alexametrics
22.7 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Pementasan Perdana Gemetar, Rajin Manggung Tanpa Bayaran

Era teknologi kian berkembang hingga mengancam kelestarian seni tradisional. Di tengah kondisi yang semakin terjepit ini, ada sekelompok anak muda yang berusaha mengembangkannya. Mereka memilih wayang kulit dan kerap tampil tanpa bayaran. Apa alasannya? 

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Usia mereka tergolong masih muda. Rata-rata sekitar 25 tahun. Akan tetapi, sepak terjangnya di dunia kesenian tak perlu diragukan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi ini, mereka justru menjatuhkan pilihan hatinya kepada budaya tradisional wayang kulit.

Pada saat pementasan pun, mereka terlihat mahir. Dalang memainkan wayang yang diiringi oleh para seniman muda yang menabuh gamelan. Kekompakan itu terus tumbuh dari hari ke hari hingga mereka kerap tampil di acara-acara walimah warga dan khitanan. Termasuk pada perayaan hari-hari besar.

Dalang muda, Ahmad Mubarok menyebut, dirinya belajar menjadi dalang dan memainkan peran-peran wayang bisa secara alami dan belajarnya autodidak. “Jadi, sejak kecil saya dan teman-teman itu sudah suka wayang. Dari kecil juga suka menonton,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah menginjak usia dewasa, Mubarok mengaku, dia dan teman-temannya tetap bermain bersama. Hingga akhirnya mereka bersepakat mendirikan sebuah peguyuban wayang kulit yang diberi nama Kartikolaras Puger. Paguyuban itu berada di Dusun Mandaran, Desa Puger Wetan. “Sebelum itu, saya dan teman-teman belajar kepada yang sudah mengerti,” ucapnya.

Pada penampilan perdananya, Mubarok mengaku, dia dan teman-temannya sempat gemetar sebelum naik pentas. Akan tetapi, begitu duduk di depan layar dan memegang wayang, rasa khawatir pada penampilan perdananya menjadi lenyap. Begitu pula dengan teman-temannya, juga sempat mengalami hal serupa.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Usia mereka tergolong masih muda. Rata-rata sekitar 25 tahun. Akan tetapi, sepak terjangnya di dunia kesenian tak perlu diragukan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi ini, mereka justru menjatuhkan pilihan hatinya kepada budaya tradisional wayang kulit.

Pada saat pementasan pun, mereka terlihat mahir. Dalang memainkan wayang yang diiringi oleh para seniman muda yang menabuh gamelan. Kekompakan itu terus tumbuh dari hari ke hari hingga mereka kerap tampil di acara-acara walimah warga dan khitanan. Termasuk pada perayaan hari-hari besar.

Dalang muda, Ahmad Mubarok menyebut, dirinya belajar menjadi dalang dan memainkan peran-peran wayang bisa secara alami dan belajarnya autodidak. “Jadi, sejak kecil saya dan teman-teman itu sudah suka wayang. Dari kecil juga suka menonton,” ucapnya.

Setelah menginjak usia dewasa, Mubarok mengaku, dia dan teman-temannya tetap bermain bersama. Hingga akhirnya mereka bersepakat mendirikan sebuah peguyuban wayang kulit yang diberi nama Kartikolaras Puger. Paguyuban itu berada di Dusun Mandaran, Desa Puger Wetan. “Sebelum itu, saya dan teman-teman belajar kepada yang sudah mengerti,” ucapnya.

Pada penampilan perdananya, Mubarok mengaku, dia dan teman-temannya sempat gemetar sebelum naik pentas. Akan tetapi, begitu duduk di depan layar dan memegang wayang, rasa khawatir pada penampilan perdananya menjadi lenyap. Begitu pula dengan teman-temannya, juga sempat mengalami hal serupa.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Usia mereka tergolong masih muda. Rata-rata sekitar 25 tahun. Akan tetapi, sepak terjangnya di dunia kesenian tak perlu diragukan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi ini, mereka justru menjatuhkan pilihan hatinya kepada budaya tradisional wayang kulit.

Pada saat pementasan pun, mereka terlihat mahir. Dalang memainkan wayang yang diiringi oleh para seniman muda yang menabuh gamelan. Kekompakan itu terus tumbuh dari hari ke hari hingga mereka kerap tampil di acara-acara walimah warga dan khitanan. Termasuk pada perayaan hari-hari besar.

Dalang muda, Ahmad Mubarok menyebut, dirinya belajar menjadi dalang dan memainkan peran-peran wayang bisa secara alami dan belajarnya autodidak. “Jadi, sejak kecil saya dan teman-teman itu sudah suka wayang. Dari kecil juga suka menonton,” ucapnya.

Setelah menginjak usia dewasa, Mubarok mengaku, dia dan teman-temannya tetap bermain bersama. Hingga akhirnya mereka bersepakat mendirikan sebuah peguyuban wayang kulit yang diberi nama Kartikolaras Puger. Paguyuban itu berada di Dusun Mandaran, Desa Puger Wetan. “Sebelum itu, saya dan teman-teman belajar kepada yang sudah mengerti,” ucapnya.

Pada penampilan perdananya, Mubarok mengaku, dia dan teman-temannya sempat gemetar sebelum naik pentas. Akan tetapi, begitu duduk di depan layar dan memegang wayang, rasa khawatir pada penampilan perdananya menjadi lenyap. Begitu pula dengan teman-temannya, juga sempat mengalami hal serupa.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/