alexametrics
23.3 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Butuh Keterlibatan Semua Unsur

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara knalpot menggelegar memecah keheningan malam. Anak-anak muda mulai berkumpul menyaksikan aksi balapan. Satu lawan satu. Begitulah gambaran balap liar yang kerap terjadi di jalanan umum. Balapan yang disebut drag race itu biasanya dengan cara joki memacu kendaraan sekencang-kencangnya melewati jalur lurus. Siapa yang lebih cepat mencapai garis finis, joki itulah yang menang.

Bagi pengguna jalan dan masyarakat, balap liar tentu saja jadi masalah. Suaranya yang berisik jelas mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Bahkan, terkadang mereka sampai memblokade jalan. Kasus di JLS, ada sejumlah pengendara, salah satunya membawa balita, yang tertabrak. Si balita sampai terpental hingga semak-semak.

Kasat Lantas Polres Jember AKP Jimmy H Manurung mengatakanpersoalan balap liar tak bisa diatasi sendiri oleh kepolisian saja, tapi seluruh unsur. Bahkan, harus melihat latar belakang keluarga mereka yang terjun di dunia balap liar. Apakah bermasalah atau tidak. Bisa jadi, mereka yang menjadi pelaku balap liar sebenarnya ingin mencari jati diri atau sekadar eksistensi di lingkungan pergaulan. Atau bahkan telah menjadi bagian dari hobi.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kalau dari lingkungan keluarga tidak pernah menganggap bahwa anak itu hebat atau lainnya. Maka, tidak salah anak tersebut mencari eksistensi diri di luar lingkungan keluarga,” paparnya.

Bila seperti itu kondisinya, kata Jimmy, maka akan berdampak terhadap pola hidup anak tersebut. Mereka akan menomorsatukan teman-temannya dan menomorduakan keluarga. Oleh karenanya, menurut dia, perlu bersama-sama untuk mengatasi dan menyudahi aksi balap liar itu.

Sementara, berkaitan dengan informasi bocor bila ada razia, Jimmy mengatakan, manusia tidak ada yang sempurna, termasuk kepolisian. Namun, dia menyebut, hal itu bukan kebocoran, melainkan para pelaku balap liar tersebut telah membaca pola yang dilakukan polisi. “Kami punya progres, kemungkinan mereka (pelaku balap liar, Red) bisa membaca pola yang kami lakukan,” tuturnya.

Kanit Dikyasa Satlantas Polres Jember Ipda Heru Siswanto menambahkan, balap liar di Jember ada di beberapa titik. Umumnya dilakukan pada Jumat malam, dimulai pukul 00.00 hingga subuh. “Jadi, sebelum balapan dilakukan, biasanya kumpul dulu di alun-alun untuk menentukan titik balapan liar,” jelasnya.

Dia mengaku, pada operasi besar-besaran yang dilakukan 26 Februari lalu, pihaknya telah mengamankan 130 motor. Semua motor yang telah disita tersebut tidak bisa serta-merta diambil. Ada syaratnya. Yaitu dengan mengembalikan motor sesuai standar, menunjukan surat-surat, dan diketahui oleh orang tua.

Adanya orang tua itu dimaksudkan agar mereka memahami bagaimana putranya selama ini, sehingga ada pembinaan kepada anaknya di kemudian hari. “Dari 130 motor yang diamankan, 100 sudah diambil. Sedangkan yang 30 menjadi barang bukti di persidangan,” jelasnya.

Dalam Undang-Undang Lalu Lintas Angkutan Jalan (UU LLAJ) Nomor 22 Tahun 2009, balapan di jalan dengan kendaraan lain termasuk pelanggaran berat dengan denda maksimal Rp 3 juta. Selain itu, menurut Heru, rata-rata pelaku balap liar yang terkena razia juga tidak memiliki SIM, sehingga ditambah dengan denda maksimal Rp 1 juta. Belum lagi pelanggaran lain, karena biasanya mereka menggunakan motor protolan yang tidak dilengkapi dengan pelat nomor dan STNK.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara knalpot menggelegar memecah keheningan malam. Anak-anak muda mulai berkumpul menyaksikan aksi balapan. Satu lawan satu. Begitulah gambaran balap liar yang kerap terjadi di jalanan umum. Balapan yang disebut drag race itu biasanya dengan cara joki memacu kendaraan sekencang-kencangnya melewati jalur lurus. Siapa yang lebih cepat mencapai garis finis, joki itulah yang menang.

Bagi pengguna jalan dan masyarakat, balap liar tentu saja jadi masalah. Suaranya yang berisik jelas mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Bahkan, terkadang mereka sampai memblokade jalan. Kasus di JLS, ada sejumlah pengendara, salah satunya membawa balita, yang tertabrak. Si balita sampai terpental hingga semak-semak.

Kasat Lantas Polres Jember AKP Jimmy H Manurung mengatakanpersoalan balap liar tak bisa diatasi sendiri oleh kepolisian saja, tapi seluruh unsur. Bahkan, harus melihat latar belakang keluarga mereka yang terjun di dunia balap liar. Apakah bermasalah atau tidak. Bisa jadi, mereka yang menjadi pelaku balap liar sebenarnya ingin mencari jati diri atau sekadar eksistensi di lingkungan pergaulan. Atau bahkan telah menjadi bagian dari hobi.

“Kalau dari lingkungan keluarga tidak pernah menganggap bahwa anak itu hebat atau lainnya. Maka, tidak salah anak tersebut mencari eksistensi diri di luar lingkungan keluarga,” paparnya.

Bila seperti itu kondisinya, kata Jimmy, maka akan berdampak terhadap pola hidup anak tersebut. Mereka akan menomorsatukan teman-temannya dan menomorduakan keluarga. Oleh karenanya, menurut dia, perlu bersama-sama untuk mengatasi dan menyudahi aksi balap liar itu.

Sementara, berkaitan dengan informasi bocor bila ada razia, Jimmy mengatakan, manusia tidak ada yang sempurna, termasuk kepolisian. Namun, dia menyebut, hal itu bukan kebocoran, melainkan para pelaku balap liar tersebut telah membaca pola yang dilakukan polisi. “Kami punya progres, kemungkinan mereka (pelaku balap liar, Red) bisa membaca pola yang kami lakukan,” tuturnya.

Kanit Dikyasa Satlantas Polres Jember Ipda Heru Siswanto menambahkan, balap liar di Jember ada di beberapa titik. Umumnya dilakukan pada Jumat malam, dimulai pukul 00.00 hingga subuh. “Jadi, sebelum balapan dilakukan, biasanya kumpul dulu di alun-alun untuk menentukan titik balapan liar,” jelasnya.

Dia mengaku, pada operasi besar-besaran yang dilakukan 26 Februari lalu, pihaknya telah mengamankan 130 motor. Semua motor yang telah disita tersebut tidak bisa serta-merta diambil. Ada syaratnya. Yaitu dengan mengembalikan motor sesuai standar, menunjukan surat-surat, dan diketahui oleh orang tua.

Adanya orang tua itu dimaksudkan agar mereka memahami bagaimana putranya selama ini, sehingga ada pembinaan kepada anaknya di kemudian hari. “Dari 130 motor yang diamankan, 100 sudah diambil. Sedangkan yang 30 menjadi barang bukti di persidangan,” jelasnya.

Dalam Undang-Undang Lalu Lintas Angkutan Jalan (UU LLAJ) Nomor 22 Tahun 2009, balapan di jalan dengan kendaraan lain termasuk pelanggaran berat dengan denda maksimal Rp 3 juta. Selain itu, menurut Heru, rata-rata pelaku balap liar yang terkena razia juga tidak memiliki SIM, sehingga ditambah dengan denda maksimal Rp 1 juta. Belum lagi pelanggaran lain, karena biasanya mereka menggunakan motor protolan yang tidak dilengkapi dengan pelat nomor dan STNK.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara knalpot menggelegar memecah keheningan malam. Anak-anak muda mulai berkumpul menyaksikan aksi balapan. Satu lawan satu. Begitulah gambaran balap liar yang kerap terjadi di jalanan umum. Balapan yang disebut drag race itu biasanya dengan cara joki memacu kendaraan sekencang-kencangnya melewati jalur lurus. Siapa yang lebih cepat mencapai garis finis, joki itulah yang menang.

Bagi pengguna jalan dan masyarakat, balap liar tentu saja jadi masalah. Suaranya yang berisik jelas mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Bahkan, terkadang mereka sampai memblokade jalan. Kasus di JLS, ada sejumlah pengendara, salah satunya membawa balita, yang tertabrak. Si balita sampai terpental hingga semak-semak.

Kasat Lantas Polres Jember AKP Jimmy H Manurung mengatakanpersoalan balap liar tak bisa diatasi sendiri oleh kepolisian saja, tapi seluruh unsur. Bahkan, harus melihat latar belakang keluarga mereka yang terjun di dunia balap liar. Apakah bermasalah atau tidak. Bisa jadi, mereka yang menjadi pelaku balap liar sebenarnya ingin mencari jati diri atau sekadar eksistensi di lingkungan pergaulan. Atau bahkan telah menjadi bagian dari hobi.

“Kalau dari lingkungan keluarga tidak pernah menganggap bahwa anak itu hebat atau lainnya. Maka, tidak salah anak tersebut mencari eksistensi diri di luar lingkungan keluarga,” paparnya.

Bila seperti itu kondisinya, kata Jimmy, maka akan berdampak terhadap pola hidup anak tersebut. Mereka akan menomorsatukan teman-temannya dan menomorduakan keluarga. Oleh karenanya, menurut dia, perlu bersama-sama untuk mengatasi dan menyudahi aksi balap liar itu.

Sementara, berkaitan dengan informasi bocor bila ada razia, Jimmy mengatakan, manusia tidak ada yang sempurna, termasuk kepolisian. Namun, dia menyebut, hal itu bukan kebocoran, melainkan para pelaku balap liar tersebut telah membaca pola yang dilakukan polisi. “Kami punya progres, kemungkinan mereka (pelaku balap liar, Red) bisa membaca pola yang kami lakukan,” tuturnya.

Kanit Dikyasa Satlantas Polres Jember Ipda Heru Siswanto menambahkan, balap liar di Jember ada di beberapa titik. Umumnya dilakukan pada Jumat malam, dimulai pukul 00.00 hingga subuh. “Jadi, sebelum balapan dilakukan, biasanya kumpul dulu di alun-alun untuk menentukan titik balapan liar,” jelasnya.

Dia mengaku, pada operasi besar-besaran yang dilakukan 26 Februari lalu, pihaknya telah mengamankan 130 motor. Semua motor yang telah disita tersebut tidak bisa serta-merta diambil. Ada syaratnya. Yaitu dengan mengembalikan motor sesuai standar, menunjukan surat-surat, dan diketahui oleh orang tua.

Adanya orang tua itu dimaksudkan agar mereka memahami bagaimana putranya selama ini, sehingga ada pembinaan kepada anaknya di kemudian hari. “Dari 130 motor yang diamankan, 100 sudah diambil. Sedangkan yang 30 menjadi barang bukti di persidangan,” jelasnya.

Dalam Undang-Undang Lalu Lintas Angkutan Jalan (UU LLAJ) Nomor 22 Tahun 2009, balapan di jalan dengan kendaraan lain termasuk pelanggaran berat dengan denda maksimal Rp 3 juta. Selain itu, menurut Heru, rata-rata pelaku balap liar yang terkena razia juga tidak memiliki SIM, sehingga ditambah dengan denda maksimal Rp 1 juta. Belum lagi pelanggaran lain, karena biasanya mereka menggunakan motor protolan yang tidak dilengkapi dengan pelat nomor dan STNK.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/