alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Sekolah Tandingan di Tengah Pandemi

Eksistensi Taman Baca yang Tidak Dapat Dukungan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendidikan menjadi sektor yang paling berdampak di tengah situasi pandemi. Kegiatan pembelajaran dipaksa dialihkan dengan sistem daring. Akibatnya, banyak wali murid yang kelimpungan tidak bisa memenuhi fasilitas digital.

Di tengah situasi yang genting ini, beberapa taman baca pun mulai lahir. Sebagian mulai bergeliat lagi sebagai alternatif menghadapi dampak pandemi, khususnya di lingkungan desa. Sayangnya, mayoritas dari taman baca itu alot mendapat lampu hijau dari pemerintah desa.

Taman Baca Triandara adalah satu dari banyak taman baca yang perkembangannya nyaris tak tersentuh pemerintah desa. Taman baca ini muncul pada akhir 2017 silam. Berlokasi di lereng Gunung Argopuro, tepatnya di Dusun Serut, Kecamatan Panti, tempat ini berdiri atas kegelisahan Fransisca Nur Aulia terhadap kondisi pendidikan di desanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, banyak anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, namun tidak ada media atau lembaga yang mengakomodasi. Dia pun mulai membuka taman baca di rumahnya. Berawal dengan memajang lima hingga sepuluh buku di teras rumah dalam sebuah lemari etalase.

Taman baca yang dinamai Taman Baca Triandara ini pun mulai dilirik anak-anak. Kunjungan untuk membaca buku pun mulai bergulir. Lalu, taman baca ini pun mulai merambah dunia pengajaran. Fasilitasnya yang terbatas membuat Fransisca harus membatasi aktivitas belajar mengajar. Sementara, murid-muridnya mulai membeludak. Dari lima anak yang berkunjung menjadi lebih dari 100 murid.

Para orang tua pun memandang taman baca ini dapat memberikan kebutuhan akan pendidikan masyarakat setempat. Apalagi di tengah pandemi ini, eksistensi taman baca miliknya menjadi solusi bagi kalangan keluarga ekonomi menengah ke bawah dan kalangan yang tinggal di daerah terpencil. Hampir seluruh wali murid di Dusun Serut ini menggantungkan nasib pendidikan anaknya kepada taman baca ini. “Sampai mereka menawarkan diri untuk membayar setiap belajar. Akhirnya setiap anak bayar Rp 2 ribu. Itu mereka sendiri yang menentukan tarifnya,” ujar Fransisca, Jumat (20/11) kemarin.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendidikan menjadi sektor yang paling berdampak di tengah situasi pandemi. Kegiatan pembelajaran dipaksa dialihkan dengan sistem daring. Akibatnya, banyak wali murid yang kelimpungan tidak bisa memenuhi fasilitas digital.

Di tengah situasi yang genting ini, beberapa taman baca pun mulai lahir. Sebagian mulai bergeliat lagi sebagai alternatif menghadapi dampak pandemi, khususnya di lingkungan desa. Sayangnya, mayoritas dari taman baca itu alot mendapat lampu hijau dari pemerintah desa.

Taman Baca Triandara adalah satu dari banyak taman baca yang perkembangannya nyaris tak tersentuh pemerintah desa. Taman baca ini muncul pada akhir 2017 silam. Berlokasi di lereng Gunung Argopuro, tepatnya di Dusun Serut, Kecamatan Panti, tempat ini berdiri atas kegelisahan Fransisca Nur Aulia terhadap kondisi pendidikan di desanya.

Menurut dia, banyak anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, namun tidak ada media atau lembaga yang mengakomodasi. Dia pun mulai membuka taman baca di rumahnya. Berawal dengan memajang lima hingga sepuluh buku di teras rumah dalam sebuah lemari etalase.

Taman baca yang dinamai Taman Baca Triandara ini pun mulai dilirik anak-anak. Kunjungan untuk membaca buku pun mulai bergulir. Lalu, taman baca ini pun mulai merambah dunia pengajaran. Fasilitasnya yang terbatas membuat Fransisca harus membatasi aktivitas belajar mengajar. Sementara, murid-muridnya mulai membeludak. Dari lima anak yang berkunjung menjadi lebih dari 100 murid.

Para orang tua pun memandang taman baca ini dapat memberikan kebutuhan akan pendidikan masyarakat setempat. Apalagi di tengah pandemi ini, eksistensi taman baca miliknya menjadi solusi bagi kalangan keluarga ekonomi menengah ke bawah dan kalangan yang tinggal di daerah terpencil. Hampir seluruh wali murid di Dusun Serut ini menggantungkan nasib pendidikan anaknya kepada taman baca ini. “Sampai mereka menawarkan diri untuk membayar setiap belajar. Akhirnya setiap anak bayar Rp 2 ribu. Itu mereka sendiri yang menentukan tarifnya,” ujar Fransisca, Jumat (20/11) kemarin.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendidikan menjadi sektor yang paling berdampak di tengah situasi pandemi. Kegiatan pembelajaran dipaksa dialihkan dengan sistem daring. Akibatnya, banyak wali murid yang kelimpungan tidak bisa memenuhi fasilitas digital.

Di tengah situasi yang genting ini, beberapa taman baca pun mulai lahir. Sebagian mulai bergeliat lagi sebagai alternatif menghadapi dampak pandemi, khususnya di lingkungan desa. Sayangnya, mayoritas dari taman baca itu alot mendapat lampu hijau dari pemerintah desa.

Taman Baca Triandara adalah satu dari banyak taman baca yang perkembangannya nyaris tak tersentuh pemerintah desa. Taman baca ini muncul pada akhir 2017 silam. Berlokasi di lereng Gunung Argopuro, tepatnya di Dusun Serut, Kecamatan Panti, tempat ini berdiri atas kegelisahan Fransisca Nur Aulia terhadap kondisi pendidikan di desanya.

Menurut dia, banyak anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, namun tidak ada media atau lembaga yang mengakomodasi. Dia pun mulai membuka taman baca di rumahnya. Berawal dengan memajang lima hingga sepuluh buku di teras rumah dalam sebuah lemari etalase.

Taman baca yang dinamai Taman Baca Triandara ini pun mulai dilirik anak-anak. Kunjungan untuk membaca buku pun mulai bergulir. Lalu, taman baca ini pun mulai merambah dunia pengajaran. Fasilitasnya yang terbatas membuat Fransisca harus membatasi aktivitas belajar mengajar. Sementara, murid-muridnya mulai membeludak. Dari lima anak yang berkunjung menjadi lebih dari 100 murid.

Para orang tua pun memandang taman baca ini dapat memberikan kebutuhan akan pendidikan masyarakat setempat. Apalagi di tengah pandemi ini, eksistensi taman baca miliknya menjadi solusi bagi kalangan keluarga ekonomi menengah ke bawah dan kalangan yang tinggal di daerah terpencil. Hampir seluruh wali murid di Dusun Serut ini menggantungkan nasib pendidikan anaknya kepada taman baca ini. “Sampai mereka menawarkan diri untuk membayar setiap belajar. Akhirnya setiap anak bayar Rp 2 ribu. Itu mereka sendiri yang menentukan tarifnya,” ujar Fransisca, Jumat (20/11) kemarin.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Wajib Pantau Rekanan Lelet

Jember Menang 2-0 Lawan Jombang

Karantina, Cegah Ikan Mati

/