alexametrics
29.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Pecahan Rp 75 Ribu Bukan Jimat Lagi

Tiap Orang Bisa Miliki hingga 100 Lembar

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masih ingat dengan uang peringatan kemerdekaan (UPK) pecahan Rp 75 ribu? Lembaran duit yang sempat menjadi rebutan pada akhir 2020 itu kini bisa dimiliki siapa pun. Sebab, peredarannya sudah tidak terbatas seperti sebelumnya.

Seperti diketahui, Agustus lalu, Bank Indonesia mengeluarkan pecahan uang Rp 75 ribu untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun. Karena cetakannya sangat bermakna filosofis, banyak yang ingin memilikinya.

Pada saat itu, satu nomor induk kependudukan (NIK) hanya diperbolehkan memiliki satu UPK. Karena itu, sebagian orang yang mendapatkannya malah menganggap sebagai jimat. Mereka enggan menjadikan uang itu sebagai alat transaksi, meski sudah sah menjadi alat pembayaran sejak kali pertama diedarkan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Annisa Ilman Nafia, misalnya. Mengetahui bahwa keberadaan UPK saat itu sangat terbatas, dia enggan menggunakannya. “Jadi, saya simpan baik-baik di dompet,” tutur warga Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, itu. Bahkan, dia rela meminjam uang jika hanya tersisa UPK tersebut. Hal serupa juga dilakukan oleh warga Jember lain. Tak sedikit yang menggunakannya sebagai suvenir lantaran UPK Rp 75 ribu dianggap sebagai cetakan khusus.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo menerangkan, UPK Rp 75 ribu masuk dalam daftar edar penukaran uang menjelang Ramadan. Sebelumnya, Hestu menyatakan, uang tersebut sudah tersebar di wilayah kerja BI Jember. “Uang tersebut merupakan legal tender alias uang sah yang berlaku untuk bukti transaksi,” terangnya. Meski dicetak secara khusus, lanjutnya, uang tersebut sah jika digunakan di wilayah NKRI.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masih ingat dengan uang peringatan kemerdekaan (UPK) pecahan Rp 75 ribu? Lembaran duit yang sempat menjadi rebutan pada akhir 2020 itu kini bisa dimiliki siapa pun. Sebab, peredarannya sudah tidak terbatas seperti sebelumnya.

Seperti diketahui, Agustus lalu, Bank Indonesia mengeluarkan pecahan uang Rp 75 ribu untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun. Karena cetakannya sangat bermakna filosofis, banyak yang ingin memilikinya.

Pada saat itu, satu nomor induk kependudukan (NIK) hanya diperbolehkan memiliki satu UPK. Karena itu, sebagian orang yang mendapatkannya malah menganggap sebagai jimat. Mereka enggan menjadikan uang itu sebagai alat transaksi, meski sudah sah menjadi alat pembayaran sejak kali pertama diedarkan.

Annisa Ilman Nafia, misalnya. Mengetahui bahwa keberadaan UPK saat itu sangat terbatas, dia enggan menggunakannya. “Jadi, saya simpan baik-baik di dompet,” tutur warga Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, itu. Bahkan, dia rela meminjam uang jika hanya tersisa UPK tersebut. Hal serupa juga dilakukan oleh warga Jember lain. Tak sedikit yang menggunakannya sebagai suvenir lantaran UPK Rp 75 ribu dianggap sebagai cetakan khusus.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo menerangkan, UPK Rp 75 ribu masuk dalam daftar edar penukaran uang menjelang Ramadan. Sebelumnya, Hestu menyatakan, uang tersebut sudah tersebar di wilayah kerja BI Jember. “Uang tersebut merupakan legal tender alias uang sah yang berlaku untuk bukti transaksi,” terangnya. Meski dicetak secara khusus, lanjutnya, uang tersebut sah jika digunakan di wilayah NKRI.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masih ingat dengan uang peringatan kemerdekaan (UPK) pecahan Rp 75 ribu? Lembaran duit yang sempat menjadi rebutan pada akhir 2020 itu kini bisa dimiliki siapa pun. Sebab, peredarannya sudah tidak terbatas seperti sebelumnya.

Seperti diketahui, Agustus lalu, Bank Indonesia mengeluarkan pecahan uang Rp 75 ribu untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun. Karena cetakannya sangat bermakna filosofis, banyak yang ingin memilikinya.

Pada saat itu, satu nomor induk kependudukan (NIK) hanya diperbolehkan memiliki satu UPK. Karena itu, sebagian orang yang mendapatkannya malah menganggap sebagai jimat. Mereka enggan menjadikan uang itu sebagai alat transaksi, meski sudah sah menjadi alat pembayaran sejak kali pertama diedarkan.

Annisa Ilman Nafia, misalnya. Mengetahui bahwa keberadaan UPK saat itu sangat terbatas, dia enggan menggunakannya. “Jadi, saya simpan baik-baik di dompet,” tutur warga Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, itu. Bahkan, dia rela meminjam uang jika hanya tersisa UPK tersebut. Hal serupa juga dilakukan oleh warga Jember lain. Tak sedikit yang menggunakannya sebagai suvenir lantaran UPK Rp 75 ribu dianggap sebagai cetakan khusus.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo menerangkan, UPK Rp 75 ribu masuk dalam daftar edar penukaran uang menjelang Ramadan. Sebelumnya, Hestu menyatakan, uang tersebut sudah tersebar di wilayah kerja BI Jember. “Uang tersebut merupakan legal tender alias uang sah yang berlaku untuk bukti transaksi,” terangnya. Meski dicetak secara khusus, lanjutnya, uang tersebut sah jika digunakan di wilayah NKRI.

Previous article
Next articleKura-Kura Brasil Makin Diminati

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/