alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Harga Gas Elpiji di Jember Melambung, Siapa Untung?

Kelangkaan gas LPG 3 kilogram bukan cerita anyar. Setiap tahun peristiwa serupa selalu terulang. Seperti belakangan ini, gas bersubsidi itu mendadak sulit dicari. Kalaupun ada, harganya melambung tinggi. Sebenarnya, siapakah yang diuntungkan dan kenapa pemainnya tidak terungkap juga sampai sekarang?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – HAMPIR dua pekan berjalan, gas melon kembali mendadak lenyap dari peredaran. Di toko-toko peracangan dan pengecer, hanya tersisa tabung-tabung kosong tanpa ada isinya. Utamanya di daerah Jember selatan. Kalaupun beruntung dan mendapatkannya, harganya pasti melonjak. Antara Rp 19 ribu hingga Rp 22 ribu per tabung. Bahkan disinyalir ada juga agen atau subagen yang turut bermain dengan menjualnya di atas harga eceran tertinggi. Dan fenomena semacam ini bukan yang pertama, tapi sudah terjadi kesekian kalinya.

Kelangkaan itu tak hanya dikeluhkan oleh pemilik toko, namun juga ibu-ibu. Sebab, mereka tak hanya susah memasak, namun juga sulit bekerja. Karena cukup banyak warga yang memanfaatkan gas melon ini untuk usaha mereka. Misalnya menjual gorengan atau membuka warung makan. Kini, mereka kelimpungan dan harus pontang-panting mencari gas melon tersebut agar dapur mereka tetap ngebul atau usaha mereka bisa berjalan.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, ada beberapa dugaan yang menjadi penyebabnya. Salah satunya pembatasan atau keterlambatan pasokan, hingga ditengarai ada oknum yang sengaja memainkan kesempatan itu untuk meraup keuntungan. Buktinya, setiap kali tabung sulit dicari, harganya pasti melambung tinggi. Imbasnya, warga miskin yang seharusnya menerima manfaat subsidi terpaksa gigit jari. Mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sukar. Merogoh kocek lebih dalam atau kembali ke cara lama, menggunakan kayu bakar.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jika ditelusuri, sebenarnya muara dari hulu hilir gas melon ini sudah ada rantai distribusi yang tertata rapi. Mulai dari depo induk, agen, kemudian subagen, lalu ke toko-toko pengecer, hingga akhirnya sampai ke dapur masyarakat atau konsumen. Setiap lini dari rantai distribusi tersebut memiliki peran dengan patokan harga jual sendiri-sendiri. Sehingga, ketika ada yang bermain, sebenarnya mudah dilacak. Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan gas subsidi ini langka? “Memang, kami sering dapat keluhan dari toko-toko dan warga, kok pasokan tidak dikirim atau kurang,” kata Rinaldy Firman Sutedja, salah satu subagen gas melon asal Kecamatan Mumbulsari.

Kekurangan atau keterlambatan pasokan itu di luar kendalinya. Sebab, dia sendiri hanya selaku subagen yang biasa menerima pasokan dari agen. Biasanya pasokan memang tidak menentu. Bisa pas, bertambah, atau berkurang. Itu semua karena harus berbagi dengan subagen lainnya. Dia sendiri biasanya menerima pasokan yang tidak tentu, dalam sehari antara 150-200 gas melon. “Kalau seperti kami, buat apa menghambat perputaran gas itu? Apalagi nimbun, tidak ada untungnya. Sebab, saya juga butuh perputaran usaha,” jelas Firman.

Kendati begitu, dia membenarkan bahwa selama ini gas melon sering dikeluhkan langka. Apalagi kalau sudah memasuki hari-hari besar. Para subagen pun biasanya harus berbagi pasokan dengan jatah yang tak sebanyak di hari-hari biasanya. Hal itu mengingat daya konsumsi masyarakat yang juga mengalami peningkatan saat hari-hari besar. “Saat hari besar, konsumsi masyarakat meningkat. Mereka bisa memasak lebih lama dan menggunakan gas lebih banyak. Dari biasanya satu, bisa habis dua atau tiga kali,” sambungnya.

Jika hal itu sudah terjadi dan mulai dikeluhkan warga, dia pun tak bisa berbuat banyak. Namun, yang jelas, dia menilai, jika gas melon untuk masyarakat miskin, seharusnya untuk warga miskin saja. Dan jika hal itu telah berjalan, dipastikan tak ada kelangkaan. “Kalau peruntukannya meleset, ya, sudah, pasti langka,” tambahnya.

Sebenarnya, baik agen maupun subagen itu terikat dengan aturan yang diterapkan oleh Pertamina. Masing-masing dari mereka juga mengantongi legalitas yang menunjukkan keabsahan operasional agen maupun subagen, berikut beberapa ketentuan harga dalam mengedarkannya. Seperti tidak boleh menjual di luar ketentuan harga, tidak boleh langsung menjual ke konsumen, dan tidak boleh mendistribusikan ke tempat yang memang di luar ketentuan Pertamina, dan beberapa lainnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – HAMPIR dua pekan berjalan, gas melon kembali mendadak lenyap dari peredaran. Di toko-toko peracangan dan pengecer, hanya tersisa tabung-tabung kosong tanpa ada isinya. Utamanya di daerah Jember selatan. Kalaupun beruntung dan mendapatkannya, harganya pasti melonjak. Antara Rp 19 ribu hingga Rp 22 ribu per tabung. Bahkan disinyalir ada juga agen atau subagen yang turut bermain dengan menjualnya di atas harga eceran tertinggi. Dan fenomena semacam ini bukan yang pertama, tapi sudah terjadi kesekian kalinya.

Kelangkaan itu tak hanya dikeluhkan oleh pemilik toko, namun juga ibu-ibu. Sebab, mereka tak hanya susah memasak, namun juga sulit bekerja. Karena cukup banyak warga yang memanfaatkan gas melon ini untuk usaha mereka. Misalnya menjual gorengan atau membuka warung makan. Kini, mereka kelimpungan dan harus pontang-panting mencari gas melon tersebut agar dapur mereka tetap ngebul atau usaha mereka bisa berjalan.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, ada beberapa dugaan yang menjadi penyebabnya. Salah satunya pembatasan atau keterlambatan pasokan, hingga ditengarai ada oknum yang sengaja memainkan kesempatan itu untuk meraup keuntungan. Buktinya, setiap kali tabung sulit dicari, harganya pasti melambung tinggi. Imbasnya, warga miskin yang seharusnya menerima manfaat subsidi terpaksa gigit jari. Mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sukar. Merogoh kocek lebih dalam atau kembali ke cara lama, menggunakan kayu bakar.

Jika ditelusuri, sebenarnya muara dari hulu hilir gas melon ini sudah ada rantai distribusi yang tertata rapi. Mulai dari depo induk, agen, kemudian subagen, lalu ke toko-toko pengecer, hingga akhirnya sampai ke dapur masyarakat atau konsumen. Setiap lini dari rantai distribusi tersebut memiliki peran dengan patokan harga jual sendiri-sendiri. Sehingga, ketika ada yang bermain, sebenarnya mudah dilacak. Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan gas subsidi ini langka? “Memang, kami sering dapat keluhan dari toko-toko dan warga, kok pasokan tidak dikirim atau kurang,” kata Rinaldy Firman Sutedja, salah satu subagen gas melon asal Kecamatan Mumbulsari.

Kekurangan atau keterlambatan pasokan itu di luar kendalinya. Sebab, dia sendiri hanya selaku subagen yang biasa menerima pasokan dari agen. Biasanya pasokan memang tidak menentu. Bisa pas, bertambah, atau berkurang. Itu semua karena harus berbagi dengan subagen lainnya. Dia sendiri biasanya menerima pasokan yang tidak tentu, dalam sehari antara 150-200 gas melon. “Kalau seperti kami, buat apa menghambat perputaran gas itu? Apalagi nimbun, tidak ada untungnya. Sebab, saya juga butuh perputaran usaha,” jelas Firman.

Kendati begitu, dia membenarkan bahwa selama ini gas melon sering dikeluhkan langka. Apalagi kalau sudah memasuki hari-hari besar. Para subagen pun biasanya harus berbagi pasokan dengan jatah yang tak sebanyak di hari-hari biasanya. Hal itu mengingat daya konsumsi masyarakat yang juga mengalami peningkatan saat hari-hari besar. “Saat hari besar, konsumsi masyarakat meningkat. Mereka bisa memasak lebih lama dan menggunakan gas lebih banyak. Dari biasanya satu, bisa habis dua atau tiga kali,” sambungnya.

Jika hal itu sudah terjadi dan mulai dikeluhkan warga, dia pun tak bisa berbuat banyak. Namun, yang jelas, dia menilai, jika gas melon untuk masyarakat miskin, seharusnya untuk warga miskin saja. Dan jika hal itu telah berjalan, dipastikan tak ada kelangkaan. “Kalau peruntukannya meleset, ya, sudah, pasti langka,” tambahnya.

Sebenarnya, baik agen maupun subagen itu terikat dengan aturan yang diterapkan oleh Pertamina. Masing-masing dari mereka juga mengantongi legalitas yang menunjukkan keabsahan operasional agen maupun subagen, berikut beberapa ketentuan harga dalam mengedarkannya. Seperti tidak boleh menjual di luar ketentuan harga, tidak boleh langsung menjual ke konsumen, dan tidak boleh mendistribusikan ke tempat yang memang di luar ketentuan Pertamina, dan beberapa lainnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – HAMPIR dua pekan berjalan, gas melon kembali mendadak lenyap dari peredaran. Di toko-toko peracangan dan pengecer, hanya tersisa tabung-tabung kosong tanpa ada isinya. Utamanya di daerah Jember selatan. Kalaupun beruntung dan mendapatkannya, harganya pasti melonjak. Antara Rp 19 ribu hingga Rp 22 ribu per tabung. Bahkan disinyalir ada juga agen atau subagen yang turut bermain dengan menjualnya di atas harga eceran tertinggi. Dan fenomena semacam ini bukan yang pertama, tapi sudah terjadi kesekian kalinya.

Kelangkaan itu tak hanya dikeluhkan oleh pemilik toko, namun juga ibu-ibu. Sebab, mereka tak hanya susah memasak, namun juga sulit bekerja. Karena cukup banyak warga yang memanfaatkan gas melon ini untuk usaha mereka. Misalnya menjual gorengan atau membuka warung makan. Kini, mereka kelimpungan dan harus pontang-panting mencari gas melon tersebut agar dapur mereka tetap ngebul atau usaha mereka bisa berjalan.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, ada beberapa dugaan yang menjadi penyebabnya. Salah satunya pembatasan atau keterlambatan pasokan, hingga ditengarai ada oknum yang sengaja memainkan kesempatan itu untuk meraup keuntungan. Buktinya, setiap kali tabung sulit dicari, harganya pasti melambung tinggi. Imbasnya, warga miskin yang seharusnya menerima manfaat subsidi terpaksa gigit jari. Mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sukar. Merogoh kocek lebih dalam atau kembali ke cara lama, menggunakan kayu bakar.

Jika ditelusuri, sebenarnya muara dari hulu hilir gas melon ini sudah ada rantai distribusi yang tertata rapi. Mulai dari depo induk, agen, kemudian subagen, lalu ke toko-toko pengecer, hingga akhirnya sampai ke dapur masyarakat atau konsumen. Setiap lini dari rantai distribusi tersebut memiliki peran dengan patokan harga jual sendiri-sendiri. Sehingga, ketika ada yang bermain, sebenarnya mudah dilacak. Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan gas subsidi ini langka? “Memang, kami sering dapat keluhan dari toko-toko dan warga, kok pasokan tidak dikirim atau kurang,” kata Rinaldy Firman Sutedja, salah satu subagen gas melon asal Kecamatan Mumbulsari.

Kekurangan atau keterlambatan pasokan itu di luar kendalinya. Sebab, dia sendiri hanya selaku subagen yang biasa menerima pasokan dari agen. Biasanya pasokan memang tidak menentu. Bisa pas, bertambah, atau berkurang. Itu semua karena harus berbagi dengan subagen lainnya. Dia sendiri biasanya menerima pasokan yang tidak tentu, dalam sehari antara 150-200 gas melon. “Kalau seperti kami, buat apa menghambat perputaran gas itu? Apalagi nimbun, tidak ada untungnya. Sebab, saya juga butuh perputaran usaha,” jelas Firman.

Kendati begitu, dia membenarkan bahwa selama ini gas melon sering dikeluhkan langka. Apalagi kalau sudah memasuki hari-hari besar. Para subagen pun biasanya harus berbagi pasokan dengan jatah yang tak sebanyak di hari-hari biasanya. Hal itu mengingat daya konsumsi masyarakat yang juga mengalami peningkatan saat hari-hari besar. “Saat hari besar, konsumsi masyarakat meningkat. Mereka bisa memasak lebih lama dan menggunakan gas lebih banyak. Dari biasanya satu, bisa habis dua atau tiga kali,” sambungnya.

Jika hal itu sudah terjadi dan mulai dikeluhkan warga, dia pun tak bisa berbuat banyak. Namun, yang jelas, dia menilai, jika gas melon untuk masyarakat miskin, seharusnya untuk warga miskin saja. Dan jika hal itu telah berjalan, dipastikan tak ada kelangkaan. “Kalau peruntukannya meleset, ya, sudah, pasti langka,” tambahnya.

Sebenarnya, baik agen maupun subagen itu terikat dengan aturan yang diterapkan oleh Pertamina. Masing-masing dari mereka juga mengantongi legalitas yang menunjukkan keabsahan operasional agen maupun subagen, berikut beberapa ketentuan harga dalam mengedarkannya. Seperti tidak boleh menjual di luar ketentuan harga, tidak boleh langsung menjual ke konsumen, dan tidak boleh mendistribusikan ke tempat yang memang di luar ketentuan Pertamina, dan beberapa lainnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/