alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Kisah Mahasiswa yang Sukses Bisnis Hidroponik

Ada mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang sukses menekuni bisnis hidroponik. Usahanya berkembang hingga mampu membeli lahan dan memberdayakan tetangganya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Ari Dwi Prasmono tampak bersemangat. Pemuda asal Ajung Kulon, Kecamatan Ajung, tersebut itu tak ragu terjun ke dunia bisnis hidroponik. Dia pun mulai merasakan manisnya usaha yang digeluti sejak tiga tahun lalu.

Ari mengaku, dirinya mulai tertarik saat melakukan program kerja di himpunan program studi kampusnya. Dia langsung mempraktikannya sendiri di rumah. Belajar di berbagai tempat juga dilakoninya. Mulai dari bertanya kepada yang berpengalaman, mencari komunitas, hingga belajar dari internet.

Sudah berjalan 3 tahun ini Ari memutuskan untuk membangun bisnis. Modalnya Rp 25 juta dari hasil menjual motor, laptop, dan kamera pribadinya. Usahanya kini semakin berkembang meski sempat mandek selama 4 bulan di pertengahan 2021 karena tuntutan akademik dan PPKM.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dari tanaman pakcoi (sawi daging), pemuda berusia 22 tahun ini mulai bertani hidroponik. Sambil meraba-raba pasar, dia sempat membuka lapak hasil panennya sendiri di pinggir jalan. “Awalnya ibu-ibu yang beli nawar dengan harga yang sangat rendah karena belum paham bagaimana hidroponik,” ujar Ari saat ditemui di green house miliknya, kemarin.

Di lahan seluas 18 x 24 meter, petani milenial ini membuat 16 rak hidroponik. Masing-masing rak mempunyai 80 lubang tanam. Dengan sistem NFT (nutrient film technique), kini Ari menekuni selada sebagai produk sayurannya.

Seladanya ini, kata dia, sama sekali tidak memakai pestisida. Pemasarannya sudah mulai lancar. Biasanya tengkulak secara rutin 2 sampai 3 hari sekali mengambil di rumahnya. Dia tidak bekerja sendiri, ada sejumlah karyawan yang merupakan tetangganya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Ari Dwi Prasmono tampak bersemangat. Pemuda asal Ajung Kulon, Kecamatan Ajung, tersebut itu tak ragu terjun ke dunia bisnis hidroponik. Dia pun mulai merasakan manisnya usaha yang digeluti sejak tiga tahun lalu.

Ari mengaku, dirinya mulai tertarik saat melakukan program kerja di himpunan program studi kampusnya. Dia langsung mempraktikannya sendiri di rumah. Belajar di berbagai tempat juga dilakoninya. Mulai dari bertanya kepada yang berpengalaman, mencari komunitas, hingga belajar dari internet.

Sudah berjalan 3 tahun ini Ari memutuskan untuk membangun bisnis. Modalnya Rp 25 juta dari hasil menjual motor, laptop, dan kamera pribadinya. Usahanya kini semakin berkembang meski sempat mandek selama 4 bulan di pertengahan 2021 karena tuntutan akademik dan PPKM.

Dari tanaman pakcoi (sawi daging), pemuda berusia 22 tahun ini mulai bertani hidroponik. Sambil meraba-raba pasar, dia sempat membuka lapak hasil panennya sendiri di pinggir jalan. “Awalnya ibu-ibu yang beli nawar dengan harga yang sangat rendah karena belum paham bagaimana hidroponik,” ujar Ari saat ditemui di green house miliknya, kemarin.

Di lahan seluas 18 x 24 meter, petani milenial ini membuat 16 rak hidroponik. Masing-masing rak mempunyai 80 lubang tanam. Dengan sistem NFT (nutrient film technique), kini Ari menekuni selada sebagai produk sayurannya.

Seladanya ini, kata dia, sama sekali tidak memakai pestisida. Pemasarannya sudah mulai lancar. Biasanya tengkulak secara rutin 2 sampai 3 hari sekali mengambil di rumahnya. Dia tidak bekerja sendiri, ada sejumlah karyawan yang merupakan tetangganya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Ari Dwi Prasmono tampak bersemangat. Pemuda asal Ajung Kulon, Kecamatan Ajung, tersebut itu tak ragu terjun ke dunia bisnis hidroponik. Dia pun mulai merasakan manisnya usaha yang digeluti sejak tiga tahun lalu.

Ari mengaku, dirinya mulai tertarik saat melakukan program kerja di himpunan program studi kampusnya. Dia langsung mempraktikannya sendiri di rumah. Belajar di berbagai tempat juga dilakoninya. Mulai dari bertanya kepada yang berpengalaman, mencari komunitas, hingga belajar dari internet.

Sudah berjalan 3 tahun ini Ari memutuskan untuk membangun bisnis. Modalnya Rp 25 juta dari hasil menjual motor, laptop, dan kamera pribadinya. Usahanya kini semakin berkembang meski sempat mandek selama 4 bulan di pertengahan 2021 karena tuntutan akademik dan PPKM.

Dari tanaman pakcoi (sawi daging), pemuda berusia 22 tahun ini mulai bertani hidroponik. Sambil meraba-raba pasar, dia sempat membuka lapak hasil panennya sendiri di pinggir jalan. “Awalnya ibu-ibu yang beli nawar dengan harga yang sangat rendah karena belum paham bagaimana hidroponik,” ujar Ari saat ditemui di green house miliknya, kemarin.

Di lahan seluas 18 x 24 meter, petani milenial ini membuat 16 rak hidroponik. Masing-masing rak mempunyai 80 lubang tanam. Dengan sistem NFT (nutrient film technique), kini Ari menekuni selada sebagai produk sayurannya.

Seladanya ini, kata dia, sama sekali tidak memakai pestisida. Pemasarannya sudah mulai lancar. Biasanya tengkulak secara rutin 2 sampai 3 hari sekali mengambil di rumahnya. Dia tidak bekerja sendiri, ada sejumlah karyawan yang merupakan tetangganya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/