alexametrics
26.5 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Salah Kaprah Dipensasi Nikah

Kemenag-KUA Gaungkan Dampak Pernikahan Dini

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember masuk dalam masalah program prioritas bidang kesehatan se-Jawa Timur, tahun lalu. Apalagi parahnya, Jember menyabet peringkat pertama untuk persoalan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Selain masalah AKI dan AKB, Jember berada dalam peringkat ketiga untuk stunting. Ini menandakan masalah kesehatan di Jember belum sepenuhnya beres. Terlebih lagi, sudah masuk dalam prioritas kesehatan tingkat provinsi.

Salah satu penyebab tingginya AKI, AKB, dan stunting adalah pernikahan dini. Tak bisa dimungkiri, pernikahan dini dan perceraian di Jember memang masih cukup banyak. Hal itu ditegaskan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Jember Muhammad. “Tingkat pernikahan dini dan perceraian di bawah usia 19 tahun memang masih banyak. Bahkan, angka perceraian yang masuk di pengadilan agama (PA) tahun 2020 mencapai lima ribu,” ujarnya.

Sementara, angka pernikahan pada tahun yang sama hampir mencapai angka 21 ribu. Usia pernikahan itu tidak lama, karena berbagai faktor. Salah satu faktor utama adalah persoalan ekonomi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di sisi lain, penghulu yang mengesahkan pernikahan tak bisa berbuat banyak apabila sang calon pengantin sudah memenuhi persyaratan. Meskipun usianya masih di bawah 19 tahun. Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah memiliki dispensasi yang dikeluarkan oleh pengadilan agama (PA) bagi pasangan yang di bawah usia 19 tahun.

“Kalau edukasi dalam setiap kesempatan pernikahan di kampung, kami terus menyampaikan perubahan pasal usia nikah. Pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974,” ujar M. Farich Makmur, salah seorang penghulu di Kecamatan Patrang.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala KUA Patrang ini juga terus menyosialisasikan bahaya pernikahan dini. “Kami juga bersama penyuluh agama honorer sudah menyampaikan bahwa usia nikah minimal 19 tahun bagi catin pria dan wanita,” imbuhnya.

Dirinya juga tak menutup mata jika di sebagian daerah, khususnya di wilayah Patrang sendiri, pernikahan dini juga masih cukup banyak. “Rata-rata mereka memang mengajukan dispensasi nikah usianya di antara 16-17 tahun,” lanjut mantan Kepala KUA Kencong ini.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember masuk dalam masalah program prioritas bidang kesehatan se-Jawa Timur, tahun lalu. Apalagi parahnya, Jember menyabet peringkat pertama untuk persoalan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Selain masalah AKI dan AKB, Jember berada dalam peringkat ketiga untuk stunting. Ini menandakan masalah kesehatan di Jember belum sepenuhnya beres. Terlebih lagi, sudah masuk dalam prioritas kesehatan tingkat provinsi.

Salah satu penyebab tingginya AKI, AKB, dan stunting adalah pernikahan dini. Tak bisa dimungkiri, pernikahan dini dan perceraian di Jember memang masih cukup banyak. Hal itu ditegaskan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Jember Muhammad. “Tingkat pernikahan dini dan perceraian di bawah usia 19 tahun memang masih banyak. Bahkan, angka perceraian yang masuk di pengadilan agama (PA) tahun 2020 mencapai lima ribu,” ujarnya.

Sementara, angka pernikahan pada tahun yang sama hampir mencapai angka 21 ribu. Usia pernikahan itu tidak lama, karena berbagai faktor. Salah satu faktor utama adalah persoalan ekonomi.

Di sisi lain, penghulu yang mengesahkan pernikahan tak bisa berbuat banyak apabila sang calon pengantin sudah memenuhi persyaratan. Meskipun usianya masih di bawah 19 tahun. Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah memiliki dispensasi yang dikeluarkan oleh pengadilan agama (PA) bagi pasangan yang di bawah usia 19 tahun.

“Kalau edukasi dalam setiap kesempatan pernikahan di kampung, kami terus menyampaikan perubahan pasal usia nikah. Pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974,” ujar M. Farich Makmur, salah seorang penghulu di Kecamatan Patrang.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala KUA Patrang ini juga terus menyosialisasikan bahaya pernikahan dini. “Kami juga bersama penyuluh agama honorer sudah menyampaikan bahwa usia nikah minimal 19 tahun bagi catin pria dan wanita,” imbuhnya.

Dirinya juga tak menutup mata jika di sebagian daerah, khususnya di wilayah Patrang sendiri, pernikahan dini juga masih cukup banyak. “Rata-rata mereka memang mengajukan dispensasi nikah usianya di antara 16-17 tahun,” lanjut mantan Kepala KUA Kencong ini.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember masuk dalam masalah program prioritas bidang kesehatan se-Jawa Timur, tahun lalu. Apalagi parahnya, Jember menyabet peringkat pertama untuk persoalan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Selain masalah AKI dan AKB, Jember berada dalam peringkat ketiga untuk stunting. Ini menandakan masalah kesehatan di Jember belum sepenuhnya beres. Terlebih lagi, sudah masuk dalam prioritas kesehatan tingkat provinsi.

Salah satu penyebab tingginya AKI, AKB, dan stunting adalah pernikahan dini. Tak bisa dimungkiri, pernikahan dini dan perceraian di Jember memang masih cukup banyak. Hal itu ditegaskan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Jember Muhammad. “Tingkat pernikahan dini dan perceraian di bawah usia 19 tahun memang masih banyak. Bahkan, angka perceraian yang masuk di pengadilan agama (PA) tahun 2020 mencapai lima ribu,” ujarnya.

Sementara, angka pernikahan pada tahun yang sama hampir mencapai angka 21 ribu. Usia pernikahan itu tidak lama, karena berbagai faktor. Salah satu faktor utama adalah persoalan ekonomi.

Di sisi lain, penghulu yang mengesahkan pernikahan tak bisa berbuat banyak apabila sang calon pengantin sudah memenuhi persyaratan. Meskipun usianya masih di bawah 19 tahun. Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah memiliki dispensasi yang dikeluarkan oleh pengadilan agama (PA) bagi pasangan yang di bawah usia 19 tahun.

“Kalau edukasi dalam setiap kesempatan pernikahan di kampung, kami terus menyampaikan perubahan pasal usia nikah. Pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974,” ujar M. Farich Makmur, salah seorang penghulu di Kecamatan Patrang.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala KUA Patrang ini juga terus menyosialisasikan bahaya pernikahan dini. “Kami juga bersama penyuluh agama honorer sudah menyampaikan bahwa usia nikah minimal 19 tahun bagi catin pria dan wanita,” imbuhnya.

Dirinya juga tak menutup mata jika di sebagian daerah, khususnya di wilayah Patrang sendiri, pernikahan dini juga masih cukup banyak. “Rata-rata mereka memang mengajukan dispensasi nikah usianya di antara 16-17 tahun,” lanjut mantan Kepala KUA Kencong ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/