alexametrics
30.6 C
Jember
Sunday, 23 January 2022

Tren Pernikahan Dini Meningkat, Kelurahan Ini Paling Banyak

Pernikahan Dini di Kecamatan Kota Cukup Tinggi “Ada dua kelurahan yang menjadi penyumbang terbesar atau kantong perkawinan di bawah usia 19 tahun. Yakni Kelurahan Wirolegi dan Antirogo.” Isnan HM Kepala KUA Sumbersari

Mobile_AP_Rectangle 1

SELAIN faktor budaya, ekonomi, dan pendidikan, kasus hamil pranikah juga menjadi faktor lain terjadinya perkawinan di bawah umur. Kasus ini ditemukan di Kelurahan Karangrejo. Dari dua anak perempuan yang mendapatkan dispensasi nikah, keduanya telah berbadan dua. Masing-masing berusia 16 dan 17 tahun.

Lurah Karangrejo Mohamad Syafi’i mengatakan, kasus pernikahan dini yang terjadi di wilayahnya disebabkan oleh hamil sebelum nikah. Pihaknya memastikan tidak akan memberikan izin apabila terdapat pengajuan pernikahan yang masih di bawah usia 19 tahun. Faktor lain yang juga menjadi penyebab adalah budaya tunangan dan nikah siri.

Syafii mengklaim bahwa di wilayahnya telah melibatkan remaja untuk menyosialisasikan pencegahan pernikahan dini. Hal ini ditandai dengan adanya Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan karang taruna. Namun, keterlibatan remaja dalam penyuluhan sebaya mengenai pernikahan dini vakum sejak pandemi. Oleh karena itu, posyandu menjadi garda terdepan di wilayah Karangrejo untuk penyuluhan mengenai pencegahan pernikahan dini dan kesehatan ibu hamil serta bayi baru lahir.

Mobile_AP_Rectangle 2

Iswati, Ketua RT 02 RW 15 Lingkungan Pelindu, Kelurahan Karangrejo, yang juga seorang kader posyandu, mengatakan, pola penyuluhan posyandu di masa pandemi memang tidak sama dengan sebelumnya. Saat ini, pihaknya berkunjung langsung ke rumah-rumah warga. Selain untuk mencegah adanya gizi buruk dan memantau kondisi ibu hamil, kesempatan itu juga digunakan untuk sosialisasi tentang pendewasaan usia nikah. “Selama ini, tidak ada penolakan dari warga saat melakukan kunjungan rumah,” ucapnya.

 

Aktifkan Kegiatan Remaja

SEBAGAI salah satu penyumbang terbesar angka perkawinan dini, Kelurahan Wirolegi tak bisa tinggal diam. Pemerintah kelurahan perlu melibatkan generasi muda, terutama remaja, sebagai garda terdepan penanganan pernikahan di bawah umur. Apalagi di kelurahan ini juga ada bocah yang baru berusia 14 dan 15 tahun yang sudah dinikahkan. Pengaktifan kegiatan keremajaan ini diharapkan dapat mengurangi dan menekan jumlah anak yang kawin sebelum waktunya.

Sekretaris Kelurahan Wirolegi Nur Aini menjelaskan, kasus pernikahan dini di wilayahnya kebanyakan berada di Lingkungan Sumberejo dan Kaliwining. Faktornya adalah tingkat pendidikan, budaya menjodohkan anak oleh orang tua, serta ekonomi. Sebab, mata pencaharian warga di dua lingkungan itu kebanyakan bertani dan sebagai buruh gudang. Wilayah geografis yang cenderung masuk ke perdesaan juga menjadi faktor lain.

Sejatinya, dia menambahkan, kegiatan kepemudaan dan keremajaan di wilayahnya cukup aktif. Ada organisasi karang taruna yang tak hanya berkecimpung di kegiatan sosial, tapi juga olahraga. Namun, dia mengakui masih ada lingkungan yang belum tersentuh kegiatan. Dan lingkungan inilah yang menjadi penyumbang tingginya angka pernikahan dini di kelurahan setempat. “Selain itu, kami juga melibatkan ibu-ibu PKK dan kader posyandu. Bahkan di beberapa forum pengajian, sosialisasi tentang pendewasaan usia nikah juga sudah disampaikan,” terangnya.

Reporter: Delfi Nihaya

Fotografer: Jurnalis Warga Gpp For Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

 

- Advertisement -

SELAIN faktor budaya, ekonomi, dan pendidikan, kasus hamil pranikah juga menjadi faktor lain terjadinya perkawinan di bawah umur. Kasus ini ditemukan di Kelurahan Karangrejo. Dari dua anak perempuan yang mendapatkan dispensasi nikah, keduanya telah berbadan dua. Masing-masing berusia 16 dan 17 tahun.

Lurah Karangrejo Mohamad Syafi’i mengatakan, kasus pernikahan dini yang terjadi di wilayahnya disebabkan oleh hamil sebelum nikah. Pihaknya memastikan tidak akan memberikan izin apabila terdapat pengajuan pernikahan yang masih di bawah usia 19 tahun. Faktor lain yang juga menjadi penyebab adalah budaya tunangan dan nikah siri.

Syafii mengklaim bahwa di wilayahnya telah melibatkan remaja untuk menyosialisasikan pencegahan pernikahan dini. Hal ini ditandai dengan adanya Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan karang taruna. Namun, keterlibatan remaja dalam penyuluhan sebaya mengenai pernikahan dini vakum sejak pandemi. Oleh karena itu, posyandu menjadi garda terdepan di wilayah Karangrejo untuk penyuluhan mengenai pencegahan pernikahan dini dan kesehatan ibu hamil serta bayi baru lahir.

Iswati, Ketua RT 02 RW 15 Lingkungan Pelindu, Kelurahan Karangrejo, yang juga seorang kader posyandu, mengatakan, pola penyuluhan posyandu di masa pandemi memang tidak sama dengan sebelumnya. Saat ini, pihaknya berkunjung langsung ke rumah-rumah warga. Selain untuk mencegah adanya gizi buruk dan memantau kondisi ibu hamil, kesempatan itu juga digunakan untuk sosialisasi tentang pendewasaan usia nikah. “Selama ini, tidak ada penolakan dari warga saat melakukan kunjungan rumah,” ucapnya.

 

Aktifkan Kegiatan Remaja

SEBAGAI salah satu penyumbang terbesar angka perkawinan dini, Kelurahan Wirolegi tak bisa tinggal diam. Pemerintah kelurahan perlu melibatkan generasi muda, terutama remaja, sebagai garda terdepan penanganan pernikahan di bawah umur. Apalagi di kelurahan ini juga ada bocah yang baru berusia 14 dan 15 tahun yang sudah dinikahkan. Pengaktifan kegiatan keremajaan ini diharapkan dapat mengurangi dan menekan jumlah anak yang kawin sebelum waktunya.

Sekretaris Kelurahan Wirolegi Nur Aini menjelaskan, kasus pernikahan dini di wilayahnya kebanyakan berada di Lingkungan Sumberejo dan Kaliwining. Faktornya adalah tingkat pendidikan, budaya menjodohkan anak oleh orang tua, serta ekonomi. Sebab, mata pencaharian warga di dua lingkungan itu kebanyakan bertani dan sebagai buruh gudang. Wilayah geografis yang cenderung masuk ke perdesaan juga menjadi faktor lain.

Sejatinya, dia menambahkan, kegiatan kepemudaan dan keremajaan di wilayahnya cukup aktif. Ada organisasi karang taruna yang tak hanya berkecimpung di kegiatan sosial, tapi juga olahraga. Namun, dia mengakui masih ada lingkungan yang belum tersentuh kegiatan. Dan lingkungan inilah yang menjadi penyumbang tingginya angka pernikahan dini di kelurahan setempat. “Selain itu, kami juga melibatkan ibu-ibu PKK dan kader posyandu. Bahkan di beberapa forum pengajian, sosialisasi tentang pendewasaan usia nikah juga sudah disampaikan,” terangnya.

Reporter: Delfi Nihaya

Fotografer: Jurnalis Warga Gpp For Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

 

SELAIN faktor budaya, ekonomi, dan pendidikan, kasus hamil pranikah juga menjadi faktor lain terjadinya perkawinan di bawah umur. Kasus ini ditemukan di Kelurahan Karangrejo. Dari dua anak perempuan yang mendapatkan dispensasi nikah, keduanya telah berbadan dua. Masing-masing berusia 16 dan 17 tahun.

Lurah Karangrejo Mohamad Syafi’i mengatakan, kasus pernikahan dini yang terjadi di wilayahnya disebabkan oleh hamil sebelum nikah. Pihaknya memastikan tidak akan memberikan izin apabila terdapat pengajuan pernikahan yang masih di bawah usia 19 tahun. Faktor lain yang juga menjadi penyebab adalah budaya tunangan dan nikah siri.

Syafii mengklaim bahwa di wilayahnya telah melibatkan remaja untuk menyosialisasikan pencegahan pernikahan dini. Hal ini ditandai dengan adanya Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan karang taruna. Namun, keterlibatan remaja dalam penyuluhan sebaya mengenai pernikahan dini vakum sejak pandemi. Oleh karena itu, posyandu menjadi garda terdepan di wilayah Karangrejo untuk penyuluhan mengenai pencegahan pernikahan dini dan kesehatan ibu hamil serta bayi baru lahir.

Iswati, Ketua RT 02 RW 15 Lingkungan Pelindu, Kelurahan Karangrejo, yang juga seorang kader posyandu, mengatakan, pola penyuluhan posyandu di masa pandemi memang tidak sama dengan sebelumnya. Saat ini, pihaknya berkunjung langsung ke rumah-rumah warga. Selain untuk mencegah adanya gizi buruk dan memantau kondisi ibu hamil, kesempatan itu juga digunakan untuk sosialisasi tentang pendewasaan usia nikah. “Selama ini, tidak ada penolakan dari warga saat melakukan kunjungan rumah,” ucapnya.

 

Aktifkan Kegiatan Remaja

SEBAGAI salah satu penyumbang terbesar angka perkawinan dini, Kelurahan Wirolegi tak bisa tinggal diam. Pemerintah kelurahan perlu melibatkan generasi muda, terutama remaja, sebagai garda terdepan penanganan pernikahan di bawah umur. Apalagi di kelurahan ini juga ada bocah yang baru berusia 14 dan 15 tahun yang sudah dinikahkan. Pengaktifan kegiatan keremajaan ini diharapkan dapat mengurangi dan menekan jumlah anak yang kawin sebelum waktunya.

Sekretaris Kelurahan Wirolegi Nur Aini menjelaskan, kasus pernikahan dini di wilayahnya kebanyakan berada di Lingkungan Sumberejo dan Kaliwining. Faktornya adalah tingkat pendidikan, budaya menjodohkan anak oleh orang tua, serta ekonomi. Sebab, mata pencaharian warga di dua lingkungan itu kebanyakan bertani dan sebagai buruh gudang. Wilayah geografis yang cenderung masuk ke perdesaan juga menjadi faktor lain.

Sejatinya, dia menambahkan, kegiatan kepemudaan dan keremajaan di wilayahnya cukup aktif. Ada organisasi karang taruna yang tak hanya berkecimpung di kegiatan sosial, tapi juga olahraga. Namun, dia mengakui masih ada lingkungan yang belum tersentuh kegiatan. Dan lingkungan inilah yang menjadi penyumbang tingginya angka pernikahan dini di kelurahan setempat. “Selain itu, kami juga melibatkan ibu-ibu PKK dan kader posyandu. Bahkan di beberapa forum pengajian, sosialisasi tentang pendewasaan usia nikah juga sudah disampaikan,” terangnya.

Reporter: Delfi Nihaya

Fotografer: Jurnalis Warga Gpp For Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca