alexametrics
23.5 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Kurangi Risiko Bencana melalui Kearifan Lokal

Mobile_AP_Rectangle 1

KALIWATES, Radar Jember – Jember tidak berbeda dengan daerah lainnya yang sering mengalami bencana. Bencana kerap kali muncul, mulai banjir, tanah longsor, puting beliung, hingga memiliki potensi bencana tsunami.

BACA JUGA : Selamatkan Keuangan Negara, Kompor Listrik Bisa Jadi Program Nasional

Kerentanan tersebut seharusnya diikutkan dengan membangun kesiapsiagaan masyarakat secara mandiri dan kelompok dalam menghadapi bencana alam yang datang secara tiba-tiba. “Membangun kesiapsiagaan masyarakat dapat dimulai melalui kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah,” ucap Joko Mulyono selaku dosen Sosiologi Universitas Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria yang juga meneliti sosiologi kebencanaan itu memaparkan bahwa kearifan lokal yang ada di masyarakat dapat digunakan untuk mengurangi risiko bencana yang terjadi. “Masyarakat sebenarnya sudah punya kepiawaian dalam mitigasi atau pengurangan risiko bencana. Namun, sering kali waktu membuat kepiawaian atau kearifan lokal ini tenggelam,” paparnya.

Hal tersebut, kata dia, sebenarnya menjadi tugas pemerintah untuk membantu menggali kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah atau desa di Jember. Melalui Desa Tangguh Bencana (Destana). Menurutnya, tidak sekadar membentuk Destana, namun juga turut mendampingi. Sebab, banyak Destana yang kini hanya berdiri tanpa ada aktivitas.

- Advertisement -

KALIWATES, Radar Jember – Jember tidak berbeda dengan daerah lainnya yang sering mengalami bencana. Bencana kerap kali muncul, mulai banjir, tanah longsor, puting beliung, hingga memiliki potensi bencana tsunami.

BACA JUGA : Selamatkan Keuangan Negara, Kompor Listrik Bisa Jadi Program Nasional

Kerentanan tersebut seharusnya diikutkan dengan membangun kesiapsiagaan masyarakat secara mandiri dan kelompok dalam menghadapi bencana alam yang datang secara tiba-tiba. “Membangun kesiapsiagaan masyarakat dapat dimulai melalui kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah,” ucap Joko Mulyono selaku dosen Sosiologi Universitas Jember.

Pria yang juga meneliti sosiologi kebencanaan itu memaparkan bahwa kearifan lokal yang ada di masyarakat dapat digunakan untuk mengurangi risiko bencana yang terjadi. “Masyarakat sebenarnya sudah punya kepiawaian dalam mitigasi atau pengurangan risiko bencana. Namun, sering kali waktu membuat kepiawaian atau kearifan lokal ini tenggelam,” paparnya.

Hal tersebut, kata dia, sebenarnya menjadi tugas pemerintah untuk membantu menggali kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah atau desa di Jember. Melalui Desa Tangguh Bencana (Destana). Menurutnya, tidak sekadar membentuk Destana, namun juga turut mendampingi. Sebab, banyak Destana yang kini hanya berdiri tanpa ada aktivitas.

KALIWATES, Radar Jember – Jember tidak berbeda dengan daerah lainnya yang sering mengalami bencana. Bencana kerap kali muncul, mulai banjir, tanah longsor, puting beliung, hingga memiliki potensi bencana tsunami.

BACA JUGA : Selamatkan Keuangan Negara, Kompor Listrik Bisa Jadi Program Nasional

Kerentanan tersebut seharusnya diikutkan dengan membangun kesiapsiagaan masyarakat secara mandiri dan kelompok dalam menghadapi bencana alam yang datang secara tiba-tiba. “Membangun kesiapsiagaan masyarakat dapat dimulai melalui kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah,” ucap Joko Mulyono selaku dosen Sosiologi Universitas Jember.

Pria yang juga meneliti sosiologi kebencanaan itu memaparkan bahwa kearifan lokal yang ada di masyarakat dapat digunakan untuk mengurangi risiko bencana yang terjadi. “Masyarakat sebenarnya sudah punya kepiawaian dalam mitigasi atau pengurangan risiko bencana. Namun, sering kali waktu membuat kepiawaian atau kearifan lokal ini tenggelam,” paparnya.

Hal tersebut, kata dia, sebenarnya menjadi tugas pemerintah untuk membantu menggali kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah atau desa di Jember. Melalui Desa Tangguh Bencana (Destana). Menurutnya, tidak sekadar membentuk Destana, namun juga turut mendampingi. Sebab, banyak Destana yang kini hanya berdiri tanpa ada aktivitas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/