alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Mitigasi Wisata Lemah, Banyak Andalkan Warga

Kematian 11 orang yang ritual di Pantai Payangan menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Bukan saja soal pengelolaan tempat wisata, namun tanggung jawab keamanan dan perlindungan terhadap pengunjungnya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pantai Wisata Payangan dan Watu Ulo sempat tenar kembali di Jember dan Indonesia. Akan tetapi, khalayak umum mengetahui kabarnya kali ini bukan tentang keindahan alamnya. Melainkan, tragedi maut yang menelan sebelas korban di laut Payangan tepatnya di Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu.

Tragedi ritual maut yang dilakukan Kelompok atau Padepokan Tunggal Jati Nusantara kontan memberi dampak yang luar biasa. Sekaligus, membuka tabir akan pengelolaan tempat wisata yang selama ini terkesan standard dan minimnya perlindungan. Oleh karena itu, perlu ada langkah serius sehingga tidak ada lain “aliran hitam” yang ritual di laut apalagi tengah malam.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pengamatan Jawa Pos Radar Jember, beberapa hari pasca tragedi ritual mau, membuat masyarakat setempat lebih waspada. Masyarakat juga lebih sensitif mengenai perubahan yang terjadi di kawasan pantai. Mitigasi yang dilakukan warga setempat juga semakin ketat dan keras. Jika ada tanda-tanda membahayakan, masyarakat tidak segan melarang pengunjung mendekat ke bibir pantai.

Hal ini diungkapkan salah satu penjaga pantai senior di sana yaitu Samsuri. Pria ini menyebut, khusus untuk kecelakaan laut yang dialami pengunjung biasanya karena terlena dan keasyikan bermain. “Kalau keasyikan main dipantai, kadang sampai lupa keadaan,” ungkapnya, di sekitar Pantai Payangan.

Nah, selama ini, pemantauan dan pengawasan di tempat-tempat wisata mayoritas dilakukan oleh masyarakat atau pengelola wisata. Beberapa petugas lain, terkadang ada namun tidak lama. Seperti petugas yang diturunkan pemerintah, sifatnya hanya sementara. Petugas datang, melakukan himbauan mitigas, dan pulang. Pasca tragedi maut itu pun, memang sering ada agenda tinjauan oleh pemerintah daerah dan pemerintah provinsi, namun sifatnya sementara. Akibatnya, pengawasan serta pengamanan laut lebih banyak dilakukan oleh masyarakat. “Sekarang sudah ada Basarnas dan Tim SAR, itu warga Payangan sendiri. Saat ini Tim SAR ada 12 orang,” ucap Samsuri.

Putra Samsuri, Muhammad Juanda, juga seorang penjaga pantai Payangan. Setiap hari berada di pantai. Paling sering Juanda melakukan pengawasan di siang hari hingga petang menjelang maghrib. Juanda bisa disebut sebagai pelapor mitigasi adanya kecelakaan di pantai, baik karena bencana ataupun karena kegiatan nyeleneh. “Destinasi wisata ini dikelola berbasis kemasyarakatan. Yaitu, dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pantai Wisata Payangan dan Watu Ulo sempat tenar kembali di Jember dan Indonesia. Akan tetapi, khalayak umum mengetahui kabarnya kali ini bukan tentang keindahan alamnya. Melainkan, tragedi maut yang menelan sebelas korban di laut Payangan tepatnya di Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu.

Tragedi ritual maut yang dilakukan Kelompok atau Padepokan Tunggal Jati Nusantara kontan memberi dampak yang luar biasa. Sekaligus, membuka tabir akan pengelolaan tempat wisata yang selama ini terkesan standard dan minimnya perlindungan. Oleh karena itu, perlu ada langkah serius sehingga tidak ada lain “aliran hitam” yang ritual di laut apalagi tengah malam.

Pengamatan Jawa Pos Radar Jember, beberapa hari pasca tragedi ritual mau, membuat masyarakat setempat lebih waspada. Masyarakat juga lebih sensitif mengenai perubahan yang terjadi di kawasan pantai. Mitigasi yang dilakukan warga setempat juga semakin ketat dan keras. Jika ada tanda-tanda membahayakan, masyarakat tidak segan melarang pengunjung mendekat ke bibir pantai.

Hal ini diungkapkan salah satu penjaga pantai senior di sana yaitu Samsuri. Pria ini menyebut, khusus untuk kecelakaan laut yang dialami pengunjung biasanya karena terlena dan keasyikan bermain. “Kalau keasyikan main dipantai, kadang sampai lupa keadaan,” ungkapnya, di sekitar Pantai Payangan.

Nah, selama ini, pemantauan dan pengawasan di tempat-tempat wisata mayoritas dilakukan oleh masyarakat atau pengelola wisata. Beberapa petugas lain, terkadang ada namun tidak lama. Seperti petugas yang diturunkan pemerintah, sifatnya hanya sementara. Petugas datang, melakukan himbauan mitigas, dan pulang. Pasca tragedi maut itu pun, memang sering ada agenda tinjauan oleh pemerintah daerah dan pemerintah provinsi, namun sifatnya sementara. Akibatnya, pengawasan serta pengamanan laut lebih banyak dilakukan oleh masyarakat. “Sekarang sudah ada Basarnas dan Tim SAR, itu warga Payangan sendiri. Saat ini Tim SAR ada 12 orang,” ucap Samsuri.

Putra Samsuri, Muhammad Juanda, juga seorang penjaga pantai Payangan. Setiap hari berada di pantai. Paling sering Juanda melakukan pengawasan di siang hari hingga petang menjelang maghrib. Juanda bisa disebut sebagai pelapor mitigasi adanya kecelakaan di pantai, baik karena bencana ataupun karena kegiatan nyeleneh. “Destinasi wisata ini dikelola berbasis kemasyarakatan. Yaitu, dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pantai Wisata Payangan dan Watu Ulo sempat tenar kembali di Jember dan Indonesia. Akan tetapi, khalayak umum mengetahui kabarnya kali ini bukan tentang keindahan alamnya. Melainkan, tragedi maut yang menelan sebelas korban di laut Payangan tepatnya di Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu.

Tragedi ritual maut yang dilakukan Kelompok atau Padepokan Tunggal Jati Nusantara kontan memberi dampak yang luar biasa. Sekaligus, membuka tabir akan pengelolaan tempat wisata yang selama ini terkesan standard dan minimnya perlindungan. Oleh karena itu, perlu ada langkah serius sehingga tidak ada lain “aliran hitam” yang ritual di laut apalagi tengah malam.

Pengamatan Jawa Pos Radar Jember, beberapa hari pasca tragedi ritual mau, membuat masyarakat setempat lebih waspada. Masyarakat juga lebih sensitif mengenai perubahan yang terjadi di kawasan pantai. Mitigasi yang dilakukan warga setempat juga semakin ketat dan keras. Jika ada tanda-tanda membahayakan, masyarakat tidak segan melarang pengunjung mendekat ke bibir pantai.

Hal ini diungkapkan salah satu penjaga pantai senior di sana yaitu Samsuri. Pria ini menyebut, khusus untuk kecelakaan laut yang dialami pengunjung biasanya karena terlena dan keasyikan bermain. “Kalau keasyikan main dipantai, kadang sampai lupa keadaan,” ungkapnya, di sekitar Pantai Payangan.

Nah, selama ini, pemantauan dan pengawasan di tempat-tempat wisata mayoritas dilakukan oleh masyarakat atau pengelola wisata. Beberapa petugas lain, terkadang ada namun tidak lama. Seperti petugas yang diturunkan pemerintah, sifatnya hanya sementara. Petugas datang, melakukan himbauan mitigas, dan pulang. Pasca tragedi maut itu pun, memang sering ada agenda tinjauan oleh pemerintah daerah dan pemerintah provinsi, namun sifatnya sementara. Akibatnya, pengawasan serta pengamanan laut lebih banyak dilakukan oleh masyarakat. “Sekarang sudah ada Basarnas dan Tim SAR, itu warga Payangan sendiri. Saat ini Tim SAR ada 12 orang,” ucap Samsuri.

Putra Samsuri, Muhammad Juanda, juga seorang penjaga pantai Payangan. Setiap hari berada di pantai. Paling sering Juanda melakukan pengawasan di siang hari hingga petang menjelang maghrib. Juanda bisa disebut sebagai pelapor mitigasi adanya kecelakaan di pantai, baik karena bencana ataupun karena kegiatan nyeleneh. “Destinasi wisata ini dikelola berbasis kemasyarakatan. Yaitu, dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/