23.3 C
Jember
Monday, 30 January 2023

KDRT Meningkat hingga Pertengahan Tahun ini

Data Tujuh Bulan Terakhir Tinggi ketimbang 2021

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Jember mengalami kenaikan di pertengahan tahun ini. Tercatat 12 kasus yang telah ditangani kepolisian selama tujuh bulan terakhir. Angka itu sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 yang hanya ada 10 kasus dalam tujuh bulan terakhir.

Berdasarkan bentuk tindak pidana itu, kebanyakan berupa kekerasan fisik seperti pemukulan dan kekerasan psikis seperti intimidasi dan pengancaman. Kanit PPA Satreskrim Polres Jember Iptu Dyah Vitasari menguraikan, kasus KDRT yang disebabkan oleh rendahnya pendidikan terlihat pada cara kedua belah pihak, suami istri, menyelesaikan masalah.

Dia menyebut, sering kali rendahnya pola berpikir dari kedua belah pihak memicu prasangka yang tidak baik. Seperti mudah tersinggung dan saling menyimpan rasa curiga. “Suami maupun istri mudah tersinggung, kemudian mereka saling menunjukkan ego masing-masing. Akhirnya tidak ada yang mau mengalah,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, faktor ekonomi juga kerap menjadi pemicu terjadinya KDRT. Berawal dari kebutuhan yang tidak terpenuhi karena sumber penghasilan yang rendah. Hal itu juga sering memunculkan suasana kurang harmonis di internal keluarga. Problem itulah yang mendorong terjadinya tindak pidana KDRT di antara keduanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Jember mengalami kenaikan di pertengahan tahun ini. Tercatat 12 kasus yang telah ditangani kepolisian selama tujuh bulan terakhir. Angka itu sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 yang hanya ada 10 kasus dalam tujuh bulan terakhir.

Berdasarkan bentuk tindak pidana itu, kebanyakan berupa kekerasan fisik seperti pemukulan dan kekerasan psikis seperti intimidasi dan pengancaman. Kanit PPA Satreskrim Polres Jember Iptu Dyah Vitasari menguraikan, kasus KDRT yang disebabkan oleh rendahnya pendidikan terlihat pada cara kedua belah pihak, suami istri, menyelesaikan masalah.

Dia menyebut, sering kali rendahnya pola berpikir dari kedua belah pihak memicu prasangka yang tidak baik. Seperti mudah tersinggung dan saling menyimpan rasa curiga. “Suami maupun istri mudah tersinggung, kemudian mereka saling menunjukkan ego masing-masing. Akhirnya tidak ada yang mau mengalah,” katanya.

Menurutnya, faktor ekonomi juga kerap menjadi pemicu terjadinya KDRT. Berawal dari kebutuhan yang tidak terpenuhi karena sumber penghasilan yang rendah. Hal itu juga sering memunculkan suasana kurang harmonis di internal keluarga. Problem itulah yang mendorong terjadinya tindak pidana KDRT di antara keduanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Jember mengalami kenaikan di pertengahan tahun ini. Tercatat 12 kasus yang telah ditangani kepolisian selama tujuh bulan terakhir. Angka itu sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 yang hanya ada 10 kasus dalam tujuh bulan terakhir.

Berdasarkan bentuk tindak pidana itu, kebanyakan berupa kekerasan fisik seperti pemukulan dan kekerasan psikis seperti intimidasi dan pengancaman. Kanit PPA Satreskrim Polres Jember Iptu Dyah Vitasari menguraikan, kasus KDRT yang disebabkan oleh rendahnya pendidikan terlihat pada cara kedua belah pihak, suami istri, menyelesaikan masalah.

Dia menyebut, sering kali rendahnya pola berpikir dari kedua belah pihak memicu prasangka yang tidak baik. Seperti mudah tersinggung dan saling menyimpan rasa curiga. “Suami maupun istri mudah tersinggung, kemudian mereka saling menunjukkan ego masing-masing. Akhirnya tidak ada yang mau mengalah,” katanya.

Menurutnya, faktor ekonomi juga kerap menjadi pemicu terjadinya KDRT. Berawal dari kebutuhan yang tidak terpenuhi karena sumber penghasilan yang rendah. Hal itu juga sering memunculkan suasana kurang harmonis di internal keluarga. Problem itulah yang mendorong terjadinya tindak pidana KDRT di antara keduanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca