alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 2 December 2021

Pandemi Membawa Berkah Bagi Perempuan Ini sampai NTT

Di tengah aneka jajanan modern saat ini, jajanan tradisional tetap eksis. Buktinya, di sebuah dusun di Kecamatan Mayang, ada beberapa warga yang memiliki usaha kue kacang yang pangsa pasarnya sudah melanglang buana lintas pulau.

Mobile_AP_Rectangle 1

TEGALREJO, RADARJEMBER.ID – JIKA mengunjungi beberapa rumah warga di Dusun Sumberpinang, Desa Tegalrejo, Kecamatan Mayang, maka akan ketemu dengan wangi adonan kue yang diracik oleh ibu-ibu di sekitar lingkungan tersebut. Sebab, kampung ini dikenal sebagai salah satu sentra jajanan tradisional yang melegenda, kue kacang. Oleh ibu-ibu setempat, makanan yang berbahan dasar tepung terigu, kacang, mentega, telur, dan gula itu dibentuk menjadi beraneka kue kacang dengan rasa dan aroma semerbak yang khas.

Salah satu yang menjalankan usaha itu adalah Asmawati beserta suaminya, Slamet Riyadi. Dalam membuat kue-kue kacang tersebut, pasangan suami istri (pasutri) ini merupakan pendatang baru. “Sejak tahun 2020 kemarin mulai mencoba usaha kue ini,” aku Asmawati.

Keduanya mengisahkan, jauh sebelum dia membuka usaha kue itu, warga setempat, utamanya ibu-ibu, sudah mengawali membuat kue-kue kacang, kemudian dijual lagi. Bahkan, saking banyaknya warga di sana yang membikin kue, Desa Tegalrejo sampai dikenal sebagai sentra produksi kue kacang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal itu rupanya ditangkap sebagai peluang usaha oleh ibu muda 26 tahun ini. Awalnya, kata dia, Asmawati tak langsung membuat kue. Dia membeli kue-kue tetangganya itu untuk dijual kembali. “Saat itu penjualan tiap hari paling banyak hanya 10 toples,” terangnya.

Kala itu, Asmawati mengaku masih pemula. Dia hanya menjajakan kue-kuenya di sekitar Kecamatan Mayang. Cara penjualannya pun masih konvensional. Dari kenalan ke kenalan. Sebab, dia dan suaminya belum begitu familier dengan teknologi.

Mengetahui hasilnya hanya datar-datar saja, Asmawati beserta suaminya mulai mencoba peruntungan lain dengan cara membuat kue sendiri dan mulai merambah ke teknik pemasaran via daring. Ide itu mereka dapatkan dari kenalan ke kenalan yang menyarankan agar menambah strategi penjualannya.

Hasilnya lumayan. Perlahan tapi pasti, omzet penjualan mulai naik. Dari yang biasanya hanya laku 10 toples, hingga pernah mendapat pesanan 300 toples. “Penjualannya mulai menggunakan media sosial. Ternyata sangat ampuh. Banyak orderan masuk,” ucap Asmawati, mengisahkan.

- Advertisement -

TEGALREJO, RADARJEMBER.ID – JIKA mengunjungi beberapa rumah warga di Dusun Sumberpinang, Desa Tegalrejo, Kecamatan Mayang, maka akan ketemu dengan wangi adonan kue yang diracik oleh ibu-ibu di sekitar lingkungan tersebut. Sebab, kampung ini dikenal sebagai salah satu sentra jajanan tradisional yang melegenda, kue kacang. Oleh ibu-ibu setempat, makanan yang berbahan dasar tepung terigu, kacang, mentega, telur, dan gula itu dibentuk menjadi beraneka kue kacang dengan rasa dan aroma semerbak yang khas.

Salah satu yang menjalankan usaha itu adalah Asmawati beserta suaminya, Slamet Riyadi. Dalam membuat kue-kue kacang tersebut, pasangan suami istri (pasutri) ini merupakan pendatang baru. “Sejak tahun 2020 kemarin mulai mencoba usaha kue ini,” aku Asmawati.

Keduanya mengisahkan, jauh sebelum dia membuka usaha kue itu, warga setempat, utamanya ibu-ibu, sudah mengawali membuat kue-kue kacang, kemudian dijual lagi. Bahkan, saking banyaknya warga di sana yang membikin kue, Desa Tegalrejo sampai dikenal sebagai sentra produksi kue kacang.

Hal itu rupanya ditangkap sebagai peluang usaha oleh ibu muda 26 tahun ini. Awalnya, kata dia, Asmawati tak langsung membuat kue. Dia membeli kue-kue tetangganya itu untuk dijual kembali. “Saat itu penjualan tiap hari paling banyak hanya 10 toples,” terangnya.

Kala itu, Asmawati mengaku masih pemula. Dia hanya menjajakan kue-kuenya di sekitar Kecamatan Mayang. Cara penjualannya pun masih konvensional. Dari kenalan ke kenalan. Sebab, dia dan suaminya belum begitu familier dengan teknologi.

Mengetahui hasilnya hanya datar-datar saja, Asmawati beserta suaminya mulai mencoba peruntungan lain dengan cara membuat kue sendiri dan mulai merambah ke teknik pemasaran via daring. Ide itu mereka dapatkan dari kenalan ke kenalan yang menyarankan agar menambah strategi penjualannya.

Hasilnya lumayan. Perlahan tapi pasti, omzet penjualan mulai naik. Dari yang biasanya hanya laku 10 toples, hingga pernah mendapat pesanan 300 toples. “Penjualannya mulai menggunakan media sosial. Ternyata sangat ampuh. Banyak orderan masuk,” ucap Asmawati, mengisahkan.

TEGALREJO, RADARJEMBER.ID – JIKA mengunjungi beberapa rumah warga di Dusun Sumberpinang, Desa Tegalrejo, Kecamatan Mayang, maka akan ketemu dengan wangi adonan kue yang diracik oleh ibu-ibu di sekitar lingkungan tersebut. Sebab, kampung ini dikenal sebagai salah satu sentra jajanan tradisional yang melegenda, kue kacang. Oleh ibu-ibu setempat, makanan yang berbahan dasar tepung terigu, kacang, mentega, telur, dan gula itu dibentuk menjadi beraneka kue kacang dengan rasa dan aroma semerbak yang khas.

Salah satu yang menjalankan usaha itu adalah Asmawati beserta suaminya, Slamet Riyadi. Dalam membuat kue-kue kacang tersebut, pasangan suami istri (pasutri) ini merupakan pendatang baru. “Sejak tahun 2020 kemarin mulai mencoba usaha kue ini,” aku Asmawati.

Keduanya mengisahkan, jauh sebelum dia membuka usaha kue itu, warga setempat, utamanya ibu-ibu, sudah mengawali membuat kue-kue kacang, kemudian dijual lagi. Bahkan, saking banyaknya warga di sana yang membikin kue, Desa Tegalrejo sampai dikenal sebagai sentra produksi kue kacang.

Hal itu rupanya ditangkap sebagai peluang usaha oleh ibu muda 26 tahun ini. Awalnya, kata dia, Asmawati tak langsung membuat kue. Dia membeli kue-kue tetangganya itu untuk dijual kembali. “Saat itu penjualan tiap hari paling banyak hanya 10 toples,” terangnya.

Kala itu, Asmawati mengaku masih pemula. Dia hanya menjajakan kue-kuenya di sekitar Kecamatan Mayang. Cara penjualannya pun masih konvensional. Dari kenalan ke kenalan. Sebab, dia dan suaminya belum begitu familier dengan teknologi.

Mengetahui hasilnya hanya datar-datar saja, Asmawati beserta suaminya mulai mencoba peruntungan lain dengan cara membuat kue sendiri dan mulai merambah ke teknik pemasaran via daring. Ide itu mereka dapatkan dari kenalan ke kenalan yang menyarankan agar menambah strategi penjualannya.

Hasilnya lumayan. Perlahan tapi pasti, omzet penjualan mulai naik. Dari yang biasanya hanya laku 10 toples, hingga pernah mendapat pesanan 300 toples. “Penjualannya mulai menggunakan media sosial. Ternyata sangat ampuh. Banyak orderan masuk,” ucap Asmawati, mengisahkan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca