alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Jagung Murah, Pupuk Tetap Mahal

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hasil panen petani yang tergolong besar di Kabupaten Jember adalah tanaman jagung. Sayangnya, belakangan ini hasil panen jagung ini cenderung mengalami penurunan. Banyak yang berpendapat terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satunya akibat harga jagung murah, sementara pupuknya tetap mahal.

Beberapa petani menyebut, harga jagung gelondongan dari petani beberapa hari terakhir berkisar antara Rp 1.500 sampai Rp 1.800. Harga tersebut turun dari sebelumnya yang sempat mencapai di atas Rp 2.100. Sementara jagung pipil dari petani dihargai sebesar Rp 3.600 sampai 4.200 per kilogram.

Abdul Holib, petani jagung yang tinggal di Lingkungan Sumber Wrigin, Kelurahan/Kecamatan Karangrejo, menyebut, jagung pipil di petani dihargai sebesar Rp 4.200 per kilogram. Harga tersebut turun dari sebelumnya yang sempat mencapai sebesar Rp 4.800 per kilogram. “Ada selisihnya cukup besar, yaitu satu kuintalnya Rp 60 ribu,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dikatakannya, beberapa waktu lalu dirinya sempat bingung mau menanam jagung atau tembakau. Dia pun memilih jagung, dengan alasan penggunaan pupuk lebih sedikit dibanding tembakau. “Tapi harganya sama-sama murah. Tidak semanis tahun lalu,” ucapnya.

Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro membenarkan turunnya harga jagung tersebut. Menurutnya, turunnya harga jagung membuat sejumlah petani ragu menanamnya. Apalagi, harga pupuk tetap mahal. “Kebanyakan petani masih pakai pupuk urea. Sementara harga pupuk mahal. Kecuali pupuk subsidinya cukup, sekarang kan bisa dibilang habis,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hasil panen petani yang tergolong besar di Kabupaten Jember adalah tanaman jagung. Sayangnya, belakangan ini hasil panen jagung ini cenderung mengalami penurunan. Banyak yang berpendapat terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satunya akibat harga jagung murah, sementara pupuknya tetap mahal.

Beberapa petani menyebut, harga jagung gelondongan dari petani beberapa hari terakhir berkisar antara Rp 1.500 sampai Rp 1.800. Harga tersebut turun dari sebelumnya yang sempat mencapai di atas Rp 2.100. Sementara jagung pipil dari petani dihargai sebesar Rp 3.600 sampai 4.200 per kilogram.

Abdul Holib, petani jagung yang tinggal di Lingkungan Sumber Wrigin, Kelurahan/Kecamatan Karangrejo, menyebut, jagung pipil di petani dihargai sebesar Rp 4.200 per kilogram. Harga tersebut turun dari sebelumnya yang sempat mencapai sebesar Rp 4.800 per kilogram. “Ada selisihnya cukup besar, yaitu satu kuintalnya Rp 60 ribu,” ucapnya.

Dikatakannya, beberapa waktu lalu dirinya sempat bingung mau menanam jagung atau tembakau. Dia pun memilih jagung, dengan alasan penggunaan pupuk lebih sedikit dibanding tembakau. “Tapi harganya sama-sama murah. Tidak semanis tahun lalu,” ucapnya.

Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro membenarkan turunnya harga jagung tersebut. Menurutnya, turunnya harga jagung membuat sejumlah petani ragu menanamnya. Apalagi, harga pupuk tetap mahal. “Kebanyakan petani masih pakai pupuk urea. Sementara harga pupuk mahal. Kecuali pupuk subsidinya cukup, sekarang kan bisa dibilang habis,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hasil panen petani yang tergolong besar di Kabupaten Jember adalah tanaman jagung. Sayangnya, belakangan ini hasil panen jagung ini cenderung mengalami penurunan. Banyak yang berpendapat terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satunya akibat harga jagung murah, sementara pupuknya tetap mahal.

Beberapa petani menyebut, harga jagung gelondongan dari petani beberapa hari terakhir berkisar antara Rp 1.500 sampai Rp 1.800. Harga tersebut turun dari sebelumnya yang sempat mencapai di atas Rp 2.100. Sementara jagung pipil dari petani dihargai sebesar Rp 3.600 sampai 4.200 per kilogram.

Abdul Holib, petani jagung yang tinggal di Lingkungan Sumber Wrigin, Kelurahan/Kecamatan Karangrejo, menyebut, jagung pipil di petani dihargai sebesar Rp 4.200 per kilogram. Harga tersebut turun dari sebelumnya yang sempat mencapai sebesar Rp 4.800 per kilogram. “Ada selisihnya cukup besar, yaitu satu kuintalnya Rp 60 ribu,” ucapnya.

Dikatakannya, beberapa waktu lalu dirinya sempat bingung mau menanam jagung atau tembakau. Dia pun memilih jagung, dengan alasan penggunaan pupuk lebih sedikit dibanding tembakau. “Tapi harganya sama-sama murah. Tidak semanis tahun lalu,” ucapnya.

Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro membenarkan turunnya harga jagung tersebut. Menurutnya, turunnya harga jagung membuat sejumlah petani ragu menanamnya. Apalagi, harga pupuk tetap mahal. “Kebanyakan petani masih pakai pupuk urea. Sementara harga pupuk mahal. Kecuali pupuk subsidinya cukup, sekarang kan bisa dibilang habis,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/