30.2 C
Jember
Friday, 2 December 2022

Gotong Royong sebagai Local Wisdom

Mobile_AP_Rectangle 1

Akhir-akhir ini kata gotong royong mulai sering diperbincangkan banyak orang. Ada spirit baru yang dijadikan tagline oleh beberapa institusi yaitu membangun Indonesia dengan gotong royong.  Di Universitas Jember juga mengusung slogan sebagai ‘Kampus Gotong Royong’. Hal ini mengandung makna bahwa dalam membangun menuju kemajuan, perlu dihadirkan semangat gotong royong, berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Secara harfiah, gotong royong berarti mengangkat secara bersama-sama atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Gotong royong dapat dipahami pula sebagai bentuk partisipasi aktif setiap individu untuk ikut terlibat dalam memberi kontribusi pada tujuan bersama. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, keterampilan, sumbangan pikiran atau nasihat yang konstruktif, sampai ikut berdoa kepada Tuhan untuk kebaikan bersama.

Dalam perspektif sosiologi budaya, nilai gotong royong adalah semangat yang diwujudkan dalam bentuk tindakan individu yang dilakukan tanpa pamrih untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama demi kepentingan bersama. Budaya gotong royong menjadikan kehidupan manusia Indonesia terbukti menjadi lebih berdaya dan sejahtera. Melalui gotong royong, berbagai permasalahan kehidupan bersama dan pembangunan masyarakat bisa terpecahkan secara mudah dan murah. Budaya gotong royong dapat tumbuh di lingkungan masyarakat, seperti membersihkan jalan kampung dan selokan, membangun poskamling dengan swadaya masyarakat sekitar, membangun tempat ibadah, membangun rumah warga sampai kerja bakti membersihkan gorong-gorong di lingkungan.

Gotong royong yang dilakukan masyarakat Indonesia di masa lalu, akan dikenang sebagai warisan nilai luhur karena telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan bersama. Melakukan setiap pekerjaan dengan cara bergotong royong dapat meringankan dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Melalui praktik hidup bergotong royong, rasa persatuan, kesatuan dan solidaritas menjadi semakin erat. Sayangnya, pada zaman modern ini penerapan nilai-nilai gotong royong mulai memudar. Orang–orang sudah memikirkan kebutuhan mereka sendiri tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Padahal, hakekatnya setiap manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sikap budaya gotong royong yang semula menjadi sikap hidup bangsa telah mengalami banyak distorsi, yang bersumber dari budaya global yang agresif dan dinamis, yang lebih mementingkan kebebasan individu. Budaya kapitalis dan globalis sangat mendominasi dunia dan mengontrol perilaku umat manusia. Dampak globalisasi ini telah memengaruhi hampir semua aspek kehidupan yang ada di masyarakat, termasuk aspek budaya gotong royong. Dampak globalisasi telah memengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia, khususnya budaya gotong royong. Masyarakat lebih suka membeli barang-barang mewah yang sarat dengan pemborosan daripada menyisihkan hartanya untuk membantu warga yang mengalami kesulitan ekonomi. Masyarakat menjadi cenderung individualis, konsumtif, dan beraliran kapitalis sehingga rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan merasa senasib antarsesama manusia mulai hilang, karena tergerus tsunami globalisasi. Arus globalisasi dalam bidang sosial budaya begitu cepat merasuk ke jantung masyarakat terutama generasi milenial. Pengaruh globalisasi telah membuat banyak generasi milenial seakan kehilangan kepribadian diri sebagai anak bangsa. Cara berperilaku generasi milenial cenderung mencoba sesuatu yang bersifat menyimpang, hedon, rekreatif dan konsumtif, yang tidak mempedulikan dampak yang mengiringinya.

- Advertisement -

Akhir-akhir ini kata gotong royong mulai sering diperbincangkan banyak orang. Ada spirit baru yang dijadikan tagline oleh beberapa institusi yaitu membangun Indonesia dengan gotong royong.  Di Universitas Jember juga mengusung slogan sebagai ‘Kampus Gotong Royong’. Hal ini mengandung makna bahwa dalam membangun menuju kemajuan, perlu dihadirkan semangat gotong royong, berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Secara harfiah, gotong royong berarti mengangkat secara bersama-sama atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Gotong royong dapat dipahami pula sebagai bentuk partisipasi aktif setiap individu untuk ikut terlibat dalam memberi kontribusi pada tujuan bersama. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, keterampilan, sumbangan pikiran atau nasihat yang konstruktif, sampai ikut berdoa kepada Tuhan untuk kebaikan bersama.

Dalam perspektif sosiologi budaya, nilai gotong royong adalah semangat yang diwujudkan dalam bentuk tindakan individu yang dilakukan tanpa pamrih untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama demi kepentingan bersama. Budaya gotong royong menjadikan kehidupan manusia Indonesia terbukti menjadi lebih berdaya dan sejahtera. Melalui gotong royong, berbagai permasalahan kehidupan bersama dan pembangunan masyarakat bisa terpecahkan secara mudah dan murah. Budaya gotong royong dapat tumbuh di lingkungan masyarakat, seperti membersihkan jalan kampung dan selokan, membangun poskamling dengan swadaya masyarakat sekitar, membangun tempat ibadah, membangun rumah warga sampai kerja bakti membersihkan gorong-gorong di lingkungan.

Gotong royong yang dilakukan masyarakat Indonesia di masa lalu, akan dikenang sebagai warisan nilai luhur karena telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan bersama. Melakukan setiap pekerjaan dengan cara bergotong royong dapat meringankan dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Melalui praktik hidup bergotong royong, rasa persatuan, kesatuan dan solidaritas menjadi semakin erat. Sayangnya, pada zaman modern ini penerapan nilai-nilai gotong royong mulai memudar. Orang–orang sudah memikirkan kebutuhan mereka sendiri tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Padahal, hakekatnya setiap manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain.

Sikap budaya gotong royong yang semula menjadi sikap hidup bangsa telah mengalami banyak distorsi, yang bersumber dari budaya global yang agresif dan dinamis, yang lebih mementingkan kebebasan individu. Budaya kapitalis dan globalis sangat mendominasi dunia dan mengontrol perilaku umat manusia. Dampak globalisasi ini telah memengaruhi hampir semua aspek kehidupan yang ada di masyarakat, termasuk aspek budaya gotong royong. Dampak globalisasi telah memengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia, khususnya budaya gotong royong. Masyarakat lebih suka membeli barang-barang mewah yang sarat dengan pemborosan daripada menyisihkan hartanya untuk membantu warga yang mengalami kesulitan ekonomi. Masyarakat menjadi cenderung individualis, konsumtif, dan beraliran kapitalis sehingga rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan merasa senasib antarsesama manusia mulai hilang, karena tergerus tsunami globalisasi. Arus globalisasi dalam bidang sosial budaya begitu cepat merasuk ke jantung masyarakat terutama generasi milenial. Pengaruh globalisasi telah membuat banyak generasi milenial seakan kehilangan kepribadian diri sebagai anak bangsa. Cara berperilaku generasi milenial cenderung mencoba sesuatu yang bersifat menyimpang, hedon, rekreatif dan konsumtif, yang tidak mempedulikan dampak yang mengiringinya.

Akhir-akhir ini kata gotong royong mulai sering diperbincangkan banyak orang. Ada spirit baru yang dijadikan tagline oleh beberapa institusi yaitu membangun Indonesia dengan gotong royong.  Di Universitas Jember juga mengusung slogan sebagai ‘Kampus Gotong Royong’. Hal ini mengandung makna bahwa dalam membangun menuju kemajuan, perlu dihadirkan semangat gotong royong, berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Secara harfiah, gotong royong berarti mengangkat secara bersama-sama atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Gotong royong dapat dipahami pula sebagai bentuk partisipasi aktif setiap individu untuk ikut terlibat dalam memberi kontribusi pada tujuan bersama. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, keterampilan, sumbangan pikiran atau nasihat yang konstruktif, sampai ikut berdoa kepada Tuhan untuk kebaikan bersama.

Dalam perspektif sosiologi budaya, nilai gotong royong adalah semangat yang diwujudkan dalam bentuk tindakan individu yang dilakukan tanpa pamrih untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama demi kepentingan bersama. Budaya gotong royong menjadikan kehidupan manusia Indonesia terbukti menjadi lebih berdaya dan sejahtera. Melalui gotong royong, berbagai permasalahan kehidupan bersama dan pembangunan masyarakat bisa terpecahkan secara mudah dan murah. Budaya gotong royong dapat tumbuh di lingkungan masyarakat, seperti membersihkan jalan kampung dan selokan, membangun poskamling dengan swadaya masyarakat sekitar, membangun tempat ibadah, membangun rumah warga sampai kerja bakti membersihkan gorong-gorong di lingkungan.

Gotong royong yang dilakukan masyarakat Indonesia di masa lalu, akan dikenang sebagai warisan nilai luhur karena telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan bersama. Melakukan setiap pekerjaan dengan cara bergotong royong dapat meringankan dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Melalui praktik hidup bergotong royong, rasa persatuan, kesatuan dan solidaritas menjadi semakin erat. Sayangnya, pada zaman modern ini penerapan nilai-nilai gotong royong mulai memudar. Orang–orang sudah memikirkan kebutuhan mereka sendiri tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Padahal, hakekatnya setiap manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain.

Sikap budaya gotong royong yang semula menjadi sikap hidup bangsa telah mengalami banyak distorsi, yang bersumber dari budaya global yang agresif dan dinamis, yang lebih mementingkan kebebasan individu. Budaya kapitalis dan globalis sangat mendominasi dunia dan mengontrol perilaku umat manusia. Dampak globalisasi ini telah memengaruhi hampir semua aspek kehidupan yang ada di masyarakat, termasuk aspek budaya gotong royong. Dampak globalisasi telah memengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia, khususnya budaya gotong royong. Masyarakat lebih suka membeli barang-barang mewah yang sarat dengan pemborosan daripada menyisihkan hartanya untuk membantu warga yang mengalami kesulitan ekonomi. Masyarakat menjadi cenderung individualis, konsumtif, dan beraliran kapitalis sehingga rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan merasa senasib antarsesama manusia mulai hilang, karena tergerus tsunami globalisasi. Arus globalisasi dalam bidang sosial budaya begitu cepat merasuk ke jantung masyarakat terutama generasi milenial. Pengaruh globalisasi telah membuat banyak generasi milenial seakan kehilangan kepribadian diri sebagai anak bangsa. Cara berperilaku generasi milenial cenderung mencoba sesuatu yang bersifat menyimpang, hedon, rekreatif dan konsumtif, yang tidak mempedulikan dampak yang mengiringinya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/