alexametrics
24.1 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Pasien Meninggal, Virus Masih Membayangi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kejadian pengambilan paksa jenazah pasien positif korona hingga tak ingin dimakamkan dengan protokol kesehatan masih saja ada. Padahal, pasien Covid-19 yang telah tiada masih berpotensi menularkan virus tersebut. Sebab, berdasarkan bukti ilmiah, saat ini SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, dapat bertahan di permukaan benda selama beberapa hari. Sehingga sangat dimungkinkan virus juga bertahan pada jenazah.

Dalam seminar daring, Kamis (15/10) lalu, dokter spesialis forensik dan medikolegal RSD dr Soebandi Jember, dr M Afiful Jauhani mengatakan, pada saat pasien dinyatakan meninggal, sistem jantung dan sistem pernapasan memang terbukti telah berhenti secara permanen. Hal ini disebut sebagai kematian klinis atau kematian somatis.

Namun, kematian sel-sel dalam organ dan jaringan tubuh tidak terjadi secara serentak saat itu juga. Sehingga terdapat sel-sel yang masih hidup hingga beberapa jam setelah seseorang dinyatakan meninggal. Virus pun masih dapat bereplikasi atau memperbanyak diri pada sel-sel yang masih berfungsi tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Oleh karena itu, tambah dr Afiful, dalam kasus pasien Covid-19 yang telah meninggal dunia secara klinis, virus yang ada di dalam tubuhnya belum mati seutuhnya. Lantaran masih terdapat sel di dalam tubuh yang masih hidup. “Virus itu butuh inang untuk melakukan replikasi. Sehingga sel-sel yang masih hidup inilah yang dapat menjadi inang virus Covid-19 untuk bereplikasi” jelasnya.

Hal ini menyebabkan potensi penularan Covid-19 dari pasien yang telah meninggal itu tetap ada. Maka dari itu, petugas pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 wajib melaksanakan protokol kesehatan dengan APD lengkap. Sebab, yang perlu diwaspadai oleh petugas pemulasaraan jenazah adalah cairan tubuh dan benda-benda yang kemungkinan terkontaminasi virus korona tersebut.

“Jadi, petugas yang bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19 yang telah meninggal harus dilindungi dari paparan cairan tubuh yang terinfeksi, benda terkontaminasi, atau permukaan lingkungan yang terkontaminasi,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kejadian pengambilan paksa jenazah pasien positif korona hingga tak ingin dimakamkan dengan protokol kesehatan masih saja ada. Padahal, pasien Covid-19 yang telah tiada masih berpotensi menularkan virus tersebut. Sebab, berdasarkan bukti ilmiah, saat ini SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, dapat bertahan di permukaan benda selama beberapa hari. Sehingga sangat dimungkinkan virus juga bertahan pada jenazah.

Dalam seminar daring, Kamis (15/10) lalu, dokter spesialis forensik dan medikolegal RSD dr Soebandi Jember, dr M Afiful Jauhani mengatakan, pada saat pasien dinyatakan meninggal, sistem jantung dan sistem pernapasan memang terbukti telah berhenti secara permanen. Hal ini disebut sebagai kematian klinis atau kematian somatis.

Namun, kematian sel-sel dalam organ dan jaringan tubuh tidak terjadi secara serentak saat itu juga. Sehingga terdapat sel-sel yang masih hidup hingga beberapa jam setelah seseorang dinyatakan meninggal. Virus pun masih dapat bereplikasi atau memperbanyak diri pada sel-sel yang masih berfungsi tersebut.

Oleh karena itu, tambah dr Afiful, dalam kasus pasien Covid-19 yang telah meninggal dunia secara klinis, virus yang ada di dalam tubuhnya belum mati seutuhnya. Lantaran masih terdapat sel di dalam tubuh yang masih hidup. “Virus itu butuh inang untuk melakukan replikasi. Sehingga sel-sel yang masih hidup inilah yang dapat menjadi inang virus Covid-19 untuk bereplikasi” jelasnya.

Hal ini menyebabkan potensi penularan Covid-19 dari pasien yang telah meninggal itu tetap ada. Maka dari itu, petugas pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 wajib melaksanakan protokol kesehatan dengan APD lengkap. Sebab, yang perlu diwaspadai oleh petugas pemulasaraan jenazah adalah cairan tubuh dan benda-benda yang kemungkinan terkontaminasi virus korona tersebut.

“Jadi, petugas yang bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19 yang telah meninggal harus dilindungi dari paparan cairan tubuh yang terinfeksi, benda terkontaminasi, atau permukaan lingkungan yang terkontaminasi,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kejadian pengambilan paksa jenazah pasien positif korona hingga tak ingin dimakamkan dengan protokol kesehatan masih saja ada. Padahal, pasien Covid-19 yang telah tiada masih berpotensi menularkan virus tersebut. Sebab, berdasarkan bukti ilmiah, saat ini SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, dapat bertahan di permukaan benda selama beberapa hari. Sehingga sangat dimungkinkan virus juga bertahan pada jenazah.

Dalam seminar daring, Kamis (15/10) lalu, dokter spesialis forensik dan medikolegal RSD dr Soebandi Jember, dr M Afiful Jauhani mengatakan, pada saat pasien dinyatakan meninggal, sistem jantung dan sistem pernapasan memang terbukti telah berhenti secara permanen. Hal ini disebut sebagai kematian klinis atau kematian somatis.

Namun, kematian sel-sel dalam organ dan jaringan tubuh tidak terjadi secara serentak saat itu juga. Sehingga terdapat sel-sel yang masih hidup hingga beberapa jam setelah seseorang dinyatakan meninggal. Virus pun masih dapat bereplikasi atau memperbanyak diri pada sel-sel yang masih berfungsi tersebut.

Oleh karena itu, tambah dr Afiful, dalam kasus pasien Covid-19 yang telah meninggal dunia secara klinis, virus yang ada di dalam tubuhnya belum mati seutuhnya. Lantaran masih terdapat sel di dalam tubuh yang masih hidup. “Virus itu butuh inang untuk melakukan replikasi. Sehingga sel-sel yang masih hidup inilah yang dapat menjadi inang virus Covid-19 untuk bereplikasi” jelasnya.

Hal ini menyebabkan potensi penularan Covid-19 dari pasien yang telah meninggal itu tetap ada. Maka dari itu, petugas pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 wajib melaksanakan protokol kesehatan dengan APD lengkap. Sebab, yang perlu diwaspadai oleh petugas pemulasaraan jenazah adalah cairan tubuh dan benda-benda yang kemungkinan terkontaminasi virus korona tersebut.

“Jadi, petugas yang bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19 yang telah meninggal harus dilindungi dari paparan cairan tubuh yang terinfeksi, benda terkontaminasi, atau permukaan lingkungan yang terkontaminasi,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/