alexametrics
23.9 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Akurasi Penerima Bansos Dikeluhkan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan bantuan sosial yang peruntukannya menyasar keluarga miskin atau kurang mampu. Namun, sering kali yang terjadi di lapangan, justru ada penerima bantuan dari kalangan warga yang telah mampu alias sudah kaya.

Baca Juga : Dugaan Korupsi Dana Covid-19 Rp 107 M, Polisi Periksa Sejumlah Pejabat

Hal itu disayangkan beberapa orang di Pendapa Kecamatan Wuluhan, belum lama ini. Mereka mengeluhkan banyaknya masyarakat yang menerima bantuan dari kalangan yang sudah mampu. Sementara, warga yang dikategorikan miskin justru luput dari sasaran bantuan PKH atau BPNT.

Mobile_AP_Rectangle 2

Plt Kepala Dinas Sosial Jember Isnaini Dwi Susanti membenarkan demikian. Menurut dia, akurasi penerima bansos yang kerap kali meleset itu karena soal validasi data. Padahal dia mengaku sering kali mempertanyakan validitas data-data tersebut ke petugas di lapangan. “Di kami, Dinsos, sudah ada teman-teman PKH di semua desa. Ketika saya tanya kenapa kok belum update, mereka jawab, sudah kami update tapi kembali begitu lagi, Bu,” kata Isnaini, menirukan.

Lemahnya validitas data-data itu tentu karena jarang di-update. Kendati begitu, Isnaini mengaku telah melakukan sejumlah langkah soal data tersebut. Sekaligus mengidentifikasi mengapa data kemiskinan itu tak kunjung valid. “Alhamdulillah, kami sudah mulai verval (verifikasi dan validasi, Red) data kemiskinan sejak J-HUR di Kecamatan Silo, kemarin. Jadi, kami turun langsung memeriksa, benar tidak penerima itu layak menerima bantuan,” kata perempuan yang juga menjabat Kepala Dispendukcapil Jember ini.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan bantuan sosial yang peruntukannya menyasar keluarga miskin atau kurang mampu. Namun, sering kali yang terjadi di lapangan, justru ada penerima bantuan dari kalangan warga yang telah mampu alias sudah kaya.

Baca Juga : Dugaan Korupsi Dana Covid-19 Rp 107 M, Polisi Periksa Sejumlah Pejabat

Hal itu disayangkan beberapa orang di Pendapa Kecamatan Wuluhan, belum lama ini. Mereka mengeluhkan banyaknya masyarakat yang menerima bantuan dari kalangan yang sudah mampu. Sementara, warga yang dikategorikan miskin justru luput dari sasaran bantuan PKH atau BPNT.

Plt Kepala Dinas Sosial Jember Isnaini Dwi Susanti membenarkan demikian. Menurut dia, akurasi penerima bansos yang kerap kali meleset itu karena soal validasi data. Padahal dia mengaku sering kali mempertanyakan validitas data-data tersebut ke petugas di lapangan. “Di kami, Dinsos, sudah ada teman-teman PKH di semua desa. Ketika saya tanya kenapa kok belum update, mereka jawab, sudah kami update tapi kembali begitu lagi, Bu,” kata Isnaini, menirukan.

Lemahnya validitas data-data itu tentu karena jarang di-update. Kendati begitu, Isnaini mengaku telah melakukan sejumlah langkah soal data tersebut. Sekaligus mengidentifikasi mengapa data kemiskinan itu tak kunjung valid. “Alhamdulillah, kami sudah mulai verval (verifikasi dan validasi, Red) data kemiskinan sejak J-HUR di Kecamatan Silo, kemarin. Jadi, kami turun langsung memeriksa, benar tidak penerima itu layak menerima bantuan,” kata perempuan yang juga menjabat Kepala Dispendukcapil Jember ini.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan bantuan sosial yang peruntukannya menyasar keluarga miskin atau kurang mampu. Namun, sering kali yang terjadi di lapangan, justru ada penerima bantuan dari kalangan warga yang telah mampu alias sudah kaya.

Baca Juga : Dugaan Korupsi Dana Covid-19 Rp 107 M, Polisi Periksa Sejumlah Pejabat

Hal itu disayangkan beberapa orang di Pendapa Kecamatan Wuluhan, belum lama ini. Mereka mengeluhkan banyaknya masyarakat yang menerima bantuan dari kalangan yang sudah mampu. Sementara, warga yang dikategorikan miskin justru luput dari sasaran bantuan PKH atau BPNT.

Plt Kepala Dinas Sosial Jember Isnaini Dwi Susanti membenarkan demikian. Menurut dia, akurasi penerima bansos yang kerap kali meleset itu karena soal validasi data. Padahal dia mengaku sering kali mempertanyakan validitas data-data tersebut ke petugas di lapangan. “Di kami, Dinsos, sudah ada teman-teman PKH di semua desa. Ketika saya tanya kenapa kok belum update, mereka jawab, sudah kami update tapi kembali begitu lagi, Bu,” kata Isnaini, menirukan.

Lemahnya validitas data-data itu tentu karena jarang di-update. Kendati begitu, Isnaini mengaku telah melakukan sejumlah langkah soal data tersebut. Sekaligus mengidentifikasi mengapa data kemiskinan itu tak kunjung valid. “Alhamdulillah, kami sudah mulai verval (verifikasi dan validasi, Red) data kemiskinan sejak J-HUR di Kecamatan Silo, kemarin. Jadi, kami turun langsung memeriksa, benar tidak penerima itu layak menerima bantuan,” kata perempuan yang juga menjabat Kepala Dispendukcapil Jember ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/