alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Komitmen Polisi Benar-Benar Diuji

Mencuatnya kasus kekerasan oleh anggota perguruan silat memantik perhatian publik. Masyarakat sudah jengah dengan sikap pongah pendekar jalanan itu. Publik pun mendesak polisi menangkap semua pelaku yang terlibat. Sehingga di kemudian hari, tidak ada lagi pesilat dari perguruan mana pun yang menjadi pelaku kekerasan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banyak yang menyayangkan peristiwa kekerasan itu terjadi lagi. Padahal sebelum-sebelumnya sudah pernah ada kasus sejenis. Bahkan beberapa di antaranya sudah naik ke meja hijau, Dan pelakunya pun telah diputus bersalah. Namun, dalam catatan, masih ada beberapa kasus yang ngendon dan selesai dengan bertanda tangan di atas meterai. Inilah yang ditengarai menjadi musabab para perusuh tidak kapok. Akibatnya, kekerasan yang sama terjadi di hari berbeda.

Teranyar, kasus pengeroyokan yang terjadi di Bangsalsari, beberapa hari lalu, yang ditengarai dilakukan oleh oknum anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Korbannya adalah anggota Pagar Nusa (PN), sebuah organisasi silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Kasus ini otomatis menambah panjang daftar kekerasan yang dilakukan oleh oknum perguruan silat di Jember.

Mencuatnya kasus pemukulan yang hingga membuat korbannya harus dilarikan ke rumah sakit itu, seketika mengundang reaksi publik. Bagaimana sejatinya proses penegakan hukum oleh kepolisian terhadap para pelaku. Lebih-lebih, insiden itu melibatkan salah satu perguruan silat yang jumlah anggotanya cukup banyak di Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketua Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (Gasmi) Jember Sasmito Hadi mengatakan, sebagai salah satu aliran silat di bawah naungan PN Jember, ia mengaku menyayangkan adanya insiden pengeroyokan, beberapa hari lalu. Menurut dia, gerakan Gasmi itu lebih mengedepankan akhlakul karimah, sehingga tidak murni semua didikan fisik atau jurus silat. “Anggota Gasmi banyak yang dari pesantren. Jadi, mengedepankan akhlakul karimah, menata akhlak anak-anak muda,” ujarnya.

Ia menguraikan, sejatinya, seni bela diri itu dijadikan sebagai ajang memperbaiki diri, bukan sekadar membuat sakti seorang diri. Persis seperti ajaran yang dilakukan oleh pesantren-pesantren. Dengan begitu, mereka–anak-anak muda–bisa bermanfaat di masyarakat. “Jadi, seni bela diri itu sebagai ajang memperbaiki akhlak. Juga mengukir prestasi,” jelasnya.

Ia mengakui, urusan prestasi, para santri sebenarnya banyak yang potensial. “Prestasi ini yang seharusnya terus kita dorong,” lanjutnya. Kendati banyak didominasi anak-anak pesantren, ia juga mengakui ada pula para anggotanya yang berasal dari anak-anak sekolah dan lingkungan masyarakat umum.

Saat disinggung mengenai kasus itu, ia berharap, semuanya bisa diselesaikan dengan bijak, sesuai prosedur hukum yang berjalan dengan seadil-adilnya. Ia merasa sudah ada pihak lain yang lebih berwenang dan lebih bertanggung mengurus soal itu, yakni kepolisian.

Paparan Ketua Gasmi itu juga selaras dengan Ketua PN Jember Fathorrozi. Dia menyebut, perlu ada tindakan tegas pihak kepolisian. Baginya, kasus sejenis sudah beberapa kali terjadi, dan hanya segelintir yang masuk hingga proses peradilan.

Bahkan lebih jauh, dalam keterangan resmi yang dibeberkan oleh Pengurus Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, mereka memberikan tenggat 3×24 jam bagi kepolisian agar segera menuntaskan kasus tersebut dan menangkap pelakunya. Jika sampai batas waktu tidak ada hasil, kabarnya PCNU Jember akan kembali mendatangi polres, Jumat (23/4) besok, untuk menagih tuntutannya.

Di sisi lain, Pimpinan PSHT Jember tetap mengupayakan kasus tersebut bisa berjalan tertib dan kondusif. Tanpa muncul kegaduhan. Sebab, sempat tersiar kabar bahwa akan ada pengerahan masa dari anggota PSHT luar daerah yang hendak merapat ke Jember.

Terkait hal itu, Ketua PSHT Jember Jono Wasinudin menegaskan, pihaknya tetap mendukung proses hukum yang bakal dilakukan kepolisian. “Kami sudah mediasi dan sepakat untuk menjaga kekondusifan Jember. Dan mendukung polisi menjalankan proses hukum, bukan damai loh ya?” tegas Jono kepada Jawa Pos Radar Jember.

Dalam catatan, pertikaian perguruan silat PSHT Jember sempat beberapa kali masuk pengadilan dan berakhir dengan putusan. Naniek Sudiarti, penasihat hukum PSHT Jember yang sempat tiga kali menangani kasus yang menimpa anggota PSHT Jember, membeberkan proses hukum selama 2020 lalu. “Dalam kasus yang sempat saya tangani, sejak 2020 ada sekitar tiga kasus,” ujar Naniek.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banyak yang menyayangkan peristiwa kekerasan itu terjadi lagi. Padahal sebelum-sebelumnya sudah pernah ada kasus sejenis. Bahkan beberapa di antaranya sudah naik ke meja hijau, Dan pelakunya pun telah diputus bersalah. Namun, dalam catatan, masih ada beberapa kasus yang ngendon dan selesai dengan bertanda tangan di atas meterai. Inilah yang ditengarai menjadi musabab para perusuh tidak kapok. Akibatnya, kekerasan yang sama terjadi di hari berbeda.

Teranyar, kasus pengeroyokan yang terjadi di Bangsalsari, beberapa hari lalu, yang ditengarai dilakukan oleh oknum anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Korbannya adalah anggota Pagar Nusa (PN), sebuah organisasi silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Kasus ini otomatis menambah panjang daftar kekerasan yang dilakukan oleh oknum perguruan silat di Jember.

Mencuatnya kasus pemukulan yang hingga membuat korbannya harus dilarikan ke rumah sakit itu, seketika mengundang reaksi publik. Bagaimana sejatinya proses penegakan hukum oleh kepolisian terhadap para pelaku. Lebih-lebih, insiden itu melibatkan salah satu perguruan silat yang jumlah anggotanya cukup banyak di Jember.

Ketua Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (Gasmi) Jember Sasmito Hadi mengatakan, sebagai salah satu aliran silat di bawah naungan PN Jember, ia mengaku menyayangkan adanya insiden pengeroyokan, beberapa hari lalu. Menurut dia, gerakan Gasmi itu lebih mengedepankan akhlakul karimah, sehingga tidak murni semua didikan fisik atau jurus silat. “Anggota Gasmi banyak yang dari pesantren. Jadi, mengedepankan akhlakul karimah, menata akhlak anak-anak muda,” ujarnya.

Ia menguraikan, sejatinya, seni bela diri itu dijadikan sebagai ajang memperbaiki diri, bukan sekadar membuat sakti seorang diri. Persis seperti ajaran yang dilakukan oleh pesantren-pesantren. Dengan begitu, mereka–anak-anak muda–bisa bermanfaat di masyarakat. “Jadi, seni bela diri itu sebagai ajang memperbaiki akhlak. Juga mengukir prestasi,” jelasnya.

Ia mengakui, urusan prestasi, para santri sebenarnya banyak yang potensial. “Prestasi ini yang seharusnya terus kita dorong,” lanjutnya. Kendati banyak didominasi anak-anak pesantren, ia juga mengakui ada pula para anggotanya yang berasal dari anak-anak sekolah dan lingkungan masyarakat umum.

Saat disinggung mengenai kasus itu, ia berharap, semuanya bisa diselesaikan dengan bijak, sesuai prosedur hukum yang berjalan dengan seadil-adilnya. Ia merasa sudah ada pihak lain yang lebih berwenang dan lebih bertanggung mengurus soal itu, yakni kepolisian.

Paparan Ketua Gasmi itu juga selaras dengan Ketua PN Jember Fathorrozi. Dia menyebut, perlu ada tindakan tegas pihak kepolisian. Baginya, kasus sejenis sudah beberapa kali terjadi, dan hanya segelintir yang masuk hingga proses peradilan.

Bahkan lebih jauh, dalam keterangan resmi yang dibeberkan oleh Pengurus Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, mereka memberikan tenggat 3×24 jam bagi kepolisian agar segera menuntaskan kasus tersebut dan menangkap pelakunya. Jika sampai batas waktu tidak ada hasil, kabarnya PCNU Jember akan kembali mendatangi polres, Jumat (23/4) besok, untuk menagih tuntutannya.

Di sisi lain, Pimpinan PSHT Jember tetap mengupayakan kasus tersebut bisa berjalan tertib dan kondusif. Tanpa muncul kegaduhan. Sebab, sempat tersiar kabar bahwa akan ada pengerahan masa dari anggota PSHT luar daerah yang hendak merapat ke Jember.

Terkait hal itu, Ketua PSHT Jember Jono Wasinudin menegaskan, pihaknya tetap mendukung proses hukum yang bakal dilakukan kepolisian. “Kami sudah mediasi dan sepakat untuk menjaga kekondusifan Jember. Dan mendukung polisi menjalankan proses hukum, bukan damai loh ya?” tegas Jono kepada Jawa Pos Radar Jember.

Dalam catatan, pertikaian perguruan silat PSHT Jember sempat beberapa kali masuk pengadilan dan berakhir dengan putusan. Naniek Sudiarti, penasihat hukum PSHT Jember yang sempat tiga kali menangani kasus yang menimpa anggota PSHT Jember, membeberkan proses hukum selama 2020 lalu. “Dalam kasus yang sempat saya tangani, sejak 2020 ada sekitar tiga kasus,” ujar Naniek.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banyak yang menyayangkan peristiwa kekerasan itu terjadi lagi. Padahal sebelum-sebelumnya sudah pernah ada kasus sejenis. Bahkan beberapa di antaranya sudah naik ke meja hijau, Dan pelakunya pun telah diputus bersalah. Namun, dalam catatan, masih ada beberapa kasus yang ngendon dan selesai dengan bertanda tangan di atas meterai. Inilah yang ditengarai menjadi musabab para perusuh tidak kapok. Akibatnya, kekerasan yang sama terjadi di hari berbeda.

Teranyar, kasus pengeroyokan yang terjadi di Bangsalsari, beberapa hari lalu, yang ditengarai dilakukan oleh oknum anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Korbannya adalah anggota Pagar Nusa (PN), sebuah organisasi silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Kasus ini otomatis menambah panjang daftar kekerasan yang dilakukan oleh oknum perguruan silat di Jember.

Mencuatnya kasus pemukulan yang hingga membuat korbannya harus dilarikan ke rumah sakit itu, seketika mengundang reaksi publik. Bagaimana sejatinya proses penegakan hukum oleh kepolisian terhadap para pelaku. Lebih-lebih, insiden itu melibatkan salah satu perguruan silat yang jumlah anggotanya cukup banyak di Jember.

Ketua Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (Gasmi) Jember Sasmito Hadi mengatakan, sebagai salah satu aliran silat di bawah naungan PN Jember, ia mengaku menyayangkan adanya insiden pengeroyokan, beberapa hari lalu. Menurut dia, gerakan Gasmi itu lebih mengedepankan akhlakul karimah, sehingga tidak murni semua didikan fisik atau jurus silat. “Anggota Gasmi banyak yang dari pesantren. Jadi, mengedepankan akhlakul karimah, menata akhlak anak-anak muda,” ujarnya.

Ia menguraikan, sejatinya, seni bela diri itu dijadikan sebagai ajang memperbaiki diri, bukan sekadar membuat sakti seorang diri. Persis seperti ajaran yang dilakukan oleh pesantren-pesantren. Dengan begitu, mereka–anak-anak muda–bisa bermanfaat di masyarakat. “Jadi, seni bela diri itu sebagai ajang memperbaiki akhlak. Juga mengukir prestasi,” jelasnya.

Ia mengakui, urusan prestasi, para santri sebenarnya banyak yang potensial. “Prestasi ini yang seharusnya terus kita dorong,” lanjutnya. Kendati banyak didominasi anak-anak pesantren, ia juga mengakui ada pula para anggotanya yang berasal dari anak-anak sekolah dan lingkungan masyarakat umum.

Saat disinggung mengenai kasus itu, ia berharap, semuanya bisa diselesaikan dengan bijak, sesuai prosedur hukum yang berjalan dengan seadil-adilnya. Ia merasa sudah ada pihak lain yang lebih berwenang dan lebih bertanggung mengurus soal itu, yakni kepolisian.

Paparan Ketua Gasmi itu juga selaras dengan Ketua PN Jember Fathorrozi. Dia menyebut, perlu ada tindakan tegas pihak kepolisian. Baginya, kasus sejenis sudah beberapa kali terjadi, dan hanya segelintir yang masuk hingga proses peradilan.

Bahkan lebih jauh, dalam keterangan resmi yang dibeberkan oleh Pengurus Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, mereka memberikan tenggat 3×24 jam bagi kepolisian agar segera menuntaskan kasus tersebut dan menangkap pelakunya. Jika sampai batas waktu tidak ada hasil, kabarnya PCNU Jember akan kembali mendatangi polres, Jumat (23/4) besok, untuk menagih tuntutannya.

Di sisi lain, Pimpinan PSHT Jember tetap mengupayakan kasus tersebut bisa berjalan tertib dan kondusif. Tanpa muncul kegaduhan. Sebab, sempat tersiar kabar bahwa akan ada pengerahan masa dari anggota PSHT luar daerah yang hendak merapat ke Jember.

Terkait hal itu, Ketua PSHT Jember Jono Wasinudin menegaskan, pihaknya tetap mendukung proses hukum yang bakal dilakukan kepolisian. “Kami sudah mediasi dan sepakat untuk menjaga kekondusifan Jember. Dan mendukung polisi menjalankan proses hukum, bukan damai loh ya?” tegas Jono kepada Jawa Pos Radar Jember.

Dalam catatan, pertikaian perguruan silat PSHT Jember sempat beberapa kali masuk pengadilan dan berakhir dengan putusan. Naniek Sudiarti, penasihat hukum PSHT Jember yang sempat tiga kali menangani kasus yang menimpa anggota PSHT Jember, membeberkan proses hukum selama 2020 lalu. “Dalam kasus yang sempat saya tangani, sejak 2020 ada sekitar tiga kasus,” ujar Naniek.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/