alexametrics
23.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Potensi Kecurangan Gas Elpiji Langka di Jember, Kepolisian No Respon

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BERBAGAI dugaan tentang kemungkinan terjadinya penyelewengan penggunaan gas elpiji 3 kilogram sudah bermunculan di masyarakat. Mulai dari penimbunan, tidak tepat sasaran, salah penggunaan, hingga penjualan di atas harga eceran tertinggi (HET). Ditengarai, lemahnya pengawasan mengakibatkan para pemain gas elpiji tersebut leluasa mengutak-atik harga, hingga dianggap mencekik masyarakat miskin.

Sebenarnya, berdasar Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 26 Tahun 2009, pada pasal 31 disebutkan bahwa pelaksanaan izin usaha bukanlah satu-satunya objek pembinaan dan pengawasan. Pihak berwajib, dalam hal ini kepolisian, juga diminta mengawasi penjualan gas elpiji pada tingkat yang wajar. Sebab, jika pengawasannya lemah, maka bisa berbuah seperti sekarang ini. Barang langka dan harga melonjak. Lantas, bagaimana peran Polres Jember dalam pengawasan distribusi gas subsidi? Apakah polisi menemukan adanya potensi kecurangan?

Jawa Pos Radar Jember mencoba menghubungi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jember AKP Komang Yogi Arya Wiguna. Saat dihubungi pada Jumat (17/9) siang, Komang sedang sibuk dan meminta materi berita atau info untuk dibaca lebih dulu. “Mungkin ada materi berita atau infonya, biar saya baca-baca dulu,” jawabnya melalui pesan WhatsApp.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jumat sore, upaya konfirmasi disampaikan langsung dengan mendatangi Polres Jember di Jalan RA Kartini, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates. Namun, Komang juga sedang sibuk lantaran ada arahan pimpinan. Keesokan harinya, Sabtu (18/9), Jawa Pos Radar Jember kembali mendatangi Polres Jember. Lagi-lagi tak membuahkan hasil. Komang tak ada di tempat. Upaya meminta penjelasan terus berlanjut dengan mengirim pesan WhatsApp dan telepon, tapi tetap tak ada respons. Hal yang sama juga terjadi saat mencoba mengonfirmasi pihak Humas Polres Jember Brisman.

Sulitnya mendapat keterangan dari pihak kepolisian ini mengakibatkan publik tidak mengetahui apa langkah aparat dalam menangani kelangkaan gas subsidi serta melambungnya harga tersebut. Padahal, peran kepolisian cukup signifikan dalam mencegah terjadinya patgulipat dalam rantai distribusi gas melon itu. Termasuk mencegah terjadinya kecurangan lain. Seperti pengoplosan dan memainkan harga jual.

Guna mendapatkan informasi lebih lanjut terkait pola pengawasan yang sudah atau bakal diterapkan kepolisian, Jawa Pos Radar Jember menghubungi langsung Kapolres Jember AKBP Arif Rachman Arifin. Namun, hingga berita ini ditulis, beragam pertanyaan yang dikirimkan tak kunjung mendapat balasan. Perwira polisi berpangkat dua melati ini juga tak merespons.

Sejatinya, mewakili publik, Jawa Pos Radar Jember ingin menanyakan beberapa hal. Mulai tentang pemetaan dan pengawasan kepolisian terkait kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram yang terjadi di kawasan Jember selatan, karena terjadi bukan kali ini saja. Tapi, hampir setiap tahun. Juga mengenai tindak lanjut yang bakal dilakukan atas kelangkaan tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BERBAGAI dugaan tentang kemungkinan terjadinya penyelewengan penggunaan gas elpiji 3 kilogram sudah bermunculan di masyarakat. Mulai dari penimbunan, tidak tepat sasaran, salah penggunaan, hingga penjualan di atas harga eceran tertinggi (HET). Ditengarai, lemahnya pengawasan mengakibatkan para pemain gas elpiji tersebut leluasa mengutak-atik harga, hingga dianggap mencekik masyarakat miskin.

Sebenarnya, berdasar Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 26 Tahun 2009, pada pasal 31 disebutkan bahwa pelaksanaan izin usaha bukanlah satu-satunya objek pembinaan dan pengawasan. Pihak berwajib, dalam hal ini kepolisian, juga diminta mengawasi penjualan gas elpiji pada tingkat yang wajar. Sebab, jika pengawasannya lemah, maka bisa berbuah seperti sekarang ini. Barang langka dan harga melonjak. Lantas, bagaimana peran Polres Jember dalam pengawasan distribusi gas subsidi? Apakah polisi menemukan adanya potensi kecurangan?

Jawa Pos Radar Jember mencoba menghubungi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jember AKP Komang Yogi Arya Wiguna. Saat dihubungi pada Jumat (17/9) siang, Komang sedang sibuk dan meminta materi berita atau info untuk dibaca lebih dulu. “Mungkin ada materi berita atau infonya, biar saya baca-baca dulu,” jawabnya melalui pesan WhatsApp.

Jumat sore, upaya konfirmasi disampaikan langsung dengan mendatangi Polres Jember di Jalan RA Kartini, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates. Namun, Komang juga sedang sibuk lantaran ada arahan pimpinan. Keesokan harinya, Sabtu (18/9), Jawa Pos Radar Jember kembali mendatangi Polres Jember. Lagi-lagi tak membuahkan hasil. Komang tak ada di tempat. Upaya meminta penjelasan terus berlanjut dengan mengirim pesan WhatsApp dan telepon, tapi tetap tak ada respons. Hal yang sama juga terjadi saat mencoba mengonfirmasi pihak Humas Polres Jember Brisman.

Sulitnya mendapat keterangan dari pihak kepolisian ini mengakibatkan publik tidak mengetahui apa langkah aparat dalam menangani kelangkaan gas subsidi serta melambungnya harga tersebut. Padahal, peran kepolisian cukup signifikan dalam mencegah terjadinya patgulipat dalam rantai distribusi gas melon itu. Termasuk mencegah terjadinya kecurangan lain. Seperti pengoplosan dan memainkan harga jual.

Guna mendapatkan informasi lebih lanjut terkait pola pengawasan yang sudah atau bakal diterapkan kepolisian, Jawa Pos Radar Jember menghubungi langsung Kapolres Jember AKBP Arif Rachman Arifin. Namun, hingga berita ini ditulis, beragam pertanyaan yang dikirimkan tak kunjung mendapat balasan. Perwira polisi berpangkat dua melati ini juga tak merespons.

Sejatinya, mewakili publik, Jawa Pos Radar Jember ingin menanyakan beberapa hal. Mulai tentang pemetaan dan pengawasan kepolisian terkait kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram yang terjadi di kawasan Jember selatan, karena terjadi bukan kali ini saja. Tapi, hampir setiap tahun. Juga mengenai tindak lanjut yang bakal dilakukan atas kelangkaan tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BERBAGAI dugaan tentang kemungkinan terjadinya penyelewengan penggunaan gas elpiji 3 kilogram sudah bermunculan di masyarakat. Mulai dari penimbunan, tidak tepat sasaran, salah penggunaan, hingga penjualan di atas harga eceran tertinggi (HET). Ditengarai, lemahnya pengawasan mengakibatkan para pemain gas elpiji tersebut leluasa mengutak-atik harga, hingga dianggap mencekik masyarakat miskin.

Sebenarnya, berdasar Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 26 Tahun 2009, pada pasal 31 disebutkan bahwa pelaksanaan izin usaha bukanlah satu-satunya objek pembinaan dan pengawasan. Pihak berwajib, dalam hal ini kepolisian, juga diminta mengawasi penjualan gas elpiji pada tingkat yang wajar. Sebab, jika pengawasannya lemah, maka bisa berbuah seperti sekarang ini. Barang langka dan harga melonjak. Lantas, bagaimana peran Polres Jember dalam pengawasan distribusi gas subsidi? Apakah polisi menemukan adanya potensi kecurangan?

Jawa Pos Radar Jember mencoba menghubungi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jember AKP Komang Yogi Arya Wiguna. Saat dihubungi pada Jumat (17/9) siang, Komang sedang sibuk dan meminta materi berita atau info untuk dibaca lebih dulu. “Mungkin ada materi berita atau infonya, biar saya baca-baca dulu,” jawabnya melalui pesan WhatsApp.

Jumat sore, upaya konfirmasi disampaikan langsung dengan mendatangi Polres Jember di Jalan RA Kartini, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates. Namun, Komang juga sedang sibuk lantaran ada arahan pimpinan. Keesokan harinya, Sabtu (18/9), Jawa Pos Radar Jember kembali mendatangi Polres Jember. Lagi-lagi tak membuahkan hasil. Komang tak ada di tempat. Upaya meminta penjelasan terus berlanjut dengan mengirim pesan WhatsApp dan telepon, tapi tetap tak ada respons. Hal yang sama juga terjadi saat mencoba mengonfirmasi pihak Humas Polres Jember Brisman.

Sulitnya mendapat keterangan dari pihak kepolisian ini mengakibatkan publik tidak mengetahui apa langkah aparat dalam menangani kelangkaan gas subsidi serta melambungnya harga tersebut. Padahal, peran kepolisian cukup signifikan dalam mencegah terjadinya patgulipat dalam rantai distribusi gas melon itu. Termasuk mencegah terjadinya kecurangan lain. Seperti pengoplosan dan memainkan harga jual.

Guna mendapatkan informasi lebih lanjut terkait pola pengawasan yang sudah atau bakal diterapkan kepolisian, Jawa Pos Radar Jember menghubungi langsung Kapolres Jember AKBP Arif Rachman Arifin. Namun, hingga berita ini ditulis, beragam pertanyaan yang dikirimkan tak kunjung mendapat balasan. Perwira polisi berpangkat dua melati ini juga tak merespons.

Sejatinya, mewakili publik, Jawa Pos Radar Jember ingin menanyakan beberapa hal. Mulai tentang pemetaan dan pengawasan kepolisian terkait kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram yang terjadi di kawasan Jember selatan, karena terjadi bukan kali ini saja. Tapi, hampir setiap tahun. Juga mengenai tindak lanjut yang bakal dilakukan atas kelangkaan tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/