alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

NU Perlu Kuasai Ruang Publik Dunia Maya

NU memiliki peluang dan tantangan yang cukup kompleks hari ini. Posisinya begitu penting untuk pemberdayaan umat. Berikut petikan wawancara Dwi Siswanto dengan Dr M Khusna Amal, Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora IAIN Jember. Lulusan S-3 Universitas Airlangga ini memiliki perhatian khusus terhadap NU.

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR JEMBER.ID

Era 4.0 perlu disikapi dengan cepat, apa yang dipersiapkan NU?

Ruang publik, terutama dunia maya, karena banyak didominasi kelompok Islam ‘garis keras’, mereka lebih bisa memanfaatkan teknologi. Sementara organisasi seperti NU yang sering dipahami kelompok tradisional lebih ketinggalan dalam mengakses teknologi modern.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebab, basis NU banyak orang perdesaan. Namun, NU baik secara struktural dan kultural mulai memahami itu dan mulai menyadari pentingnya media sebagai sarana sosialisasi, publikasi, hingga memberikan pemahaman Islam moderat.

Di tingkat pusat ada NU online (daring) dan ada pula Cyber Aswaja. Ini adalah upaya penguatan Islam termasuk Aswaja. Sebenarnya NU daerah termasuk tingkat ranting bisa memanfaatkan media ini. Lihat perkembangan NU Jember sendiri sudah menggeliat memanfaatkan media online.

Isu kemandirian ekonomi juga begitu penting, apa yang sudah dilakukan?

Tantangan klasik NU adalah membangun otonomi dan kemandirian secara ekonomi. Ini yang berat secara organisasi. Bahkan, pesantren secara kemandirian ekonomi bisa lebih maju daripada organisasi NU. Di Jember sendiri, sempat ada inisiatif untuk membuat Baitul Mal wat Tamwil (BMT) yang semacam koperasi. Usaha yang dijalankan teman-teman NU dan berlabel NU juga hingga tingkat kecamatan. Sayang, hingga sekarang saya tidak paham sejauh apa progresnya.

Sebetulnya, gagasan kemandirian ekonomi itu sangat banyak. Tantangan terbesar adalah mengkreasi dan implementasi gagasan tersebut. Saat Kiai Muhyiddin menjabat sebagai Ketua PCNU Jember, pernah menjalin kerja sama untuk perusahaan dengan membuat pembalut. Dengan harapan ada timbal balik secara ekonomi untuk organisasi. Tapi berita itu hilang begitu saja. Progresnya seperti apa juga tidak tahu. Ide kemandirian ekonomi itu banyak, tapi implementasinya yang berat.

 Pendidikan NU di bawah LP Maarif masih belum maksimal, bagaimana idealnya?

- Advertisement -

RADAR JEMBER.ID

Era 4.0 perlu disikapi dengan cepat, apa yang dipersiapkan NU?

Ruang publik, terutama dunia maya, karena banyak didominasi kelompok Islam ‘garis keras’, mereka lebih bisa memanfaatkan teknologi. Sementara organisasi seperti NU yang sering dipahami kelompok tradisional lebih ketinggalan dalam mengakses teknologi modern.

Sebab, basis NU banyak orang perdesaan. Namun, NU baik secara struktural dan kultural mulai memahami itu dan mulai menyadari pentingnya media sebagai sarana sosialisasi, publikasi, hingga memberikan pemahaman Islam moderat.

Di tingkat pusat ada NU online (daring) dan ada pula Cyber Aswaja. Ini adalah upaya penguatan Islam termasuk Aswaja. Sebenarnya NU daerah termasuk tingkat ranting bisa memanfaatkan media ini. Lihat perkembangan NU Jember sendiri sudah menggeliat memanfaatkan media online.

Isu kemandirian ekonomi juga begitu penting, apa yang sudah dilakukan?

Tantangan klasik NU adalah membangun otonomi dan kemandirian secara ekonomi. Ini yang berat secara organisasi. Bahkan, pesantren secara kemandirian ekonomi bisa lebih maju daripada organisasi NU. Di Jember sendiri, sempat ada inisiatif untuk membuat Baitul Mal wat Tamwil (BMT) yang semacam koperasi. Usaha yang dijalankan teman-teman NU dan berlabel NU juga hingga tingkat kecamatan. Sayang, hingga sekarang saya tidak paham sejauh apa progresnya.

Sebetulnya, gagasan kemandirian ekonomi itu sangat banyak. Tantangan terbesar adalah mengkreasi dan implementasi gagasan tersebut. Saat Kiai Muhyiddin menjabat sebagai Ketua PCNU Jember, pernah menjalin kerja sama untuk perusahaan dengan membuat pembalut. Dengan harapan ada timbal balik secara ekonomi untuk organisasi. Tapi berita itu hilang begitu saja. Progresnya seperti apa juga tidak tahu. Ide kemandirian ekonomi itu banyak, tapi implementasinya yang berat.

 Pendidikan NU di bawah LP Maarif masih belum maksimal, bagaimana idealnya?

RADAR JEMBER.ID

Era 4.0 perlu disikapi dengan cepat, apa yang dipersiapkan NU?

Ruang publik, terutama dunia maya, karena banyak didominasi kelompok Islam ‘garis keras’, mereka lebih bisa memanfaatkan teknologi. Sementara organisasi seperti NU yang sering dipahami kelompok tradisional lebih ketinggalan dalam mengakses teknologi modern.

Sebab, basis NU banyak orang perdesaan. Namun, NU baik secara struktural dan kultural mulai memahami itu dan mulai menyadari pentingnya media sebagai sarana sosialisasi, publikasi, hingga memberikan pemahaman Islam moderat.

Di tingkat pusat ada NU online (daring) dan ada pula Cyber Aswaja. Ini adalah upaya penguatan Islam termasuk Aswaja. Sebenarnya NU daerah termasuk tingkat ranting bisa memanfaatkan media ini. Lihat perkembangan NU Jember sendiri sudah menggeliat memanfaatkan media online.

Isu kemandirian ekonomi juga begitu penting, apa yang sudah dilakukan?

Tantangan klasik NU adalah membangun otonomi dan kemandirian secara ekonomi. Ini yang berat secara organisasi. Bahkan, pesantren secara kemandirian ekonomi bisa lebih maju daripada organisasi NU. Di Jember sendiri, sempat ada inisiatif untuk membuat Baitul Mal wat Tamwil (BMT) yang semacam koperasi. Usaha yang dijalankan teman-teman NU dan berlabel NU juga hingga tingkat kecamatan. Sayang, hingga sekarang saya tidak paham sejauh apa progresnya.

Sebetulnya, gagasan kemandirian ekonomi itu sangat banyak. Tantangan terbesar adalah mengkreasi dan implementasi gagasan tersebut. Saat Kiai Muhyiddin menjabat sebagai Ketua PCNU Jember, pernah menjalin kerja sama untuk perusahaan dengan membuat pembalut. Dengan harapan ada timbal balik secara ekonomi untuk organisasi. Tapi berita itu hilang begitu saja. Progresnya seperti apa juga tidak tahu. Ide kemandirian ekonomi itu banyak, tapi implementasinya yang berat.

 Pendidikan NU di bawah LP Maarif masih belum maksimal, bagaimana idealnya?

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/