alexametrics
26 C
Jember
Wednesday, 26 January 2022

Akibat Tak Pernah Rembukan, Akses Jalan di Jember Sia-Sia

Seharusnya Pemkab Jember Libatkan Penyandang Disabilitas Daksa Rembukan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Akses jalan untuk tunadaksa di tempat publik seperti alun-alun Jember masih belum menjawab kebutuhan para penyandang tunadaksa. Sebab, seharusnya bangunan ram mengikuti konsep terbaru, yaitu ram model S. Sehingga para penyandang disabilitas daksa dapat menggunakan sebagaimana mestinya.

Hal ini disampaikan oleh pemerhati isu inklusi dari Universitas Argopuro, Asrorul Mais. Menurut dia, ram ini memang bisa digunakan, namun tidak bisa maksimal. “Harusnya sudah bikin yang terbaru,” ujarnya.

Jika kondisinya demikian, lanjut dia, disabilitas yang dapat memanfaatkan akses tersebut sangat terbatas dan hanya dalam kondisi tertentu. Mais menilai, seharusnya pemerintah daerah Jember melibatkan penyandang disabilitas daksa untuk urun rembuk akses yang dibangun. Dengan begitu, ketika sudah dibangun, akses tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menilai rembukan ini belum sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah daerah. “Seharusnya disabilitas diajak diskusi tentang itu. Bukan tiba-tiba langsung dibangun. Walaupun niat awalnya baik,” tuturnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya Eko Ferdianto mengakui jika sebelum akses dibangun, pihaknya minim melibatkan penyandang disabilitas. Oleh sebab itu, ke depan ram di alun-alun akan dibenahi sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas. “Dalam waktu dekat ini akan dibenahi. Karena kemarin yang dipermasalahkan adalah penghalangnya,” ungkap Eko, Selasa (21/9).

Dia menambahkan, adanya penghalang tersebut digunakan untuk menghadang para PKL berjualan di area tersebut. Agar disabilitas daksa dapat leluasa menggunakannya. “Kami bikin itu biar orang-orang jualan nggak lewat di sana, nggak berjualan di area sana. Jadi, teman-teman disabilitas bisa leluasa pakai,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Akses jalan untuk tunadaksa di tempat publik seperti alun-alun Jember masih belum menjawab kebutuhan para penyandang tunadaksa. Sebab, seharusnya bangunan ram mengikuti konsep terbaru, yaitu ram model S. Sehingga para penyandang disabilitas daksa dapat menggunakan sebagaimana mestinya.

Hal ini disampaikan oleh pemerhati isu inklusi dari Universitas Argopuro, Asrorul Mais. Menurut dia, ram ini memang bisa digunakan, namun tidak bisa maksimal. “Harusnya sudah bikin yang terbaru,” ujarnya.

Jika kondisinya demikian, lanjut dia, disabilitas yang dapat memanfaatkan akses tersebut sangat terbatas dan hanya dalam kondisi tertentu. Mais menilai, seharusnya pemerintah daerah Jember melibatkan penyandang disabilitas daksa untuk urun rembuk akses yang dibangun. Dengan begitu, ketika sudah dibangun, akses tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Dia menilai rembukan ini belum sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah daerah. “Seharusnya disabilitas diajak diskusi tentang itu. Bukan tiba-tiba langsung dibangun. Walaupun niat awalnya baik,” tuturnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya Eko Ferdianto mengakui jika sebelum akses dibangun, pihaknya minim melibatkan penyandang disabilitas. Oleh sebab itu, ke depan ram di alun-alun akan dibenahi sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas. “Dalam waktu dekat ini akan dibenahi. Karena kemarin yang dipermasalahkan adalah penghalangnya,” ungkap Eko, Selasa (21/9).

Dia menambahkan, adanya penghalang tersebut digunakan untuk menghadang para PKL berjualan di area tersebut. Agar disabilitas daksa dapat leluasa menggunakannya. “Kami bikin itu biar orang-orang jualan nggak lewat di sana, nggak berjualan di area sana. Jadi, teman-teman disabilitas bisa leluasa pakai,” ungkapnya.

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Akses jalan untuk tunadaksa di tempat publik seperti alun-alun Jember masih belum menjawab kebutuhan para penyandang tunadaksa. Sebab, seharusnya bangunan ram mengikuti konsep terbaru, yaitu ram model S. Sehingga para penyandang disabilitas daksa dapat menggunakan sebagaimana mestinya.

Hal ini disampaikan oleh pemerhati isu inklusi dari Universitas Argopuro, Asrorul Mais. Menurut dia, ram ini memang bisa digunakan, namun tidak bisa maksimal. “Harusnya sudah bikin yang terbaru,” ujarnya.

Jika kondisinya demikian, lanjut dia, disabilitas yang dapat memanfaatkan akses tersebut sangat terbatas dan hanya dalam kondisi tertentu. Mais menilai, seharusnya pemerintah daerah Jember melibatkan penyandang disabilitas daksa untuk urun rembuk akses yang dibangun. Dengan begitu, ketika sudah dibangun, akses tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Dia menilai rembukan ini belum sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah daerah. “Seharusnya disabilitas diajak diskusi tentang itu. Bukan tiba-tiba langsung dibangun. Walaupun niat awalnya baik,” tuturnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya Eko Ferdianto mengakui jika sebelum akses dibangun, pihaknya minim melibatkan penyandang disabilitas. Oleh sebab itu, ke depan ram di alun-alun akan dibenahi sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas. “Dalam waktu dekat ini akan dibenahi. Karena kemarin yang dipermasalahkan adalah penghalangnya,” ungkap Eko, Selasa (21/9).

Dia menambahkan, adanya penghalang tersebut digunakan untuk menghadang para PKL berjualan di area tersebut. Agar disabilitas daksa dapat leluasa menggunakannya. “Kami bikin itu biar orang-orang jualan nggak lewat di sana, nggak berjualan di area sana. Jadi, teman-teman disabilitas bisa leluasa pakai,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca