alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Petani ini Salahkan Pemkab yang Tak Hadir Dalam Tata Niaga Pertanian

Dulu Terjun Bebas, Kini Naik Drastis

Mobile_AP_Rectangle 1

ARJASA, RADARJEMBER.ID – Di tengah masa pandemi ini, para petani dibuat bingung. Tidak hanya karena pupuk subsidi yang hilang dari pasaran saat dibutuhkan, tapi fluktuasi harga komoditas juga membikin mereka galau. Saat petani enggan tanam karena tahun lalu harganya anjlok, kini justru meroket. Padahal petani yang menanam sudah jarang. Kondisi ini menggambarkan bahwa pemerintah tidak pernah hadir dalam tata niaga pertanian. Petani dibiarkan bertarung bebas dengan pasar.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pada pandemi Covid-19, sektor pertanian dibuat bingung dari segala aspek. Kata dia, di satu sisi produktivitas pertanian minta digenjot agar persoalan pangan aman di tengah pandemi. Tapi, di sisi lain, kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tidak ada dukungan. “Pupuk subsidi dikurangi, bagaimana mau meningkat produktivitasnya,” tuturnya.

Belum lagi, soal tanah pertanian yang juga terus tergerus dengan pembangunan dan kawasan permukiman. Termasuk tentang harga jual yang saat panen raya turun, tapi ketika petani menanam harganya justru melangit. Persoalan ketidakpastian harga jual inilah yang dari dulu belum bisa terurai.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mencontohkan komoditas pepaya california. Saat ini, tanaman itu jadi buah bibir bagi petani. Sebab, di awal-awal mereka memanen, harganya tidak sebagus sekarang. Pada awal pandemi, buah yang mengandung banyak vitamin A tersebut harganya tidak sampai seribu rupiah per kilogram di tingkat petani. “Sekarang pepaya di tingkat petani lebih bagus, Rp 3.500 per kilogram,” tuturnya.

Mengapa sekarang pepaya lebih baik harganya? Menurut Jumantoro, karena produksinya rendah. Tahun kemarin harga pepaya rusak, sehingga banyak petani yang tidak merawat pohonnya, sampai ada juga yang menebang. Begitu juga dengan harga tomat. Tahun kemarin murah meriah, sekarang melejit. “Satu buah tomat saja itu harganya seribu rupiah. Kalau tomatnya kecil, seribu cuma dapat dua tomat,” terangnya.

Catatan Siskaperbapo, sistem informasi berbasis daring dari Disperindag Jatim, pada 20 Agustus kemarin, harga tomat per kilogram mencapai Rp 14.600. Sementara, setahun lalu, 18 Agustus 2020, harga tomat terjun bebas di angka Rp 5.000 per kilogram. “Tomat mahal, karena petani tomat banyak yang tanam cabai. Sebab, sebelumnya harga cabai mahal,” ungkapnya.

- Advertisement -

ARJASA, RADARJEMBER.ID – Di tengah masa pandemi ini, para petani dibuat bingung. Tidak hanya karena pupuk subsidi yang hilang dari pasaran saat dibutuhkan, tapi fluktuasi harga komoditas juga membikin mereka galau. Saat petani enggan tanam karena tahun lalu harganya anjlok, kini justru meroket. Padahal petani yang menanam sudah jarang. Kondisi ini menggambarkan bahwa pemerintah tidak pernah hadir dalam tata niaga pertanian. Petani dibiarkan bertarung bebas dengan pasar.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pada pandemi Covid-19, sektor pertanian dibuat bingung dari segala aspek. Kata dia, di satu sisi produktivitas pertanian minta digenjot agar persoalan pangan aman di tengah pandemi. Tapi, di sisi lain, kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tidak ada dukungan. “Pupuk subsidi dikurangi, bagaimana mau meningkat produktivitasnya,” tuturnya.

Belum lagi, soal tanah pertanian yang juga terus tergerus dengan pembangunan dan kawasan permukiman. Termasuk tentang harga jual yang saat panen raya turun, tapi ketika petani menanam harganya justru melangit. Persoalan ketidakpastian harga jual inilah yang dari dulu belum bisa terurai.

Dia mencontohkan komoditas pepaya california. Saat ini, tanaman itu jadi buah bibir bagi petani. Sebab, di awal-awal mereka memanen, harganya tidak sebagus sekarang. Pada awal pandemi, buah yang mengandung banyak vitamin A tersebut harganya tidak sampai seribu rupiah per kilogram di tingkat petani. “Sekarang pepaya di tingkat petani lebih bagus, Rp 3.500 per kilogram,” tuturnya.

Mengapa sekarang pepaya lebih baik harganya? Menurut Jumantoro, karena produksinya rendah. Tahun kemarin harga pepaya rusak, sehingga banyak petani yang tidak merawat pohonnya, sampai ada juga yang menebang. Begitu juga dengan harga tomat. Tahun kemarin murah meriah, sekarang melejit. “Satu buah tomat saja itu harganya seribu rupiah. Kalau tomatnya kecil, seribu cuma dapat dua tomat,” terangnya.

Catatan Siskaperbapo, sistem informasi berbasis daring dari Disperindag Jatim, pada 20 Agustus kemarin, harga tomat per kilogram mencapai Rp 14.600. Sementara, setahun lalu, 18 Agustus 2020, harga tomat terjun bebas di angka Rp 5.000 per kilogram. “Tomat mahal, karena petani tomat banyak yang tanam cabai. Sebab, sebelumnya harga cabai mahal,” ungkapnya.

ARJASA, RADARJEMBER.ID – Di tengah masa pandemi ini, para petani dibuat bingung. Tidak hanya karena pupuk subsidi yang hilang dari pasaran saat dibutuhkan, tapi fluktuasi harga komoditas juga membikin mereka galau. Saat petani enggan tanam karena tahun lalu harganya anjlok, kini justru meroket. Padahal petani yang menanam sudah jarang. Kondisi ini menggambarkan bahwa pemerintah tidak pernah hadir dalam tata niaga pertanian. Petani dibiarkan bertarung bebas dengan pasar.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pada pandemi Covid-19, sektor pertanian dibuat bingung dari segala aspek. Kata dia, di satu sisi produktivitas pertanian minta digenjot agar persoalan pangan aman di tengah pandemi. Tapi, di sisi lain, kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tidak ada dukungan. “Pupuk subsidi dikurangi, bagaimana mau meningkat produktivitasnya,” tuturnya.

Belum lagi, soal tanah pertanian yang juga terus tergerus dengan pembangunan dan kawasan permukiman. Termasuk tentang harga jual yang saat panen raya turun, tapi ketika petani menanam harganya justru melangit. Persoalan ketidakpastian harga jual inilah yang dari dulu belum bisa terurai.

Dia mencontohkan komoditas pepaya california. Saat ini, tanaman itu jadi buah bibir bagi petani. Sebab, di awal-awal mereka memanen, harganya tidak sebagus sekarang. Pada awal pandemi, buah yang mengandung banyak vitamin A tersebut harganya tidak sampai seribu rupiah per kilogram di tingkat petani. “Sekarang pepaya di tingkat petani lebih bagus, Rp 3.500 per kilogram,” tuturnya.

Mengapa sekarang pepaya lebih baik harganya? Menurut Jumantoro, karena produksinya rendah. Tahun kemarin harga pepaya rusak, sehingga banyak petani yang tidak merawat pohonnya, sampai ada juga yang menebang. Begitu juga dengan harga tomat. Tahun kemarin murah meriah, sekarang melejit. “Satu buah tomat saja itu harganya seribu rupiah. Kalau tomatnya kecil, seribu cuma dapat dua tomat,” terangnya.

Catatan Siskaperbapo, sistem informasi berbasis daring dari Disperindag Jatim, pada 20 Agustus kemarin, harga tomat per kilogram mencapai Rp 14.600. Sementara, setahun lalu, 18 Agustus 2020, harga tomat terjun bebas di angka Rp 5.000 per kilogram. “Tomat mahal, karena petani tomat banyak yang tanam cabai. Sebab, sebelumnya harga cabai mahal,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/