alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Pilih Cegah atau Mengobati?

Kanker identik dengan penyakit menyeramkan dan berujung kematian. Padahal, penyakit ini bisa disembuhkan. Untuk itu, sikap optimistis perlu ditumbuhkan supaya masyarakat tidak terjebak pada stigma negatif. Caranya dengan melakukan kampanye tentang pencegahan, serta pengenalan gejalanya sejak awal.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember menduduki peringkat tiga se-Jawa Timur terkait kematian akibat kanker. Angkanya mencapai 105 kasus pada 2020 lalu. Banyak hal yang menjadi penyebab penyakit itu bisa tumbuh di dalam tubuh. Salah satunya adalah pola makan. Untuk itu, masyarakat diimbau memiliki gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit mematikan tersebut. Selain itu, pemerintah juga dituntut menyediakan fasilitas pengobatan yang memadai dan terjangkau, serta mudah diakses oleh masyarakat. Sebab, biasanya biaya terapi kanker mencekik kantong pasien.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember menunjukkan, jumlah pasien penderita kanker di Jember cukup tinggi. Totalnya mencapai 5.951 penderita. Ribuan kasus itu tak hanya dari satu jenis kanker, tapi dari banyak jenis. Empat besar di antaranya adalah neoplasma jinak yang tercatat 1.579 kasus, neoplasma ganas payudara 799 kasus, neoplasma yang tak menentu perangai dan tak diketahui sifatnya 602 kasus, serta leukemia 347 kasus. Lalu, bagaimana mengenali gejala bahwa seseorang telah mengidap penyakit tersebut?

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Arief Suseno Sp PD, menjelaskan, gejala penyakit kanker itu bervariasi. Bergantung pada lokasi ditemukannya. Namun, ada beberapa kunci tanda dan gejalanya. Berdasar data Perhimpunan Dokter Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin), gejala tersebut biasanya muncul benjolan, batuk/sesak, perubahan sistem pencernaan, pendarahan, penurunan berat badan, badan terasa lemas, dan lesu. “Beberapa kanker dapat muncul benjolan. Kadang terasa tidak nyeri dan ukurannya dapat membesar seiring dengan progres kankernya,” ungkap tenaga medis di RSD dr Soebandi itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selanjutnya, batuk terus-menerus dan sesak bisa berhubungan dengan kanker paru-paru. Sedangkan perubahan pada sistem pencernaan biasanya berkaitan dengan gejala kanker usus. Biasanya dapat berupa buang air besar (BAB) berdarah, sembelit, atau diare. “Kalau ada perdarahan dari anus, bisa menjadi tanda kanker usus. Perdarahan dari serviks bisa menjadi tanda kanker serviks. Sedangkan adanya darah di urine bisa menjadi tanda kanker pada ginjal atau kandung kemih,” papar dokter yang tinggal di Jalan Doho, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Gelaja lain yang sering terjadi, lanjutnya, adalah penurunan berat badan (BB) yang tidak dapat dijelaskan. Sebab, menurut dia, penderita kanker biasanya mengalami penurunan BB dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat. “Selain itu, badan terasa letih dan lemas. Tentunya, juga disertai tanda dan gejala lain,” imbuhnya.

dr Arif menegaskan, sampai sekarang sudah dikenal 200 tipe kanker dengan penyebab yang multifaktorial. Artinya, tidak ada satu penyebab khusus untuk suatu tipe kanker, melainkan kanker bisa terjadi karena adanya beberapa faktor. Di antaranya, akibat karsinogen, usia, genetik, dan sistem imun.

“Karsinogen merupakan suatu zat atau substansi yang dapat merusak sel. Salah satunya adalah radiasi matahari. Nah, seiring bertambahnya usia, seseorang juga akan makin mudah terpapar zat karsinogen, sehingga akan lebih rentan terjadi perubahan genetik alias mutasi,” terang pria kelahiran Surabaya ini.

Dia menambahkan, beberapa orang yang terlahir dengan riwayat genetik penyakit kanker juga berisiko mengalami suatu jenis kanker tertentu. Ini bukan berarti seseorang dengan genetik bawaan tersebut sudah pasti akan terkena kanker, hanya akan menjadi lebih rentan. “Orang-orang dengan sistem imunitas yang lemah juga cenderung berisiko terpapar kanker,” bebernya.

Selain keempat faktor penyebab tersebut, dia mengurai, ada juga faktor lain yang sebenarnya dapat dikontrol dan dimodifikasi. Misalnya, gaya hidup serta faktor lingkungan. Contohnya, terlalu banyak mengonsumsi daging dan kurang mengonsumsi buah dan sayur segar. Pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko kanker. Berikutnya adalah obesitas. “Orang-orang dengan obesitas mempunyai risiko lebih tinggi terjadinya kanker usus dan pankreas. Terlalu banyak mengonsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko kanker mulut, tenggorokan, laring, liver, payudara, dan usus,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember menduduki peringkat tiga se-Jawa Timur terkait kematian akibat kanker. Angkanya mencapai 105 kasus pada 2020 lalu. Banyak hal yang menjadi penyebab penyakit itu bisa tumbuh di dalam tubuh. Salah satunya adalah pola makan. Untuk itu, masyarakat diimbau memiliki gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit mematikan tersebut. Selain itu, pemerintah juga dituntut menyediakan fasilitas pengobatan yang memadai dan terjangkau, serta mudah diakses oleh masyarakat. Sebab, biasanya biaya terapi kanker mencekik kantong pasien.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember menunjukkan, jumlah pasien penderita kanker di Jember cukup tinggi. Totalnya mencapai 5.951 penderita. Ribuan kasus itu tak hanya dari satu jenis kanker, tapi dari banyak jenis. Empat besar di antaranya adalah neoplasma jinak yang tercatat 1.579 kasus, neoplasma ganas payudara 799 kasus, neoplasma yang tak menentu perangai dan tak diketahui sifatnya 602 kasus, serta leukemia 347 kasus. Lalu, bagaimana mengenali gejala bahwa seseorang telah mengidap penyakit tersebut?

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Arief Suseno Sp PD, menjelaskan, gejala penyakit kanker itu bervariasi. Bergantung pada lokasi ditemukannya. Namun, ada beberapa kunci tanda dan gejalanya. Berdasar data Perhimpunan Dokter Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin), gejala tersebut biasanya muncul benjolan, batuk/sesak, perubahan sistem pencernaan, pendarahan, penurunan berat badan, badan terasa lemas, dan lesu. “Beberapa kanker dapat muncul benjolan. Kadang terasa tidak nyeri dan ukurannya dapat membesar seiring dengan progres kankernya,” ungkap tenaga medis di RSD dr Soebandi itu.

Selanjutnya, batuk terus-menerus dan sesak bisa berhubungan dengan kanker paru-paru. Sedangkan perubahan pada sistem pencernaan biasanya berkaitan dengan gejala kanker usus. Biasanya dapat berupa buang air besar (BAB) berdarah, sembelit, atau diare. “Kalau ada perdarahan dari anus, bisa menjadi tanda kanker usus. Perdarahan dari serviks bisa menjadi tanda kanker serviks. Sedangkan adanya darah di urine bisa menjadi tanda kanker pada ginjal atau kandung kemih,” papar dokter yang tinggal di Jalan Doho, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Gelaja lain yang sering terjadi, lanjutnya, adalah penurunan berat badan (BB) yang tidak dapat dijelaskan. Sebab, menurut dia, penderita kanker biasanya mengalami penurunan BB dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat. “Selain itu, badan terasa letih dan lemas. Tentunya, juga disertai tanda dan gejala lain,” imbuhnya.

dr Arif menegaskan, sampai sekarang sudah dikenal 200 tipe kanker dengan penyebab yang multifaktorial. Artinya, tidak ada satu penyebab khusus untuk suatu tipe kanker, melainkan kanker bisa terjadi karena adanya beberapa faktor. Di antaranya, akibat karsinogen, usia, genetik, dan sistem imun.

“Karsinogen merupakan suatu zat atau substansi yang dapat merusak sel. Salah satunya adalah radiasi matahari. Nah, seiring bertambahnya usia, seseorang juga akan makin mudah terpapar zat karsinogen, sehingga akan lebih rentan terjadi perubahan genetik alias mutasi,” terang pria kelahiran Surabaya ini.

Dia menambahkan, beberapa orang yang terlahir dengan riwayat genetik penyakit kanker juga berisiko mengalami suatu jenis kanker tertentu. Ini bukan berarti seseorang dengan genetik bawaan tersebut sudah pasti akan terkena kanker, hanya akan menjadi lebih rentan. “Orang-orang dengan sistem imunitas yang lemah juga cenderung berisiko terpapar kanker,” bebernya.

Selain keempat faktor penyebab tersebut, dia mengurai, ada juga faktor lain yang sebenarnya dapat dikontrol dan dimodifikasi. Misalnya, gaya hidup serta faktor lingkungan. Contohnya, terlalu banyak mengonsumsi daging dan kurang mengonsumsi buah dan sayur segar. Pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko kanker. Berikutnya adalah obesitas. “Orang-orang dengan obesitas mempunyai risiko lebih tinggi terjadinya kanker usus dan pankreas. Terlalu banyak mengonsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko kanker mulut, tenggorokan, laring, liver, payudara, dan usus,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember menduduki peringkat tiga se-Jawa Timur terkait kematian akibat kanker. Angkanya mencapai 105 kasus pada 2020 lalu. Banyak hal yang menjadi penyebab penyakit itu bisa tumbuh di dalam tubuh. Salah satunya adalah pola makan. Untuk itu, masyarakat diimbau memiliki gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit mematikan tersebut. Selain itu, pemerintah juga dituntut menyediakan fasilitas pengobatan yang memadai dan terjangkau, serta mudah diakses oleh masyarakat. Sebab, biasanya biaya terapi kanker mencekik kantong pasien.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember menunjukkan, jumlah pasien penderita kanker di Jember cukup tinggi. Totalnya mencapai 5.951 penderita. Ribuan kasus itu tak hanya dari satu jenis kanker, tapi dari banyak jenis. Empat besar di antaranya adalah neoplasma jinak yang tercatat 1.579 kasus, neoplasma ganas payudara 799 kasus, neoplasma yang tak menentu perangai dan tak diketahui sifatnya 602 kasus, serta leukemia 347 kasus. Lalu, bagaimana mengenali gejala bahwa seseorang telah mengidap penyakit tersebut?

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Arief Suseno Sp PD, menjelaskan, gejala penyakit kanker itu bervariasi. Bergantung pada lokasi ditemukannya. Namun, ada beberapa kunci tanda dan gejalanya. Berdasar data Perhimpunan Dokter Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin), gejala tersebut biasanya muncul benjolan, batuk/sesak, perubahan sistem pencernaan, pendarahan, penurunan berat badan, badan terasa lemas, dan lesu. “Beberapa kanker dapat muncul benjolan. Kadang terasa tidak nyeri dan ukurannya dapat membesar seiring dengan progres kankernya,” ungkap tenaga medis di RSD dr Soebandi itu.

Selanjutnya, batuk terus-menerus dan sesak bisa berhubungan dengan kanker paru-paru. Sedangkan perubahan pada sistem pencernaan biasanya berkaitan dengan gejala kanker usus. Biasanya dapat berupa buang air besar (BAB) berdarah, sembelit, atau diare. “Kalau ada perdarahan dari anus, bisa menjadi tanda kanker usus. Perdarahan dari serviks bisa menjadi tanda kanker serviks. Sedangkan adanya darah di urine bisa menjadi tanda kanker pada ginjal atau kandung kemih,” papar dokter yang tinggal di Jalan Doho, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Gelaja lain yang sering terjadi, lanjutnya, adalah penurunan berat badan (BB) yang tidak dapat dijelaskan. Sebab, menurut dia, penderita kanker biasanya mengalami penurunan BB dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat. “Selain itu, badan terasa letih dan lemas. Tentunya, juga disertai tanda dan gejala lain,” imbuhnya.

dr Arif menegaskan, sampai sekarang sudah dikenal 200 tipe kanker dengan penyebab yang multifaktorial. Artinya, tidak ada satu penyebab khusus untuk suatu tipe kanker, melainkan kanker bisa terjadi karena adanya beberapa faktor. Di antaranya, akibat karsinogen, usia, genetik, dan sistem imun.

“Karsinogen merupakan suatu zat atau substansi yang dapat merusak sel. Salah satunya adalah radiasi matahari. Nah, seiring bertambahnya usia, seseorang juga akan makin mudah terpapar zat karsinogen, sehingga akan lebih rentan terjadi perubahan genetik alias mutasi,” terang pria kelahiran Surabaya ini.

Dia menambahkan, beberapa orang yang terlahir dengan riwayat genetik penyakit kanker juga berisiko mengalami suatu jenis kanker tertentu. Ini bukan berarti seseorang dengan genetik bawaan tersebut sudah pasti akan terkena kanker, hanya akan menjadi lebih rentan. “Orang-orang dengan sistem imunitas yang lemah juga cenderung berisiko terpapar kanker,” bebernya.

Selain keempat faktor penyebab tersebut, dia mengurai, ada juga faktor lain yang sebenarnya dapat dikontrol dan dimodifikasi. Misalnya, gaya hidup serta faktor lingkungan. Contohnya, terlalu banyak mengonsumsi daging dan kurang mengonsumsi buah dan sayur segar. Pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko kanker. Berikutnya adalah obesitas. “Orang-orang dengan obesitas mempunyai risiko lebih tinggi terjadinya kanker usus dan pankreas. Terlalu banyak mengonsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko kanker mulut, tenggorokan, laring, liver, payudara, dan usus,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/