alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Gas Elpiji Langka, Disperindag: Indikasi Penyalahgunaan di Lapangan

Regulasinya Lemah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Jember Widodo Julianto menindaklanjuti kelangkaan gas subsidi itu. Pemerintah daerah telah mengusulkan penambahan kuota kepada Pertamina dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas).

Menurut dia, kelangkaan gas LPG 3 kilogram itu disebabkan banyak hal. Salah satunya karena regulasi yang berdampak pada lemahnya pengawasan. “Regulasinya kurang kuat, sehingga pengawasan distribusi kurang optimal,” katanya.

Secara teknis, Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Eko Wahyu Septantono mengaku, kelangkaan gas bersubsidi telah diatasi dengan mengomunikasikan hal itu kepada beberapa penyedia, seperti Pertamina dan Hiswana Migas.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berdasar gelar rapat dengan kepolisian, Eko mengungkapkan, gas LPG sempat langka karena ada indikasi penyalahgunaan gas bersubsidi itu di lapangan. “Kami juga sudah dikontak Kasat Intel (Polres Jember, Red) terkait kelangkaan itu. Akhirnya mengusulkan tambahan kuota gas kepada Pertamina dan Hiswana Migas,” ucapnya.

Eko melanjutkan, indikasi penyalahgunaan gas LPG itu karena ada peningkatan penggunaan gas LPG. Bukan saja dipakai untuk memasak bagi warga miskin, tetapi ada orang-orang kaya yang menggunakannya. Pemkab Jember pun meminta agar warga yang mampu tidak ikut menggunakan gas LGP bersubsidi, tapi menggunakan yang nonsubsidi. “Seperti ASN atau warga yang mampu seharusnya tidak memakai gas LPG 3 kilogram. Gas bersubsidi itu untuk kalangan tertentu (warga miskin, Red),” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Jember Widodo Julianto menindaklanjuti kelangkaan gas subsidi itu. Pemerintah daerah telah mengusulkan penambahan kuota kepada Pertamina dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas).

Menurut dia, kelangkaan gas LPG 3 kilogram itu disebabkan banyak hal. Salah satunya karena regulasi yang berdampak pada lemahnya pengawasan. “Regulasinya kurang kuat, sehingga pengawasan distribusi kurang optimal,” katanya.

Secara teknis, Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Eko Wahyu Septantono mengaku, kelangkaan gas bersubsidi telah diatasi dengan mengomunikasikan hal itu kepada beberapa penyedia, seperti Pertamina dan Hiswana Migas.

Berdasar gelar rapat dengan kepolisian, Eko mengungkapkan, gas LPG sempat langka karena ada indikasi penyalahgunaan gas bersubsidi itu di lapangan. “Kami juga sudah dikontak Kasat Intel (Polres Jember, Red) terkait kelangkaan itu. Akhirnya mengusulkan tambahan kuota gas kepada Pertamina dan Hiswana Migas,” ucapnya.

Eko melanjutkan, indikasi penyalahgunaan gas LPG itu karena ada peningkatan penggunaan gas LPG. Bukan saja dipakai untuk memasak bagi warga miskin, tetapi ada orang-orang kaya yang menggunakannya. Pemkab Jember pun meminta agar warga yang mampu tidak ikut menggunakan gas LGP bersubsidi, tapi menggunakan yang nonsubsidi. “Seperti ASN atau warga yang mampu seharusnya tidak memakai gas LPG 3 kilogram. Gas bersubsidi itu untuk kalangan tertentu (warga miskin, Red),” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Jember Widodo Julianto menindaklanjuti kelangkaan gas subsidi itu. Pemerintah daerah telah mengusulkan penambahan kuota kepada Pertamina dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas).

Menurut dia, kelangkaan gas LPG 3 kilogram itu disebabkan banyak hal. Salah satunya karena regulasi yang berdampak pada lemahnya pengawasan. “Regulasinya kurang kuat, sehingga pengawasan distribusi kurang optimal,” katanya.

Secara teknis, Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Eko Wahyu Septantono mengaku, kelangkaan gas bersubsidi telah diatasi dengan mengomunikasikan hal itu kepada beberapa penyedia, seperti Pertamina dan Hiswana Migas.

Berdasar gelar rapat dengan kepolisian, Eko mengungkapkan, gas LPG sempat langka karena ada indikasi penyalahgunaan gas bersubsidi itu di lapangan. “Kami juga sudah dikontak Kasat Intel (Polres Jember, Red) terkait kelangkaan itu. Akhirnya mengusulkan tambahan kuota gas kepada Pertamina dan Hiswana Migas,” ucapnya.

Eko melanjutkan, indikasi penyalahgunaan gas LPG itu karena ada peningkatan penggunaan gas LPG. Bukan saja dipakai untuk memasak bagi warga miskin, tetapi ada orang-orang kaya yang menggunakannya. Pemkab Jember pun meminta agar warga yang mampu tidak ikut menggunakan gas LGP bersubsidi, tapi menggunakan yang nonsubsidi. “Seperti ASN atau warga yang mampu seharusnya tidak memakai gas LPG 3 kilogram. Gas bersubsidi itu untuk kalangan tertentu (warga miskin, Red),” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/