alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Kualitas Galvalum Ditengarai Tak Standar

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peristiwa dua bangunan ambruk di Kantor Kecamatan Jenggawah dan SDN 2 Keting di Kecamatan Jombang, semakin menarik dibahas. Kedua proyek tersebut diduga tidak melibatkan aplikator baja ringan atau galvalum. Sehingga tidak ada jaminan mutu galvalum yang dipasang. Bahkan, kualitasnya ditengarai tidak sesuai ketentuan.

Dugaan tersebut mencuat dalam rapat dengar pendapat di Komisi C DPRD Jember yang melibatkan sejumlah konsultan perencanaan dan aplikator galvalum, baru-baru ini.

Ahmadi Wijaya, ketua Perkumpulan Aplikator Konstruksi Baja Ringan (PAKBR) Jember menyebut, proyek ambruk di dua lokasi itu diduga tidak menggunakan jasa aplikator. Akibatnya, berpengaruh pada ketahanan galvalum yang dipasang. Menurutnya, pelibatan aplikator galvalum penting adanya untuk menentukan kualitas bahan serta teknis pemasangan yang tepat.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Tanpa aplikator, tidak dapat dipertanggungjawabkan teknis pemasangannya. Termasuk ketahanan baja ringan yang dipasang,” jelasnya. Ahmadi menjelaskan, proyek pembangunan yang dilakukan pemerintah dengan bahan galvalum membutuhkan teknisi yang tepat. Hal itu untuk memperhatikan segala kemungkinan yang terjadi.

Berkaitan dengan dua proyek yang ambruk, galvalum yang digunakan diduga bukan hasil produksi pabrikan, tetapi produksi industri rumahan. “Setiap aplikator konstruksi baja ringan mempunyai sertifikasi pabrikan. Dengan begitu, spesifikasinya juga dijamin,” paparnya.

Menurut Adi Santoso, aplikator lainnya menjelaskan, setiap pemasangan baja ringan juga harus dihitung kemungkinan bebannya. Ada beban mati seperti atap genteng, ada beban hidup yang juga harus dihitung, seperti hujan dan angin, serta dihitung pula kemungkinan terjadinya gempa bumi.

“Kalau dihitung dengan tepat, maka per meter persegi akan mampu menahan beban yang beratnya rata-rata 50 kilogram. Mau ada angin, hujan dan gempa juga dipastikan harus tetap aman,” urainya.

Dia menambahkan, konstruksi bangunan galvalum akan tahan paling tidak 10 sampai 15 tahun. Tetapi, itu yang menggunakan jasa aplikator. Namun untuk bangunan galvalum yang sekadar dibuat, bisa runtuh dalam waktu yang tidak dapat diperkirakan. “Setiap galvalum memiliki lampiran yang berbeda-beda. Itu untuk menjamin tahan tidaknya baja ringan,” ujarnya.

Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto, serta sejumlah anggota komisi C mengaku baru mendengar jika mutu kontraksi galvalum dijamin tahan hingga 10 sampai 15 tahun. Menurutnya, Pemkab Jember ke depan direkomendasikan, agar melibatkan aplikator supaya ketahanan bangunan bisa dijamin, serta mutunya dapat dipertanggungjawabkan.

“Dengan menggelar rapat seperti ini, kami jadi mengetahuinya. Kami juga baru tahu kalau jaminan mutunya bisa tahan 15 tahun,” ucapnya. Hasil pertemuan ini, kata dia, akan ditindaklanjuti dalam pembahasan di panitia khusus (pansus) yang dibentuk untuk mengusut dugaan skandal dalam insiden itu.

“Ini demi pembangunan di Jember lebih baik dan yang terpenting agar tidak ada lagi bangunan ambruk,” tegasnya. Untuk diketahui, dua bangunan ambruk terjadi di Kantor Kecamatan Jenggawah dan di SDN 2 Keting. Kedua bangunan yang dibiayai APBD Jember tersebut, konstruksi bangunan atapnya sama-sama menggunakan baja ringan alias galvalum.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peristiwa dua bangunan ambruk di Kantor Kecamatan Jenggawah dan SDN 2 Keting di Kecamatan Jombang, semakin menarik dibahas. Kedua proyek tersebut diduga tidak melibatkan aplikator baja ringan atau galvalum. Sehingga tidak ada jaminan mutu galvalum yang dipasang. Bahkan, kualitasnya ditengarai tidak sesuai ketentuan.

Dugaan tersebut mencuat dalam rapat dengar pendapat di Komisi C DPRD Jember yang melibatkan sejumlah konsultan perencanaan dan aplikator galvalum, baru-baru ini.

Ahmadi Wijaya, ketua Perkumpulan Aplikator Konstruksi Baja Ringan (PAKBR) Jember menyebut, proyek ambruk di dua lokasi itu diduga tidak menggunakan jasa aplikator. Akibatnya, berpengaruh pada ketahanan galvalum yang dipasang. Menurutnya, pelibatan aplikator galvalum penting adanya untuk menentukan kualitas bahan serta teknis pemasangan yang tepat.

“Tanpa aplikator, tidak dapat dipertanggungjawabkan teknis pemasangannya. Termasuk ketahanan baja ringan yang dipasang,” jelasnya. Ahmadi menjelaskan, proyek pembangunan yang dilakukan pemerintah dengan bahan galvalum membutuhkan teknisi yang tepat. Hal itu untuk memperhatikan segala kemungkinan yang terjadi.

Berkaitan dengan dua proyek yang ambruk, galvalum yang digunakan diduga bukan hasil produksi pabrikan, tetapi produksi industri rumahan. “Setiap aplikator konstruksi baja ringan mempunyai sertifikasi pabrikan. Dengan begitu, spesifikasinya juga dijamin,” paparnya.

Menurut Adi Santoso, aplikator lainnya menjelaskan, setiap pemasangan baja ringan juga harus dihitung kemungkinan bebannya. Ada beban mati seperti atap genteng, ada beban hidup yang juga harus dihitung, seperti hujan dan angin, serta dihitung pula kemungkinan terjadinya gempa bumi.

“Kalau dihitung dengan tepat, maka per meter persegi akan mampu menahan beban yang beratnya rata-rata 50 kilogram. Mau ada angin, hujan dan gempa juga dipastikan harus tetap aman,” urainya.

Dia menambahkan, konstruksi bangunan galvalum akan tahan paling tidak 10 sampai 15 tahun. Tetapi, itu yang menggunakan jasa aplikator. Namun untuk bangunan galvalum yang sekadar dibuat, bisa runtuh dalam waktu yang tidak dapat diperkirakan. “Setiap galvalum memiliki lampiran yang berbeda-beda. Itu untuk menjamin tahan tidaknya baja ringan,” ujarnya.

Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto, serta sejumlah anggota komisi C mengaku baru mendengar jika mutu kontraksi galvalum dijamin tahan hingga 10 sampai 15 tahun. Menurutnya, Pemkab Jember ke depan direkomendasikan, agar melibatkan aplikator supaya ketahanan bangunan bisa dijamin, serta mutunya dapat dipertanggungjawabkan.

“Dengan menggelar rapat seperti ini, kami jadi mengetahuinya. Kami juga baru tahu kalau jaminan mutunya bisa tahan 15 tahun,” ucapnya. Hasil pertemuan ini, kata dia, akan ditindaklanjuti dalam pembahasan di panitia khusus (pansus) yang dibentuk untuk mengusut dugaan skandal dalam insiden itu.

“Ini demi pembangunan di Jember lebih baik dan yang terpenting agar tidak ada lagi bangunan ambruk,” tegasnya. Untuk diketahui, dua bangunan ambruk terjadi di Kantor Kecamatan Jenggawah dan di SDN 2 Keting. Kedua bangunan yang dibiayai APBD Jember tersebut, konstruksi bangunan atapnya sama-sama menggunakan baja ringan alias galvalum.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peristiwa dua bangunan ambruk di Kantor Kecamatan Jenggawah dan SDN 2 Keting di Kecamatan Jombang, semakin menarik dibahas. Kedua proyek tersebut diduga tidak melibatkan aplikator baja ringan atau galvalum. Sehingga tidak ada jaminan mutu galvalum yang dipasang. Bahkan, kualitasnya ditengarai tidak sesuai ketentuan.

Dugaan tersebut mencuat dalam rapat dengar pendapat di Komisi C DPRD Jember yang melibatkan sejumlah konsultan perencanaan dan aplikator galvalum, baru-baru ini.

Ahmadi Wijaya, ketua Perkumpulan Aplikator Konstruksi Baja Ringan (PAKBR) Jember menyebut, proyek ambruk di dua lokasi itu diduga tidak menggunakan jasa aplikator. Akibatnya, berpengaruh pada ketahanan galvalum yang dipasang. Menurutnya, pelibatan aplikator galvalum penting adanya untuk menentukan kualitas bahan serta teknis pemasangan yang tepat.

“Tanpa aplikator, tidak dapat dipertanggungjawabkan teknis pemasangannya. Termasuk ketahanan baja ringan yang dipasang,” jelasnya. Ahmadi menjelaskan, proyek pembangunan yang dilakukan pemerintah dengan bahan galvalum membutuhkan teknisi yang tepat. Hal itu untuk memperhatikan segala kemungkinan yang terjadi.

Berkaitan dengan dua proyek yang ambruk, galvalum yang digunakan diduga bukan hasil produksi pabrikan, tetapi produksi industri rumahan. “Setiap aplikator konstruksi baja ringan mempunyai sertifikasi pabrikan. Dengan begitu, spesifikasinya juga dijamin,” paparnya.

Menurut Adi Santoso, aplikator lainnya menjelaskan, setiap pemasangan baja ringan juga harus dihitung kemungkinan bebannya. Ada beban mati seperti atap genteng, ada beban hidup yang juga harus dihitung, seperti hujan dan angin, serta dihitung pula kemungkinan terjadinya gempa bumi.

“Kalau dihitung dengan tepat, maka per meter persegi akan mampu menahan beban yang beratnya rata-rata 50 kilogram. Mau ada angin, hujan dan gempa juga dipastikan harus tetap aman,” urainya.

Dia menambahkan, konstruksi bangunan galvalum akan tahan paling tidak 10 sampai 15 tahun. Tetapi, itu yang menggunakan jasa aplikator. Namun untuk bangunan galvalum yang sekadar dibuat, bisa runtuh dalam waktu yang tidak dapat diperkirakan. “Setiap galvalum memiliki lampiran yang berbeda-beda. Itu untuk menjamin tahan tidaknya baja ringan,” ujarnya.

Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto, serta sejumlah anggota komisi C mengaku baru mendengar jika mutu kontraksi galvalum dijamin tahan hingga 10 sampai 15 tahun. Menurutnya, Pemkab Jember ke depan direkomendasikan, agar melibatkan aplikator supaya ketahanan bangunan bisa dijamin, serta mutunya dapat dipertanggungjawabkan.

“Dengan menggelar rapat seperti ini, kami jadi mengetahuinya. Kami juga baru tahu kalau jaminan mutunya bisa tahan 15 tahun,” ucapnya. Hasil pertemuan ini, kata dia, akan ditindaklanjuti dalam pembahasan di panitia khusus (pansus) yang dibentuk untuk mengusut dugaan skandal dalam insiden itu.

“Ini demi pembangunan di Jember lebih baik dan yang terpenting agar tidak ada lagi bangunan ambruk,” tegasnya. Untuk diketahui, dua bangunan ambruk terjadi di Kantor Kecamatan Jenggawah dan di SDN 2 Keting. Kedua bangunan yang dibiayai APBD Jember tersebut, konstruksi bangunan atapnya sama-sama menggunakan baja ringan alias galvalum.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/