alexametrics
23.9 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Serap Aspirasi, Sandiaga Uno Terima Batik Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Menyambut Hari Batik Nasional dan menetapkan motif ciri khas kebanggaan, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopum) Kabupaten Jember menggelar lomba desain motif batik Jember dan fashion model batik. Pendaftarannya yang dibuka mulai Minggu (19/9) kemarin mendapat respons positif dari para pembatik.

Kepala Diskopum Jember Arismaya Parahita yang diwakili oleh Kasi Produksi dan Pemasaran Diskopum Irawandani, bersama Nita Fenti dan Wiwin N, mengunjungi beberapa rumah pembatik di Jember untuk mengonfirmasi keikutsertaan dalam program yang akan digelar tersebut. Mereka juga melakukan serap aspirasi atas keluhan dan kendala yang dialami pengusaha batik Jember akibat pandemi.

Pada kunjungan pertama yang berlokasi di Jalan Arowana, Kebonagung, Kaliwates, salah satu pembatik Jember, Eka Diah Purwanti, mengatakan, pihaknya sangat bersedia mengikuti lomba. Namun, dia juga mengungkapkan bahwa karya desain dari pemenang lomba harus benar-benari diakui sebagai kepemilikan Pemkab Jember dan tidak boleh diambil oleh industri lain. “Kalau karya itu nanti mau diakui sebagai milik pemkab atau dipatenkan sebagai batik khas Jember, itu sangat bagus dan kami antusias untuk mendesain seistimewa mungkin,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pada momen itu, Eka mengaku baru pertama kali dirinya kedatangan tamu istimewa yang mau langsung mendengar keresahannya. Dia menceritakan, beberapa pekan ini bisnis Batik Jember mulai kembali hidup setelah terdampak pandemi beberapa bulan lamanya. Namun, yang masih menjadi kendala pada hampir seluruh pembatik di Jember, lanjutnya, yakni ketersediaan bahan berupa malam atau lilin batik yang harus memesan dari luar kota, yaitu Pekalongan. Sebab, di Jember memang belum ada pabriknya. “Pemesanan memang mudah, tapi ekspedisi pengirimannya kami harus nunggu paling tidak tiga hari. Jadi, itu yang bikin agak lama,” imbuh pemilik batik Suket Teki itu.

Dia pun mengusulkan, ke depannya Diskopum dapat membantu menyediakan stoknya di Jember untuk mempercepat produksi batik Jember. Pembelian dapat dilakukan secara simpan pinjam, dan hasil batik nantinya juga dapat didisplai di kantor Diskopum. “Mungkin enak kalau nanti Diskopum bisa bantu dengan menjual malam juga, agar kami tak perlu jauh-jauh dan lama untuk mendapatkan malamnya,” ucap Eka saat berdialog dengan pihak Diskopum.

Sementara itu, Jadiek Wulandari, pembatik di Kelurahan Kepatihan, Kaliwates, mengatakan, dia memang berniat mengikuti ajang lomba itu. Pemilik batik Gangsar Naidin ini juga meminta agar pihak Pemkab Jember nantinya menentukan pakem desain yang harus dibuat oleh peserta. Kemudian, hasil karya dari peserta harus diberikan hak cipta atau diakui sebagai milik Diskopum. “Siapa pun pasti bangga kalau karyanya diakui sebagai milik kotanya sendiri. Untuk yang kalah ini, saya harap bisa diberi hak cipta juga. Kalau bisa diakui oleh Diskopum malah lebih baik,” paparnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Menyambut Hari Batik Nasional dan menetapkan motif ciri khas kebanggaan, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopum) Kabupaten Jember menggelar lomba desain motif batik Jember dan fashion model batik. Pendaftarannya yang dibuka mulai Minggu (19/9) kemarin mendapat respons positif dari para pembatik.

Kepala Diskopum Jember Arismaya Parahita yang diwakili oleh Kasi Produksi dan Pemasaran Diskopum Irawandani, bersama Nita Fenti dan Wiwin N, mengunjungi beberapa rumah pembatik di Jember untuk mengonfirmasi keikutsertaan dalam program yang akan digelar tersebut. Mereka juga melakukan serap aspirasi atas keluhan dan kendala yang dialami pengusaha batik Jember akibat pandemi.

Pada kunjungan pertama yang berlokasi di Jalan Arowana, Kebonagung, Kaliwates, salah satu pembatik Jember, Eka Diah Purwanti, mengatakan, pihaknya sangat bersedia mengikuti lomba. Namun, dia juga mengungkapkan bahwa karya desain dari pemenang lomba harus benar-benari diakui sebagai kepemilikan Pemkab Jember dan tidak boleh diambil oleh industri lain. “Kalau karya itu nanti mau diakui sebagai milik pemkab atau dipatenkan sebagai batik khas Jember, itu sangat bagus dan kami antusias untuk mendesain seistimewa mungkin,” tuturnya.

Pada momen itu, Eka mengaku baru pertama kali dirinya kedatangan tamu istimewa yang mau langsung mendengar keresahannya. Dia menceritakan, beberapa pekan ini bisnis Batik Jember mulai kembali hidup setelah terdampak pandemi beberapa bulan lamanya. Namun, yang masih menjadi kendala pada hampir seluruh pembatik di Jember, lanjutnya, yakni ketersediaan bahan berupa malam atau lilin batik yang harus memesan dari luar kota, yaitu Pekalongan. Sebab, di Jember memang belum ada pabriknya. “Pemesanan memang mudah, tapi ekspedisi pengirimannya kami harus nunggu paling tidak tiga hari. Jadi, itu yang bikin agak lama,” imbuh pemilik batik Suket Teki itu.

Dia pun mengusulkan, ke depannya Diskopum dapat membantu menyediakan stoknya di Jember untuk mempercepat produksi batik Jember. Pembelian dapat dilakukan secara simpan pinjam, dan hasil batik nantinya juga dapat didisplai di kantor Diskopum. “Mungkin enak kalau nanti Diskopum bisa bantu dengan menjual malam juga, agar kami tak perlu jauh-jauh dan lama untuk mendapatkan malamnya,” ucap Eka saat berdialog dengan pihak Diskopum.

Sementara itu, Jadiek Wulandari, pembatik di Kelurahan Kepatihan, Kaliwates, mengatakan, dia memang berniat mengikuti ajang lomba itu. Pemilik batik Gangsar Naidin ini juga meminta agar pihak Pemkab Jember nantinya menentukan pakem desain yang harus dibuat oleh peserta. Kemudian, hasil karya dari peserta harus diberikan hak cipta atau diakui sebagai milik Diskopum. “Siapa pun pasti bangga kalau karyanya diakui sebagai milik kotanya sendiri. Untuk yang kalah ini, saya harap bisa diberi hak cipta juga. Kalau bisa diakui oleh Diskopum malah lebih baik,” paparnya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Menyambut Hari Batik Nasional dan menetapkan motif ciri khas kebanggaan, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopum) Kabupaten Jember menggelar lomba desain motif batik Jember dan fashion model batik. Pendaftarannya yang dibuka mulai Minggu (19/9) kemarin mendapat respons positif dari para pembatik.

Kepala Diskopum Jember Arismaya Parahita yang diwakili oleh Kasi Produksi dan Pemasaran Diskopum Irawandani, bersama Nita Fenti dan Wiwin N, mengunjungi beberapa rumah pembatik di Jember untuk mengonfirmasi keikutsertaan dalam program yang akan digelar tersebut. Mereka juga melakukan serap aspirasi atas keluhan dan kendala yang dialami pengusaha batik Jember akibat pandemi.

Pada kunjungan pertama yang berlokasi di Jalan Arowana, Kebonagung, Kaliwates, salah satu pembatik Jember, Eka Diah Purwanti, mengatakan, pihaknya sangat bersedia mengikuti lomba. Namun, dia juga mengungkapkan bahwa karya desain dari pemenang lomba harus benar-benari diakui sebagai kepemilikan Pemkab Jember dan tidak boleh diambil oleh industri lain. “Kalau karya itu nanti mau diakui sebagai milik pemkab atau dipatenkan sebagai batik khas Jember, itu sangat bagus dan kami antusias untuk mendesain seistimewa mungkin,” tuturnya.

Pada momen itu, Eka mengaku baru pertama kali dirinya kedatangan tamu istimewa yang mau langsung mendengar keresahannya. Dia menceritakan, beberapa pekan ini bisnis Batik Jember mulai kembali hidup setelah terdampak pandemi beberapa bulan lamanya. Namun, yang masih menjadi kendala pada hampir seluruh pembatik di Jember, lanjutnya, yakni ketersediaan bahan berupa malam atau lilin batik yang harus memesan dari luar kota, yaitu Pekalongan. Sebab, di Jember memang belum ada pabriknya. “Pemesanan memang mudah, tapi ekspedisi pengirimannya kami harus nunggu paling tidak tiga hari. Jadi, itu yang bikin agak lama,” imbuh pemilik batik Suket Teki itu.

Dia pun mengusulkan, ke depannya Diskopum dapat membantu menyediakan stoknya di Jember untuk mempercepat produksi batik Jember. Pembelian dapat dilakukan secara simpan pinjam, dan hasil batik nantinya juga dapat didisplai di kantor Diskopum. “Mungkin enak kalau nanti Diskopum bisa bantu dengan menjual malam juga, agar kami tak perlu jauh-jauh dan lama untuk mendapatkan malamnya,” ucap Eka saat berdialog dengan pihak Diskopum.

Sementara itu, Jadiek Wulandari, pembatik di Kelurahan Kepatihan, Kaliwates, mengatakan, dia memang berniat mengikuti ajang lomba itu. Pemilik batik Gangsar Naidin ini juga meminta agar pihak Pemkab Jember nantinya menentukan pakem desain yang harus dibuat oleh peserta. Kemudian, hasil karya dari peserta harus diberikan hak cipta atau diakui sebagai milik Diskopum. “Siapa pun pasti bangga kalau karyanya diakui sebagai milik kotanya sendiri. Untuk yang kalah ini, saya harap bisa diberi hak cipta juga. Kalau bisa diakui oleh Diskopum malah lebih baik,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/