alexametrics
26.4 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Area Rawan Bencana Bertambah

Kaji Risiko, Raperda Mulai Disusun

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, Radar Jember – Potensi kebencanaan di Jember sepertinya masih menjadi pekerjaan yang juga perlu diseriusi pemerintah daerah. Hasil penyusunan dokumen kajian risiko bencana (KRB) yang dipaparkan kemarin, terurai berbagai daerah, meliputi desa, kecamatan, hingga kawasan kota, menjadi area rawan bencana dengan berbagai jenis.

BACA JUGA : Tanaman Hias Diklaim Berusia 200 Tahun Dibanderol Rp 100 Juta

Tim tenaga ahli kebencanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unej, Joko Mulyono, mengatakan, penyusunan dokumen KRB itu bakal digunakan untuk rencana mitigasi bencana. “Sebenarnya dokumen KRB sudah ada sejak 2016 lalu. Dibentuk BPBD, tapi life time, hanya untuk lima tahun. Karena dinamika sudah sedemikian mengalami perubahan, sekarang diperbarui lagi,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menguraikan, KRB tersebut memuat berbagai rencana mitigasi bencana, program rehabilitasi bencana, pemetaan kawasan rawan. Termasuk memetakan kerentanan di masyarakat, baik kerentanan fisik, lingkungan, sosial, maupun kerentanan ekonomi. “Jadi, ini akan menjadi dokumen dasar, utama, dan pertama yang harus dilakukan pemerintah daerah,” urai pria yang juga dosen di FISIP Unej itu.

- Advertisement -

SUMBERSARI, Radar Jember – Potensi kebencanaan di Jember sepertinya masih menjadi pekerjaan yang juga perlu diseriusi pemerintah daerah. Hasil penyusunan dokumen kajian risiko bencana (KRB) yang dipaparkan kemarin, terurai berbagai daerah, meliputi desa, kecamatan, hingga kawasan kota, menjadi area rawan bencana dengan berbagai jenis.

BACA JUGA : Tanaman Hias Diklaim Berusia 200 Tahun Dibanderol Rp 100 Juta

Tim tenaga ahli kebencanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unej, Joko Mulyono, mengatakan, penyusunan dokumen KRB itu bakal digunakan untuk rencana mitigasi bencana. “Sebenarnya dokumen KRB sudah ada sejak 2016 lalu. Dibentuk BPBD, tapi life time, hanya untuk lima tahun. Karena dinamika sudah sedemikian mengalami perubahan, sekarang diperbarui lagi,” paparnya.

Dia menguraikan, KRB tersebut memuat berbagai rencana mitigasi bencana, program rehabilitasi bencana, pemetaan kawasan rawan. Termasuk memetakan kerentanan di masyarakat, baik kerentanan fisik, lingkungan, sosial, maupun kerentanan ekonomi. “Jadi, ini akan menjadi dokumen dasar, utama, dan pertama yang harus dilakukan pemerintah daerah,” urai pria yang juga dosen di FISIP Unej itu.

SUMBERSARI, Radar Jember – Potensi kebencanaan di Jember sepertinya masih menjadi pekerjaan yang juga perlu diseriusi pemerintah daerah. Hasil penyusunan dokumen kajian risiko bencana (KRB) yang dipaparkan kemarin, terurai berbagai daerah, meliputi desa, kecamatan, hingga kawasan kota, menjadi area rawan bencana dengan berbagai jenis.

BACA JUGA : Tanaman Hias Diklaim Berusia 200 Tahun Dibanderol Rp 100 Juta

Tim tenaga ahli kebencanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unej, Joko Mulyono, mengatakan, penyusunan dokumen KRB itu bakal digunakan untuk rencana mitigasi bencana. “Sebenarnya dokumen KRB sudah ada sejak 2016 lalu. Dibentuk BPBD, tapi life time, hanya untuk lima tahun. Karena dinamika sudah sedemikian mengalami perubahan, sekarang diperbarui lagi,” paparnya.

Dia menguraikan, KRB tersebut memuat berbagai rencana mitigasi bencana, program rehabilitasi bencana, pemetaan kawasan rawan. Termasuk memetakan kerentanan di masyarakat, baik kerentanan fisik, lingkungan, sosial, maupun kerentanan ekonomi. “Jadi, ini akan menjadi dokumen dasar, utama, dan pertama yang harus dilakukan pemerintah daerah,” urai pria yang juga dosen di FISIP Unej itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/