alexametrics
26.5 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

 Gagal Penuhi Kebutuhan Difabel dan Perempuan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seorang laki-laki berkursi roda terlihat menuju ke bilik toilet di Alun-Alun Jember. Pria paruh baya tersebut didampingi oleh seorang lelaki yang usianya tampak tak jauh berbeda. Lalu, dari kursi roda, pria itu dibopong naik melewati dua tangga menuju bilik toilet. Warga berkebutuhan khusus ini tak bisa mengakses secara mandiri. Dia harus dibantu orang lain agar bisa memanfaatkan toilet umum di fasilitas publik tersebut.

Akses toilet memang menjadi layanan vital untuk masyarakat. Apalagi keberadaannya di ruang publik seperti alun-alun. Toilet yang berada di ruang publik ini dituntut dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat berbagai kalangan, berbagai usia, dan berbagai kondisi. Utamanya bagi perempuan dan warga berkebutuhan khusus.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di alun-alun kota, kondisinya tak jauh beda dengan jamban umum di tempat lainnya. Padahal fasilitas publik ini menjadi jujukan masyarakat. Terlebih saat akhir pekan. Oleh karena itu, idealnya pemerintah menyediakan toilet umum yang jauh lebih layak dari saat ini. Jumlah yang memadai, serta lebih ramah terhadap difabel dan perempuan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di Alun-Alun Jember terdapat lima bilik toilet. Dua bilik berukuran 2 x 2 meter, tiga bilik lainnya berukuran 1 x 2 meter. Namun, satu toilet berukuran 2 x 2 meter jarang dibuka. Kecuali saat weekend. Bilik toilet ini digunakan untuk menyimpan diesel dan pipa yang biasanya digunakan untuk mengalirkan air ke bak toilet. Hal yang sama juga terjadi pada satu bilik berukuran 1 x 2 meter. Sehingga total toilet yang dibuka hanya tiga bilik. Keterangan petugas yang menjaga, paling banyak dalam sehari pengguna toilet di alun-alun bisa mencapai 180 orang.

Akademisi Universitas Jember, Erwin Nur Rif’ah menilai, sejatinya toilet yang memenuhi kebutuhan difabel adalah toilet yang memiliki ruangan lebih luas. Toilet yang luas akan memudahkan penyandang disabilitas bergerak di dalam toilet. Terutama bagi yang menggunakan kursi roda atau alat bantu jalan berupa tongkat.

Tak hanya itu, hal yang wajib tersedia dalam toilet disabilitas adalah pegangan tangan. Fungsinya agar penyandang disabilitas bisa berpegangan ketika hendak berjalan sendiri untuk menggunakan toilet. Sayangnya, fasilitas tersebut tidak ada pada toilet di Alun-Alun Jember. Toilet juga harus ada ramnya dan pintu lebar sehingga bisa diakses pengguna kursi roda. Selain itu, ada tanda bagi tunanetra dan sebagainya. “Katanya Jember ramah difabel dan ramah HAM?” papar dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat itu.

Salah satu penjaga toilet di Alun-Alun Jember, Anggri mengungkapkan, selama ini jika difabel yang hendak mengakses toilet, maka pasti akan didampingi oleh keluarganya. Hal ini mengindikasikan bahwa toilet alun-alun belum bisa memenuhi kebutuhan para difabel. “Biasanya kalau orang-orang yang pakai kursi roda atau tongkat, ada keluarganya yang ngurusin. Membopong orangnya ke dalam,” kata penjaga yang bertugas sejak 2018 itu, Minggu (20/12).

Selain tidak ramah difabel, Jawa Pos Radar Jember juga sempat menemui peristiwa berbeda yang menunjukkan betapa toilet di alun-alun itu belum layak. Kala itu, dua perempuan yang hendak menggunakan toilet harus bergantian. Sebab, dari lima bilik, hanya tiga yang bisa digunakan. Maklum, di kala akhir pekan alun-alun cukup ramai pengunjung sehingga pengguna harus antre.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seorang laki-laki berkursi roda terlihat menuju ke bilik toilet di Alun-Alun Jember. Pria paruh baya tersebut didampingi oleh seorang lelaki yang usianya tampak tak jauh berbeda. Lalu, dari kursi roda, pria itu dibopong naik melewati dua tangga menuju bilik toilet. Warga berkebutuhan khusus ini tak bisa mengakses secara mandiri. Dia harus dibantu orang lain agar bisa memanfaatkan toilet umum di fasilitas publik tersebut.

Akses toilet memang menjadi layanan vital untuk masyarakat. Apalagi keberadaannya di ruang publik seperti alun-alun. Toilet yang berada di ruang publik ini dituntut dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat berbagai kalangan, berbagai usia, dan berbagai kondisi. Utamanya bagi perempuan dan warga berkebutuhan khusus.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di alun-alun kota, kondisinya tak jauh beda dengan jamban umum di tempat lainnya. Padahal fasilitas publik ini menjadi jujukan masyarakat. Terlebih saat akhir pekan. Oleh karena itu, idealnya pemerintah menyediakan toilet umum yang jauh lebih layak dari saat ini. Jumlah yang memadai, serta lebih ramah terhadap difabel dan perempuan.

Di Alun-Alun Jember terdapat lima bilik toilet. Dua bilik berukuran 2 x 2 meter, tiga bilik lainnya berukuran 1 x 2 meter. Namun, satu toilet berukuran 2 x 2 meter jarang dibuka. Kecuali saat weekend. Bilik toilet ini digunakan untuk menyimpan diesel dan pipa yang biasanya digunakan untuk mengalirkan air ke bak toilet. Hal yang sama juga terjadi pada satu bilik berukuran 1 x 2 meter. Sehingga total toilet yang dibuka hanya tiga bilik. Keterangan petugas yang menjaga, paling banyak dalam sehari pengguna toilet di alun-alun bisa mencapai 180 orang.

Akademisi Universitas Jember, Erwin Nur Rif’ah menilai, sejatinya toilet yang memenuhi kebutuhan difabel adalah toilet yang memiliki ruangan lebih luas. Toilet yang luas akan memudahkan penyandang disabilitas bergerak di dalam toilet. Terutama bagi yang menggunakan kursi roda atau alat bantu jalan berupa tongkat.

Tak hanya itu, hal yang wajib tersedia dalam toilet disabilitas adalah pegangan tangan. Fungsinya agar penyandang disabilitas bisa berpegangan ketika hendak berjalan sendiri untuk menggunakan toilet. Sayangnya, fasilitas tersebut tidak ada pada toilet di Alun-Alun Jember. Toilet juga harus ada ramnya dan pintu lebar sehingga bisa diakses pengguna kursi roda. Selain itu, ada tanda bagi tunanetra dan sebagainya. “Katanya Jember ramah difabel dan ramah HAM?” papar dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat itu.

Salah satu penjaga toilet di Alun-Alun Jember, Anggri mengungkapkan, selama ini jika difabel yang hendak mengakses toilet, maka pasti akan didampingi oleh keluarganya. Hal ini mengindikasikan bahwa toilet alun-alun belum bisa memenuhi kebutuhan para difabel. “Biasanya kalau orang-orang yang pakai kursi roda atau tongkat, ada keluarganya yang ngurusin. Membopong orangnya ke dalam,” kata penjaga yang bertugas sejak 2018 itu, Minggu (20/12).

Selain tidak ramah difabel, Jawa Pos Radar Jember juga sempat menemui peristiwa berbeda yang menunjukkan betapa toilet di alun-alun itu belum layak. Kala itu, dua perempuan yang hendak menggunakan toilet harus bergantian. Sebab, dari lima bilik, hanya tiga yang bisa digunakan. Maklum, di kala akhir pekan alun-alun cukup ramai pengunjung sehingga pengguna harus antre.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seorang laki-laki berkursi roda terlihat menuju ke bilik toilet di Alun-Alun Jember. Pria paruh baya tersebut didampingi oleh seorang lelaki yang usianya tampak tak jauh berbeda. Lalu, dari kursi roda, pria itu dibopong naik melewati dua tangga menuju bilik toilet. Warga berkebutuhan khusus ini tak bisa mengakses secara mandiri. Dia harus dibantu orang lain agar bisa memanfaatkan toilet umum di fasilitas publik tersebut.

Akses toilet memang menjadi layanan vital untuk masyarakat. Apalagi keberadaannya di ruang publik seperti alun-alun. Toilet yang berada di ruang publik ini dituntut dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat berbagai kalangan, berbagai usia, dan berbagai kondisi. Utamanya bagi perempuan dan warga berkebutuhan khusus.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di alun-alun kota, kondisinya tak jauh beda dengan jamban umum di tempat lainnya. Padahal fasilitas publik ini menjadi jujukan masyarakat. Terlebih saat akhir pekan. Oleh karena itu, idealnya pemerintah menyediakan toilet umum yang jauh lebih layak dari saat ini. Jumlah yang memadai, serta lebih ramah terhadap difabel dan perempuan.

Di Alun-Alun Jember terdapat lima bilik toilet. Dua bilik berukuran 2 x 2 meter, tiga bilik lainnya berukuran 1 x 2 meter. Namun, satu toilet berukuran 2 x 2 meter jarang dibuka. Kecuali saat weekend. Bilik toilet ini digunakan untuk menyimpan diesel dan pipa yang biasanya digunakan untuk mengalirkan air ke bak toilet. Hal yang sama juga terjadi pada satu bilik berukuran 1 x 2 meter. Sehingga total toilet yang dibuka hanya tiga bilik. Keterangan petugas yang menjaga, paling banyak dalam sehari pengguna toilet di alun-alun bisa mencapai 180 orang.

Akademisi Universitas Jember, Erwin Nur Rif’ah menilai, sejatinya toilet yang memenuhi kebutuhan difabel adalah toilet yang memiliki ruangan lebih luas. Toilet yang luas akan memudahkan penyandang disabilitas bergerak di dalam toilet. Terutama bagi yang menggunakan kursi roda atau alat bantu jalan berupa tongkat.

Tak hanya itu, hal yang wajib tersedia dalam toilet disabilitas adalah pegangan tangan. Fungsinya agar penyandang disabilitas bisa berpegangan ketika hendak berjalan sendiri untuk menggunakan toilet. Sayangnya, fasilitas tersebut tidak ada pada toilet di Alun-Alun Jember. Toilet juga harus ada ramnya dan pintu lebar sehingga bisa diakses pengguna kursi roda. Selain itu, ada tanda bagi tunanetra dan sebagainya. “Katanya Jember ramah difabel dan ramah HAM?” papar dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat itu.

Salah satu penjaga toilet di Alun-Alun Jember, Anggri mengungkapkan, selama ini jika difabel yang hendak mengakses toilet, maka pasti akan didampingi oleh keluarganya. Hal ini mengindikasikan bahwa toilet alun-alun belum bisa memenuhi kebutuhan para difabel. “Biasanya kalau orang-orang yang pakai kursi roda atau tongkat, ada keluarganya yang ngurusin. Membopong orangnya ke dalam,” kata penjaga yang bertugas sejak 2018 itu, Minggu (20/12).

Selain tidak ramah difabel, Jawa Pos Radar Jember juga sempat menemui peristiwa berbeda yang menunjukkan betapa toilet di alun-alun itu belum layak. Kala itu, dua perempuan yang hendak menggunakan toilet harus bergantian. Sebab, dari lima bilik, hanya tiga yang bisa digunakan. Maklum, di kala akhir pekan alun-alun cukup ramai pengunjung sehingga pengguna harus antre.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/