alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Mengaku Autodidak Meretas ATM

Pelaku Dituntut 11 Tahun

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember membacakan tuntutan sepuluh tahun lebih bagi terdakwa Cokro Prayitno. Dalam agenda pembacaan tuntutan, kemarin sore (21/1) di Pengadilan Negeri (PN) Jember, terdakwa kasus pembobol mesin ATM senilai 1,7 miliar dengan cara meretas sistem ini diancam tuntutan 11 tahun kurungan. Pembacaan tuntutan itu dibacakan oleh JPU Kejari Jember yang hadir dalam sidang saat itu, yakni Triyono Yulianto. Cokro dituntut 11 tahun penjara dengan denda Rp 3 miliar subsider tiga bulan.

Dalam persidangan tersebut, terdakwa yang hadir bersama penasihat hukumnya sepakat bakal mengajukan pembelaan terkait tuntutan JPU tersebut. M. Wildan, pengacara terdakwa, seusai persidangan mengatakan, pihaknya bakal melakukan pembelaan terhadap kliennya. “Kami tidak sepakat dengan tuntutan itu. Fakta pemeriksaan terdakwa kalau dia membobol ATM itu karena ada kesalahan sistem, dia pun tidak memakai alat apa pun,” ujar Wildan.

Bahkan, menurutnya, para ahli bank yang dihadirkan oleh JPU dalam sidang sebelumnya mengutarakan bahwa tidak ada akses ilegal dalam perbuatan terdakwa. “Terbuktinya Cokro ini melampaui limit saldo yang bisa diambil. Unsur pasalnya pun menerobos, merusak, skimming, dan melampaui,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih lanjut, Wildan mengaku tidak ada pelanggaran ITE terhadap terdakwa. Hanya ada kesalahan sistem saja. “Intinya dia tidak punya keahlian hacker. Memang sistem ATM-nya lemah, dia punya saldo sedikit dan mentransfer sekali dengan jumlah besar lalu berhasil, dan akhirnya keterusan hingga berulang kali sampai pihak bank melaporkan,” jelas Wildan kepada Jawa Pos Radar Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember membacakan tuntutan sepuluh tahun lebih bagi terdakwa Cokro Prayitno. Dalam agenda pembacaan tuntutan, kemarin sore (21/1) di Pengadilan Negeri (PN) Jember, terdakwa kasus pembobol mesin ATM senilai 1,7 miliar dengan cara meretas sistem ini diancam tuntutan 11 tahun kurungan. Pembacaan tuntutan itu dibacakan oleh JPU Kejari Jember yang hadir dalam sidang saat itu, yakni Triyono Yulianto. Cokro dituntut 11 tahun penjara dengan denda Rp 3 miliar subsider tiga bulan.

Dalam persidangan tersebut, terdakwa yang hadir bersama penasihat hukumnya sepakat bakal mengajukan pembelaan terkait tuntutan JPU tersebut. M. Wildan, pengacara terdakwa, seusai persidangan mengatakan, pihaknya bakal melakukan pembelaan terhadap kliennya. “Kami tidak sepakat dengan tuntutan itu. Fakta pemeriksaan terdakwa kalau dia membobol ATM itu karena ada kesalahan sistem, dia pun tidak memakai alat apa pun,” ujar Wildan.

Bahkan, menurutnya, para ahli bank yang dihadirkan oleh JPU dalam sidang sebelumnya mengutarakan bahwa tidak ada akses ilegal dalam perbuatan terdakwa. “Terbuktinya Cokro ini melampaui limit saldo yang bisa diambil. Unsur pasalnya pun menerobos, merusak, skimming, dan melampaui,” paparnya.

Lebih lanjut, Wildan mengaku tidak ada pelanggaran ITE terhadap terdakwa. Hanya ada kesalahan sistem saja. “Intinya dia tidak punya keahlian hacker. Memang sistem ATM-nya lemah, dia punya saldo sedikit dan mentransfer sekali dengan jumlah besar lalu berhasil, dan akhirnya keterusan hingga berulang kali sampai pihak bank melaporkan,” jelas Wildan kepada Jawa Pos Radar Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember membacakan tuntutan sepuluh tahun lebih bagi terdakwa Cokro Prayitno. Dalam agenda pembacaan tuntutan, kemarin sore (21/1) di Pengadilan Negeri (PN) Jember, terdakwa kasus pembobol mesin ATM senilai 1,7 miliar dengan cara meretas sistem ini diancam tuntutan 11 tahun kurungan. Pembacaan tuntutan itu dibacakan oleh JPU Kejari Jember yang hadir dalam sidang saat itu, yakni Triyono Yulianto. Cokro dituntut 11 tahun penjara dengan denda Rp 3 miliar subsider tiga bulan.

Dalam persidangan tersebut, terdakwa yang hadir bersama penasihat hukumnya sepakat bakal mengajukan pembelaan terkait tuntutan JPU tersebut. M. Wildan, pengacara terdakwa, seusai persidangan mengatakan, pihaknya bakal melakukan pembelaan terhadap kliennya. “Kami tidak sepakat dengan tuntutan itu. Fakta pemeriksaan terdakwa kalau dia membobol ATM itu karena ada kesalahan sistem, dia pun tidak memakai alat apa pun,” ujar Wildan.

Bahkan, menurutnya, para ahli bank yang dihadirkan oleh JPU dalam sidang sebelumnya mengutarakan bahwa tidak ada akses ilegal dalam perbuatan terdakwa. “Terbuktinya Cokro ini melampaui limit saldo yang bisa diambil. Unsur pasalnya pun menerobos, merusak, skimming, dan melampaui,” paparnya.

Lebih lanjut, Wildan mengaku tidak ada pelanggaran ITE terhadap terdakwa. Hanya ada kesalahan sistem saja. “Intinya dia tidak punya keahlian hacker. Memang sistem ATM-nya lemah, dia punya saldo sedikit dan mentransfer sekali dengan jumlah besar lalu berhasil, dan akhirnya keterusan hingga berulang kali sampai pihak bank melaporkan,” jelas Wildan kepada Jawa Pos Radar Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/