alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Sepi Pembeli, Pemilik Warung ‘Gigit Jari’

Mobile_AP_Rectangle 1

AMBULU.RADARJEMBER.ID- Tiupan angin laut mampu mendinginkan suasana terik di pinggir Pantai Watu Ulo. Hanya saat itu, Jumat (20/3), kondisi pantai tak seperti biasanya. Sepekan terkhir, tempat tersebut lengang dan sepi, setelah virus korona (Covid-19) mulai merebak.

Aroma ikan bakar pun kini tidak lagi tercium dari warung kuliner di atas hamparan pasir. Mobil dan motor segan untuk merapat karena wisatawan memang dilarang masuk ke tempat tersebut. Bahkan pemilik warung terlihat santai sambil berselonjor di atas bangku panjang. Untuk melepas suntuk, para pedagang mendengarkan lagu dangdut koplo. Sesekali mereka terlihat ikut berdendang.

Meski terlihat bergembira. Tapi sebenarnya para pedagang itu sedang susah. Beberapa kali, mereka juga menyampaikan keluh kesah. Cerita tentang kegelisahan para pedangan membuat orang yang mendengar merasa iba. Karena saat ini, warung mereka tidak lagi disambangi pembeli.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Dulu sebelum ada korona melanda, minimal saya bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp 100 ribu per hari. Tapi seminggu ini warung sepi dan cuma ada satu atau dua orang makan di sini. Itupun mereka nekat masuk ke sini,” ungkap Mbok Sukur, pemilik warung ikan bakar di Pantai Watu Ulo.

- Advertisement -

AMBULU.RADARJEMBER.ID- Tiupan angin laut mampu mendinginkan suasana terik di pinggir Pantai Watu Ulo. Hanya saat itu, Jumat (20/3), kondisi pantai tak seperti biasanya. Sepekan terkhir, tempat tersebut lengang dan sepi, setelah virus korona (Covid-19) mulai merebak.

Aroma ikan bakar pun kini tidak lagi tercium dari warung kuliner di atas hamparan pasir. Mobil dan motor segan untuk merapat karena wisatawan memang dilarang masuk ke tempat tersebut. Bahkan pemilik warung terlihat santai sambil berselonjor di atas bangku panjang. Untuk melepas suntuk, para pedagang mendengarkan lagu dangdut koplo. Sesekali mereka terlihat ikut berdendang.

Meski terlihat bergembira. Tapi sebenarnya para pedagang itu sedang susah. Beberapa kali, mereka juga menyampaikan keluh kesah. Cerita tentang kegelisahan para pedangan membuat orang yang mendengar merasa iba. Karena saat ini, warung mereka tidak lagi disambangi pembeli.

“Dulu sebelum ada korona melanda, minimal saya bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp 100 ribu per hari. Tapi seminggu ini warung sepi dan cuma ada satu atau dua orang makan di sini. Itupun mereka nekat masuk ke sini,” ungkap Mbok Sukur, pemilik warung ikan bakar di Pantai Watu Ulo.

AMBULU.RADARJEMBER.ID- Tiupan angin laut mampu mendinginkan suasana terik di pinggir Pantai Watu Ulo. Hanya saat itu, Jumat (20/3), kondisi pantai tak seperti biasanya. Sepekan terkhir, tempat tersebut lengang dan sepi, setelah virus korona (Covid-19) mulai merebak.

Aroma ikan bakar pun kini tidak lagi tercium dari warung kuliner di atas hamparan pasir. Mobil dan motor segan untuk merapat karena wisatawan memang dilarang masuk ke tempat tersebut. Bahkan pemilik warung terlihat santai sambil berselonjor di atas bangku panjang. Untuk melepas suntuk, para pedagang mendengarkan lagu dangdut koplo. Sesekali mereka terlihat ikut berdendang.

Meski terlihat bergembira. Tapi sebenarnya para pedagang itu sedang susah. Beberapa kali, mereka juga menyampaikan keluh kesah. Cerita tentang kegelisahan para pedangan membuat orang yang mendengar merasa iba. Karena saat ini, warung mereka tidak lagi disambangi pembeli.

“Dulu sebelum ada korona melanda, minimal saya bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp 100 ribu per hari. Tapi seminggu ini warung sepi dan cuma ada satu atau dua orang makan di sini. Itupun mereka nekat masuk ke sini,” ungkap Mbok Sukur, pemilik warung ikan bakar di Pantai Watu Ulo.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/