alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Kompensasi Kasih Sayang melalui Transfer

Menilik Nasib Anak Buruh Migran

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Problem kesejahteraan anak buruh migran tak kunjung surut jika diusut. Salah satu hal yang jarang diangkat dan kerap luput dari perhatian adalah nasib anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI). Mereka umumnya memiliki kecukupan finansial yang maksimal. Namun, tak jarang merasa kesepian, kurang perhatian, dan bahkan hidupnya berantakan. Seperti yang dialami oleh Rini (nama samaran), perempuan yang berdomisili di Mayang.

Rini telah ditinggal ibunya bekerja di Malaysia sejak balita. Sejak itu pula dia dirawat oleh neneknya. Beranjak usia sekolah, Rini ikut ayahnya yang saat itu bekerja sebagai buruh pabrik. Intensitas pertemuan mereka sangat jarang. Keduanya hanya bertemu di malam hari saat ayahnya pulang kerja.

Dalam kesehariannya, Rini nyaris tak pernah kekurangan uang. Walaupun tinggal di desa, Rini bisa digolongkan sebagai remaja yang hedon. Rumahnya dijadikan base camp tongkrongan teman sepermainannya. Temannya, laki-laki dan perempuan, kerap berkunjung dan bermain hingga menjelang sore. Tak ada pengawasan khusus dari orang tuanya. Ayahnya tak pernah curiga dan tak pernah bertanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hingga akhirnya, saat masih duduk di bangku SMP, Rini dinyatakan hamil di luar nikah. Musibah ini terjadi ketika Rini masih duduk kelas VIII SMP. Nahasnya, pacar Rini tak mau mengakui insiden memalukan itu. Bahkan menolak untuk menikahinya. Sejak saat itu, kehidupan Rini menjadi runyam. Dia terpaksa putus sekolah dan membesarkan anaknya seorang diri tanpa figur seorang ayah.

Empat tahun kemudian, Rini memutuskan untuk mengikuti jejak ibunya menjadi TKW di Hongkong. Pengulangan nasib pun terjadi. Rini menitipkan anaknya kepada kakaknya ketika masih balita. “Siapa yang mau menghidupi anak saya kalau tidak kerja,” ujarnya.

Kondisi ini merupakan ilustrasi permasalahan psikologis sosial yang kerap dialami anak-anak PMI. Di luar itu, banyak masalah pendidikan yang menimpa anak-anak pekerja migran. Sebagian besar dari mereka tak memiliki motivasi belajar yang tinggi, sehingga rentan putus sekolah.

Ketua Migran Care Jember Bambang Teguh mengungkapkan bahwa anak-anak pekerja migran rentan menjadi korban KDRT. Tren masalah ini tidak mengalami perubahan dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi di masa pandemi ini.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Problem kesejahteraan anak buruh migran tak kunjung surut jika diusut. Salah satu hal yang jarang diangkat dan kerap luput dari perhatian adalah nasib anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI). Mereka umumnya memiliki kecukupan finansial yang maksimal. Namun, tak jarang merasa kesepian, kurang perhatian, dan bahkan hidupnya berantakan. Seperti yang dialami oleh Rini (nama samaran), perempuan yang berdomisili di Mayang.

Rini telah ditinggal ibunya bekerja di Malaysia sejak balita. Sejak itu pula dia dirawat oleh neneknya. Beranjak usia sekolah, Rini ikut ayahnya yang saat itu bekerja sebagai buruh pabrik. Intensitas pertemuan mereka sangat jarang. Keduanya hanya bertemu di malam hari saat ayahnya pulang kerja.

Dalam kesehariannya, Rini nyaris tak pernah kekurangan uang. Walaupun tinggal di desa, Rini bisa digolongkan sebagai remaja yang hedon. Rumahnya dijadikan base camp tongkrongan teman sepermainannya. Temannya, laki-laki dan perempuan, kerap berkunjung dan bermain hingga menjelang sore. Tak ada pengawasan khusus dari orang tuanya. Ayahnya tak pernah curiga dan tak pernah bertanya.

Hingga akhirnya, saat masih duduk di bangku SMP, Rini dinyatakan hamil di luar nikah. Musibah ini terjadi ketika Rini masih duduk kelas VIII SMP. Nahasnya, pacar Rini tak mau mengakui insiden memalukan itu. Bahkan menolak untuk menikahinya. Sejak saat itu, kehidupan Rini menjadi runyam. Dia terpaksa putus sekolah dan membesarkan anaknya seorang diri tanpa figur seorang ayah.

Empat tahun kemudian, Rini memutuskan untuk mengikuti jejak ibunya menjadi TKW di Hongkong. Pengulangan nasib pun terjadi. Rini menitipkan anaknya kepada kakaknya ketika masih balita. “Siapa yang mau menghidupi anak saya kalau tidak kerja,” ujarnya.

Kondisi ini merupakan ilustrasi permasalahan psikologis sosial yang kerap dialami anak-anak PMI. Di luar itu, banyak masalah pendidikan yang menimpa anak-anak pekerja migran. Sebagian besar dari mereka tak memiliki motivasi belajar yang tinggi, sehingga rentan putus sekolah.

Ketua Migran Care Jember Bambang Teguh mengungkapkan bahwa anak-anak pekerja migran rentan menjadi korban KDRT. Tren masalah ini tidak mengalami perubahan dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi di masa pandemi ini.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Problem kesejahteraan anak buruh migran tak kunjung surut jika diusut. Salah satu hal yang jarang diangkat dan kerap luput dari perhatian adalah nasib anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI). Mereka umumnya memiliki kecukupan finansial yang maksimal. Namun, tak jarang merasa kesepian, kurang perhatian, dan bahkan hidupnya berantakan. Seperti yang dialami oleh Rini (nama samaran), perempuan yang berdomisili di Mayang.

Rini telah ditinggal ibunya bekerja di Malaysia sejak balita. Sejak itu pula dia dirawat oleh neneknya. Beranjak usia sekolah, Rini ikut ayahnya yang saat itu bekerja sebagai buruh pabrik. Intensitas pertemuan mereka sangat jarang. Keduanya hanya bertemu di malam hari saat ayahnya pulang kerja.

Dalam kesehariannya, Rini nyaris tak pernah kekurangan uang. Walaupun tinggal di desa, Rini bisa digolongkan sebagai remaja yang hedon. Rumahnya dijadikan base camp tongkrongan teman sepermainannya. Temannya, laki-laki dan perempuan, kerap berkunjung dan bermain hingga menjelang sore. Tak ada pengawasan khusus dari orang tuanya. Ayahnya tak pernah curiga dan tak pernah bertanya.

Hingga akhirnya, saat masih duduk di bangku SMP, Rini dinyatakan hamil di luar nikah. Musibah ini terjadi ketika Rini masih duduk kelas VIII SMP. Nahasnya, pacar Rini tak mau mengakui insiden memalukan itu. Bahkan menolak untuk menikahinya. Sejak saat itu, kehidupan Rini menjadi runyam. Dia terpaksa putus sekolah dan membesarkan anaknya seorang diri tanpa figur seorang ayah.

Empat tahun kemudian, Rini memutuskan untuk mengikuti jejak ibunya menjadi TKW di Hongkong. Pengulangan nasib pun terjadi. Rini menitipkan anaknya kepada kakaknya ketika masih balita. “Siapa yang mau menghidupi anak saya kalau tidak kerja,” ujarnya.

Kondisi ini merupakan ilustrasi permasalahan psikologis sosial yang kerap dialami anak-anak PMI. Di luar itu, banyak masalah pendidikan yang menimpa anak-anak pekerja migran. Sebagian besar dari mereka tak memiliki motivasi belajar yang tinggi, sehingga rentan putus sekolah.

Ketua Migran Care Jember Bambang Teguh mengungkapkan bahwa anak-anak pekerja migran rentan menjadi korban KDRT. Tren masalah ini tidak mengalami perubahan dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi di masa pandemi ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/