alexametrics
27.5 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Cara Desa Semboro di Jember Tembus 96,4 Persen Capaian Vaksinasi

Mobile_AP_Rectangle 1

Ani menjelaskan, sebelum ada agenda vaksinasi, para kader posyandu dua hari sebelumnya mengikuti pendadaran terlebih dulu oleh bidan desa dan dari Puskesmas Semboro. Hal itu untuk menyinkronkan jumlah vaksin yang tersedia dan berapa warga yang belum tervaksin. “Hampir seminggu sekali ada vaksinasi. Tidak hanya di balai desa, tapi juga di dusun. Kalau rumahnya jauh, dijemput,” paparnya.

Ternyata, kesuksesan capaian vaksinasi di Desa Semboro ini tidak berjalan sendiri. Namun, juga ditopang oleh elemen masyarakat lainnya. Seperti karang taruna yang membantu memberikan informasi. “Karang taruna juga bantu woro-woro keliling desa dengan pelantang suara,” ungkapnya.

Rochim Nurwati, petugas promosi kesehatan dari Puskesmas Semboro, menambahkan, data per 10 Desember, ada 96,4 persen warga di Desa Semboro yang telah tervaksin dosis pertama. Pencapaian tersebut karena pihaknya berkerja sama dengan kader posyandu. “Jadi, H-2 sebelum vaksin, kami pasti briefing dengan kader posyandu,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pendadaran tersebut tidak hanya terkait laporan ketersediaan jumlah vaksin dan sasaran. Lebih dari itu, juga memberikan edukasi bagaimana memberikan penjelasan kepada warga agar mereka mau divaksinasi.

Dia mengaku, ada cara berpikir minor yang menuding vaksinasi itu hanya menjadi alasan petugas medis mencari uang. Karena itu, cara yang dia lakukan pertama adalah dengan mengubah pola pikir itu. “Tanamkan masyarakat butuh sertifikat vaksin, juga butuh imunitas tubuh,” jelasnya.

Selain itu, memakai alasan sekolah anak. Jika tidak mau divaksin, kapan anak-anak bisa sekolah kembali? Sebab, jika pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) belum berakhir, maka kegiatan sekolah tidak bisa dijalankan secara maksimal. “Apa tidak bosan anak tidak sekolah dan PPKM terus. Caranya PPKM turun, ya, lewat vaksin. Ini yang biasanya kami jelaskan,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto/Radar Jember

Fotografer : Ani For Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

- Advertisement -

Ani menjelaskan, sebelum ada agenda vaksinasi, para kader posyandu dua hari sebelumnya mengikuti pendadaran terlebih dulu oleh bidan desa dan dari Puskesmas Semboro. Hal itu untuk menyinkronkan jumlah vaksin yang tersedia dan berapa warga yang belum tervaksin. “Hampir seminggu sekali ada vaksinasi. Tidak hanya di balai desa, tapi juga di dusun. Kalau rumahnya jauh, dijemput,” paparnya.

Ternyata, kesuksesan capaian vaksinasi di Desa Semboro ini tidak berjalan sendiri. Namun, juga ditopang oleh elemen masyarakat lainnya. Seperti karang taruna yang membantu memberikan informasi. “Karang taruna juga bantu woro-woro keliling desa dengan pelantang suara,” ungkapnya.

Rochim Nurwati, petugas promosi kesehatan dari Puskesmas Semboro, menambahkan, data per 10 Desember, ada 96,4 persen warga di Desa Semboro yang telah tervaksin dosis pertama. Pencapaian tersebut karena pihaknya berkerja sama dengan kader posyandu. “Jadi, H-2 sebelum vaksin, kami pasti briefing dengan kader posyandu,” tuturnya.

Pendadaran tersebut tidak hanya terkait laporan ketersediaan jumlah vaksin dan sasaran. Lebih dari itu, juga memberikan edukasi bagaimana memberikan penjelasan kepada warga agar mereka mau divaksinasi.

Dia mengaku, ada cara berpikir minor yang menuding vaksinasi itu hanya menjadi alasan petugas medis mencari uang. Karena itu, cara yang dia lakukan pertama adalah dengan mengubah pola pikir itu. “Tanamkan masyarakat butuh sertifikat vaksin, juga butuh imunitas tubuh,” jelasnya.

Selain itu, memakai alasan sekolah anak. Jika tidak mau divaksin, kapan anak-anak bisa sekolah kembali? Sebab, jika pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) belum berakhir, maka kegiatan sekolah tidak bisa dijalankan secara maksimal. “Apa tidak bosan anak tidak sekolah dan PPKM terus. Caranya PPKM turun, ya, lewat vaksin. Ini yang biasanya kami jelaskan,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto/Radar Jember

Fotografer : Ani For Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

Ani menjelaskan, sebelum ada agenda vaksinasi, para kader posyandu dua hari sebelumnya mengikuti pendadaran terlebih dulu oleh bidan desa dan dari Puskesmas Semboro. Hal itu untuk menyinkronkan jumlah vaksin yang tersedia dan berapa warga yang belum tervaksin. “Hampir seminggu sekali ada vaksinasi. Tidak hanya di balai desa, tapi juga di dusun. Kalau rumahnya jauh, dijemput,” paparnya.

Ternyata, kesuksesan capaian vaksinasi di Desa Semboro ini tidak berjalan sendiri. Namun, juga ditopang oleh elemen masyarakat lainnya. Seperti karang taruna yang membantu memberikan informasi. “Karang taruna juga bantu woro-woro keliling desa dengan pelantang suara,” ungkapnya.

Rochim Nurwati, petugas promosi kesehatan dari Puskesmas Semboro, menambahkan, data per 10 Desember, ada 96,4 persen warga di Desa Semboro yang telah tervaksin dosis pertama. Pencapaian tersebut karena pihaknya berkerja sama dengan kader posyandu. “Jadi, H-2 sebelum vaksin, kami pasti briefing dengan kader posyandu,” tuturnya.

Pendadaran tersebut tidak hanya terkait laporan ketersediaan jumlah vaksin dan sasaran. Lebih dari itu, juga memberikan edukasi bagaimana memberikan penjelasan kepada warga agar mereka mau divaksinasi.

Dia mengaku, ada cara berpikir minor yang menuding vaksinasi itu hanya menjadi alasan petugas medis mencari uang. Karena itu, cara yang dia lakukan pertama adalah dengan mengubah pola pikir itu. “Tanamkan masyarakat butuh sertifikat vaksin, juga butuh imunitas tubuh,” jelasnya.

Selain itu, memakai alasan sekolah anak. Jika tidak mau divaksin, kapan anak-anak bisa sekolah kembali? Sebab, jika pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) belum berakhir, maka kegiatan sekolah tidak bisa dijalankan secara maksimal. “Apa tidak bosan anak tidak sekolah dan PPKM terus. Caranya PPKM turun, ya, lewat vaksin. Ini yang biasanya kami jelaskan,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto/Radar Jember

Fotografer : Ani For Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/