alexametrics
23 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Eksploitasi Gumuk di Mayang untuk Proyek Infrastruktur

Mobile_AP_Rectangle 1

TEGALWARU, Radar Jember – Dua alat berat terparkir di areal pertambangan pasir dan batu (sirtu) di Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang, kemarin (21/2). Dua ekskavator itu sepertinya telah beberapa hari tak digunakan. Lumpur kering tampak melekat di trackhoes atau roda rantai backhoe. Di sekelilingnya, ada tumpukan sirtu yang berada di areal gumuk seluas lebih satu hektare.

Gumuk yang awalnya menjulang tinggi itu, kini telah terpangkas. Dikepras oleh alat berat dan bahkan nyaris habis. Tak jauh dari lokasi gumuk yang ditambang, ada pabrik pengolah batu. Pabrik ini disebut menerima material batu yang diolah menjadi campuran aspal dan dikirim ke perusahaan Asphalt Mixing Plant (AMP) di kecamatan lain di Jember. “Lebih seminggu penambangan di gumuk libur. Alat beratnya rusak,” kata Pak Nanda, warga setempat.

Sebelumnya, setiap hari ada saja truk pengangkut material tambang yang lewat depan warungnya. Dia mengaku tidak tahu persis berapa armada per harinya. Namun, karena jalan menuju tambang cukup sempit dan tak bisa dipakai berpapasan, maka setiap ada dua truk yang akan berpapasan biasanya berhenti dulu di depan kedainya. “Saya tidak tahu material tambang gumuk itu untuk apa, tapi kalau pabrik pengolah batu itu katanya untuk campuran aspal,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria yang telah memiliki cucu ini menuturkan, warga setempat juga tidak tahu persis siapa pemilik tambang dan perusahaan pengolah batu yang berada di kampungnya. Hanya saja, berdasarkan pembicaraan warga, pemiliknya bukan warga desa setempat, melainkan orang kota. “Kapan hari ada sedan warna putih yang lewat sini. Kata orang-orang itu pemiliknya,” tutur dia.

Aktivitas penambangan sirtu dengan mengeksploitasi gumuk ini, seperti menjelaskan isu yang sedang berkembang tentang proyek infrastruktur di Jember. Pembangunan yang dijalankan bakal menjadikan gumuk sebagai “tumbal”. Sebagaimana diketahui, saat ini Pemkab Jember tengah mengebut perbaikan jalan sepanjang 1.080 kilometer. Proyek yang ditargetkan tuntas pada Mei tersebut, campuran aspalnya dikabarkan hasil dari eksploitasi gumuk.

Pola percepatan pembangunan semacam ini mendapat sorotan akademisi Universitas Jember (Unej). Khoiron, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unej yang konsentrasi pada lingkungan, menyatakan, sebuah pembangunan memang sulit menghindari kerusakan lingkungan. Namun, dia menggaris bawahi, pemerintah bisa meminimalisasi dampak kerusakan lingkungan tersebut. “Dalam sebuah pembangunan, memakai sumber daya alam termasuk mengeruk gumuk untuk mengambil materialnya, tentu tidak bisa dinafikkan. Tapi setidaknya, dampak kerusakan lingkungan bisa diminimkan,” ujarnya.

Menurutnya, penambangan sirtu masuk dalam galian C. Dan tidak semua galian C harus diambil dari gumuk. Masih ada alternatif lain yang bisa dilirik untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. “Pasir itu bisa diambil di sungai. Namun, proses penambangannya memang lebih susah daripada gumuk,” tuturnya.

Meski demikian, pengoptimalan pasir sungai untuk proyek infrastruktur daerah, tetap perlu izin. Sebab, belakangan banyak pertambangan galian C di Jember yang tidak mengantongi izin. Terlebih saat ini, pengurusan izin tersebut tidak lagi di kabupaten atau provinsi, melainkan di pemerintah pusat.

- Advertisement -

TEGALWARU, Radar Jember – Dua alat berat terparkir di areal pertambangan pasir dan batu (sirtu) di Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang, kemarin (21/2). Dua ekskavator itu sepertinya telah beberapa hari tak digunakan. Lumpur kering tampak melekat di trackhoes atau roda rantai backhoe. Di sekelilingnya, ada tumpukan sirtu yang berada di areal gumuk seluas lebih satu hektare.

Gumuk yang awalnya menjulang tinggi itu, kini telah terpangkas. Dikepras oleh alat berat dan bahkan nyaris habis. Tak jauh dari lokasi gumuk yang ditambang, ada pabrik pengolah batu. Pabrik ini disebut menerima material batu yang diolah menjadi campuran aspal dan dikirim ke perusahaan Asphalt Mixing Plant (AMP) di kecamatan lain di Jember. “Lebih seminggu penambangan di gumuk libur. Alat beratnya rusak,” kata Pak Nanda, warga setempat.

Sebelumnya, setiap hari ada saja truk pengangkut material tambang yang lewat depan warungnya. Dia mengaku tidak tahu persis berapa armada per harinya. Namun, karena jalan menuju tambang cukup sempit dan tak bisa dipakai berpapasan, maka setiap ada dua truk yang akan berpapasan biasanya berhenti dulu di depan kedainya. “Saya tidak tahu material tambang gumuk itu untuk apa, tapi kalau pabrik pengolah batu itu katanya untuk campuran aspal,” ujarnya.

Pria yang telah memiliki cucu ini menuturkan, warga setempat juga tidak tahu persis siapa pemilik tambang dan perusahaan pengolah batu yang berada di kampungnya. Hanya saja, berdasarkan pembicaraan warga, pemiliknya bukan warga desa setempat, melainkan orang kota. “Kapan hari ada sedan warna putih yang lewat sini. Kata orang-orang itu pemiliknya,” tutur dia.

Aktivitas penambangan sirtu dengan mengeksploitasi gumuk ini, seperti menjelaskan isu yang sedang berkembang tentang proyek infrastruktur di Jember. Pembangunan yang dijalankan bakal menjadikan gumuk sebagai “tumbal”. Sebagaimana diketahui, saat ini Pemkab Jember tengah mengebut perbaikan jalan sepanjang 1.080 kilometer. Proyek yang ditargetkan tuntas pada Mei tersebut, campuran aspalnya dikabarkan hasil dari eksploitasi gumuk.

Pola percepatan pembangunan semacam ini mendapat sorotan akademisi Universitas Jember (Unej). Khoiron, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unej yang konsentrasi pada lingkungan, menyatakan, sebuah pembangunan memang sulit menghindari kerusakan lingkungan. Namun, dia menggaris bawahi, pemerintah bisa meminimalisasi dampak kerusakan lingkungan tersebut. “Dalam sebuah pembangunan, memakai sumber daya alam termasuk mengeruk gumuk untuk mengambil materialnya, tentu tidak bisa dinafikkan. Tapi setidaknya, dampak kerusakan lingkungan bisa diminimkan,” ujarnya.

Menurutnya, penambangan sirtu masuk dalam galian C. Dan tidak semua galian C harus diambil dari gumuk. Masih ada alternatif lain yang bisa dilirik untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. “Pasir itu bisa diambil di sungai. Namun, proses penambangannya memang lebih susah daripada gumuk,” tuturnya.

Meski demikian, pengoptimalan pasir sungai untuk proyek infrastruktur daerah, tetap perlu izin. Sebab, belakangan banyak pertambangan galian C di Jember yang tidak mengantongi izin. Terlebih saat ini, pengurusan izin tersebut tidak lagi di kabupaten atau provinsi, melainkan di pemerintah pusat.

TEGALWARU, Radar Jember – Dua alat berat terparkir di areal pertambangan pasir dan batu (sirtu) di Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang, kemarin (21/2). Dua ekskavator itu sepertinya telah beberapa hari tak digunakan. Lumpur kering tampak melekat di trackhoes atau roda rantai backhoe. Di sekelilingnya, ada tumpukan sirtu yang berada di areal gumuk seluas lebih satu hektare.

Gumuk yang awalnya menjulang tinggi itu, kini telah terpangkas. Dikepras oleh alat berat dan bahkan nyaris habis. Tak jauh dari lokasi gumuk yang ditambang, ada pabrik pengolah batu. Pabrik ini disebut menerima material batu yang diolah menjadi campuran aspal dan dikirim ke perusahaan Asphalt Mixing Plant (AMP) di kecamatan lain di Jember. “Lebih seminggu penambangan di gumuk libur. Alat beratnya rusak,” kata Pak Nanda, warga setempat.

Sebelumnya, setiap hari ada saja truk pengangkut material tambang yang lewat depan warungnya. Dia mengaku tidak tahu persis berapa armada per harinya. Namun, karena jalan menuju tambang cukup sempit dan tak bisa dipakai berpapasan, maka setiap ada dua truk yang akan berpapasan biasanya berhenti dulu di depan kedainya. “Saya tidak tahu material tambang gumuk itu untuk apa, tapi kalau pabrik pengolah batu itu katanya untuk campuran aspal,” ujarnya.

Pria yang telah memiliki cucu ini menuturkan, warga setempat juga tidak tahu persis siapa pemilik tambang dan perusahaan pengolah batu yang berada di kampungnya. Hanya saja, berdasarkan pembicaraan warga, pemiliknya bukan warga desa setempat, melainkan orang kota. “Kapan hari ada sedan warna putih yang lewat sini. Kata orang-orang itu pemiliknya,” tutur dia.

Aktivitas penambangan sirtu dengan mengeksploitasi gumuk ini, seperti menjelaskan isu yang sedang berkembang tentang proyek infrastruktur di Jember. Pembangunan yang dijalankan bakal menjadikan gumuk sebagai “tumbal”. Sebagaimana diketahui, saat ini Pemkab Jember tengah mengebut perbaikan jalan sepanjang 1.080 kilometer. Proyek yang ditargetkan tuntas pada Mei tersebut, campuran aspalnya dikabarkan hasil dari eksploitasi gumuk.

Pola percepatan pembangunan semacam ini mendapat sorotan akademisi Universitas Jember (Unej). Khoiron, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unej yang konsentrasi pada lingkungan, menyatakan, sebuah pembangunan memang sulit menghindari kerusakan lingkungan. Namun, dia menggaris bawahi, pemerintah bisa meminimalisasi dampak kerusakan lingkungan tersebut. “Dalam sebuah pembangunan, memakai sumber daya alam termasuk mengeruk gumuk untuk mengambil materialnya, tentu tidak bisa dinafikkan. Tapi setidaknya, dampak kerusakan lingkungan bisa diminimkan,” ujarnya.

Menurutnya, penambangan sirtu masuk dalam galian C. Dan tidak semua galian C harus diambil dari gumuk. Masih ada alternatif lain yang bisa dilirik untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. “Pasir itu bisa diambil di sungai. Namun, proses penambangannya memang lebih susah daripada gumuk,” tuturnya.

Meski demikian, pengoptimalan pasir sungai untuk proyek infrastruktur daerah, tetap perlu izin. Sebab, belakangan banyak pertambangan galian C di Jember yang tidak mengantongi izin. Terlebih saat ini, pengurusan izin tersebut tidak lagi di kabupaten atau provinsi, melainkan di pemerintah pusat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/