alexametrics
28 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Demi Kota Pesantren Aman dan Kondusif, Konser Langit Digagalkan!

Mobile_AP_Rectangle 1

KEPATIHAN, Radar Jember – Rencana Konser Langit yang akan digelar oleh Majelis Gaul di Jember resmi digagalkan, kemarin (21/7). Keputusan itu diambil setelah melalui serangkaian proses dan dengan tegas Pemkab Jember menolak Konser Langit di Kota Pesantren tercinta ini.

BACA JUGA : Kemendikbudristek Ajak Dunia Cari Solusi Percepat Pemulihan Sektor budaya

Dalam audiensi itu, Pemkab Jember langsung diwakili oleh Wakil Bupati MB Firjaun Barlaman. Pertemuan pemerintah dan pihak penyelenggara Konser Langit berlangsung di Kantor Pemkab Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Wabup Gus Firjaun menjelaskan, keputusan pemkab menolak Konser Langit untuk menjaga suasana kondusif di Jember. Pemkab khawatir akan adanya konflik jika konser yang diadakan Majelis Gaul itu terselenggara di Jember.

Menurutnya, penolakan Pemkab Jember diambil berdasar pertimbangan yang matang. Salah satunya adanya sejumlah organisasi masyarakat (ormas) yang telah melayangkan surat penolakan secara tertulis kepada Pemkab Jember. “Dan banyak lainnya menyampaikan secara lisan, bahkan ada yang akan mengambil langkah ekstrem,” terang Gus Firjaun. Langkah ekstrem yang dimaksud seperti pembubaran paksa.

Persoalan mendasar yang membuat sejumlah ormas dan para tokoh keberatan karena narasumbernya. Tokoh yang akan menjadi narasumber atau penceramah dianggap memiliki rekam jejak tidak baik bagi sebagian warga Jember. Narasumber dimaksud adalah Ustad Hanan Attaki yang disinyalir sebagai eks anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sebuah organisasi yang telah dibubarkan negara dan dilarang di Indonesia.

Dengan mengedepankan keamanan dan situasi kondusif di Jember, Gus Firjaun menegaskan, penolakan yang dilakukan bukan karena persoalan majelis atau pengadaan pengajiannya. Namun, demi menjaga kemaslahatan semua umat. Apabila di beberapa daerah lain bisa membuka pintu lebar-lebar, namun resistensi sebagian masyarakat di Jember cukup tinggi terhadap sosok narasumber. Karena itu, rencana Konser Langit digagalkan.

Menurutnya, menghindari risiko lebih diutamakan daripada mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Rasa keberatan itu bukan atas dasar kebencian pada satu golongan, tetapi mempertimbangkan kekhawatiran masyarakat. “Bergerak dari hati, mereka (Majelis Gaul, Red) akan memahami keputusan Pemkab Jember,” ucap Gus Firjaun.

- Advertisement -

KEPATIHAN, Radar Jember – Rencana Konser Langit yang akan digelar oleh Majelis Gaul di Jember resmi digagalkan, kemarin (21/7). Keputusan itu diambil setelah melalui serangkaian proses dan dengan tegas Pemkab Jember menolak Konser Langit di Kota Pesantren tercinta ini.

BACA JUGA : Kemendikbudristek Ajak Dunia Cari Solusi Percepat Pemulihan Sektor budaya

Dalam audiensi itu, Pemkab Jember langsung diwakili oleh Wakil Bupati MB Firjaun Barlaman. Pertemuan pemerintah dan pihak penyelenggara Konser Langit berlangsung di Kantor Pemkab Jember.

Wabup Gus Firjaun menjelaskan, keputusan pemkab menolak Konser Langit untuk menjaga suasana kondusif di Jember. Pemkab khawatir akan adanya konflik jika konser yang diadakan Majelis Gaul itu terselenggara di Jember.

Menurutnya, penolakan Pemkab Jember diambil berdasar pertimbangan yang matang. Salah satunya adanya sejumlah organisasi masyarakat (ormas) yang telah melayangkan surat penolakan secara tertulis kepada Pemkab Jember. “Dan banyak lainnya menyampaikan secara lisan, bahkan ada yang akan mengambil langkah ekstrem,” terang Gus Firjaun. Langkah ekstrem yang dimaksud seperti pembubaran paksa.

Persoalan mendasar yang membuat sejumlah ormas dan para tokoh keberatan karena narasumbernya. Tokoh yang akan menjadi narasumber atau penceramah dianggap memiliki rekam jejak tidak baik bagi sebagian warga Jember. Narasumber dimaksud adalah Ustad Hanan Attaki yang disinyalir sebagai eks anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sebuah organisasi yang telah dibubarkan negara dan dilarang di Indonesia.

Dengan mengedepankan keamanan dan situasi kondusif di Jember, Gus Firjaun menegaskan, penolakan yang dilakukan bukan karena persoalan majelis atau pengadaan pengajiannya. Namun, demi menjaga kemaslahatan semua umat. Apabila di beberapa daerah lain bisa membuka pintu lebar-lebar, namun resistensi sebagian masyarakat di Jember cukup tinggi terhadap sosok narasumber. Karena itu, rencana Konser Langit digagalkan.

Menurutnya, menghindari risiko lebih diutamakan daripada mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Rasa keberatan itu bukan atas dasar kebencian pada satu golongan, tetapi mempertimbangkan kekhawatiran masyarakat. “Bergerak dari hati, mereka (Majelis Gaul, Red) akan memahami keputusan Pemkab Jember,” ucap Gus Firjaun.

KEPATIHAN, Radar Jember – Rencana Konser Langit yang akan digelar oleh Majelis Gaul di Jember resmi digagalkan, kemarin (21/7). Keputusan itu diambil setelah melalui serangkaian proses dan dengan tegas Pemkab Jember menolak Konser Langit di Kota Pesantren tercinta ini.

BACA JUGA : Kemendikbudristek Ajak Dunia Cari Solusi Percepat Pemulihan Sektor budaya

Dalam audiensi itu, Pemkab Jember langsung diwakili oleh Wakil Bupati MB Firjaun Barlaman. Pertemuan pemerintah dan pihak penyelenggara Konser Langit berlangsung di Kantor Pemkab Jember.

Wabup Gus Firjaun menjelaskan, keputusan pemkab menolak Konser Langit untuk menjaga suasana kondusif di Jember. Pemkab khawatir akan adanya konflik jika konser yang diadakan Majelis Gaul itu terselenggara di Jember.

Menurutnya, penolakan Pemkab Jember diambil berdasar pertimbangan yang matang. Salah satunya adanya sejumlah organisasi masyarakat (ormas) yang telah melayangkan surat penolakan secara tertulis kepada Pemkab Jember. “Dan banyak lainnya menyampaikan secara lisan, bahkan ada yang akan mengambil langkah ekstrem,” terang Gus Firjaun. Langkah ekstrem yang dimaksud seperti pembubaran paksa.

Persoalan mendasar yang membuat sejumlah ormas dan para tokoh keberatan karena narasumbernya. Tokoh yang akan menjadi narasumber atau penceramah dianggap memiliki rekam jejak tidak baik bagi sebagian warga Jember. Narasumber dimaksud adalah Ustad Hanan Attaki yang disinyalir sebagai eks anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sebuah organisasi yang telah dibubarkan negara dan dilarang di Indonesia.

Dengan mengedepankan keamanan dan situasi kondusif di Jember, Gus Firjaun menegaskan, penolakan yang dilakukan bukan karena persoalan majelis atau pengadaan pengajiannya. Namun, demi menjaga kemaslahatan semua umat. Apabila di beberapa daerah lain bisa membuka pintu lebar-lebar, namun resistensi sebagian masyarakat di Jember cukup tinggi terhadap sosok narasumber. Karena itu, rencana Konser Langit digagalkan.

Menurutnya, menghindari risiko lebih diutamakan daripada mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Rasa keberatan itu bukan atas dasar kebencian pada satu golongan, tetapi mempertimbangkan kekhawatiran masyarakat. “Bergerak dari hati, mereka (Majelis Gaul, Red) akan memahami keputusan Pemkab Jember,” ucap Gus Firjaun.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/