alexametrics
22.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Larangan Mudik Tanpa Pos Pantau

Waspada Gelombang Pandemi Susulan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 belum juga habis di Kabupaten Jember. Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, masih ada sebanyak 33 kasus aktif. Sebanyak 19 pasien menjalani perawatan di rumah sakit, dan 14 pasien isolasi secara mandiri.

Sejurus dengan hal itu, Bupati Jember Hendy Siswanto menerangkan bahwa mudik tetap diizinkan. Jika masih tetap ada yang mudik, tetap diantisipasi. Ditanya tentang adanya pos pantau di perbatasan, dia menerangkan bahwa pihaknya bakal menggunakan pemantauan yang dilakukan dengan menerapkan posko pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Lalu, apakah itu efektif?

Dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi, dr Angga Mardro Raharjo SpP, menerangkan bahwa hal tersebut dipandang kurang efektif. Sebab, pelaksanaan protokol kesehatan masih lemah. “Hal tersebut terbukti dari minimnya masyarakat yang menerapkan protokol kesehatan,” lanjutnya,

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, adanya pos pantau pada Ramadan sebelumnya sudah bagus. Namun, perlu dikembangkan. Seperti diketahui, setiap pengendara yang melintas di perbatasan dicek. Mulai dari pendataan, suhu tubuh, hingga rapid test. “Akan lebih baik jika diadakan pos pantau lagi dengan menggunakan rapid test antigen,” terangnya. Sebab, uji screening tersebut paling mendekati adanya virus jika dibandingkan dengan rapid test biasa.

Meski kasus di Jember sudah landai, dr Angga mengimbau pemerintah sekaligus masyarakat untuk tetap waspada. “Jangan sampai terjadi gelombang susulan kasus Covid-19 seperti di India,” tegasnya.

Pengurangan kasus, lanjutnya, membuat masyarakatnya mengadakan banyak kegiatan yang mengumpulkan massa. Akibatnya, mutasi virus yang berkembang kembali menjangkit masyarakat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 belum juga habis di Kabupaten Jember. Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, masih ada sebanyak 33 kasus aktif. Sebanyak 19 pasien menjalani perawatan di rumah sakit, dan 14 pasien isolasi secara mandiri.

Sejurus dengan hal itu, Bupati Jember Hendy Siswanto menerangkan bahwa mudik tetap diizinkan. Jika masih tetap ada yang mudik, tetap diantisipasi. Ditanya tentang adanya pos pantau di perbatasan, dia menerangkan bahwa pihaknya bakal menggunakan pemantauan yang dilakukan dengan menerapkan posko pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Lalu, apakah itu efektif?

Dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi, dr Angga Mardro Raharjo SpP, menerangkan bahwa hal tersebut dipandang kurang efektif. Sebab, pelaksanaan protokol kesehatan masih lemah. “Hal tersebut terbukti dari minimnya masyarakat yang menerapkan protokol kesehatan,” lanjutnya,

Menurut dia, adanya pos pantau pada Ramadan sebelumnya sudah bagus. Namun, perlu dikembangkan. Seperti diketahui, setiap pengendara yang melintas di perbatasan dicek. Mulai dari pendataan, suhu tubuh, hingga rapid test. “Akan lebih baik jika diadakan pos pantau lagi dengan menggunakan rapid test antigen,” terangnya. Sebab, uji screening tersebut paling mendekati adanya virus jika dibandingkan dengan rapid test biasa.

Meski kasus di Jember sudah landai, dr Angga mengimbau pemerintah sekaligus masyarakat untuk tetap waspada. “Jangan sampai terjadi gelombang susulan kasus Covid-19 seperti di India,” tegasnya.

Pengurangan kasus, lanjutnya, membuat masyarakatnya mengadakan banyak kegiatan yang mengumpulkan massa. Akibatnya, mutasi virus yang berkembang kembali menjangkit masyarakat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 belum juga habis di Kabupaten Jember. Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, masih ada sebanyak 33 kasus aktif. Sebanyak 19 pasien menjalani perawatan di rumah sakit, dan 14 pasien isolasi secara mandiri.

Sejurus dengan hal itu, Bupati Jember Hendy Siswanto menerangkan bahwa mudik tetap diizinkan. Jika masih tetap ada yang mudik, tetap diantisipasi. Ditanya tentang adanya pos pantau di perbatasan, dia menerangkan bahwa pihaknya bakal menggunakan pemantauan yang dilakukan dengan menerapkan posko pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Lalu, apakah itu efektif?

Dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi, dr Angga Mardro Raharjo SpP, menerangkan bahwa hal tersebut dipandang kurang efektif. Sebab, pelaksanaan protokol kesehatan masih lemah. “Hal tersebut terbukti dari minimnya masyarakat yang menerapkan protokol kesehatan,” lanjutnya,

Menurut dia, adanya pos pantau pada Ramadan sebelumnya sudah bagus. Namun, perlu dikembangkan. Seperti diketahui, setiap pengendara yang melintas di perbatasan dicek. Mulai dari pendataan, suhu tubuh, hingga rapid test. “Akan lebih baik jika diadakan pos pantau lagi dengan menggunakan rapid test antigen,” terangnya. Sebab, uji screening tersebut paling mendekati adanya virus jika dibandingkan dengan rapid test biasa.

Meski kasus di Jember sudah landai, dr Angga mengimbau pemerintah sekaligus masyarakat untuk tetap waspada. “Jangan sampai terjadi gelombang susulan kasus Covid-19 seperti di India,” tegasnya.

Pengurangan kasus, lanjutnya, membuat masyarakatnya mengadakan banyak kegiatan yang mengumpulkan massa. Akibatnya, mutasi virus yang berkembang kembali menjangkit masyarakat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/