alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Jera dan Enggan Kembali ke Lapas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “ALHAMDULILLAH,” pekik Baihaqi, salah satu narapidana (napi). Kalimat penanda syukur itu dia ucapkan sesaat setelah keluar dari “pintu taubat” Lapas Jember, baru-baru ini. Seketika kedua tangannya menengadah. Mulutnya tampak komat-kamit. Entah apa yang dia ucapkan. Lirih sekali sampai-sampai tak terdengar. Tak berselang lama, kedua tangannya mengatup dan mengusap muka beberapa kali.

Di tengah pandemi Covid-19, ada ratusan napi yang beruntung. Salah satunya adalah Baihaqi. Dia mendapatkan asimilasi. Merujuk Pasal 1 angka 4 Permenkumham Nomor 3 Tahun 2018, asimilasi adalah proses pembinaan narapidana dan anak yang dilaksanakan dengan membaurkan narapidana dan anak tersebut dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, mereka yang seharusnya masih menjalani masa pemidanaan bisa bertemu keluarga masing-masing lebih cepat. “Saya merasa beruntung karena bisa keluar dari Lapas Jember,” ujarnya, terbata-bata.

Pria paruh baya tersebut merupakan warga Dusun Semek, RT 03, RW 12, Desa Sumberjambe, Kecamatan Sumberjambe. Sebelum tersangkut kasus hukum, dia bekerja sebagai buruh tani di desa itu. Penghasilan yang tak mampu mencukupi kebutuhan anak dan istrinya membuat Baihaqi gelap mata, lalu mengambil hak orang lain.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Saya melakukannya karena terpaksa. Perekonomian keluarga saya berantakan,” lanjutnya, dengan mata berkaca-kaca. Namun, pria yang berusia 46 tahun tersebut enggan memberi tahu apa yang sudah dia ambil sampai bisa dipenjara. “Saya tak ingin mengingatnya lagi,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “ALHAMDULILLAH,” pekik Baihaqi, salah satu narapidana (napi). Kalimat penanda syukur itu dia ucapkan sesaat setelah keluar dari “pintu taubat” Lapas Jember, baru-baru ini. Seketika kedua tangannya menengadah. Mulutnya tampak komat-kamit. Entah apa yang dia ucapkan. Lirih sekali sampai-sampai tak terdengar. Tak berselang lama, kedua tangannya mengatup dan mengusap muka beberapa kali.

Di tengah pandemi Covid-19, ada ratusan napi yang beruntung. Salah satunya adalah Baihaqi. Dia mendapatkan asimilasi. Merujuk Pasal 1 angka 4 Permenkumham Nomor 3 Tahun 2018, asimilasi adalah proses pembinaan narapidana dan anak yang dilaksanakan dengan membaurkan narapidana dan anak tersebut dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, mereka yang seharusnya masih menjalani masa pemidanaan bisa bertemu keluarga masing-masing lebih cepat. “Saya merasa beruntung karena bisa keluar dari Lapas Jember,” ujarnya, terbata-bata.

Pria paruh baya tersebut merupakan warga Dusun Semek, RT 03, RW 12, Desa Sumberjambe, Kecamatan Sumberjambe. Sebelum tersangkut kasus hukum, dia bekerja sebagai buruh tani di desa itu. Penghasilan yang tak mampu mencukupi kebutuhan anak dan istrinya membuat Baihaqi gelap mata, lalu mengambil hak orang lain.

“Saya melakukannya karena terpaksa. Perekonomian keluarga saya berantakan,” lanjutnya, dengan mata berkaca-kaca. Namun, pria yang berusia 46 tahun tersebut enggan memberi tahu apa yang sudah dia ambil sampai bisa dipenjara. “Saya tak ingin mengingatnya lagi,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “ALHAMDULILLAH,” pekik Baihaqi, salah satu narapidana (napi). Kalimat penanda syukur itu dia ucapkan sesaat setelah keluar dari “pintu taubat” Lapas Jember, baru-baru ini. Seketika kedua tangannya menengadah. Mulutnya tampak komat-kamit. Entah apa yang dia ucapkan. Lirih sekali sampai-sampai tak terdengar. Tak berselang lama, kedua tangannya mengatup dan mengusap muka beberapa kali.

Di tengah pandemi Covid-19, ada ratusan napi yang beruntung. Salah satunya adalah Baihaqi. Dia mendapatkan asimilasi. Merujuk Pasal 1 angka 4 Permenkumham Nomor 3 Tahun 2018, asimilasi adalah proses pembinaan narapidana dan anak yang dilaksanakan dengan membaurkan narapidana dan anak tersebut dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, mereka yang seharusnya masih menjalani masa pemidanaan bisa bertemu keluarga masing-masing lebih cepat. “Saya merasa beruntung karena bisa keluar dari Lapas Jember,” ujarnya, terbata-bata.

Pria paruh baya tersebut merupakan warga Dusun Semek, RT 03, RW 12, Desa Sumberjambe, Kecamatan Sumberjambe. Sebelum tersangkut kasus hukum, dia bekerja sebagai buruh tani di desa itu. Penghasilan yang tak mampu mencukupi kebutuhan anak dan istrinya membuat Baihaqi gelap mata, lalu mengambil hak orang lain.

“Saya melakukannya karena terpaksa. Perekonomian keluarga saya berantakan,” lanjutnya, dengan mata berkaca-kaca. Namun, pria yang berusia 46 tahun tersebut enggan memberi tahu apa yang sudah dia ambil sampai bisa dipenjara. “Saya tak ingin mengingatnya lagi,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/