23.3 C
Jember
Monday, 30 January 2023

Cegah BBM Langka, Nelayan Wadul Gubernur

Ketua Kelompok Disarankan Ajukan Rencana Kebutuhan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kebijakan pemerintah pusat menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 September 2022 masih terus berdampak bagi banyak masyarakat. Utamanya mereka yang menggunakan BBM untuk kebutuhan sehari-hari dalam setiap pekerjaannya. Seperti para nelayan yang ada di Kecamatan Puger.

Kedatangan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger, kemarin, salah satunya disambati soal kebutuhan BBM nelayan yang terkadang sulit didapat. Mereka pun membutuhkan solusi konkret agar pasokan BBM untuk nelayan tidak telat karena berkaitan langsung dengan pekerjaan mereka di laut.

Mahasiswa Polije Ubah Limbah Plastik Jadi BBM Alternatif, Kualitasnya Wow!

Mobile_AP_Rectangle 2

Di TPI Puger tersebut, Gubernur Khofifah didampingi Bupati Jember Hendy Siswanto serta sejumlah rombongan. Pada kesempatan itu, para pejabat bertemu langsung dengan para nelayan serta pedagang yang terdampak kenaikan harga BBM.

Khofifah mengutarakan, Pemprov Jatim sejauh ini sempat beberapa kali membahas persoalan kenaikan BBM bersama pihak Pertamina. Beberapa di antaranya menghasilkan sejumlah poin penting seperti rencana kebutuhan BBM untuk kelompok-kelompok nelayan yang disediakan khusus di setiap SPBU nelayan atau SPBU-N.

“Kalau ketua kelompok-kelompok nelayan bisa menyampaikan usulan kebutuhan untuk anggotanya, maka SPBU-N akan disiapkan dengan kebutuhan nelayannya,” kata mantan Menteri Sosial tersebut.

Dia menilai, kebutuhan BBM nelayan perlu direncanakan dan diusulkan secara real atau sesuai dengan jumlah dan kebutuhan nelayan. Khofifah meyakini, jika kebutuhan setiap kelompok nelayan itu diusulkan sesuai rencana kebutuhan, maka kebutuhan BBM untuk nelayan bisa terakomodasi dan terpenuhi.

Di satu sisi, Khofifah juga memastikan bakal terus kontinu berkoordinasi dengan pihak Pertamina untuk membantu kebutuhan BBM agar mencukupi atau tiada kelangkaan. Termasuk kebutuhan BBM untuk para nelayan. “Saya rasa nanti bisa dilakukan. Kami juga kontinu koordinasi dengan Pertamina. Dan di SPBU nelayan, memang harus dicek pengusulannya dulu berapa, agar sesuai dengan kebutuhan,” kata Khofifah.

Seusai bertemu dengan beberapa nelayan, Khofifah bersama rombongan saat itu juga bertemu dengan sejumlah kelompok masyarakat dan menyerahkan paket bantuan sosial. Seperti kalangan sopir, driver ojek, asistensi sosial penyandang disabilitas (ASDP), hingga pelaku UMKM yang berjualan di TPI Puger, dan masyarakat setempat lainnya. “Bantuan ini sebagai perlindungan sosial, untuk melakukan pengendalian inflasi akibat kenaikan harga BBM,” kata orang nomor satu di Jatim itu.

Terpisah, Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Imam Hambali menjelaskan gambaran kebutuhan BBM nelayan di Kecamatan Puger. Menurutnya, untuk sekali melaut, perahu besar nelayan bisa menghabiskan sekitar 200–300 liter solar. Dengan amunisi sebanyak itu, mereka bisa melaut sejauh 75 mil atau sekitar 150 kilometer dari bibir pantai.

Sementara itu, perahu atau jukung kecil biasanya menghabiskan amunisi kisaran 20 liter solar, dengan jarak atau trayek yang ditempuh sejauh 15 mil atau maksimal 50 kilometer dari bibir daratan. “Kondisinya memang sulit, tidak sedikit nelayan untuk kebutuhan bahan bakar harus bon dulu dan dibayar setelah ikan yang mereka tangkap dijual. Hasil penjualannya juga tidak pasti,” gerutu Hambali.

Selain menggunakan BBM jenis solar, nelayan juga menggunakan pertalite dan pertamax untuk diesel kecil yang mereka gunakan untuk penerangan lampu di malam hari di tengah laut. “Kalau keinginan nelayan itu tidak neko-neko, bagaimana nelayan bisa bekerja, tanpa kesulitan bahan bakar dan tentunya hasil tangkapannya bisa mencukupi untuk kebutuhan,” harapnya.

Jurnalis: Maulana
Fotografer: Jumai
Editor: Nur Hariri

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kebijakan pemerintah pusat menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 September 2022 masih terus berdampak bagi banyak masyarakat. Utamanya mereka yang menggunakan BBM untuk kebutuhan sehari-hari dalam setiap pekerjaannya. Seperti para nelayan yang ada di Kecamatan Puger.

Kedatangan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger, kemarin, salah satunya disambati soal kebutuhan BBM nelayan yang terkadang sulit didapat. Mereka pun membutuhkan solusi konkret agar pasokan BBM untuk nelayan tidak telat karena berkaitan langsung dengan pekerjaan mereka di laut.

Mahasiswa Polije Ubah Limbah Plastik Jadi BBM Alternatif, Kualitasnya Wow!

Di TPI Puger tersebut, Gubernur Khofifah didampingi Bupati Jember Hendy Siswanto serta sejumlah rombongan. Pada kesempatan itu, para pejabat bertemu langsung dengan para nelayan serta pedagang yang terdampak kenaikan harga BBM.

Khofifah mengutarakan, Pemprov Jatim sejauh ini sempat beberapa kali membahas persoalan kenaikan BBM bersama pihak Pertamina. Beberapa di antaranya menghasilkan sejumlah poin penting seperti rencana kebutuhan BBM untuk kelompok-kelompok nelayan yang disediakan khusus di setiap SPBU nelayan atau SPBU-N.

“Kalau ketua kelompok-kelompok nelayan bisa menyampaikan usulan kebutuhan untuk anggotanya, maka SPBU-N akan disiapkan dengan kebutuhan nelayannya,” kata mantan Menteri Sosial tersebut.

Dia menilai, kebutuhan BBM nelayan perlu direncanakan dan diusulkan secara real atau sesuai dengan jumlah dan kebutuhan nelayan. Khofifah meyakini, jika kebutuhan setiap kelompok nelayan itu diusulkan sesuai rencana kebutuhan, maka kebutuhan BBM untuk nelayan bisa terakomodasi dan terpenuhi.

Di satu sisi, Khofifah juga memastikan bakal terus kontinu berkoordinasi dengan pihak Pertamina untuk membantu kebutuhan BBM agar mencukupi atau tiada kelangkaan. Termasuk kebutuhan BBM untuk para nelayan. “Saya rasa nanti bisa dilakukan. Kami juga kontinu koordinasi dengan Pertamina. Dan di SPBU nelayan, memang harus dicek pengusulannya dulu berapa, agar sesuai dengan kebutuhan,” kata Khofifah.

Seusai bertemu dengan beberapa nelayan, Khofifah bersama rombongan saat itu juga bertemu dengan sejumlah kelompok masyarakat dan menyerahkan paket bantuan sosial. Seperti kalangan sopir, driver ojek, asistensi sosial penyandang disabilitas (ASDP), hingga pelaku UMKM yang berjualan di TPI Puger, dan masyarakat setempat lainnya. “Bantuan ini sebagai perlindungan sosial, untuk melakukan pengendalian inflasi akibat kenaikan harga BBM,” kata orang nomor satu di Jatim itu.

Terpisah, Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Imam Hambali menjelaskan gambaran kebutuhan BBM nelayan di Kecamatan Puger. Menurutnya, untuk sekali melaut, perahu besar nelayan bisa menghabiskan sekitar 200–300 liter solar. Dengan amunisi sebanyak itu, mereka bisa melaut sejauh 75 mil atau sekitar 150 kilometer dari bibir pantai.

Sementara itu, perahu atau jukung kecil biasanya menghabiskan amunisi kisaran 20 liter solar, dengan jarak atau trayek yang ditempuh sejauh 15 mil atau maksimal 50 kilometer dari bibir daratan. “Kondisinya memang sulit, tidak sedikit nelayan untuk kebutuhan bahan bakar harus bon dulu dan dibayar setelah ikan yang mereka tangkap dijual. Hasil penjualannya juga tidak pasti,” gerutu Hambali.

Selain menggunakan BBM jenis solar, nelayan juga menggunakan pertalite dan pertamax untuk diesel kecil yang mereka gunakan untuk penerangan lampu di malam hari di tengah laut. “Kalau keinginan nelayan itu tidak neko-neko, bagaimana nelayan bisa bekerja, tanpa kesulitan bahan bakar dan tentunya hasil tangkapannya bisa mencukupi untuk kebutuhan,” harapnya.

Jurnalis: Maulana
Fotografer: Jumai
Editor: Nur Hariri

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kebijakan pemerintah pusat menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 September 2022 masih terus berdampak bagi banyak masyarakat. Utamanya mereka yang menggunakan BBM untuk kebutuhan sehari-hari dalam setiap pekerjaannya. Seperti para nelayan yang ada di Kecamatan Puger.

Kedatangan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger, kemarin, salah satunya disambati soal kebutuhan BBM nelayan yang terkadang sulit didapat. Mereka pun membutuhkan solusi konkret agar pasokan BBM untuk nelayan tidak telat karena berkaitan langsung dengan pekerjaan mereka di laut.

Mahasiswa Polije Ubah Limbah Plastik Jadi BBM Alternatif, Kualitasnya Wow!

Di TPI Puger tersebut, Gubernur Khofifah didampingi Bupati Jember Hendy Siswanto serta sejumlah rombongan. Pada kesempatan itu, para pejabat bertemu langsung dengan para nelayan serta pedagang yang terdampak kenaikan harga BBM.

Khofifah mengutarakan, Pemprov Jatim sejauh ini sempat beberapa kali membahas persoalan kenaikan BBM bersama pihak Pertamina. Beberapa di antaranya menghasilkan sejumlah poin penting seperti rencana kebutuhan BBM untuk kelompok-kelompok nelayan yang disediakan khusus di setiap SPBU nelayan atau SPBU-N.

“Kalau ketua kelompok-kelompok nelayan bisa menyampaikan usulan kebutuhan untuk anggotanya, maka SPBU-N akan disiapkan dengan kebutuhan nelayannya,” kata mantan Menteri Sosial tersebut.

Dia menilai, kebutuhan BBM nelayan perlu direncanakan dan diusulkan secara real atau sesuai dengan jumlah dan kebutuhan nelayan. Khofifah meyakini, jika kebutuhan setiap kelompok nelayan itu diusulkan sesuai rencana kebutuhan, maka kebutuhan BBM untuk nelayan bisa terakomodasi dan terpenuhi.

Di satu sisi, Khofifah juga memastikan bakal terus kontinu berkoordinasi dengan pihak Pertamina untuk membantu kebutuhan BBM agar mencukupi atau tiada kelangkaan. Termasuk kebutuhan BBM untuk para nelayan. “Saya rasa nanti bisa dilakukan. Kami juga kontinu koordinasi dengan Pertamina. Dan di SPBU nelayan, memang harus dicek pengusulannya dulu berapa, agar sesuai dengan kebutuhan,” kata Khofifah.

Seusai bertemu dengan beberapa nelayan, Khofifah bersama rombongan saat itu juga bertemu dengan sejumlah kelompok masyarakat dan menyerahkan paket bantuan sosial. Seperti kalangan sopir, driver ojek, asistensi sosial penyandang disabilitas (ASDP), hingga pelaku UMKM yang berjualan di TPI Puger, dan masyarakat setempat lainnya. “Bantuan ini sebagai perlindungan sosial, untuk melakukan pengendalian inflasi akibat kenaikan harga BBM,” kata orang nomor satu di Jatim itu.

Terpisah, Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Imam Hambali menjelaskan gambaran kebutuhan BBM nelayan di Kecamatan Puger. Menurutnya, untuk sekali melaut, perahu besar nelayan bisa menghabiskan sekitar 200–300 liter solar. Dengan amunisi sebanyak itu, mereka bisa melaut sejauh 75 mil atau sekitar 150 kilometer dari bibir pantai.

Sementara itu, perahu atau jukung kecil biasanya menghabiskan amunisi kisaran 20 liter solar, dengan jarak atau trayek yang ditempuh sejauh 15 mil atau maksimal 50 kilometer dari bibir daratan. “Kondisinya memang sulit, tidak sedikit nelayan untuk kebutuhan bahan bakar harus bon dulu dan dibayar setelah ikan yang mereka tangkap dijual. Hasil penjualannya juga tidak pasti,” gerutu Hambali.

Selain menggunakan BBM jenis solar, nelayan juga menggunakan pertalite dan pertamax untuk diesel kecil yang mereka gunakan untuk penerangan lampu di malam hari di tengah laut. “Kalau keinginan nelayan itu tidak neko-neko, bagaimana nelayan bisa bekerja, tanpa kesulitan bahan bakar dan tentunya hasil tangkapannya bisa mencukupi untuk kebutuhan,” harapnya.

Jurnalis: Maulana
Fotografer: Jumai
Editor: Nur Hariri

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca