alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Tak Pernah Golput, Coblosan Dianggap Sarana Menitip Harapan

Mobile_AP_Rectangle 1

KPU Jember mencatat ada lima nama ‘Tuhan’ yang memiliki hak pilih dalam pilkada. Nama yang menyerupai penguasa jagat ini juga sudah tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT). Jawa Pos Radar Jember berkesempatan mengunjungi salah satu pemilik nama beken tersebut. Apa saja harapannya pada ajang demokrasi lima tahunan ini?

NUR HARIRI, Slawu, Radar Jember.

Sore itu, Tuhan terlihat tergopoh-gopoh. Sebelum menemui Jawa Pos Radar Jember, dia tampak mengenakan kaus terlebih dulu. Dia pun duduk di kursi depan rumah dan mulai berkata. “Saya baru datang dari sawah. Habis ngarit,” ucap Tuhan, yang setiap harinya bekerja sebagai petani tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tuhan mengaku bersyukur atas keunikan nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya dulu. Sejak kecil, kedua orang tuanya, Jasmat alias Pak Jamik, serta ibunya, Misnati, selalu memanggil nama Tuhan tersebut. Beberapa orang teman pun demikian.

Akan tetapi, dalam perjalanan hidupnya, Tuhan dipanggil dengan sapaan yang lebih akrab, yakni Pucit. Panggilan inilah yang lebih dikenal oleh banyak orang. Nama Pucit cukup beken sebelum dirinya mempersunting sang istri tercinta, yang namanya kebetulan sama dengan nama ibunya, Misnati.

Nama asli Tuhan sesuai dengan e-KTP-nya berangsur tak dikenal oleh banyak orang. Apalagi, setelah dirinya menikah dan dikaruniai dua anak, Tuhan dipanggil dengan panggilan Pak Farid. Diambil dari nama putrinya, yaitu Farida. “Walau pun nama saya Tuhan, akhirnya sampai sekarang dipanggil Pak Farid. Itu putri saya ada,” ucap pria kelahiran Jember, 26 September 1950 itu.

Tak lama kemudian, istrinya, Misnati, juga ikut keluar rumah bersama kedua putrinya, Farida dan Romlah. Mereka pun duduk santai di teras rumahnya yang berlokasi di RT 1 RW 6, Lingkungan Krajan, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang.

- Advertisement -

KPU Jember mencatat ada lima nama ‘Tuhan’ yang memiliki hak pilih dalam pilkada. Nama yang menyerupai penguasa jagat ini juga sudah tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT). Jawa Pos Radar Jember berkesempatan mengunjungi salah satu pemilik nama beken tersebut. Apa saja harapannya pada ajang demokrasi lima tahunan ini?

NUR HARIRI, Slawu, Radar Jember.

Sore itu, Tuhan terlihat tergopoh-gopoh. Sebelum menemui Jawa Pos Radar Jember, dia tampak mengenakan kaus terlebih dulu. Dia pun duduk di kursi depan rumah dan mulai berkata. “Saya baru datang dari sawah. Habis ngarit,” ucap Tuhan, yang setiap harinya bekerja sebagai petani tersebut.

Tuhan mengaku bersyukur atas keunikan nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya dulu. Sejak kecil, kedua orang tuanya, Jasmat alias Pak Jamik, serta ibunya, Misnati, selalu memanggil nama Tuhan tersebut. Beberapa orang teman pun demikian.

Akan tetapi, dalam perjalanan hidupnya, Tuhan dipanggil dengan sapaan yang lebih akrab, yakni Pucit. Panggilan inilah yang lebih dikenal oleh banyak orang. Nama Pucit cukup beken sebelum dirinya mempersunting sang istri tercinta, yang namanya kebetulan sama dengan nama ibunya, Misnati.

Nama asli Tuhan sesuai dengan e-KTP-nya berangsur tak dikenal oleh banyak orang. Apalagi, setelah dirinya menikah dan dikaruniai dua anak, Tuhan dipanggil dengan panggilan Pak Farid. Diambil dari nama putrinya, yaitu Farida. “Walau pun nama saya Tuhan, akhirnya sampai sekarang dipanggil Pak Farid. Itu putri saya ada,” ucap pria kelahiran Jember, 26 September 1950 itu.

Tak lama kemudian, istrinya, Misnati, juga ikut keluar rumah bersama kedua putrinya, Farida dan Romlah. Mereka pun duduk santai di teras rumahnya yang berlokasi di RT 1 RW 6, Lingkungan Krajan, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang.

KPU Jember mencatat ada lima nama ‘Tuhan’ yang memiliki hak pilih dalam pilkada. Nama yang menyerupai penguasa jagat ini juga sudah tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT). Jawa Pos Radar Jember berkesempatan mengunjungi salah satu pemilik nama beken tersebut. Apa saja harapannya pada ajang demokrasi lima tahunan ini?

NUR HARIRI, Slawu, Radar Jember.

Sore itu, Tuhan terlihat tergopoh-gopoh. Sebelum menemui Jawa Pos Radar Jember, dia tampak mengenakan kaus terlebih dulu. Dia pun duduk di kursi depan rumah dan mulai berkata. “Saya baru datang dari sawah. Habis ngarit,” ucap Tuhan, yang setiap harinya bekerja sebagai petani tersebut.

Tuhan mengaku bersyukur atas keunikan nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya dulu. Sejak kecil, kedua orang tuanya, Jasmat alias Pak Jamik, serta ibunya, Misnati, selalu memanggil nama Tuhan tersebut. Beberapa orang teman pun demikian.

Akan tetapi, dalam perjalanan hidupnya, Tuhan dipanggil dengan sapaan yang lebih akrab, yakni Pucit. Panggilan inilah yang lebih dikenal oleh banyak orang. Nama Pucit cukup beken sebelum dirinya mempersunting sang istri tercinta, yang namanya kebetulan sama dengan nama ibunya, Misnati.

Nama asli Tuhan sesuai dengan e-KTP-nya berangsur tak dikenal oleh banyak orang. Apalagi, setelah dirinya menikah dan dikaruniai dua anak, Tuhan dipanggil dengan panggilan Pak Farid. Diambil dari nama putrinya, yaitu Farida. “Walau pun nama saya Tuhan, akhirnya sampai sekarang dipanggil Pak Farid. Itu putri saya ada,” ucap pria kelahiran Jember, 26 September 1950 itu.

Tak lama kemudian, istrinya, Misnati, juga ikut keluar rumah bersama kedua putrinya, Farida dan Romlah. Mereka pun duduk santai di teras rumahnya yang berlokasi di RT 1 RW 6, Lingkungan Krajan, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/