alexametrics
23.6 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Menang Bergantung Partner, Pasangan Harus Paham Kode Permainan

Bridge memang belum sepopuler catur. Tapi bagi atlet yang menekuni permainan kartu ini, bridge selalu merasa tertantang. Sebab, atlet harus memeras otak agar memenangkan pertandingan. Inilah yang membikin Ainul Kiromah semakin gandrung dengan olahraga itu, hingga mengantarkannya meraih medali mewakili Indonesia di ajang Asia Pasific Bridge 2018 lalu.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak banyak tanda yang menunjukkan bahwa Ainul Kiromah adalah seorang atlet. Kecuali sejumlah medali yang tersusun rapi di dinding ruang tamu rumahnya, di Desa Karang Paiton, Kecamatan Ledokombo. Rupanya, sejak SMP perempuan itu sudah menggeluti cabang olahraga (cabor) bridge. Cabor yang mempertandingkan kemahiran bermain kartu remi ini sudah menjadi cabor resmi. Bahkan, di Asian Games 2019 lalu sudah dipertandingkan.

Kini, mahasiswi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej) semester akhir ini sudah meraih sederet prestasi mentereng. Mulai dari kejuaraan provinsi (kejurprov), kejuaraan nasional (kejurnas) hingga turnamen internasional tingkat Asia.

Ditemui di kediamannya, di Desa Karang Paiton, Kecamatan Ledokombo. Ainul memang pemudi yang gemar berpikir. “Waktu saya SMP di SMPN 1 Sukowono dulu, diajak Pak Saiful Bahri, guru saya, untuk bermain bridge. Saya rasa permainan ini unik, apalagi saya juga suka berpikir,” tutur putri pertama pasangan Sauliha dan Zainal Arifin ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejak saat itu, Ainul mulai dilatih bermain bridge. Di SMA pun, Ainul semakin kencang untuk latihan rutin. Apalagi, dia sudah mulai bergonta-ganti pasangan bermain. Mulai dari SMP hingga SMA, dirinya sudah tiga kali berganti partner bermain bridge. “Sejak SMP, pasangan main saya sama Siti Holifatul. SMA juga pernah sama Edi Ramadhan dan Dewi Anggraini,” tutur perempuan kelahiran 29 Juni 1999 ini.

Nama terakhir yang dia sebutkan itu menjadi pasangan bermainnya hingga dia menempuh studi di Unej. Ainul menyebut, tantangan terberatnya saat bermain bridge berada di pasangannya. Sebab, permainan bridge dimainkan oleh empat orang dalam satu meja dengan dua pasangan. “Dalam bridge itu ada namanya sistem permainan. Kita harus sama-sama paham visi kita dan kode permainan. Kalau tidak, ya susah nantinya,” beber Ainul.

Di masa-masa mahasiswa itulah, Ainul kerap menyabet prestasi membanggakan. Paling mentereng yakni mendapat medali perak kategori campuran dalam kejuaraan Open Youth Championship Asia Pasific Bridge Federation di Bogor 2018 silam. Ainul menjadi salah satu wakil Indonesia di kejuaraan internasional tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak banyak tanda yang menunjukkan bahwa Ainul Kiromah adalah seorang atlet. Kecuali sejumlah medali yang tersusun rapi di dinding ruang tamu rumahnya, di Desa Karang Paiton, Kecamatan Ledokombo. Rupanya, sejak SMP perempuan itu sudah menggeluti cabang olahraga (cabor) bridge. Cabor yang mempertandingkan kemahiran bermain kartu remi ini sudah menjadi cabor resmi. Bahkan, di Asian Games 2019 lalu sudah dipertandingkan.

Kini, mahasiswi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej) semester akhir ini sudah meraih sederet prestasi mentereng. Mulai dari kejuaraan provinsi (kejurprov), kejuaraan nasional (kejurnas) hingga turnamen internasional tingkat Asia.

Ditemui di kediamannya, di Desa Karang Paiton, Kecamatan Ledokombo. Ainul memang pemudi yang gemar berpikir. “Waktu saya SMP di SMPN 1 Sukowono dulu, diajak Pak Saiful Bahri, guru saya, untuk bermain bridge. Saya rasa permainan ini unik, apalagi saya juga suka berpikir,” tutur putri pertama pasangan Sauliha dan Zainal Arifin ini.

Sejak saat itu, Ainul mulai dilatih bermain bridge. Di SMA pun, Ainul semakin kencang untuk latihan rutin. Apalagi, dia sudah mulai bergonta-ganti pasangan bermain. Mulai dari SMP hingga SMA, dirinya sudah tiga kali berganti partner bermain bridge. “Sejak SMP, pasangan main saya sama Siti Holifatul. SMA juga pernah sama Edi Ramadhan dan Dewi Anggraini,” tutur perempuan kelahiran 29 Juni 1999 ini.

Nama terakhir yang dia sebutkan itu menjadi pasangan bermainnya hingga dia menempuh studi di Unej. Ainul menyebut, tantangan terberatnya saat bermain bridge berada di pasangannya. Sebab, permainan bridge dimainkan oleh empat orang dalam satu meja dengan dua pasangan. “Dalam bridge itu ada namanya sistem permainan. Kita harus sama-sama paham visi kita dan kode permainan. Kalau tidak, ya susah nantinya,” beber Ainul.

Di masa-masa mahasiswa itulah, Ainul kerap menyabet prestasi membanggakan. Paling mentereng yakni mendapat medali perak kategori campuran dalam kejuaraan Open Youth Championship Asia Pasific Bridge Federation di Bogor 2018 silam. Ainul menjadi salah satu wakil Indonesia di kejuaraan internasional tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak banyak tanda yang menunjukkan bahwa Ainul Kiromah adalah seorang atlet. Kecuali sejumlah medali yang tersusun rapi di dinding ruang tamu rumahnya, di Desa Karang Paiton, Kecamatan Ledokombo. Rupanya, sejak SMP perempuan itu sudah menggeluti cabang olahraga (cabor) bridge. Cabor yang mempertandingkan kemahiran bermain kartu remi ini sudah menjadi cabor resmi. Bahkan, di Asian Games 2019 lalu sudah dipertandingkan.

Kini, mahasiswi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej) semester akhir ini sudah meraih sederet prestasi mentereng. Mulai dari kejuaraan provinsi (kejurprov), kejuaraan nasional (kejurnas) hingga turnamen internasional tingkat Asia.

Ditemui di kediamannya, di Desa Karang Paiton, Kecamatan Ledokombo. Ainul memang pemudi yang gemar berpikir. “Waktu saya SMP di SMPN 1 Sukowono dulu, diajak Pak Saiful Bahri, guru saya, untuk bermain bridge. Saya rasa permainan ini unik, apalagi saya juga suka berpikir,” tutur putri pertama pasangan Sauliha dan Zainal Arifin ini.

Sejak saat itu, Ainul mulai dilatih bermain bridge. Di SMA pun, Ainul semakin kencang untuk latihan rutin. Apalagi, dia sudah mulai bergonta-ganti pasangan bermain. Mulai dari SMP hingga SMA, dirinya sudah tiga kali berganti partner bermain bridge. “Sejak SMP, pasangan main saya sama Siti Holifatul. SMA juga pernah sama Edi Ramadhan dan Dewi Anggraini,” tutur perempuan kelahiran 29 Juni 1999 ini.

Nama terakhir yang dia sebutkan itu menjadi pasangan bermainnya hingga dia menempuh studi di Unej. Ainul menyebut, tantangan terberatnya saat bermain bridge berada di pasangannya. Sebab, permainan bridge dimainkan oleh empat orang dalam satu meja dengan dua pasangan. “Dalam bridge itu ada namanya sistem permainan. Kita harus sama-sama paham visi kita dan kode permainan. Kalau tidak, ya susah nantinya,” beber Ainul.

Di masa-masa mahasiswa itulah, Ainul kerap menyabet prestasi membanggakan. Paling mentereng yakni mendapat medali perak kategori campuran dalam kejuaraan Open Youth Championship Asia Pasific Bridge Federation di Bogor 2018 silam. Ainul menjadi salah satu wakil Indonesia di kejuaraan internasional tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/