alexametrics
22.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Seperti Punya Orang Dalam

Polisi Diminta Jangan sampai Kecolongan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Maraknya aktivitas balap liar belakangan ini harus menjadi atensi masyarakat, terutama aparat kepolisian. Sebab, balap liar bukan sekali dua kali, tapi sudah sering dilakukan. Bahkan, sempat menimbulkan korban. Aksi itu berlangsung secara tersembunyi, kucing-kucingan, hingga diduga ada persekongkolan dengan oknum. Inilah yang menjadi musabab kenapa adu cepat di jalanan itu masih saja terjadi hingga kini.

Jawa Pos Radar Jember menelusuri salah satu kawasan yang diduga paling sering menjadi tempat balap liar. Salah satunya di kawasan jalur lintas selatan (JLS) yang tepat di Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas. Lokasinya berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman warga. Jadi, cukup sepi. Terlebih jika malam atau dini hari.

Di lokasi itu, terdapat dua garis putih. Lengkap dengan tulisan ‘start’ dan ‘finish’. Jarak keduanya terhitung sekitar 500 meter. Ada pula yang jaraknya sampai satu kilometer. Jalannya cukup mulus.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di sisi utara jalan, hamparan gundukan pasir. Beberapa di antaranya ladang persawahan milik warga. Sementara, di sisi selatan jalan, beberapa area tambak udang dan sempadan pantai. Tak heran, kawasan ini disebut-sebut warga setempat sebagai tempat balap liar paling subur. “Di sini memang sering anak-anak balapan liar. Nggak tahu anak mana saja,” ungkap Romlah, warga setempat, pemilik salah satu warung kopi di sekitar JLS.

Romlah tidak mengetahui pasti tentang aktivitas balap liar itu. Sebab, ia hanya melapak sedari pagi hingga sore. “Katanya yang sering malam hari. Kalau sore-sore, hanya ada anak lewat. Kadang nyoba-nyoba sepeda motornya,” katanya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Beberapa warga lain menyebutkan, balap liar lebih sering dilakukan malam hari. Bahkan, dini hari sampai menjelang fajar. “Kalau sampeyan pingin tahu balapan liar di sekitar JLS ini, dagang saja. Malam Sabtu atau malam Minggu. Tapi subuh, sekitar pukul 4.00,” kata Udik, warga Gumukmas.

Informasi itu juga dikuatkan oleh Fahrur Rozi, ketua sebuah organisasi kepemudaan di Dusun Jadukan, Mojosari, Puger. Lokasi rumahnya tidak jauh dari Dusun Jeni. Jika melewati JLS, berjarak sekitar satu kilometer, menurut Fahrur, aktivitas balap liar memang ada. Biasanya berlangsung pada hari-hari tertentu. “Tidak tiap hari. Asal anak-anak itu ada kesepakatan, ya jadi balapan. Memang, biasanya itu malam Sabtu atau malam Minggu, saat subuh,” bebernya.

Khusus waktu subuh, lanjut dia, ditengarai ada taruhannya. Para remaja dan pemuda yang balapan biasanya sudah bersiap-siap sebelum aksi dimulai. Mereka berkumpul di suatu tempat sekitar pukul 00.00 dini hari. Fahrur menduga, waktu sepertiga malam sengaja mereka pilih untuk menghindari patroli polisi. “Karena kalau sekadar balapan, mereka bisa melakukan di hari-hari biasa. Kalau ada taruhannya, waktu subuh itu diambil,” tambahnya.

Sejumlah warga lain mencurigai, maraknya aksi balap liar itu karena razia yang bakal dilakukan polisi bocor lebih dulu. Sehingga para pelaku leluasa melakukan aktivitasnya. Bahkan, kecurigaan itu sampai mengarah pada dugaan keterlibatan sejumlah warga setempat dan aparat, yang juga mengamankan jalannya balap liar.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Maraknya aktivitas balap liar belakangan ini harus menjadi atensi masyarakat, terutama aparat kepolisian. Sebab, balap liar bukan sekali dua kali, tapi sudah sering dilakukan. Bahkan, sempat menimbulkan korban. Aksi itu berlangsung secara tersembunyi, kucing-kucingan, hingga diduga ada persekongkolan dengan oknum. Inilah yang menjadi musabab kenapa adu cepat di jalanan itu masih saja terjadi hingga kini.

Jawa Pos Radar Jember menelusuri salah satu kawasan yang diduga paling sering menjadi tempat balap liar. Salah satunya di kawasan jalur lintas selatan (JLS) yang tepat di Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas. Lokasinya berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman warga. Jadi, cukup sepi. Terlebih jika malam atau dini hari.

Di lokasi itu, terdapat dua garis putih. Lengkap dengan tulisan ‘start’ dan ‘finish’. Jarak keduanya terhitung sekitar 500 meter. Ada pula yang jaraknya sampai satu kilometer. Jalannya cukup mulus.

Di sisi utara jalan, hamparan gundukan pasir. Beberapa di antaranya ladang persawahan milik warga. Sementara, di sisi selatan jalan, beberapa area tambak udang dan sempadan pantai. Tak heran, kawasan ini disebut-sebut warga setempat sebagai tempat balap liar paling subur. “Di sini memang sering anak-anak balapan liar. Nggak tahu anak mana saja,” ungkap Romlah, warga setempat, pemilik salah satu warung kopi di sekitar JLS.

Romlah tidak mengetahui pasti tentang aktivitas balap liar itu. Sebab, ia hanya melapak sedari pagi hingga sore. “Katanya yang sering malam hari. Kalau sore-sore, hanya ada anak lewat. Kadang nyoba-nyoba sepeda motornya,” katanya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Beberapa warga lain menyebutkan, balap liar lebih sering dilakukan malam hari. Bahkan, dini hari sampai menjelang fajar. “Kalau sampeyan pingin tahu balapan liar di sekitar JLS ini, dagang saja. Malam Sabtu atau malam Minggu. Tapi subuh, sekitar pukul 4.00,” kata Udik, warga Gumukmas.

Informasi itu juga dikuatkan oleh Fahrur Rozi, ketua sebuah organisasi kepemudaan di Dusun Jadukan, Mojosari, Puger. Lokasi rumahnya tidak jauh dari Dusun Jeni. Jika melewati JLS, berjarak sekitar satu kilometer, menurut Fahrur, aktivitas balap liar memang ada. Biasanya berlangsung pada hari-hari tertentu. “Tidak tiap hari. Asal anak-anak itu ada kesepakatan, ya jadi balapan. Memang, biasanya itu malam Sabtu atau malam Minggu, saat subuh,” bebernya.

Khusus waktu subuh, lanjut dia, ditengarai ada taruhannya. Para remaja dan pemuda yang balapan biasanya sudah bersiap-siap sebelum aksi dimulai. Mereka berkumpul di suatu tempat sekitar pukul 00.00 dini hari. Fahrur menduga, waktu sepertiga malam sengaja mereka pilih untuk menghindari patroli polisi. “Karena kalau sekadar balapan, mereka bisa melakukan di hari-hari biasa. Kalau ada taruhannya, waktu subuh itu diambil,” tambahnya.

Sejumlah warga lain mencurigai, maraknya aksi balap liar itu karena razia yang bakal dilakukan polisi bocor lebih dulu. Sehingga para pelaku leluasa melakukan aktivitasnya. Bahkan, kecurigaan itu sampai mengarah pada dugaan keterlibatan sejumlah warga setempat dan aparat, yang juga mengamankan jalannya balap liar.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Maraknya aktivitas balap liar belakangan ini harus menjadi atensi masyarakat, terutama aparat kepolisian. Sebab, balap liar bukan sekali dua kali, tapi sudah sering dilakukan. Bahkan, sempat menimbulkan korban. Aksi itu berlangsung secara tersembunyi, kucing-kucingan, hingga diduga ada persekongkolan dengan oknum. Inilah yang menjadi musabab kenapa adu cepat di jalanan itu masih saja terjadi hingga kini.

Jawa Pos Radar Jember menelusuri salah satu kawasan yang diduga paling sering menjadi tempat balap liar. Salah satunya di kawasan jalur lintas selatan (JLS) yang tepat di Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas. Lokasinya berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman warga. Jadi, cukup sepi. Terlebih jika malam atau dini hari.

Di lokasi itu, terdapat dua garis putih. Lengkap dengan tulisan ‘start’ dan ‘finish’. Jarak keduanya terhitung sekitar 500 meter. Ada pula yang jaraknya sampai satu kilometer. Jalannya cukup mulus.

Di sisi utara jalan, hamparan gundukan pasir. Beberapa di antaranya ladang persawahan milik warga. Sementara, di sisi selatan jalan, beberapa area tambak udang dan sempadan pantai. Tak heran, kawasan ini disebut-sebut warga setempat sebagai tempat balap liar paling subur. “Di sini memang sering anak-anak balapan liar. Nggak tahu anak mana saja,” ungkap Romlah, warga setempat, pemilik salah satu warung kopi di sekitar JLS.

Romlah tidak mengetahui pasti tentang aktivitas balap liar itu. Sebab, ia hanya melapak sedari pagi hingga sore. “Katanya yang sering malam hari. Kalau sore-sore, hanya ada anak lewat. Kadang nyoba-nyoba sepeda motornya,” katanya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Beberapa warga lain menyebutkan, balap liar lebih sering dilakukan malam hari. Bahkan, dini hari sampai menjelang fajar. “Kalau sampeyan pingin tahu balapan liar di sekitar JLS ini, dagang saja. Malam Sabtu atau malam Minggu. Tapi subuh, sekitar pukul 4.00,” kata Udik, warga Gumukmas.

Informasi itu juga dikuatkan oleh Fahrur Rozi, ketua sebuah organisasi kepemudaan di Dusun Jadukan, Mojosari, Puger. Lokasi rumahnya tidak jauh dari Dusun Jeni. Jika melewati JLS, berjarak sekitar satu kilometer, menurut Fahrur, aktivitas balap liar memang ada. Biasanya berlangsung pada hari-hari tertentu. “Tidak tiap hari. Asal anak-anak itu ada kesepakatan, ya jadi balapan. Memang, biasanya itu malam Sabtu atau malam Minggu, saat subuh,” bebernya.

Khusus waktu subuh, lanjut dia, ditengarai ada taruhannya. Para remaja dan pemuda yang balapan biasanya sudah bersiap-siap sebelum aksi dimulai. Mereka berkumpul di suatu tempat sekitar pukul 00.00 dini hari. Fahrur menduga, waktu sepertiga malam sengaja mereka pilih untuk menghindari patroli polisi. “Karena kalau sekadar balapan, mereka bisa melakukan di hari-hari biasa. Kalau ada taruhannya, waktu subuh itu diambil,” tambahnya.

Sejumlah warga lain mencurigai, maraknya aksi balap liar itu karena razia yang bakal dilakukan polisi bocor lebih dulu. Sehingga para pelaku leluasa melakukan aktivitasnya. Bahkan, kecurigaan itu sampai mengarah pada dugaan keterlibatan sejumlah warga setempat dan aparat, yang juga mengamankan jalannya balap liar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/