alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Tekuni Olahraga, Juga Serius Kembangkan Usaha Terapi

Keterbatasan fisik tak menjadi alasan bagi Maulana Ikhwanul Fajri berpangku tangan. Lahir dalam keadaan tunanetra, justru membuat semangat terlecut untuk mengejar cita-cita. Meski dalam perjalanan hidupnya dia juga pernah mengalami pengalaman tak menyenangkan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, sebuah barbel berukuran sedang berada di genggaman tangan Maulana Ikhwanul Fajri. Tampaknya, barbel itulah yang menjadi kawan setianya dalam berolahraga. Dia tampak melatih otot lengan, sambil merenggangkan otot pergelangan tangan.

Maklum, sebagai seorang atlet tolak perluru dan lempar lembing, latihan otot semacam itu sudah jadi perkara wajib. Sebelumnya, ia juga kerap menggelar latihan bersama dengan rekan-rekannya. Namun, sejak adanya wabah korona, dirinya lebih sering berlatih sendiri di rumahnya, Jalan Pandjaitan, Sumbersari.

Pemuda yang akrab disapa Ikhwan itu memang terlahir sebagai tunanetra. Ia memiliki keterbatasan dalam penglihatannya. Tapi tidak total, ia masih bisa melihat beberapa jenis warna dengan jarak tertentu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di rumahnya yang cukup sederhana, pemuda dua bersaudara ini tak berdiam diri dengan keterbatasan yang dimiliki. Saat menginjak siang hari, ia mulai menyiapkan beberapa perlengkapan untuk tempat terapi alternatif di rumahnya. Usaha jasa itu ia dirikan sendiri, dikelola sendiri, dan Ikhwan juga yang menjadi terapisnya.

Kemampuannya dalam pengobatan dan terapi tradisional itu tidak didapatkannya melalui warisan orang tua, pemberian seseorang, atau sekadar iseng-iseng. Jauh hari sebelumnya, persisnya pada 2016 lalu, Ikhwan sempat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri di salah satu kampus di Jember.

Mimpi besarnya ketika duduk di bangku SMA sudah berada di depan mata. Hanya saja, kala itu Ikhwan, yang sudah diterima dan lulus tahap seleksi awal, dinyatakan gagal di sesi interview. Pihak kampus keberatan dengan kondisinya sebagai tunanetra. Saat itu juga, mimpi menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri lenyap seketika. “Saat itu rasanya sedih. Perlahan saya mulai memahami dan tidak bisa larut terlalu lama dalam kesedihan itu,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, sebuah barbel berukuran sedang berada di genggaman tangan Maulana Ikhwanul Fajri. Tampaknya, barbel itulah yang menjadi kawan setianya dalam berolahraga. Dia tampak melatih otot lengan, sambil merenggangkan otot pergelangan tangan.

Maklum, sebagai seorang atlet tolak perluru dan lempar lembing, latihan otot semacam itu sudah jadi perkara wajib. Sebelumnya, ia juga kerap menggelar latihan bersama dengan rekan-rekannya. Namun, sejak adanya wabah korona, dirinya lebih sering berlatih sendiri di rumahnya, Jalan Pandjaitan, Sumbersari.

Pemuda yang akrab disapa Ikhwan itu memang terlahir sebagai tunanetra. Ia memiliki keterbatasan dalam penglihatannya. Tapi tidak total, ia masih bisa melihat beberapa jenis warna dengan jarak tertentu.

Di rumahnya yang cukup sederhana, pemuda dua bersaudara ini tak berdiam diri dengan keterbatasan yang dimiliki. Saat menginjak siang hari, ia mulai menyiapkan beberapa perlengkapan untuk tempat terapi alternatif di rumahnya. Usaha jasa itu ia dirikan sendiri, dikelola sendiri, dan Ikhwan juga yang menjadi terapisnya.

Kemampuannya dalam pengobatan dan terapi tradisional itu tidak didapatkannya melalui warisan orang tua, pemberian seseorang, atau sekadar iseng-iseng. Jauh hari sebelumnya, persisnya pada 2016 lalu, Ikhwan sempat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri di salah satu kampus di Jember.

Mimpi besarnya ketika duduk di bangku SMA sudah berada di depan mata. Hanya saja, kala itu Ikhwan, yang sudah diterima dan lulus tahap seleksi awal, dinyatakan gagal di sesi interview. Pihak kampus keberatan dengan kondisinya sebagai tunanetra. Saat itu juga, mimpi menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri lenyap seketika. “Saat itu rasanya sedih. Perlahan saya mulai memahami dan tidak bisa larut terlalu lama dalam kesedihan itu,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, sebuah barbel berukuran sedang berada di genggaman tangan Maulana Ikhwanul Fajri. Tampaknya, barbel itulah yang menjadi kawan setianya dalam berolahraga. Dia tampak melatih otot lengan, sambil merenggangkan otot pergelangan tangan.

Maklum, sebagai seorang atlet tolak perluru dan lempar lembing, latihan otot semacam itu sudah jadi perkara wajib. Sebelumnya, ia juga kerap menggelar latihan bersama dengan rekan-rekannya. Namun, sejak adanya wabah korona, dirinya lebih sering berlatih sendiri di rumahnya, Jalan Pandjaitan, Sumbersari.

Pemuda yang akrab disapa Ikhwan itu memang terlahir sebagai tunanetra. Ia memiliki keterbatasan dalam penglihatannya. Tapi tidak total, ia masih bisa melihat beberapa jenis warna dengan jarak tertentu.

Di rumahnya yang cukup sederhana, pemuda dua bersaudara ini tak berdiam diri dengan keterbatasan yang dimiliki. Saat menginjak siang hari, ia mulai menyiapkan beberapa perlengkapan untuk tempat terapi alternatif di rumahnya. Usaha jasa itu ia dirikan sendiri, dikelola sendiri, dan Ikhwan juga yang menjadi terapisnya.

Kemampuannya dalam pengobatan dan terapi tradisional itu tidak didapatkannya melalui warisan orang tua, pemberian seseorang, atau sekadar iseng-iseng. Jauh hari sebelumnya, persisnya pada 2016 lalu, Ikhwan sempat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri di salah satu kampus di Jember.

Mimpi besarnya ketika duduk di bangku SMA sudah berada di depan mata. Hanya saja, kala itu Ikhwan, yang sudah diterima dan lulus tahap seleksi awal, dinyatakan gagal di sesi interview. Pihak kampus keberatan dengan kondisinya sebagai tunanetra. Saat itu juga, mimpi menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri lenyap seketika. “Saat itu rasanya sedih. Perlahan saya mulai memahami dan tidak bisa larut terlalu lama dalam kesedihan itu,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/