alexametrics
23.5 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Menelusuri Efektivitas PPKM Mikro, Program Penanggulangan Covid-19

Februari lalu, pemerintah telah mencanangkan program PPKM mikro untuk menekan laju penyebaran wabah. Namun, setelah sekian bulan, efektivitas program itu mulai dipertanyakan. Sebab, dinilai gagal menekan kasus baru positif Covid-19. Sebenarnya, PPKM mikro itu benar-benar berjalan, atau hanya program asal-asalan agar pemerintah terkesan telah bekerja?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Percepatan penanganan pandemi Covid-19 sejauh ini memang terlihat masif. Pemerintah terlihat cukup gencar menekan laju penyebaran pandemi. Dari mulai operasi masker, vaksinasi, menyiapkan simulasi untuk sekolah-sekolah, hingga pada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro.

Khusus untuk PPKM mikro, sejak digulirkan pada Februari lalu, program yang bertujuan menekan laju penyebaran pandemi dari tingkat bawah ini memang terlihat sangat masif. Tersebar ke semua desa, dan menyasar sampai ke lapisan masyarakat paling kecil di tingkat RT/RW. Masing-masing desa juga diwajibkan memiliki ruang isolasi, memiliki perlengkapan sterilisasi Covid-19, dan melakukan monitoring dari hasil tracing yang dilakukan pada tingkat RT/RW tersebut.

Namun, seiring berjalannya waktu, program yang digagas pemerintah pusat ini perlahan mulai kendur. Hanya tancap gas saat awal-awal digulirkan saja. Pantauan Jawa Pos Radar Jember ke sejumlah pos PPKM di sejumlah desa, hampir semua pos di tiap RT/RW memang telah terbentuk. Namun, posko itu sebatas penanda saja. Hanya simbol. Nyaris tanpa program yang jelas. Bahkan, masyarakat juga tidak tahu apa yang dilakukan oleh posko PPKM mikro itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Eksistensi fisik itu bisa dilihat dengan adanya banner struktur pengurus PPKM mikro, lalu foto jajaran muspika, dan sebuah bendera sebagai tanda sedang ada PPKM mikro. “Sejak awal terbentuk, diminta untuk memasang atribut-atribut ini,” terang Hafit, pemilik rumah yang ketepatan dijadikan sebagai pos PPKM mikro di RT 4 RW 9 Desa Balung Lor, Kecamatan Balung.

HANYA PENANDA: Sebuah banner terpasang di posko PPKM mikro Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi. Meski keberadaannya hingga tingkat RT/RW, namun eksistensi program pencegahan Covid-19 diragukan, karena nyaris tak terdengar.

Pada banner ukuran sekitar 100 x 80 sentimeter itu, juga tidak tertulis nama-nama pengurus yang ada di struktur tersebut. Namun, kata Hafit, kendati tidak tertulis nama-nama pengurus pada banner tersebut, warga setempat diakuinya sudah paham akan adanya PPKM mikro tersebut.

Hanya, sejak awal terbentuk hingga hari ini, ia mengaku kurang mengetahui apa saja yang menjadi program dalam PPKM mikro tersebut. Namun, saat disinggung mengenai pemantauan warga baru yang datang dari luar kota, ia membenarkan. “Iya. Dulu untuk memantau warga yang datang dari luar kota. Kurang lebih seperti itu,” ujarnya.

Alhasil, tempelan banner itu terkesan mirip hiasan dinding saja. “Di lingkungan sekitar sini merata. Tiap RT ada pos PPKM mikro,” sambungnya.

Meski banner telah terpasang, namun warga setempat yang tinggal di sekitar pos PPKM mikro mengaku tidak tahu dengan program pemerintah itu. Bahkan, ketika beraktivitas, warga juga terlihat tak mengenakan masker. “Tidak tahu apa PPKM mikro itu,” sahut seorang pria tak bermasker, di sekitar pos PPKM mikro tersebut.

Bergeser ke desa sebelah, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Tutul, Kecamatan Balung, kondisinya juga serupa. Pos PPKM di RT 3 RW 7, tulisan pada banner terpampang begitu jelas, seukuran 200 x 150 sentimeter. Banner itu persis di depan rumah yang diketahui pemiliknya bernama Wasis Lukito. “Saya kebetulan juga RT-nya,” kata Wasis, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (20/6).

Wasis menceritakan, di awal-awal terbentuk, pos PPKM mikro diakuinya ada beberapa kegiatan dan program. Salah satunya rapat evaluasi, penyemprotan, dan lain-lainnya. Termasuk mengenai tracing yang dilakukan PPKM mikro saat ada warga yang baru datang dari luar kota. “Dulu sempat ada saat menjelang Ramadan sampai Lebaran. Karena ada beberapa warga yang dari luar kota mudik, ya kami laporkan. Nanti ada tim sendiri yang memantau,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Percepatan penanganan pandemi Covid-19 sejauh ini memang terlihat masif. Pemerintah terlihat cukup gencar menekan laju penyebaran pandemi. Dari mulai operasi masker, vaksinasi, menyiapkan simulasi untuk sekolah-sekolah, hingga pada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro.

Khusus untuk PPKM mikro, sejak digulirkan pada Februari lalu, program yang bertujuan menekan laju penyebaran pandemi dari tingkat bawah ini memang terlihat sangat masif. Tersebar ke semua desa, dan menyasar sampai ke lapisan masyarakat paling kecil di tingkat RT/RW. Masing-masing desa juga diwajibkan memiliki ruang isolasi, memiliki perlengkapan sterilisasi Covid-19, dan melakukan monitoring dari hasil tracing yang dilakukan pada tingkat RT/RW tersebut.

Namun, seiring berjalannya waktu, program yang digagas pemerintah pusat ini perlahan mulai kendur. Hanya tancap gas saat awal-awal digulirkan saja. Pantauan Jawa Pos Radar Jember ke sejumlah pos PPKM di sejumlah desa, hampir semua pos di tiap RT/RW memang telah terbentuk. Namun, posko itu sebatas penanda saja. Hanya simbol. Nyaris tanpa program yang jelas. Bahkan, masyarakat juga tidak tahu apa yang dilakukan oleh posko PPKM mikro itu.

Eksistensi fisik itu bisa dilihat dengan adanya banner struktur pengurus PPKM mikro, lalu foto jajaran muspika, dan sebuah bendera sebagai tanda sedang ada PPKM mikro. “Sejak awal terbentuk, diminta untuk memasang atribut-atribut ini,” terang Hafit, pemilik rumah yang ketepatan dijadikan sebagai pos PPKM mikro di RT 4 RW 9 Desa Balung Lor, Kecamatan Balung.

HANYA PENANDA: Sebuah banner terpasang di posko PPKM mikro Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi. Meski keberadaannya hingga tingkat RT/RW, namun eksistensi program pencegahan Covid-19 diragukan, karena nyaris tak terdengar.

Pada banner ukuran sekitar 100 x 80 sentimeter itu, juga tidak tertulis nama-nama pengurus yang ada di struktur tersebut. Namun, kata Hafit, kendati tidak tertulis nama-nama pengurus pada banner tersebut, warga setempat diakuinya sudah paham akan adanya PPKM mikro tersebut.

Hanya, sejak awal terbentuk hingga hari ini, ia mengaku kurang mengetahui apa saja yang menjadi program dalam PPKM mikro tersebut. Namun, saat disinggung mengenai pemantauan warga baru yang datang dari luar kota, ia membenarkan. “Iya. Dulu untuk memantau warga yang datang dari luar kota. Kurang lebih seperti itu,” ujarnya.

Alhasil, tempelan banner itu terkesan mirip hiasan dinding saja. “Di lingkungan sekitar sini merata. Tiap RT ada pos PPKM mikro,” sambungnya.

Meski banner telah terpasang, namun warga setempat yang tinggal di sekitar pos PPKM mikro mengaku tidak tahu dengan program pemerintah itu. Bahkan, ketika beraktivitas, warga juga terlihat tak mengenakan masker. “Tidak tahu apa PPKM mikro itu,” sahut seorang pria tak bermasker, di sekitar pos PPKM mikro tersebut.

Bergeser ke desa sebelah, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Tutul, Kecamatan Balung, kondisinya juga serupa. Pos PPKM di RT 3 RW 7, tulisan pada banner terpampang begitu jelas, seukuran 200 x 150 sentimeter. Banner itu persis di depan rumah yang diketahui pemiliknya bernama Wasis Lukito. “Saya kebetulan juga RT-nya,” kata Wasis, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (20/6).

Wasis menceritakan, di awal-awal terbentuk, pos PPKM mikro diakuinya ada beberapa kegiatan dan program. Salah satunya rapat evaluasi, penyemprotan, dan lain-lainnya. Termasuk mengenai tracing yang dilakukan PPKM mikro saat ada warga yang baru datang dari luar kota. “Dulu sempat ada saat menjelang Ramadan sampai Lebaran. Karena ada beberapa warga yang dari luar kota mudik, ya kami laporkan. Nanti ada tim sendiri yang memantau,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Percepatan penanganan pandemi Covid-19 sejauh ini memang terlihat masif. Pemerintah terlihat cukup gencar menekan laju penyebaran pandemi. Dari mulai operasi masker, vaksinasi, menyiapkan simulasi untuk sekolah-sekolah, hingga pada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro.

Khusus untuk PPKM mikro, sejak digulirkan pada Februari lalu, program yang bertujuan menekan laju penyebaran pandemi dari tingkat bawah ini memang terlihat sangat masif. Tersebar ke semua desa, dan menyasar sampai ke lapisan masyarakat paling kecil di tingkat RT/RW. Masing-masing desa juga diwajibkan memiliki ruang isolasi, memiliki perlengkapan sterilisasi Covid-19, dan melakukan monitoring dari hasil tracing yang dilakukan pada tingkat RT/RW tersebut.

Namun, seiring berjalannya waktu, program yang digagas pemerintah pusat ini perlahan mulai kendur. Hanya tancap gas saat awal-awal digulirkan saja. Pantauan Jawa Pos Radar Jember ke sejumlah pos PPKM di sejumlah desa, hampir semua pos di tiap RT/RW memang telah terbentuk. Namun, posko itu sebatas penanda saja. Hanya simbol. Nyaris tanpa program yang jelas. Bahkan, masyarakat juga tidak tahu apa yang dilakukan oleh posko PPKM mikro itu.

Eksistensi fisik itu bisa dilihat dengan adanya banner struktur pengurus PPKM mikro, lalu foto jajaran muspika, dan sebuah bendera sebagai tanda sedang ada PPKM mikro. “Sejak awal terbentuk, diminta untuk memasang atribut-atribut ini,” terang Hafit, pemilik rumah yang ketepatan dijadikan sebagai pos PPKM mikro di RT 4 RW 9 Desa Balung Lor, Kecamatan Balung.

HANYA PENANDA: Sebuah banner terpasang di posko PPKM mikro Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi. Meski keberadaannya hingga tingkat RT/RW, namun eksistensi program pencegahan Covid-19 diragukan, karena nyaris tak terdengar.

Pada banner ukuran sekitar 100 x 80 sentimeter itu, juga tidak tertulis nama-nama pengurus yang ada di struktur tersebut. Namun, kata Hafit, kendati tidak tertulis nama-nama pengurus pada banner tersebut, warga setempat diakuinya sudah paham akan adanya PPKM mikro tersebut.

Hanya, sejak awal terbentuk hingga hari ini, ia mengaku kurang mengetahui apa saja yang menjadi program dalam PPKM mikro tersebut. Namun, saat disinggung mengenai pemantauan warga baru yang datang dari luar kota, ia membenarkan. “Iya. Dulu untuk memantau warga yang datang dari luar kota. Kurang lebih seperti itu,” ujarnya.

Alhasil, tempelan banner itu terkesan mirip hiasan dinding saja. “Di lingkungan sekitar sini merata. Tiap RT ada pos PPKM mikro,” sambungnya.

Meski banner telah terpasang, namun warga setempat yang tinggal di sekitar pos PPKM mikro mengaku tidak tahu dengan program pemerintah itu. Bahkan, ketika beraktivitas, warga juga terlihat tak mengenakan masker. “Tidak tahu apa PPKM mikro itu,” sahut seorang pria tak bermasker, di sekitar pos PPKM mikro tersebut.

Bergeser ke desa sebelah, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Tutul, Kecamatan Balung, kondisinya juga serupa. Pos PPKM di RT 3 RW 7, tulisan pada banner terpampang begitu jelas, seukuran 200 x 150 sentimeter. Banner itu persis di depan rumah yang diketahui pemiliknya bernama Wasis Lukito. “Saya kebetulan juga RT-nya,” kata Wasis, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (20/6).

Wasis menceritakan, di awal-awal terbentuk, pos PPKM mikro diakuinya ada beberapa kegiatan dan program. Salah satunya rapat evaluasi, penyemprotan, dan lain-lainnya. Termasuk mengenai tracing yang dilakukan PPKM mikro saat ada warga yang baru datang dari luar kota. “Dulu sempat ada saat menjelang Ramadan sampai Lebaran. Karena ada beberapa warga yang dari luar kota mudik, ya kami laporkan. Nanti ada tim sendiri yang memantau,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/