alexametrics
27.6 C
Jember
Monday, 4 July 2022

Jangan Lupa Diri, Ramadan Momen Introspeksi

Mobile_AP_Rectangle 1

Kiai Muzammil menyebutkan, sekecil apa pun perbuatan kita di dunia, akan berimbas pada perubahan sosial di lingkungan kita. “Itu sudah hukum alam. Dalam Alquran pun telah jelas bahwa rusaknya bumi sebab ulah tangan manusia,” jelasnya. Karena itu, perbuatan apa pun harus dipikirkan dampaknya. Baik jangka pendek maupun jangka panjangnya.

Muzammil, panggilan akrabnya, menambahkan, turut prihatin dengan kondisi masyarakat Jember saat ini, utamanya umat Islam. Selain Ramadan, mereka tidak bisa menikmati sebagaimana Ramadan dahulu. Dua tahun pertama, kenikmatan Ramadan berkurang karena maraknya virus. Kini, tahun ketiga, Ramadan masih kurang nikmat. Sebab, gempuran ekonomi membuat masyarakat cukup terpukul akibat minyak goreng mahal. “Ya Allah, saya kasihan lihat umat Islam sekarang. Sepertinya tidak sesemringah Ramadan dulu. Semoga Tuhan mengampuni kita semua,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Atas fenomena tersebut tentu tidak bisa menyudutkan satu pihak. Banyak sebab yang mesti diperhatikan. Dimulai dengan evaluasi diri, apa saja yang sudah kita perbuat sejauh ini. “Jangan maknai semua masalah ini dari sudut pandang ilmiah dan pemerintah saja. Kita harus mulai dari kita sendiri dulu. Hal ini menegaskan kita yang sering tidak sadar telah menyebabkan kerusakan bumi dan datangnya musibah silih berganti,” tegasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pada momen bulan puasa ini, saatnya memohon ampunan atas perbuatan yang kita tidak tahu ternyata berdampak besar terhadap datangnya musibah. “Contoh seperti buang sampah ke sungai. Perbuatan kecil tersebut ternyata menjadi faktor datangnya musibah. Bayangkan, berapa kali dalam seminggu kita berbuat tidak pada tempatnya. Oleh karenanya, introspeksi dirilah, lalu minta ampun,” pungkasnya. (mg4/c2/nur)

- Advertisement -

Kiai Muzammil menyebutkan, sekecil apa pun perbuatan kita di dunia, akan berimbas pada perubahan sosial di lingkungan kita. “Itu sudah hukum alam. Dalam Alquran pun telah jelas bahwa rusaknya bumi sebab ulah tangan manusia,” jelasnya. Karena itu, perbuatan apa pun harus dipikirkan dampaknya. Baik jangka pendek maupun jangka panjangnya.

Muzammil, panggilan akrabnya, menambahkan, turut prihatin dengan kondisi masyarakat Jember saat ini, utamanya umat Islam. Selain Ramadan, mereka tidak bisa menikmati sebagaimana Ramadan dahulu. Dua tahun pertama, kenikmatan Ramadan berkurang karena maraknya virus. Kini, tahun ketiga, Ramadan masih kurang nikmat. Sebab, gempuran ekonomi membuat masyarakat cukup terpukul akibat minyak goreng mahal. “Ya Allah, saya kasihan lihat umat Islam sekarang. Sepertinya tidak sesemringah Ramadan dulu. Semoga Tuhan mengampuni kita semua,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Atas fenomena tersebut tentu tidak bisa menyudutkan satu pihak. Banyak sebab yang mesti diperhatikan. Dimulai dengan evaluasi diri, apa saja yang sudah kita perbuat sejauh ini. “Jangan maknai semua masalah ini dari sudut pandang ilmiah dan pemerintah saja. Kita harus mulai dari kita sendiri dulu. Hal ini menegaskan kita yang sering tidak sadar telah menyebabkan kerusakan bumi dan datangnya musibah silih berganti,” tegasnya.

Pada momen bulan puasa ini, saatnya memohon ampunan atas perbuatan yang kita tidak tahu ternyata berdampak besar terhadap datangnya musibah. “Contoh seperti buang sampah ke sungai. Perbuatan kecil tersebut ternyata menjadi faktor datangnya musibah. Bayangkan, berapa kali dalam seminggu kita berbuat tidak pada tempatnya. Oleh karenanya, introspeksi dirilah, lalu minta ampun,” pungkasnya. (mg4/c2/nur)

Kiai Muzammil menyebutkan, sekecil apa pun perbuatan kita di dunia, akan berimbas pada perubahan sosial di lingkungan kita. “Itu sudah hukum alam. Dalam Alquran pun telah jelas bahwa rusaknya bumi sebab ulah tangan manusia,” jelasnya. Karena itu, perbuatan apa pun harus dipikirkan dampaknya. Baik jangka pendek maupun jangka panjangnya.

Muzammil, panggilan akrabnya, menambahkan, turut prihatin dengan kondisi masyarakat Jember saat ini, utamanya umat Islam. Selain Ramadan, mereka tidak bisa menikmati sebagaimana Ramadan dahulu. Dua tahun pertama, kenikmatan Ramadan berkurang karena maraknya virus. Kini, tahun ketiga, Ramadan masih kurang nikmat. Sebab, gempuran ekonomi membuat masyarakat cukup terpukul akibat minyak goreng mahal. “Ya Allah, saya kasihan lihat umat Islam sekarang. Sepertinya tidak sesemringah Ramadan dulu. Semoga Tuhan mengampuni kita semua,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Atas fenomena tersebut tentu tidak bisa menyudutkan satu pihak. Banyak sebab yang mesti diperhatikan. Dimulai dengan evaluasi diri, apa saja yang sudah kita perbuat sejauh ini. “Jangan maknai semua masalah ini dari sudut pandang ilmiah dan pemerintah saja. Kita harus mulai dari kita sendiri dulu. Hal ini menegaskan kita yang sering tidak sadar telah menyebabkan kerusakan bumi dan datangnya musibah silih berganti,” tegasnya.

Pada momen bulan puasa ini, saatnya memohon ampunan atas perbuatan yang kita tidak tahu ternyata berdampak besar terhadap datangnya musibah. “Contoh seperti buang sampah ke sungai. Perbuatan kecil tersebut ternyata menjadi faktor datangnya musibah. Bayangkan, berapa kali dalam seminggu kita berbuat tidak pada tempatnya. Oleh karenanya, introspeksi dirilah, lalu minta ampun,” pungkasnya. (mg4/c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/