panitia menegaskan kepada dirinya jika kesempatan ini hanya diikuti oleh orang-orang “sehat”. “Pokoknya masuk pakai tongkat, turun dari sepeda, bawa map, saya mau sodorkan. Belum sampai di meja pendaftaran, panitia bilang, mas, mohon maaf, syaratnya sehat jasmani dan rohani,” tuturnya sembari menirukan logat panitia perempuan saat ia mendaftar CPNS.

Seusai mendapat perlakuan tak menyenangkan itu, Atok sempat trauma. Ia sampai enggan mengikuti seleksi lagi. Khawatir mendapat perlakuan yang sama. Kekecewaannya menjadi berlipat-lipat ketika tahu formasi disabilitas tidak ada. Namun, untuk mendapat kesejahteraan yang layak sebagai seorang tenaga pendidik, Atok masih berniat untuk mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID –  “Kami mendaftar CPNS cuma ngetes. Coba-coba saja. Tidak berharap banyak. Karena ujungnya bakal ditolak,” kenang Zainuri pada suatu sore di kantin kampus Universitas PGRI Argopuro, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Laki-laki tunadaksa yang akrab disapa Zain ini usianya sudah kepala empat. Aktivitas utamanya adalah mengajar anak-anak yang senasib dengannya, berkebutuhan khusus. Semasa muda, Zain punya keinginan kuat untuk bisa bekerja di lingkungan pemerintahan daerah. Ia tak pernah melewatkan kesempatan untuk mendaftar ketika ada lowongan CPNS. Namun, ia selalu mengalami penolakan.

Tidak berbeda dengan sejawat lainnya. Semangat Zainuri untuk mengikuti seleksi adalah ingin merasakan upah yang layak dari negara. Makanya, dia tak pernah menyerah walau mengalami penolakan berkali-kali. “Namanya mencoba. Ditolak sekali, ya, coba lagi berkali-kali,” tutur guru sekolah luar biasa (SLB) negeri itu.

Ikhtiar Zain untuk bekerja di lingkungan pemerintahan dimulai sejak 2008 hingga tiga tahun setelahnya. Selama mendaftar, Zain hanya mengumpulkan berkas yang disyaratkan. Selebihnya, tidak ada kabar ihwal pelaksanaan tes. Kejadian ini berulang hingga tiga kali. “Apa mungkin saya ditandai, ya?” ucapnya.

Segendang penarian dengan Zain, Atok, tunadaksa yang juga punya mimpi sama. Atok mulai mencoba mendaftar seleksi CPNS sejak sekitar 1998 hingga 2006. Sejak awal, Atok membidik formasi ekonom. Jika ada formasi itu, dia tak mau melewatkan untuk mendaftar. Biarpun lokasinya di kabupaten tetangga.

Kala itu, di gelanggang olahraga (GOR) kabupaten ia mengumpulkan berkas yang disyaratkan. Tanpa basa-basi, panitia menegaskan kepada dirinya jika kesempatan ini hanya diikuti oleh orang-orang “sehat”. “Pokoknya masuk pakai tongkat, turun dari sepeda, bawa map, saya mau sodorkan. Belum sampai di meja pendaftaran, panitia bilang, mas, mohon maaf, syaratnya sehat jasmani dan rohani,” tuturnya sembari menirukan logat panitia perempuan saat ia mendaftar CPNS.

Seusai mendapat perlakuan tak menyenangkan itu, Atok sempat trauma. Ia sampai enggan mengikuti seleksi lagi. Khawatir mendapat perlakuan yang sama. Kekecewaannya menjadi berlipat-lipat ketika tahu formasi disabilitas tidak ada. Namun, untuk mendapat kesejahteraan yang layak sebagai seorang tenaga pendidik, Atok masih berniat untuk mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID –  “Kami mendaftar CPNS cuma ngetes. Coba-coba saja. Tidak berharap banyak. Karena ujungnya bakal ditolak,” kenang Zainuri pada suatu sore di kantin kampus Universitas PGRI Argopuro, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Laki-laki tunadaksa yang akrab disapa Zain ini usianya sudah kepala empat. Aktivitas utamanya adalah mengajar anak-anak yang senasib dengannya, berkebutuhan khusus. Semasa muda, Zain punya keinginan kuat untuk bisa bekerja di lingkungan pemerintahan daerah. Ia tak pernah melewatkan kesempatan untuk mendaftar ketika ada lowongan CPNS. Namun, ia selalu mengalami penolakan.

Tidak berbeda dengan sejawat lainnya. Semangat Zainuri untuk mengikuti seleksi adalah ingin merasakan upah yang layak dari negara. Makanya, dia tak pernah menyerah walau mengalami penolakan berkali-kali. “Namanya mencoba. Ditolak sekali, ya, coba lagi berkali-kali,” tutur guru sekolah luar biasa (SLB) negeri itu.

Ikhtiar Zain untuk bekerja di lingkungan pemerintahan dimulai sejak 2008 hingga tiga tahun setelahnya. Selama mendaftar, Zain hanya mengumpulkan berkas yang disyaratkan. Selebihnya, tidak ada kabar ihwal pelaksanaan tes. Kejadian ini berulang hingga tiga kali. “Apa mungkin saya ditandai, ya?” ucapnya.

Segendang penarian dengan Zain, Atok, tunadaksa yang juga punya mimpi sama. Atok mulai mencoba mendaftar seleksi CPNS sejak sekitar 1998 hingga 2006. Sejak awal, Atok membidik formasi ekonom. Jika ada formasi itu, dia tak mau melewatkan untuk mendaftar. Biarpun lokasinya di kabupaten tetangga.

Kala itu, di gelanggang olahraga (GOR) kabupaten ia mengumpulkan berkas yang disyaratkan. Tanpa basa-basi, panitia menegaskan kepada dirinya jika kesempatan ini hanya diikuti oleh orang-orang “sehat”. “Pokoknya masuk pakai tongkat, turun dari sepeda, bawa map, saya mau sodorkan. Belum sampai di meja pendaftaran, panitia bilang, mas, mohon maaf, syaratnya sehat jasmani dan rohani,” tuturnya sembari menirukan logat panitia perempuan saat ia mendaftar CPNS.

Seusai mendapat perlakuan tak menyenangkan itu, Atok sempat trauma. Ia sampai enggan mengikuti seleksi lagi. Khawatir mendapat perlakuan yang sama. Kekecewaannya menjadi berlipat-lipat ketika tahu formasi disabilitas tidak ada. Namun, untuk mendapat kesejahteraan yang layak sebagai seorang tenaga pendidik, Atok masih berniat untuk mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca