alexametrics
24.4 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Cara Desa Semboro di Jember Tembus 96,4 Persen Capaian Vaksinasi

Mobile_AP_Rectangle 1

ANDAYANI Susi Tri Ani bersemangat ketika menceritakan capaian vaksinasi di desanya. Dari total 15 ribu jiwa yang menjadi sasaran di Desa/Kecamatan Semboro, tinggal 700-an orang yang belum mendapatkan. Bahkan, Kader Posyandu Jeruk 13 dari Dusun Sumber Kidul RT 2 RW 3 tersebut bisa menjelaskan siapa saja yang belum tervaksin hingga 10 Desember kemarin. Datanya cukup detail.

Ani bersama kader posyandu lainnya bahu-membahu membantu mengejar capaian vaksinasi Covid-19 di desanya. “Harus secara bersama-sama, karena Covid-19 adalah masalah bersama,” ucap Ani kepada Jawa Pos Radar Jember.

Dari yang belum tervaksin, kata dia, rata-rata adalah para lansia. “Bukan karena tidak mau divaksin, tapi para lansia tidak bisa divaksin. Seperti disebabkan diabetes atau hipertensi,” terangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kendati demikian, bukan berarti warga Semboro tidak ada yang menolak. Dari sasaran yang belum tervaksin, enam di antaranya tetap menolak ajakan vaksin. Berkali-kali Ani beserta rekannya ke rumah warga tersebut, berkali-kali pula mereka bersikukuh enggan mengikuti vaksin. “Masih beranggapan kalau divaksin akan meninggal,” ungkapnya.

Hal semacam itu sudah dilaporkan ke pihak kades, puskesmas, dan aparat agar bisa membantu. “Kalau seperti itu nanti minta bantuan kades, puskesmas, babinsa, dan bhabinkamtibmas,” terangnya.

Door to door mengajak warga vaksin, menurut dia, menjadi salah satu cara yang diterapkan di desa setempat. Bila kedatangan pertama itu ditolak, maka mereka akan kembali pada hari berikutnya. Begitu seterusnya. “Kadang kesannya diremehkan oleh warga. Bilangnya yang sering adalah, sopo loh kowe kok ngongkon aku vaksin? Kalau aku meninggal, apa mau tanggung jawab?” ucapnya menirukan respons warga.

Lambat laun, makin banyak warga yang sadar tentang pentingnya vaksin. Bukti kondisi kader posyandu yang baik-baik saja setelah vaksin menjadi modal bagi mereka menumbuhkan kesadaran masyarakat. Apalagi setelah lonjakan Covid-19 yang menyebabkan banyak pasien meninggal, sekitar Agustus lalu. Peristiwa ini juga menjadi salah satu alasan yang mendorong meningkatnya kesadaran warga mengikuti vaksinasi.

Antara pemuda dan lansia, siapa yang paling susah untuk diajak vaksin? Menurut pengalaman Ani adalah mereka yang lansia. “Kalau yang muda awalnya antivaksin, tapi akhirnya mau. Karena saat ini segala mobilitas untuk keluar kota butuh surat vaksin. Yang sulit diajak itu usia 50-60 tahun ke atas,” ujarnya. Para lansia juga beralasan, mereka tidak membutuhkan surat keterangan vaksin karena tidak akan melakukan perjalanan ke luar kota.

Cara yang paling ampuh, kata dia, adalah dengan tidak menyerah mendekati mereka. Dengan mendatangi rumah dan memberi pemahaman secara bertahap. Strategi semacam ini yang ternyata disebutnya cukup manjur. “Kami juga menjelaskan, vaksin itu tidak hanya untuk keselamatan diri sendiri, tapi juga keluarga, cucu, anak, istri, dan lainnya,” tuturnya.

- Advertisement -

ANDAYANI Susi Tri Ani bersemangat ketika menceritakan capaian vaksinasi di desanya. Dari total 15 ribu jiwa yang menjadi sasaran di Desa/Kecamatan Semboro, tinggal 700-an orang yang belum mendapatkan. Bahkan, Kader Posyandu Jeruk 13 dari Dusun Sumber Kidul RT 2 RW 3 tersebut bisa menjelaskan siapa saja yang belum tervaksin hingga 10 Desember kemarin. Datanya cukup detail.

Ani bersama kader posyandu lainnya bahu-membahu membantu mengejar capaian vaksinasi Covid-19 di desanya. “Harus secara bersama-sama, karena Covid-19 adalah masalah bersama,” ucap Ani kepada Jawa Pos Radar Jember.

Dari yang belum tervaksin, kata dia, rata-rata adalah para lansia. “Bukan karena tidak mau divaksin, tapi para lansia tidak bisa divaksin. Seperti disebabkan diabetes atau hipertensi,” terangnya.

Kendati demikian, bukan berarti warga Semboro tidak ada yang menolak. Dari sasaran yang belum tervaksin, enam di antaranya tetap menolak ajakan vaksin. Berkali-kali Ani beserta rekannya ke rumah warga tersebut, berkali-kali pula mereka bersikukuh enggan mengikuti vaksin. “Masih beranggapan kalau divaksin akan meninggal,” ungkapnya.

Hal semacam itu sudah dilaporkan ke pihak kades, puskesmas, dan aparat agar bisa membantu. “Kalau seperti itu nanti minta bantuan kades, puskesmas, babinsa, dan bhabinkamtibmas,” terangnya.

Door to door mengajak warga vaksin, menurut dia, menjadi salah satu cara yang diterapkan di desa setempat. Bila kedatangan pertama itu ditolak, maka mereka akan kembali pada hari berikutnya. Begitu seterusnya. “Kadang kesannya diremehkan oleh warga. Bilangnya yang sering adalah, sopo loh kowe kok ngongkon aku vaksin? Kalau aku meninggal, apa mau tanggung jawab?” ucapnya menirukan respons warga.

Lambat laun, makin banyak warga yang sadar tentang pentingnya vaksin. Bukti kondisi kader posyandu yang baik-baik saja setelah vaksin menjadi modal bagi mereka menumbuhkan kesadaran masyarakat. Apalagi setelah lonjakan Covid-19 yang menyebabkan banyak pasien meninggal, sekitar Agustus lalu. Peristiwa ini juga menjadi salah satu alasan yang mendorong meningkatnya kesadaran warga mengikuti vaksinasi.

Antara pemuda dan lansia, siapa yang paling susah untuk diajak vaksin? Menurut pengalaman Ani adalah mereka yang lansia. “Kalau yang muda awalnya antivaksin, tapi akhirnya mau. Karena saat ini segala mobilitas untuk keluar kota butuh surat vaksin. Yang sulit diajak itu usia 50-60 tahun ke atas,” ujarnya. Para lansia juga beralasan, mereka tidak membutuhkan surat keterangan vaksin karena tidak akan melakukan perjalanan ke luar kota.

Cara yang paling ampuh, kata dia, adalah dengan tidak menyerah mendekati mereka. Dengan mendatangi rumah dan memberi pemahaman secara bertahap. Strategi semacam ini yang ternyata disebutnya cukup manjur. “Kami juga menjelaskan, vaksin itu tidak hanya untuk keselamatan diri sendiri, tapi juga keluarga, cucu, anak, istri, dan lainnya,” tuturnya.

ANDAYANI Susi Tri Ani bersemangat ketika menceritakan capaian vaksinasi di desanya. Dari total 15 ribu jiwa yang menjadi sasaran di Desa/Kecamatan Semboro, tinggal 700-an orang yang belum mendapatkan. Bahkan, Kader Posyandu Jeruk 13 dari Dusun Sumber Kidul RT 2 RW 3 tersebut bisa menjelaskan siapa saja yang belum tervaksin hingga 10 Desember kemarin. Datanya cukup detail.

Ani bersama kader posyandu lainnya bahu-membahu membantu mengejar capaian vaksinasi Covid-19 di desanya. “Harus secara bersama-sama, karena Covid-19 adalah masalah bersama,” ucap Ani kepada Jawa Pos Radar Jember.

Dari yang belum tervaksin, kata dia, rata-rata adalah para lansia. “Bukan karena tidak mau divaksin, tapi para lansia tidak bisa divaksin. Seperti disebabkan diabetes atau hipertensi,” terangnya.

Kendati demikian, bukan berarti warga Semboro tidak ada yang menolak. Dari sasaran yang belum tervaksin, enam di antaranya tetap menolak ajakan vaksin. Berkali-kali Ani beserta rekannya ke rumah warga tersebut, berkali-kali pula mereka bersikukuh enggan mengikuti vaksin. “Masih beranggapan kalau divaksin akan meninggal,” ungkapnya.

Hal semacam itu sudah dilaporkan ke pihak kades, puskesmas, dan aparat agar bisa membantu. “Kalau seperti itu nanti minta bantuan kades, puskesmas, babinsa, dan bhabinkamtibmas,” terangnya.

Door to door mengajak warga vaksin, menurut dia, menjadi salah satu cara yang diterapkan di desa setempat. Bila kedatangan pertama itu ditolak, maka mereka akan kembali pada hari berikutnya. Begitu seterusnya. “Kadang kesannya diremehkan oleh warga. Bilangnya yang sering adalah, sopo loh kowe kok ngongkon aku vaksin? Kalau aku meninggal, apa mau tanggung jawab?” ucapnya menirukan respons warga.

Lambat laun, makin banyak warga yang sadar tentang pentingnya vaksin. Bukti kondisi kader posyandu yang baik-baik saja setelah vaksin menjadi modal bagi mereka menumbuhkan kesadaran masyarakat. Apalagi setelah lonjakan Covid-19 yang menyebabkan banyak pasien meninggal, sekitar Agustus lalu. Peristiwa ini juga menjadi salah satu alasan yang mendorong meningkatnya kesadaran warga mengikuti vaksinasi.

Antara pemuda dan lansia, siapa yang paling susah untuk diajak vaksin? Menurut pengalaman Ani adalah mereka yang lansia. “Kalau yang muda awalnya antivaksin, tapi akhirnya mau. Karena saat ini segala mobilitas untuk keluar kota butuh surat vaksin. Yang sulit diajak itu usia 50-60 tahun ke atas,” ujarnya. Para lansia juga beralasan, mereka tidak membutuhkan surat keterangan vaksin karena tidak akan melakukan perjalanan ke luar kota.

Cara yang paling ampuh, kata dia, adalah dengan tidak menyerah mendekati mereka. Dengan mendatangi rumah dan memberi pemahaman secara bertahap. Strategi semacam ini yang ternyata disebutnya cukup manjur. “Kami juga menjelaskan, vaksin itu tidak hanya untuk keselamatan diri sendiri, tapi juga keluarga, cucu, anak, istri, dan lainnya,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/