alexametrics
29.3 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Lebih Takut Razia ketimbang Hilang Nyawa

Walau polisi kerap melakukan operasi, tapi balap liar di jalanan masih saja terjadi. Padahal, aksi tersebut sangat berbahaya dan bisa merenggut korban nyawa. Kenapa adu cepat di jalanan ini sulit dihilangkan, apa ada yang membekingi?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jalanan malam itu masih basah. Hujan yang baru saja reda menyisakan genangan air di beberapa ruas jalan. Meski begitu, lalu-lalang di sepanjang Jalan Gajah Mada, Kaliwates, masih terlihat padat. Kebanyakan kendaraan berknalpot brong.

Biasanya, setiap Jumat malam, para remaja dan pemuda tanggung kumpul di kawasan itu. Mereka kerap menggelar aksi balap liar. Jawa Pos Radar Jember sengaja nyanggong di lokasi tersebut untuk melihat lebih dekat aktivitas para pencinta otomotif jalanan ini. Namun, malam itu, Jumat (19/3), tak ada tanda-tanda balapan liar bakal digelar.

Selain jalanan masih licin, keberadaan mobil polisi yang berpatroli juga menjadi sebab lain kenapa balapan itu urung dilakukan. Di Jalan PB Sudirman, petugas tampak memantau jalanan sejak pukul 22.15. Petugas gabungan juga terlihat sedang berkumpul di Polsek Kaliwates, menjelang pergantian hari sekitar pukul 23.00. Beberapa saat kemudian, aparat bergerak memantau di sepanjang Jalan Gajah Mada.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jalan Gajah Mada, Kaliwates, dan Jalan PB Soedirman, Patrang, adalah dua lokasi yang kerap ditempati aksi adu cepat motor di kawasan kota. Biasanya, aksinya bukan malam hari, tapi dini hari. Waktu sepertiga malam ini dipilih karena jalanan cukup sepi, sehingga mereka lebih leluasa melakukannya. Selain itu, untuk menghindari razia polisi.

Malam itu, di sepanjang Jalan Gajah Mada, banyak pemuda yang memarkir kendaraan mereka di pinggir jalan. Rupanya, mereka tak hanya kongkow, tapi juga menanti pembalap liar yang memacu kendaraan. Para pemuda itu kecewa, sebab apa yang mereka nantikan tak kunjung dimulai. “Aduh, ada polisi berpatroli,” tutur Abdi, bukan nama sebenarnya.

Padahal, Abdi beserta empat kawannya sudah menantikan adu kecepatan yang biasa digelar di lokasi tersebut. Tepatnya di dekat Masjid Al-Huda, Jalan Gajah Mada, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates.

Beberapa remaja lain yang berjalan kaki, tampak duduk-duduk di salah satu warung. Mereka tak menggunakan alas kaki. Sembari bersenda gurau di bawah terpal warung, mata mereka selalu waspada. Khawatir tiba-tiba ada polisi datang dan menjaring mereka. “Kami tak menggunakan sandal untuk mengantisipasi jika ada razia. Karena bukan hanya yang main saja, yang lihat juga bisa kena tangkap,” tutur Rizal, satu di antara sekawanan remaja itu.

Menurut dia, alas kaki kerap menyulitkan mereka berlari. Jadi, ketika mendengar ada razia, secepat kilat para remaja ini kabur dengan mudah. Memakai sandal disebutnya malah bikin ribet. Salah-salah, ketika lari mereka justru kesrimpet. “Biar gesit dan tidak tertangkap. Ini solusinya,” canda remaja 18 tahun, warga sekitar Pasar Gebang, Kecamatan Patrang, itu.

Hujan pun kembali turun. Sepertinya, malam itu memang tak akan ada balap liar. Sebab, cuaca tidak mendukung. Jawa Pos Radar Jember pun mencoba berkeliling setelah hujan mulai mereda. Hingga tiba di salah satu jalan bak lorong yang tampak mencurigakan. Tepatnya, di jalan masuk menuju Gor Kaliwates. Sekilas, tak akan ada yang mengira bahwa lokasi itu bakal digunakan memacu motor balap, karena banyak sekali polisi tidur.

Dari kejauhan, tak nampak ada gerombolan orang. Hanya segelintir. Namun, suara geber-geber knalpot brong tersebut semakin meyakinkan. Ketika didekati, suaranya semakin lantang. Rupanya, mereka mengetes kendaraan lebih dulu sebelum bertanding. Blar, blar, blar, bunyi knalpot brong yang digas berulang-ulang. Beberapa saat kemudian, si joki menarik gas. Namun, adu cepat itu kembali gagal lantaran hujan kembali turun.

Hengki (nama samaran), montir yang biasa merombak motor standar menjadi kendaraan balap, mengatakan, banyak hal yang perlu dimodifikasi agar motor itu bisa melaju kencang. Biasanya, mesin menjadi sasaran utama. Mulai dari mengutak-atik sistem pengapian dengan mengganti CDI, hingga meningkatkan spek onderdil mesin yang lebih tinggi. “Mulai ganti as kruk, noken, dan ganti setang langkah 70,” tuturnya.

Tak hanya mesin, Hengki menjelaskan, kerangka motor juga sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan stabilitas kendaraan. “Jadi, harus dibuat seramping mungkin supaya larinya lebih kencang,” lanjutnya.

Menurut dia, pada umumnya, semua motor bisa digunakan. Bergantung pada yang punya motor, apakah mau dimainkan ke lintasan atau tidak. Misalnya, motor Jupiter atau Vega (Yamaha) Megapro/Tiger (Honda), Ninja (Kawasaki), atau Satria FU (Suzuki). Namun, kata dia, biasanya lomba dilaksanakan berdasar merk dan kapasitas silinder yang sama. Tetapi, ada juga yang merknya beda tapi CC sama. Bergantung kesepakatan. “Untuk jarak tempuh, biasanya 500 hingga 1.200 meter,” kata montir yang tinggal di kawasan Jember selatan itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jalanan malam itu masih basah. Hujan yang baru saja reda menyisakan genangan air di beberapa ruas jalan. Meski begitu, lalu-lalang di sepanjang Jalan Gajah Mada, Kaliwates, masih terlihat padat. Kebanyakan kendaraan berknalpot brong.

Biasanya, setiap Jumat malam, para remaja dan pemuda tanggung kumpul di kawasan itu. Mereka kerap menggelar aksi balap liar. Jawa Pos Radar Jember sengaja nyanggong di lokasi tersebut untuk melihat lebih dekat aktivitas para pencinta otomotif jalanan ini. Namun, malam itu, Jumat (19/3), tak ada tanda-tanda balapan liar bakal digelar.

Selain jalanan masih licin, keberadaan mobil polisi yang berpatroli juga menjadi sebab lain kenapa balapan itu urung dilakukan. Di Jalan PB Sudirman, petugas tampak memantau jalanan sejak pukul 22.15. Petugas gabungan juga terlihat sedang berkumpul di Polsek Kaliwates, menjelang pergantian hari sekitar pukul 23.00. Beberapa saat kemudian, aparat bergerak memantau di sepanjang Jalan Gajah Mada.

Jalan Gajah Mada, Kaliwates, dan Jalan PB Soedirman, Patrang, adalah dua lokasi yang kerap ditempati aksi adu cepat motor di kawasan kota. Biasanya, aksinya bukan malam hari, tapi dini hari. Waktu sepertiga malam ini dipilih karena jalanan cukup sepi, sehingga mereka lebih leluasa melakukannya. Selain itu, untuk menghindari razia polisi.

Malam itu, di sepanjang Jalan Gajah Mada, banyak pemuda yang memarkir kendaraan mereka di pinggir jalan. Rupanya, mereka tak hanya kongkow, tapi juga menanti pembalap liar yang memacu kendaraan. Para pemuda itu kecewa, sebab apa yang mereka nantikan tak kunjung dimulai. “Aduh, ada polisi berpatroli,” tutur Abdi, bukan nama sebenarnya.

Padahal, Abdi beserta empat kawannya sudah menantikan adu kecepatan yang biasa digelar di lokasi tersebut. Tepatnya di dekat Masjid Al-Huda, Jalan Gajah Mada, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates.

Beberapa remaja lain yang berjalan kaki, tampak duduk-duduk di salah satu warung. Mereka tak menggunakan alas kaki. Sembari bersenda gurau di bawah terpal warung, mata mereka selalu waspada. Khawatir tiba-tiba ada polisi datang dan menjaring mereka. “Kami tak menggunakan sandal untuk mengantisipasi jika ada razia. Karena bukan hanya yang main saja, yang lihat juga bisa kena tangkap,” tutur Rizal, satu di antara sekawanan remaja itu.

Menurut dia, alas kaki kerap menyulitkan mereka berlari. Jadi, ketika mendengar ada razia, secepat kilat para remaja ini kabur dengan mudah. Memakai sandal disebutnya malah bikin ribet. Salah-salah, ketika lari mereka justru kesrimpet. “Biar gesit dan tidak tertangkap. Ini solusinya,” canda remaja 18 tahun, warga sekitar Pasar Gebang, Kecamatan Patrang, itu.

Hujan pun kembali turun. Sepertinya, malam itu memang tak akan ada balap liar. Sebab, cuaca tidak mendukung. Jawa Pos Radar Jember pun mencoba berkeliling setelah hujan mulai mereda. Hingga tiba di salah satu jalan bak lorong yang tampak mencurigakan. Tepatnya, di jalan masuk menuju Gor Kaliwates. Sekilas, tak akan ada yang mengira bahwa lokasi itu bakal digunakan memacu motor balap, karena banyak sekali polisi tidur.

Dari kejauhan, tak nampak ada gerombolan orang. Hanya segelintir. Namun, suara geber-geber knalpot brong tersebut semakin meyakinkan. Ketika didekati, suaranya semakin lantang. Rupanya, mereka mengetes kendaraan lebih dulu sebelum bertanding. Blar, blar, blar, bunyi knalpot brong yang digas berulang-ulang. Beberapa saat kemudian, si joki menarik gas. Namun, adu cepat itu kembali gagal lantaran hujan kembali turun.

Hengki (nama samaran), montir yang biasa merombak motor standar menjadi kendaraan balap, mengatakan, banyak hal yang perlu dimodifikasi agar motor itu bisa melaju kencang. Biasanya, mesin menjadi sasaran utama. Mulai dari mengutak-atik sistem pengapian dengan mengganti CDI, hingga meningkatkan spek onderdil mesin yang lebih tinggi. “Mulai ganti as kruk, noken, dan ganti setang langkah 70,” tuturnya.

Tak hanya mesin, Hengki menjelaskan, kerangka motor juga sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan stabilitas kendaraan. “Jadi, harus dibuat seramping mungkin supaya larinya lebih kencang,” lanjutnya.

Menurut dia, pada umumnya, semua motor bisa digunakan. Bergantung pada yang punya motor, apakah mau dimainkan ke lintasan atau tidak. Misalnya, motor Jupiter atau Vega (Yamaha) Megapro/Tiger (Honda), Ninja (Kawasaki), atau Satria FU (Suzuki). Namun, kata dia, biasanya lomba dilaksanakan berdasar merk dan kapasitas silinder yang sama. Tetapi, ada juga yang merknya beda tapi CC sama. Bergantung kesepakatan. “Untuk jarak tempuh, biasanya 500 hingga 1.200 meter,” kata montir yang tinggal di kawasan Jember selatan itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jalanan malam itu masih basah. Hujan yang baru saja reda menyisakan genangan air di beberapa ruas jalan. Meski begitu, lalu-lalang di sepanjang Jalan Gajah Mada, Kaliwates, masih terlihat padat. Kebanyakan kendaraan berknalpot brong.

Biasanya, setiap Jumat malam, para remaja dan pemuda tanggung kumpul di kawasan itu. Mereka kerap menggelar aksi balap liar. Jawa Pos Radar Jember sengaja nyanggong di lokasi tersebut untuk melihat lebih dekat aktivitas para pencinta otomotif jalanan ini. Namun, malam itu, Jumat (19/3), tak ada tanda-tanda balapan liar bakal digelar.

Selain jalanan masih licin, keberadaan mobil polisi yang berpatroli juga menjadi sebab lain kenapa balapan itu urung dilakukan. Di Jalan PB Sudirman, petugas tampak memantau jalanan sejak pukul 22.15. Petugas gabungan juga terlihat sedang berkumpul di Polsek Kaliwates, menjelang pergantian hari sekitar pukul 23.00. Beberapa saat kemudian, aparat bergerak memantau di sepanjang Jalan Gajah Mada.

Jalan Gajah Mada, Kaliwates, dan Jalan PB Soedirman, Patrang, adalah dua lokasi yang kerap ditempati aksi adu cepat motor di kawasan kota. Biasanya, aksinya bukan malam hari, tapi dini hari. Waktu sepertiga malam ini dipilih karena jalanan cukup sepi, sehingga mereka lebih leluasa melakukannya. Selain itu, untuk menghindari razia polisi.

Malam itu, di sepanjang Jalan Gajah Mada, banyak pemuda yang memarkir kendaraan mereka di pinggir jalan. Rupanya, mereka tak hanya kongkow, tapi juga menanti pembalap liar yang memacu kendaraan. Para pemuda itu kecewa, sebab apa yang mereka nantikan tak kunjung dimulai. “Aduh, ada polisi berpatroli,” tutur Abdi, bukan nama sebenarnya.

Padahal, Abdi beserta empat kawannya sudah menantikan adu kecepatan yang biasa digelar di lokasi tersebut. Tepatnya di dekat Masjid Al-Huda, Jalan Gajah Mada, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates.

Beberapa remaja lain yang berjalan kaki, tampak duduk-duduk di salah satu warung. Mereka tak menggunakan alas kaki. Sembari bersenda gurau di bawah terpal warung, mata mereka selalu waspada. Khawatir tiba-tiba ada polisi datang dan menjaring mereka. “Kami tak menggunakan sandal untuk mengantisipasi jika ada razia. Karena bukan hanya yang main saja, yang lihat juga bisa kena tangkap,” tutur Rizal, satu di antara sekawanan remaja itu.

Menurut dia, alas kaki kerap menyulitkan mereka berlari. Jadi, ketika mendengar ada razia, secepat kilat para remaja ini kabur dengan mudah. Memakai sandal disebutnya malah bikin ribet. Salah-salah, ketika lari mereka justru kesrimpet. “Biar gesit dan tidak tertangkap. Ini solusinya,” canda remaja 18 tahun, warga sekitar Pasar Gebang, Kecamatan Patrang, itu.

Hujan pun kembali turun. Sepertinya, malam itu memang tak akan ada balap liar. Sebab, cuaca tidak mendukung. Jawa Pos Radar Jember pun mencoba berkeliling setelah hujan mulai mereda. Hingga tiba di salah satu jalan bak lorong yang tampak mencurigakan. Tepatnya, di jalan masuk menuju Gor Kaliwates. Sekilas, tak akan ada yang mengira bahwa lokasi itu bakal digunakan memacu motor balap, karena banyak sekali polisi tidur.

Dari kejauhan, tak nampak ada gerombolan orang. Hanya segelintir. Namun, suara geber-geber knalpot brong tersebut semakin meyakinkan. Ketika didekati, suaranya semakin lantang. Rupanya, mereka mengetes kendaraan lebih dulu sebelum bertanding. Blar, blar, blar, bunyi knalpot brong yang digas berulang-ulang. Beberapa saat kemudian, si joki menarik gas. Namun, adu cepat itu kembali gagal lantaran hujan kembali turun.

Hengki (nama samaran), montir yang biasa merombak motor standar menjadi kendaraan balap, mengatakan, banyak hal yang perlu dimodifikasi agar motor itu bisa melaju kencang. Biasanya, mesin menjadi sasaran utama. Mulai dari mengutak-atik sistem pengapian dengan mengganti CDI, hingga meningkatkan spek onderdil mesin yang lebih tinggi. “Mulai ganti as kruk, noken, dan ganti setang langkah 70,” tuturnya.

Tak hanya mesin, Hengki menjelaskan, kerangka motor juga sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan stabilitas kendaraan. “Jadi, harus dibuat seramping mungkin supaya larinya lebih kencang,” lanjutnya.

Menurut dia, pada umumnya, semua motor bisa digunakan. Bergantung pada yang punya motor, apakah mau dimainkan ke lintasan atau tidak. Misalnya, motor Jupiter atau Vega (Yamaha) Megapro/Tiger (Honda), Ninja (Kawasaki), atau Satria FU (Suzuki). Namun, kata dia, biasanya lomba dilaksanakan berdasar merk dan kapasitas silinder yang sama. Tetapi, ada juga yang merknya beda tapi CC sama. Bergantung kesepakatan. “Untuk jarak tempuh, biasanya 500 hingga 1.200 meter,” kata montir yang tinggal di kawasan Jember selatan itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/