alexametrics
26.8 C
Jember
Thursday, 2 December 2021

Tren Pernikahan Dini Meningkat, Kelurahan Ini Paling Banyak

Pernikahan Dini di Kecamatan Kota Cukup Tinggi “Ada dua kelurahan yang menjadi penyumbang terbesar atau kantong perkawinan di bawah usia 19 tahun. Yakni Kelurahan Wirolegi dan Antirogo.” Isnan HM Kepala KUA Sumbersari

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Angka pernikahan dini di Jember cukup tinggi. Dalam rentang Januari hingga awal Oktober 2021, tercatat ada 962 putusan dispensasi kawin bagi anak di bawah usia 19 tahun yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama (PA) Jember. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tren perkawinan di bawah umur ini mengalami peningkatan. Pada 2020 sebanyak 1.442 perkara, tahun 2019 tercatat 332 perkara, dan pada 2018 ada 132 perkara yang diputus.

Jika ditelisik lebih jauh, tingginya angka perkawinan dini tersebut ternyata tak hanya disumbang dari kawasan perdesaan. Tapi, juga kecamatan yang masuk wilayah kota. Enam jurnalis warga Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember bersama Madani melaporkan untuk Jawa Pos Radar Jember. Mereka mengumpulkan data sekaligus menelusuri jumlah kasus dan faktor dominan yang memengaruhi hal itu. Mereka memilih Kecamatan Sumbersari, satu dari tiga kecamatan kota yang ada di Jember.

Data Kantor Urusan Agama (KUA) Sumbersari mengonfirmasi tingginya jumlah anak yang menikah sejak Januari hingga awal Oktober ini. Selama sembilan bulan terakhir, tercatat ada 34 anak di bawah 19 tahun yang mengajukan dispensasi kawin. Dari angka itu, mayoritas berusia 17 tahun dengan jumlah 16 anak, disusul berusia 18 tahun 11 anak, usia 16 tahun 5 anak, dan ada juga yang masih berusia 15 dan 14 tahun yang masing-masing berjumlah satu anak. Semua dispensasi kawin tersebut diajukan oleh keluarga anak perempuan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepala KUA Sumbersari Isnan HM menjelaskan, lingkungan sosial dan kondisi geografis sering kali berhubungan erat dengan perkawinan anak. Pengaruh lingkungan menjadi pendorong bagi remaja menikah di usia muda. Selain itu, perilaku pacaran yang terlalu berisiko. Ditambah selama masa pandemi Covid-19, tiadanya aktivitas belajar di sekolah juga menjadi peluang bagi remaja bebas bergaul. Ujung-ujungnya, mereka dinikahkan sebelum waktunya. “Ada dua kelurahan yang menjadi penyumbang terbesar atau kantong perkawinan di bawah usia 19 tahun. Yakni Kelurahan Wirolegi dan Antirogo,” jelas Isnan.

Data yang dikeluarkan KUA Sumbersari menunjukkan, di Kelurahan Wirolegi ada 13 anak yang mendapat dispensasi kawin. Jumlah ini paling besar dibanding kelurahan yang lain. Selanjutnya, disusul Kelurahan Antirogo yang tercatat 8 anak. Sisanya, tersebar di beberapa kelurahan lain. Seperti Kelurahan Sumbersari, Kebonsari, Tegalgede, Kranjingan, dan Karangrejo.

Sebenarnya, Isnan mengungkapkan, KUA telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi angka pernikahan dini. Misalnya dengan menyarankan agar orang tua menunda perkawinan hingga anak berusia cukup, hingga membuat program Pusaka Sakinah atau Pusat Layanan Keluarga Sakinah. “Pusaka Sakinah adalah program nasional yang dimulai pada 2019. Ada 100 KUA sebagai piloting untuk keluarga sakinah. Salah satunya di Jember, yakni Kecamatan Sumbersari,” katanya.

Program ini bertujuan untuk pembinaan pascanikah yang diikuti oleh para perempuan yang menikah di usia muda. Diharapkan, bagi anak yang telanjur menikah di usia muda, mereka memiliki kesiapan mental dalam mengarungi bahtera rumah tangga. “Harapannya, kedua mempelai menjadi langgeng tanpa ada perceraian ataupun kekerasan dalam rumah tangga,” tuturnya.

Tingginya jumlah anak di kecamatan kota ini menjadi keprihatinan tersendiri. Terlebih, menikah di usia yang belum cukup umur juga memiliki dampak yang lain. Seperti angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), stunting, perceraian, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bisa disebut, pernikahan dini menjadi hulu dari hilir berbagai kasus tersebut. Sebab, berhubungan dengan kesiapan ibu saat masa kehamilan, melahirkan, hingga pengasuhan anak. Organ reproduksi dan kedewasaan mental mereka belum siap.

Data Dinas Kesehatan Jember mencatat, sepanjang 2021 ini ada 103 kasus AKI dan 295 kasus AKB. Dan Kecamatan Sumbersari menjadi wilayah penyumbang dengan jumlah 4 kasus AKI dan 14 kasus AKB. Dari berbagai catatan ini, yang paling dirugikan oleh dampak pernikahan dini adalah perempuan.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Camat Sumbersari Iswandi mengungkapkan, daerah miskin berpotensi sebagai penyumbang tingginya angka stunting, AKI, AKB, dan pernikahan dini di wilayahnya. Dia menyatakan, untuk mengatasi hal itu pihaknya menggerakkan segenap pemangku kepentingan, seperti KUA, babinsa, bhabinkamtibmas, RT, puskesmas, kader posyandu, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama. Hanya, pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri, karena sosialisasi dan edukasi yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka, sekarang sudah tidak bisa dilakukan lagi.

Saat ditanya tentang akar masalah itu, Iswandi memaparkan, kuncinya ada pada dua hal. Ekonomi dan pendidikan. Sebab, dua faktor ini saling terkait dan berkelindan. Ada kecenderungan warga yang miskin tingkat pendidikannya rendah, dan sebaliknya. “Untuk menanganinya memang harus komprehensif. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Namun, akar dari itu semua yang perlu diperhatikan adalah perekonomian keluarga dan pendidikan,” paparnya.

 

Hamil Sebelum Nikah

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Angka pernikahan dini di Jember cukup tinggi. Dalam rentang Januari hingga awal Oktober 2021, tercatat ada 962 putusan dispensasi kawin bagi anak di bawah usia 19 tahun yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama (PA) Jember. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tren perkawinan di bawah umur ini mengalami peningkatan. Pada 2020 sebanyak 1.442 perkara, tahun 2019 tercatat 332 perkara, dan pada 2018 ada 132 perkara yang diputus.

Jika ditelisik lebih jauh, tingginya angka perkawinan dini tersebut ternyata tak hanya disumbang dari kawasan perdesaan. Tapi, juga kecamatan yang masuk wilayah kota. Enam jurnalis warga Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember bersama Madani melaporkan untuk Jawa Pos Radar Jember. Mereka mengumpulkan data sekaligus menelusuri jumlah kasus dan faktor dominan yang memengaruhi hal itu. Mereka memilih Kecamatan Sumbersari, satu dari tiga kecamatan kota yang ada di Jember.

Data Kantor Urusan Agama (KUA) Sumbersari mengonfirmasi tingginya jumlah anak yang menikah sejak Januari hingga awal Oktober ini. Selama sembilan bulan terakhir, tercatat ada 34 anak di bawah 19 tahun yang mengajukan dispensasi kawin. Dari angka itu, mayoritas berusia 17 tahun dengan jumlah 16 anak, disusul berusia 18 tahun 11 anak, usia 16 tahun 5 anak, dan ada juga yang masih berusia 15 dan 14 tahun yang masing-masing berjumlah satu anak. Semua dispensasi kawin tersebut diajukan oleh keluarga anak perempuan.

Kepala KUA Sumbersari Isnan HM menjelaskan, lingkungan sosial dan kondisi geografis sering kali berhubungan erat dengan perkawinan anak. Pengaruh lingkungan menjadi pendorong bagi remaja menikah di usia muda. Selain itu, perilaku pacaran yang terlalu berisiko. Ditambah selama masa pandemi Covid-19, tiadanya aktivitas belajar di sekolah juga menjadi peluang bagi remaja bebas bergaul. Ujung-ujungnya, mereka dinikahkan sebelum waktunya. “Ada dua kelurahan yang menjadi penyumbang terbesar atau kantong perkawinan di bawah usia 19 tahun. Yakni Kelurahan Wirolegi dan Antirogo,” jelas Isnan.

Data yang dikeluarkan KUA Sumbersari menunjukkan, di Kelurahan Wirolegi ada 13 anak yang mendapat dispensasi kawin. Jumlah ini paling besar dibanding kelurahan yang lain. Selanjutnya, disusul Kelurahan Antirogo yang tercatat 8 anak. Sisanya, tersebar di beberapa kelurahan lain. Seperti Kelurahan Sumbersari, Kebonsari, Tegalgede, Kranjingan, dan Karangrejo.

Sebenarnya, Isnan mengungkapkan, KUA telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi angka pernikahan dini. Misalnya dengan menyarankan agar orang tua menunda perkawinan hingga anak berusia cukup, hingga membuat program Pusaka Sakinah atau Pusat Layanan Keluarga Sakinah. “Pusaka Sakinah adalah program nasional yang dimulai pada 2019. Ada 100 KUA sebagai piloting untuk keluarga sakinah. Salah satunya di Jember, yakni Kecamatan Sumbersari,” katanya.

Program ini bertujuan untuk pembinaan pascanikah yang diikuti oleh para perempuan yang menikah di usia muda. Diharapkan, bagi anak yang telanjur menikah di usia muda, mereka memiliki kesiapan mental dalam mengarungi bahtera rumah tangga. “Harapannya, kedua mempelai menjadi langgeng tanpa ada perceraian ataupun kekerasan dalam rumah tangga,” tuturnya.

Tingginya jumlah anak di kecamatan kota ini menjadi keprihatinan tersendiri. Terlebih, menikah di usia yang belum cukup umur juga memiliki dampak yang lain. Seperti angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), stunting, perceraian, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bisa disebut, pernikahan dini menjadi hulu dari hilir berbagai kasus tersebut. Sebab, berhubungan dengan kesiapan ibu saat masa kehamilan, melahirkan, hingga pengasuhan anak. Organ reproduksi dan kedewasaan mental mereka belum siap.

Data Dinas Kesehatan Jember mencatat, sepanjang 2021 ini ada 103 kasus AKI dan 295 kasus AKB. Dan Kecamatan Sumbersari menjadi wilayah penyumbang dengan jumlah 4 kasus AKI dan 14 kasus AKB. Dari berbagai catatan ini, yang paling dirugikan oleh dampak pernikahan dini adalah perempuan.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Camat Sumbersari Iswandi mengungkapkan, daerah miskin berpotensi sebagai penyumbang tingginya angka stunting, AKI, AKB, dan pernikahan dini di wilayahnya. Dia menyatakan, untuk mengatasi hal itu pihaknya menggerakkan segenap pemangku kepentingan, seperti KUA, babinsa, bhabinkamtibmas, RT, puskesmas, kader posyandu, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama. Hanya, pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri, karena sosialisasi dan edukasi yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka, sekarang sudah tidak bisa dilakukan lagi.

Saat ditanya tentang akar masalah itu, Iswandi memaparkan, kuncinya ada pada dua hal. Ekonomi dan pendidikan. Sebab, dua faktor ini saling terkait dan berkelindan. Ada kecenderungan warga yang miskin tingkat pendidikannya rendah, dan sebaliknya. “Untuk menanganinya memang harus komprehensif. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Namun, akar dari itu semua yang perlu diperhatikan adalah perekonomian keluarga dan pendidikan,” paparnya.

 

Hamil Sebelum Nikah

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Angka pernikahan dini di Jember cukup tinggi. Dalam rentang Januari hingga awal Oktober 2021, tercatat ada 962 putusan dispensasi kawin bagi anak di bawah usia 19 tahun yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama (PA) Jember. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tren perkawinan di bawah umur ini mengalami peningkatan. Pada 2020 sebanyak 1.442 perkara, tahun 2019 tercatat 332 perkara, dan pada 2018 ada 132 perkara yang diputus.

Jika ditelisik lebih jauh, tingginya angka perkawinan dini tersebut ternyata tak hanya disumbang dari kawasan perdesaan. Tapi, juga kecamatan yang masuk wilayah kota. Enam jurnalis warga Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember bersama Madani melaporkan untuk Jawa Pos Radar Jember. Mereka mengumpulkan data sekaligus menelusuri jumlah kasus dan faktor dominan yang memengaruhi hal itu. Mereka memilih Kecamatan Sumbersari, satu dari tiga kecamatan kota yang ada di Jember.

Data Kantor Urusan Agama (KUA) Sumbersari mengonfirmasi tingginya jumlah anak yang menikah sejak Januari hingga awal Oktober ini. Selama sembilan bulan terakhir, tercatat ada 34 anak di bawah 19 tahun yang mengajukan dispensasi kawin. Dari angka itu, mayoritas berusia 17 tahun dengan jumlah 16 anak, disusul berusia 18 tahun 11 anak, usia 16 tahun 5 anak, dan ada juga yang masih berusia 15 dan 14 tahun yang masing-masing berjumlah satu anak. Semua dispensasi kawin tersebut diajukan oleh keluarga anak perempuan.

Kepala KUA Sumbersari Isnan HM menjelaskan, lingkungan sosial dan kondisi geografis sering kali berhubungan erat dengan perkawinan anak. Pengaruh lingkungan menjadi pendorong bagi remaja menikah di usia muda. Selain itu, perilaku pacaran yang terlalu berisiko. Ditambah selama masa pandemi Covid-19, tiadanya aktivitas belajar di sekolah juga menjadi peluang bagi remaja bebas bergaul. Ujung-ujungnya, mereka dinikahkan sebelum waktunya. “Ada dua kelurahan yang menjadi penyumbang terbesar atau kantong perkawinan di bawah usia 19 tahun. Yakni Kelurahan Wirolegi dan Antirogo,” jelas Isnan.

Data yang dikeluarkan KUA Sumbersari menunjukkan, di Kelurahan Wirolegi ada 13 anak yang mendapat dispensasi kawin. Jumlah ini paling besar dibanding kelurahan yang lain. Selanjutnya, disusul Kelurahan Antirogo yang tercatat 8 anak. Sisanya, tersebar di beberapa kelurahan lain. Seperti Kelurahan Sumbersari, Kebonsari, Tegalgede, Kranjingan, dan Karangrejo.

Sebenarnya, Isnan mengungkapkan, KUA telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi angka pernikahan dini. Misalnya dengan menyarankan agar orang tua menunda perkawinan hingga anak berusia cukup, hingga membuat program Pusaka Sakinah atau Pusat Layanan Keluarga Sakinah. “Pusaka Sakinah adalah program nasional yang dimulai pada 2019. Ada 100 KUA sebagai piloting untuk keluarga sakinah. Salah satunya di Jember, yakni Kecamatan Sumbersari,” katanya.

Program ini bertujuan untuk pembinaan pascanikah yang diikuti oleh para perempuan yang menikah di usia muda. Diharapkan, bagi anak yang telanjur menikah di usia muda, mereka memiliki kesiapan mental dalam mengarungi bahtera rumah tangga. “Harapannya, kedua mempelai menjadi langgeng tanpa ada perceraian ataupun kekerasan dalam rumah tangga,” tuturnya.

Tingginya jumlah anak di kecamatan kota ini menjadi keprihatinan tersendiri. Terlebih, menikah di usia yang belum cukup umur juga memiliki dampak yang lain. Seperti angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), stunting, perceraian, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bisa disebut, pernikahan dini menjadi hulu dari hilir berbagai kasus tersebut. Sebab, berhubungan dengan kesiapan ibu saat masa kehamilan, melahirkan, hingga pengasuhan anak. Organ reproduksi dan kedewasaan mental mereka belum siap.

Data Dinas Kesehatan Jember mencatat, sepanjang 2021 ini ada 103 kasus AKI dan 295 kasus AKB. Dan Kecamatan Sumbersari menjadi wilayah penyumbang dengan jumlah 4 kasus AKI dan 14 kasus AKB. Dari berbagai catatan ini, yang paling dirugikan oleh dampak pernikahan dini adalah perempuan.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Camat Sumbersari Iswandi mengungkapkan, daerah miskin berpotensi sebagai penyumbang tingginya angka stunting, AKI, AKB, dan pernikahan dini di wilayahnya. Dia menyatakan, untuk mengatasi hal itu pihaknya menggerakkan segenap pemangku kepentingan, seperti KUA, babinsa, bhabinkamtibmas, RT, puskesmas, kader posyandu, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama. Hanya, pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri, karena sosialisasi dan edukasi yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka, sekarang sudah tidak bisa dilakukan lagi.

Saat ditanya tentang akar masalah itu, Iswandi memaparkan, kuncinya ada pada dua hal. Ekonomi dan pendidikan. Sebab, dua faktor ini saling terkait dan berkelindan. Ada kecenderungan warga yang miskin tingkat pendidikannya rendah, dan sebaliknya. “Untuk menanganinya memang harus komprehensif. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Namun, akar dari itu semua yang perlu diperhatikan adalah perekonomian keluarga dan pendidikan,” paparnya.

 

Hamil Sebelum Nikah

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca